Isteri seharga delapan ekor sapi

Posted on 09/08/2015 | In Care | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/istri_seharga_delapan_ekor_sapi.jpg Isteri seharga delapan ekor sapi

Seorang pemandu wisata bepergian ke beberapa pulau di Pasifik Selatan. Di sana, ke mana pun ia pergi, ia mendengar penduduk setempat berbicara tentang Johnny Lingo. Anehnya, walaupun penduduk setempat menyombong-nyombongkan Johnny Lingo, mereka tertawa-tawa kecil di antara mereka sendiri dan saling mengedipkan mata. Pemandu wisata itu bertanya-tanya dalam hati: Kalau Johnny Lingo itu orang yang patut dibanggakan, apanya yang lucu? Tetapi tidak ada yang mau membuka rahasia.

Akhirnya ada penduduk asli yang mau bercerita. Adat istiadat suku Johnny Lingo mengharuskan seorang pelamar untuk “membeli” calon istri dengan menyerahkan beberapa ekor sapi kepada ayah sang calon istri. Satu atau dua ekor sapi cukup untuk seorang calon istri yang biasa-biasa saja. Tetapi kalau yang diserahkan adalah lima ekor sapi, calon istri itu sudah pasti cantik jelita dan elok perawakannya.

Walau Johnny orang kaya, kata penduduk asli itu, delapan ekor sapi yang diserahkannya itu jumlah yang terlalu banyak! “Sarita kurus. Bahunya sedikit bungkuk dan ia berjalan dengan kepala tertunduk. Ia takut dengan bayangannya sendiri!” Orang itu nyengir dan berkata, “Kami tidak habis pikir, bagaimana Johnny Lingo – pedagang yang paling lihai di pulau ini bisa terkecoh – membayar sang mertua dengan delapan ekor sapi.”

Cerita ini membuat si pemandu wisata memutuskan untuk menjumpai Johnny Lingo. Ketika mereka bertemu, Johnny menyambut tamunya dengan ramah. Mereka bercakap-cakap beberapa saat, lalu bertanyalah sang tamu tentang harga yang terlalu mahal bagi istri Johnny. “Oh lagi-lagi pertanyaan ini,” tukas Johnny, “Setiap kali orang berbicara tentang pernikahan, selalu muncul berita bahwa Johnny Lingo membayar delapan ekor sapi bagi Sarita.”

Sesaat kemudian seorang perempuan cantik menawan masuk. Si pemandu wisata tidak pernah melihat perempuan seelok itu. Segala sesuatu pada diri perempuan itu sangat mempesona – anggukan kepalanya, cara berjalannya yang penuh percaya diri, senyumannya, dan sinar wajahnya.

Johnny melihat tamunya keheranan. Lalu ia berkata, “Ada banyak hal yang dapat mengubah seorang perempuan – yang terjadi di dalam dan di luar dirinya. Tapi yang paling penting ialah apa yang dipikirkannya tentang dirinya sendiri. Dahulu di Kiniwata, Sarita memandang dirinya tidak ada artinya. Tapi sekarang ia tahu bahwa ia lebih berharga dari perempuan-perempuan lainnya di kepulauan ini.”

Dengan jelas Johnny memberitahu semua orang di kepulauan itu bahwa ia mencintai Sarita dan bangga mempunyai Sarita sebagai istrinya. Ia membuktikan bahwa komunikasi melalui kata-kata dan perbuatan yang penuh kasih dapat mencapai apa yang tidak dapat dicapai oleh hal-hal lainnya. Ini sudah menjadi kenyataan di kepulauan itu dan dapat menjadi kenyataan dalam rumah tangga Anda.

“Dia beruntung”

Seorang nenek yang sangat dikasihi sedang merayakan hari ulang tahun pernikahannya yang ke-50. Salah seorang putrinya bertanya, “Ibu, apa kuncinya, Ibu dan Ayah bisa hidup bahagia selama ini?”

Nenek itu menjawab, “Sebelum saya dan ayahmu menikah, Ibu membuat daftar tentang sepuluh hal yang Ibu tidak sukai dari kepribadian Ayah, tapi yang tidak akan Ibu persoalkan. Pada hari pernikahan, Ibu berjanji terhadap diri sendiri, kalau salah satu dari kesepuluh hal itu muncul, Ibu akan tutup mata demi keharmonisan pernikahan.”

“Nek,” cetus seorang cucu dengan tidak sabar, “Apa saja yang Nenek tulis di daftar itu?

 “Nak,” jawabnya, “Jujur saja, Nenek tidak menulis apa-apa. Tapi setiap kali kakekmu melakukan sesuatu yang membuat Nenek kesal, Nenek pikir, “Beruntunglah dia”, ini salah satu dari kesepuluh hal itu!”

Kesepuluh hal apakah yang membuat Anda kesal terhadap pasangan hidup Anda? Kelakuan atau kejadian atau apa pun yang termasuk kesepuluh hal itu, Anda bijak kalau Anda meneladani nenek tadi. Dan kita juga akan berada di jalur yang menuntun kita pada pernikahan emas.

AKHIR KATA

Saya berharap kedua tujuan saya menulis buku ini terlaksana, yaitu (1) meyakinkan Anda bahwa Anda dapat mempunyai kehidupan pernikahan yang harmonis dan (2) menantang Anda untuk melakukan apa saja untuk mencapai hal itu.

Kalau memikirkan pernikahan yang diwarnai cinta kasih dan komitmen – hasil menerapkan kesepuluh prinsip pernikahan ini – saya selalu teringat cerita tentang sepasang suami-isri. Sebut saja Bob dan Sarah.

Bob dan Sarah ketika itu sudah menikah selama 50 tahun. Mereka saling mencintai – saling sentuh, saling bergurau, tertawa dan main bersama. Sejak awal pernikahan, mereka sering melakukan sesuatu yang tidak dapat dimengerti oleh siapa pun. Pada sehelai kertas mereka menulis sepatah kata dan menyembunyikannya di berbagai tempat di rumah mereka. Kata itu berbunyi: “SHMILY”.

Ketika Sarah membuka tempat penyimpanan gula, ia menemukan kata SHMILY. Seusai mandi, Bob melihat ada kata SHMILY di cermin kamar mandi yang masih beruap. Suatu kali Sarah menggulung ulang gulungan kertas toilet sesudah menulis SHMILY pada lembaran terakhir kertas toilet itu.

Mereka melakukan permainan itu sepanjang kehidupan pernikahannya. Anak-anak mereka mengetahuinya, tetapi tidak ada yang tahu apa arti kata SHMILY. Bagaimana melafalkannya pun, mereka tidak tahu pasti.

Tidak lama sesudah ulang tahun pernikahan mereka yang ke-52, Sarah mengidap kanker. Sarah melawan penyakit itu selama hampir 10 tahun. Setiap orang kagum melihat bagaimana pasangan itu bersatu saat melewati masa yang sulit. Mereka masih meneruskan permainan SHMILY-nya. Sampai suatu hari Sarah meninggal.

Upacara penguburan Sarah menjadi suatu kesempatan indah untuk mengucap syukur atas kehidupannya yang patut dipuji meski suasana duka menyelimuti tempat itu. Anak-anaknya, cucu-cucunya, bahkan cicit-cicitnya menyaksikan Bob mengucapkan good-bye untuk terakhir kali kepada sang istri tercinta – teman hidupnya selama lebih dari 60 tahun.

Keheningan mengiringi perjalanan menuju pekuburan. Setibanya di sana mereka melihat ada pita besar berwarna merah jambu di atas peti mati. Pita itu bertuliskan: SHMILY! Semua yang hadir menatap Bob saat ia melangkah mendekati peti mati. Sebuah lagu dinyanyikan dengan lirih oleh Bob. Seluruh sanak keluarga bergandengan tangan sambil terisak piluh.

Semua yang hadir melangkah mundur secara teratur untuk membiarkan Bob hening beberapa saat seorang diri. Tetapi seorang cucunya yang sudah remaja tetap di dekat kakeknya, menggenggam lembut tangan Bob, kakeknya.

“Kek,” sapanya, “apa arti SHMILY?”

Dengan tatapan sayu dan senyuman lembut, Bob menjawab, “SHMILY itu singkatan dari See How Much I Love You (Lihat Betapa Saya Mencintaimu).

Seberapa banyak seharusnya kita mencintai pasangan hidup kita? Sebanyak Kristus mencintai gereja-Nya! Ingatlah kembali dan lakukanlah perintah dalam Efesus 5:25-27: Kasihilah pasangan hidupmu “sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikan dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.”

 

Kisah-kisah dan Akhir Kata dari buku:

The 10 Commandments of Marriage – Ed Young

 

 ~ T A M A T ~

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community