Martin Luther dan Katie von Bora

Posted on 29/12/2013 | In Care | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Martin-Luther-dan-Katie-von-Bora.jpg Martin Luther dan Katie von Bora

Martin Luther lebih dikenal sebagai pencetus Reformasi Protestan, namun kenalkah anda dengan istrinya, Katharina von Bora? Katie berlidah tajam sedangkan Martin mudah marah. Perpaduan sosok yang biasanya tidak menghasilkan pernikahan yang bahagia. Nah, bagaimana pernikahan mereka dapat bertahan?

Martin Luther

Martin Luther dilahirkan pada tanggal 10 November 1483 dari pasangan buruh tambang tembaga di Eisleben, Jerman. Ia dibesarkan dengan kedisiplinan zaman itu, baik di rumah maupun di sekolah. Martin sedikit pemalu, meskipun senang menjadi pusat perhatian.Ia terkadang berlaku kasar, tetapi juga hangat dan lembut. Ia mewarisi sifat humoris dari ayahnya dan kecintaan terhadap musik dari ibunya.

Perubahan besar dalam hidupnya pertama kali terjadi saat usianya 21 tahun. Saat itu baru saja memperoleh gelar master dari University of Erfurt, dan akan memulai karir di bidang hukum. Suatu malam, dalam perjalanan pulang dari sekolah ke rumahnya, ia terperangkap dalam badai yang dahsyat. Ia bersumpah akan masuk biara bila Allah menyelamatkan nyawanya. Dua minggu kemudian, ia membuat orang tuanya gelisah dan teman-temannya terkejut karena ia menggenapi sumpahnya itu.

Beberapa tahun kemudian Martin dipindahkan ke biara di Wittenberg dan menjadi dosen universitas di sana. Saat ia mengajar Alkitab, khususnya kitab Roma dan Galatia, ia menemukan bahwa pembenaran bukan oleh usaha manusia melainkan dianugerahkan kepada kita oleh iman.

 Pada tahun 1517, saat berusia 33 tahun, Martin Luther memasang 95 doktrin di pintu gereja Wittenberg untuk memancing debat ilmiah. Debat itu tidak pernah terjadi, sebaliknya yang terjadi justru reformasi. Empat tahun kemudian ia pun dikutuk, sehingga teman-temanya ‘menculiknya’ dan membawanya ke istana Wartburg. Di sanalah, 8 bulan dalam pengasingan, Martin menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Jerman.

Pada tahun 1525, setelah beragam peristiwa yang membuat Luther diburu Paus, dibenci para petani dan diusik orang-orang yang fanatik terhadap agama, Luther merasa Reformasi tidak berkembang lagi. Di tahun itulah, Luther menikah dengan Katie von Bora.

Katie von Bora

Katie, hampir 16 tahun lebih muda dari Martin. Ia masuk biara ketika ia berusia 9 atau 10 tahun. Ayahnya baru menikah lagi. Katie seorang anak yang pintar dan berlidah tajam. Ibu tirinya tidak menyukainya, maka ia dimasukkan ke dalam biara. Enam tahun kemudian, ia mengucapkan kaulnya.

Pada awal tahun 1520-an, traktat yang ditulis Martin Luther secara misterius di balik tembok biara Katie yang tertutup. Katie bersama 11 biarawati lainnya secara diam-diam mengirim pesan kepada Luther di Wittenberg bahwa ia ingin meninggalkan biara. Biara itu dijaga sangat ketat dan terletak di wilayah Duke George, musuh Luther. Duke George telah menghukum mati satu orang karena merancang rencana pelarian untuk beberapa biarawati. Luther harus menggunakan rencana yang mudah dan aman.

Leonard Kopp, anggota dewan kota yang mempunyai kontrak untuk mengirim bertong-tong ikan haring asap ke biara di Nimbschen, tempat Katie berada. Entah bagaimana tepatnya, Kopp akhirnya berhasil melarikan 12 biarawati tersebut dalam tong-tong. Dua hari kemudian 9 biarawati (tiga dari mereka pulang ke orang tuanya) dibawa ke hadapan Martin Luther. Luther berkewajiban mencarikan pekerjaan atau suami bagi mereka. Itu tidaklah mudah, sebab mereka tidak terlatih melakukan pekerjaan rumah, dan usia mereka di atas usia menikah gadis-gadis Jerman pada waktu itu.

Luther akhirnya berhasil mencarikan suami untuk beberapa mantan biarawati tersebut, tetapi salah satu dari mereka yaitu Katie von Bora, telah menjadi masalah besar. Katie untuk sementara waktu bekerja di rumah Lucas Cranach, tetangga Luther. Meskipun Katie tidak bisa dikatakan cantik, namun kepribadian dan kecerdasannya menarik hati pemuda dari keluarga terhormat di Nuremberg. Keduanya saling jatuh cinta. Namun orangtua pemuda ini tidak mengizinkannya. Penolakan ini membuat Katie patah hati.

‘Dilamar’ Katie

Luther tidak berhenti berusaha menjodohkan Katie, namun Katie menolaknya, meskipun Luther berpikir bahwa Katie seharusnya tidak terlalu pemilih. Katie bukannya menolak gagasan menikah, bahkan demi menegaskan kesediaannya, Katie menyatakan bersedia menikah dengan Amsdorf, seorang rekan profesor Luther, selain itu ia pun bersedia menikah dengan Luther.

Banyak teman dekat Martin tidak tahu keputusannya untuk menikah yang dipergumulkannya. Martin pikir pernikahannya akan menyenangkan ayahnya, menggusarkan Paus, memperkokoh kesaksiannya, bahkan akan membungkam mulut para penggosip. Selain itu bukankah Katie telah ‘melamarnya’? Martin mengatakan pada Katie bahwa jika mereka menikah, mungkin mereka akan dibakar di tiang pembakaran, rupanya resiko itu tidak menyurutkan niat Katie. Akhirnya mereka menikah pada tanggal 13 Juni.

Martin Luther

Banyak Penyesuaian

Pada tahun-tahun pertama pernikahan Martin dan Katie tidak ada keromantisan. Mereka perlu melakukan banyak penyesuaian. Martin harus lebih banyak bersabar, terutama terhadap Katie. Namun, Katie harus lebih bersabar lagi, sebab suasana hati Martin berubah-ubah dan Martin juga mengidap banyak penyakit. Martin, setelah berkhotbah, mengajar dan bercakap-cakap dengan murid-muridnya, justru ia ingin menyendiri dan membaca buku-buku. Katie, setelah seharian mengurus anak-anak, para pembantu dan ternak, ingin berbincang-bincang dengan pasangannya. Bahkan setelah mereka dikaruniai 6 orang anak, Martin sering ingin menyendiri pada saat Katie ingin bersamanya.

Penyesuaian yang terbesar berkaitan dengan pengaturan keuangan keluarga. Luther segan menerima sesuatu yang tidak benar-benar penting. Untunglah, Katie seorang pengatur bisnis yang baik, dan sifat hematnya memungkinkan keluarga Luther mengumpulkan banyak harta, meskipun suaminya memiliki kemurahan hati yang tak terhingga.

Biara Augustinian

Biara Augustinian, yang merupakan tempat tinggal Luther dahulu, memiliki 40 ruangan di lantai satu, kadang-kadang semua ruangan penuh. Rumah itu bukan hanya ditinggali keluarga Luther, ada juga 6 keponakan Luther, 4 anak temannya, para pengajar dan murid. Kemasyhuran Luther juga berakibat banyaknya tamu yang berdatangan ke rumah itu. Katie mengatasi masalah rumah tangga ini dengan membawa sanak saudaranya.

Murid-murid, yang sudah belajar dari Luther secara formal pada siang harinya, masih saja menghujaninya dengan banyak pertanyaan pada jam makan malam, sehingga muncul istilah Table Talks. Katie duduk di ujung meja dikelilingi anak-anak, sementara murid-murid Luther menulis catatan di dekat suaminya. Katie sedikit cemburu dengan murid-murid Luther, tetapi ia tahu suaminya membutuhkan perhatian itu.

Katie pun mengubah bentuk biara tersebut, membangun kamar mandi dan membuat 3 gudang bawah tanah. Katie ingin keluarga besar itu mandiri, maka ia menanam beragam sayuran dan buah, memelihara ternak babi, sapi, ayam, merpati, angsa, dan seekor anjing. Katie juga membeli lahan lagi, atas persetujuan Luther, karena ada sungai yang mengalir di tempat itu, sehingga Katie bisa memancing beberapa ikan untuk makan malam mereka. Semua itu di bawah tanggung jawab Katie, bahkan ia berperan sebagai dokter hewan untuk melaksanakan tugasnya dengan baik.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community