Pengantin Darah (Kel 4:24-26) (Bagian 5)

Posted on 28/10/2018 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/pengantin-darah-keluaran-4-24-26.jpg Pengantin Darah (Kel 4:24-26) (Bagian 5)

(Lanjutan tgl 21 Oktober 2018)

Namun  apakah dengan isue penyunatan sebagai bagian dari umat perjanjian akan mampu mengikat 2 kisah misi Allah sebelum dan sesudahnya? Tidak, isu penyunatan walaupun berhubungan dengan isu tentang umat perjanjian, namun  tidak berhubungan dengan misi Allah. Mengapa Tuhan murka karena Musa belum bersunat saat Musa akan menjalani misi Allah? Dengan demikian perlu diketahui jawaban dari isue lainnya.

 

Kata ganti orang ke-3 maskulin tunggal : Musa atau salah satu anaknya?

 

Seperti disampaikan pada bagian-bagian sebelumnya, salah satu kunci untuk sedikit menolong memahami bagian ini adalah mengetahui siapa yang dimaksud dengan ‘dia’ (orang ke-3 maskulin tunggal) yang muncul di ayat 24: TUHAN bertemu dengan dia (orang ke-3 maskulin tunggal) dan berikhtiar untuk membunuhnya (orang ke-3 maskulin tunggal)?

Kata ganti ‘dia‘ (orang ke-3 maskulin tunggal) yang mengikuti kata kerja, baik ‘bertemu’ maupun ‘membunuh’ merujuk pada Musa, bukan pada salah satu anaknya. Mengapa? Pertama, sebagai sebuah cerita yang berkelanjutan, orang laki-laki dalam bentuk tunggal yang terakhir disebutkan di rangkaian kisah ini adalah nama ‘Musa’ (di ay. 21).  Jika memang ada nama tokoh lain yang dimaksudkan, maka seharusnya kata ganti ‘dia’ tidak perlu disebutkan, cukup menyebutkan nama tokoh baru tersebut. Kedua, jika memang kata ganti ‘dia‘ (orang ke-3 maskulin tunggal) yang dimaksud adalah salah satu anak Musa, mengapa di ay 25 jelas-jelas disebutkan ‘anak laki-laki’ , bukan ‘dia’ juga?

 

Mengapa Tuhan Hendak Membunuh Musa ?

Di tengah berbagai macam penafsiran tentang alasan Tuhan hendak membunuh Musa, perlu dipahami dulu apakah cerita ini memiliki hubungan tema secara langsung dengan bagian sebelum dan sesudahnya atau tidak berhubungan. Seandainyapun bagian ini tidak memiliki hubungan tema secara langsung dengan bagian sebelum dan sesudahnya, seharusnya kisah ini begitu penting sehingga PERLU dimasukkan dan menginterupsi bagian ini. Ada banyak kisah dalam kehidupan Musa, tetapi mengapa hanya bagian ini yang dimunculkan? Pastinya bagian ini begitu signifikan bagi tujuan penulisan kitab Keluaran, bukan sekedar cerita tentang keseharian Musa dan keluarganya. Jika bagian ini hanya berbicara tentang penyunatan Musa dan keluarganya sebagai persiapan menjalani misi Allah, mengapa tidak dijelaskan secara detil, apakah Musa sudah disunat atau tidak, apakah salah satu anaknya sudah disunat atau tidak dll. Tidak ada signifikansi berrarti jika memang hanya Musa atau salah satu anaknya yang disunat karena hanya akan menimbulkan penafsiran lainnya: lelaki yang lain apakah telah disunat? Jika semua laki-laki yang hadir di kisah itu disunat, mungkin signifikansinya akan nampak, yaitu bahwa penyunatan menjadi hal yang penting bagi pelaksanaan misi Allah.

Justru jika bagian ini memiliki hubungan tema secara langsung dengan bagian sebelum dan sesudahnya dan diletakkan di bagian, kisah ini menjadi sesuatu yang indah dan sangat berarti bagi alur cerita. Namun tema apakah yang menyatukan kisah ini? Pastinya tema tentang misi Allah kepada Musa untuk pembebasan Israel dari Mesir. Dengan demikian ‘rencana Allah membunuh Musa’ juga dilihat dari terang kacamata tema tersebut. Rencana Allah membunuh Musa berhubungan dengan misi Allah yang diperintahkan kepada Musa. Rencana tersebut berhubungan dengan ‘’keengganan’ Musa untuk melaksanakan misi Allah. “Keengganan’ tersebut bukan karena malasnya Musa melaksanakan misi Allah, tetapi lebih ke arah ‘takut’. Darimana kita mengetahui bahwa Musa enggan melakukan misi Allah?

 

Bersambung…………..                                  

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community