Komunitas Yang Bereproduksi (Efesus 4:11-16)

Posted on 29/11/2020 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Komunitas-Yang-Bereproduksi-Efesus-4-11-16.jpg Komunitas Yang Bereproduksi (Efesus 4:11-16) Bagaimana kita menilai keberhasilan sebuah komunitas? Ada banyak cara: popularitas, pengaruh yang luas, stabilitas internal, dsb. Di antara beragam cara tersebut yang tidak terelakkan tentu saja adalah jumlah anggota yang banyak dan keberlangsungan yang lama.

Dua poin di atas saling berkaitan. Jumlah anggota yang banyak dicapai melalui reproduksi, sehingga akan selalu ada anggota antar generasi. Reproduksi yang berkelanjutan akan menjamin keberlangsungan jangka panjang. Persoalannya, apakah setiap anggota sudah cukup dewasa untuk bereproduksi?

Teks hari ini akan mengajarkan kepada kita bagaimana tubuh Kristus seharusnya melakukan reproduksi. Yang sudah dimuridkan dengan baik pasti akan memuridkan dengan baik. Pemuridan tidak berhenti pada “kematangan spiritual” seseorang, melainkan pada pengembangbiakan spiritual. Setiap orang melayani dan mereproduksi diri.

Mengingat sebagian dari teks hari ini sudah dikupas di beberapa khotbah sebelumnya, kita tidak akan meneliti setiap ayat secara detil. Sebaliknya, kita hanya akan berfokus pada satu pertanyaan, lalu mencoba melihat bagaimana kita bisa menjawab pertanyaan itu berdasarkan ayat 11-16. Pertanyaan tersebut adalah ini: Bagaimana ciri khas sebuah komunitas yang bereproduksi? Teks hari ini menyediakan dua jawaban yang saling berkaitan satu dengan lainnya.

Rohaniwan yang mengetahui tugas utamanya (ayat 11-12)
Deretan fungsi rohaniwan di ayat 11 harus dipahami sebagai salah satu karunia rohani yang dibicarakan di ayat 7-10. Sebagaimana karunia-karunia yang lain, karunia sebagai rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar (4:11) merupakan pemberian dan ketetapan Kristus (4:7 “Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus”). Dialah yang memiliki hak penuh untuk menetapkan siapa menjadi apa atau memiliki karunia apa.

Yang menarik, karunia sebagai rohaniwan memang pemberian Kristus kepada pada rohaniwan, tetapi rohaniwan sendiri diberikan oleh Kristus kepada jemaat. Jadi, rohaniwan berada pada posisi sebagai penerima sekaligus sebagai karunia dari Kristus kepada jemaat. Dengan kata lain, rohaniwan diberi supaya mereka bisa memberi.

Di antara lima jabatan rohani di 4:11, dua di antaranya sudah disinggung di surat ini. Paulus mengajarkan bahwa gereja “dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru” (2:20). Dari penyebutan seperti ini kita dapat menyimpulkan bahwa karunia sebagai rasul dan nabi tampaknya sudah tidak berlaku lagi, karena dua jabatan ini sangat berhubungan dengan fondasi gereja di abad ke-1. Gambaran tentang fondasi dan batu penjuru ini jelas tidak memberi ruang bagi orang-orang di generasi berikutnya untuk memainkan peranan tersebut.

Walaupun rasul dan nabi memang terpisah dari tiga jabatan lainnya, namun semua jabatan rohani ini juga memiliki tugas utama yang sama. Berbeda dengan opini banyak orang, ayat 12 mengajarkan bahwa tugas utama rohaniwan bukanlah melayani jemaat. Rohaniwan diberikan oleh Kristus kepada jemaat “untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus” (LAI:TB).

Tugas rohaniwan dapat diringkas menjadi satu kalimat: melengkapi orang-orang kudus (pros ton katartismon tōn hagiōn, lit. “untuk kelengkapan orang-orang kudus”). Kata “kelengkapan” (katartismos) menyiratkan sesuatu yang sempurna, selesai atau memadai untuk suatu tujuan atau fungsi (KJV “the perfecting”). Inilah tugas utama seorang rohaniwan: menyiapkan jemaat supaya memadai bagi suatu tugas.

Tugas ini diterangkan di ayat 12b. Sesuai teks Yunani, bagian ini memiliki dua frasa kata depan: untuk pekerjaan pelayanan (eis ergon diakonias) dan untuk pembangunan tubuh Kristus (eis oikodomēn tou sōmatos tou Christou). Karena dua frasa ini tidak dihubungkan dengan kata sambung “dan” (kai), kita sebaiknya memahami keduanya secara bertingkat. Maksudnya, “untuk pekerjaan pelayanan” memiliki tujuan berikutnya, yaitu “untuk pembangunan tubuh Kristus.” Jika semua elemen di ayat 12 digabungkan, kita akan mendapatkan gambaran sebagai berikut: rohaniwan bertugas untuk melengkapi jemaat supaya mereka bisa melayani, sehingga seluruh tubuh Kristus akan dibangun.

Dari konsep ini kita dapat melihat betapa banyaknya kekeliruan yang selama ini dilakukan oleh gereja-gereja. Kita mungkin membutuhkan pertobatan massal. Rohaniwan yang hanya sekadar melayani jemaat dengan setia berarti tidak setia pada tugas utama mereka. Jemaat bukan hanya objek tetapi sekaligus subjek pelayanan. Pelayanan bukan panggung untuk mencari pengakuan dan penghargaan, melainkan sarana untuk membangun tubuh Tuhan. Bukan aktualisasi diri melainkan pemberian diri.

Jemaat yang mau memainkan peranan (ayat 13-16)
Bagian ini menerangkan bagian terakhir dari ayat 12b (untuk pembangunan tubuh Kristus). Apa indikator jemaat yang bertumbuh? Bagaimana kita bisa bertumbuh dengan baik?

Indikator pertumbuhan yang disorot oleh Paulus di sini lebih secara kualitas (ayat 13 “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus”). Paulus tentu saja tidak anti terhadap pertumbuhan jemaat secara kuantitas. Bagaimanapun, dia sedang tidak menyoroti area tersebut.

Dari indikator pertumbuhan di ayat 13 terlihat bahwa pertumbuhan yang diharapkan oleh Tuhan sangat seimbang: ada unsur pengetahuan (ayat 13a) dan karakter (ayat 13b). Pengenalan yang dibicarakan bukan hanya secara intelektual (“iman dan pengetahuan yang benar”), tetapi pengenalan yang personal (“kepenuhan Kristus”). Teologi bukan hanya segudang teori, tetapi perspektif dan pedoman yang dihidupi. Ada kesesuaian antara akal budi, hati dan aksi. Tanpa salah satu, pertumbuhan belum seperti yang diharapkan.

Keseimbangan di atas tidak mengaburkan penekanan Paulus pada aspek doktrinal. Kata “iman” di ayat 13 bukan mengarah pada perasaan, tetapi ajaran (versi Inggris “the faith”). Hal ini ditunjukkan dengan artikel di depan kata “iman” dan kesejajaran dengan “pengetahuan yang benar”. Lagipula, bahaya yang diantisipasi di ayat 14 adalah ajaran sesat. Walaupun guru-guru palsu juga mengajarkan gaya hidup yang tidak bermoral, tetapi bahaya utama terletak pada ajaran mereka. Jika jemaat mengalami pertumbuhan doktrinal yang baik (ayat 13), mereka akan dihindarkan dari bahaya kesesatan (ayat 14).

Bagaimana kita bisa bertumbuh secara seimbang? Cara pertama disediakan oleh ayat 15: “dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” Dalam teks Yunani terlihat jelas bahwa frasa “dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih” menerangkan “kita bertumbuh…” Sayangnya, terjemahan LAI:TB di sini kurang begitu jelas. Frasa ini seharusnya diterjemahkan “dengan mengatakan kebenaran di dalam kasih” (alētheuontes en agapē, lihat mayoritas versi Inggris).

Pertumbuhan yang seimbang hanya bisa dicapai jika cara yang digunakan juga seimbang. Kita harus berani mengatakan kebenaran, tetapi pada saat yang sama juga membungkusnya dengan kasih. Akal budi dan hati harus sama-sama peduli. Jangan menyatakan kebenaran dengan cara-cara yang tidak benar. Begitu pula jangan menunjukkan kebaikan sampai kita tidak berani mengungkapkan kebenaran.

Cara kedua diterangkan di ayat 16. Teks Yunani dalam bagian ini cukup rumit. Tidak mengherankan terjemahan di berbagai versi cukup beragam. Walaupun demikian, inti yang ingin disampaikan sebenarnya sudah cukup jelas. Pertumbuhan terjadi bukan hanya karena diikat oleh Kristus sebagai Kepala, tetapi juga karena setiap anggota memainkan peranannya masing-masing. Dalam hal ini terjemahan NIV dan NLT cukup menolong: “ketika setiap bagian melakukan pekerjaannya” (as each part does its work atau its own special work).

Semua usaha para rohaniwan untuk melengkapi jemaat akan menjadi sia-sia jika jemaat sendiri tidak mau memainkan peranannya. Masing-masing orang menempati posisi yang khusus dalam tubuh Kristus sesuai dengan jabatan dan karunia yang dipercayakan oleh Tuhan. Tidak ada pengangguran spiritual dalam rumah Tuhan. Jika seseorang tidak memainkan peranan, dia berhutang pada banyak orang. Seharusnya banyak orang bisa ditumbuhkan, tetapi hal itu terhalang gara-gara ketidakpedulian dan keengganan. Ada banyak jemaat yang merana karena tidak mendapatkan haknya. Ada banyak pencuri talenta di dalam gereja.

Jika komunitas Kristen ingin terus berkembang dan berkelanjutan, reproduksi rohani harus direncakan dan dilakukan secara intensional. Sekadar menaruh pengharapan dan membiarkan keadaan tidak akan membawa perubahan signifikan. Setiap bagian – rohaniwan maupun jemaat awam – harus memainkan peranan dengan benar. Kenaikan Kristus ke surga menjamin tersedianya banyak karunia (4:7-10), tetapi setiap elemen gereja juga perlu menggunakan setiap karunia dengan setia (4:11-16). Dengan itulah gereja akan bertumbuh dengan baik ke arah Kristus sebagai Kepala (4:16). Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community