Daud benci orang timpang dan orang buta (2 Samuel 5:8) (Bagian 9)

Posted on 15/11/2020 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/daud-benci-orang-timpang-dan-orang-buta-2-samuel-5-8.jpg Daud benci orang timpang dan orang buta (2 Samuel 5:8) (Bagian 9)

(Lanjutan tgl 8 November 2020)

Kembali ke persoalan awal, merujuk kemanakah bayit itu? Ada yang mengatakan bahwa bayit di sana merujuk pada bait Allah, rumah Allah; ada juga yang mengatakan bahwa itu merujuk pada kota Yerusalem atau lebih spesifik lagi, yaitu istana Daud.  Jika melihat gambaran keseluruhan kisah pendek ini, yang hanya ditulis 3 ayat, maka gambaran tempat yang ada hanyalah kota Yerusalem, yang masih akan dikalahkan Daud dan orang-orangnya dari penduduk Yebus yang menempatinya. Istana Daud baru akan dibangun di ayat sesudahnya, yaitu ayat 9-11 yang merupakan upaya mempersiapkan istana bagi Daud.  Bagaimana dengan Bait Allah? Daud pernah merencanakan untuk membangun Bait Allah tetapi Allah tidak mengijinkan Daud untuk membangunnya; Allah menjanjikan anak Daud lah yang akan membangun Bait Allah (2 Sam. 7).

Selain itu, kemunculan kalimat ‘orang buta dan orang timpang tidak boleh masuk ke bait’ akan mendukung bahwa yang dimaksud dengan bayit di sana adalah sebuah tempat yang dikenal atau ada saat itu. Mengapa? Telah disampaikan sebelumnya bahwa kata ‘orang buta dan orang timpang’ muncul tanpa artikel h yang harus diartikan ‘blind and lame’ atau the ‘blind and lame’. Sedangkan untuk kata bayit, kata itu muncul dengan artikel h di depannya yang artinya ‘rumah itu’ atau ‘the house’ bukan ‘rumah’ atau ‘house’. Dengan kata lain kemunculan habayit di sini merujuk sesuatu yang ada atau dikenal di ayat. 6-8. Dalam hal ini pemilihan habayit untuk merujuk pada kota Yerusalem adalah pemilihan yang tepat.

Kalaupun pada akhirnya  kata-kata ungkapan ‘orang buta dan orang timpang’ tidak boleh masuk ke Yerusalem’ mengalami perkembangan arti dan penerapan, hal itu bukanlah sesuatu yang mencengangkan. Yerusalem akhirnya identik dengan Daud karena Daud sendiri menamainya ‘kota Daud’ (2 Sam. 5:9; 1 Taw. 11:7) dan menjadikannya sebagai istananya (band: kota Gibea sebasgai ibukota Saul). Identifikasi Yerusalem dengan beberapa tempat penting di era pemerintahan Daud mencapai puncaknya ketika anak Daud, Salomo, mendirikan Bait Allah juga di Yerusalem (1 Raja 5-6). Tidak mengherankan jika kemudian salah satu terjemahan Alkitab yang penting, yaitu Septuaginta,  langsung menafsirkan kata bayit ini dengan bait Allah dan menuliskannya demikian : oikon tou kuriou, artinya “rumah Tuhan”. Orang memperkirakan di era berkembangnya Septuaginta, sudah ada semacam larangan orang-orang cacat (diwakili istilah ‘orang buta dan orang timpang’) tidak boleh memasuki Bait Allah. Mishnah (catatan hukum lisan orang Yahudi) juga mencatat larangan orang cacat masuk di Bait Suci:

Semua orang wajib untuk beribadah kepada Tuhan, kecuali orang tuli bisu, orang dungu, seorang anak, orang dengan kelamin yang meragukan, orang berkelamin ganda, para wanita, budak yang belum dibebaskan, orang yang timpang atau buta atau sakit atau berusia lanjut dan orang yang tidak sanggup naik ke Yerusalem (Hagigah 1.1)

 Salah satu gulungan yang ditemukan di Laut Mati (yang terkenal dengan istilah Naskah Laut Mati), yaitu Temple Scroll mencatat adanya larangan orang buta masuk ke Yerusalem. Di gua ke-11 Qumran ditemukan Temple Scroll yang di dalamnya salah satunya mencatat larangan

orang buta untuk tidak boleh masuk ke kota suci selamanya dan alasannya adalah disebabkan karena polusi yang bisa ditimbulkan terhadap kota Yerusalem. 

Setiap orang buta tidak boleh memasuki kota itu sepanjang umur mereka; mereka tidak boleh membawa polusi di kota dimana aku tinggal (11QTª 45:12-14)

Kesimpulannya apa yang menjadi ungkapan orang pada saat itu ‘orang buta dan orang timpang tidak boleh masuk ke Yerusalem’ hanya menjadi semacam larangan yang mengikat di suatu era atau kondisi atau kalangan tertentu. Tidak lama setelah ungkapan itu muncul, Mefiboset yang timpang (2 Sam. 4:4), anak Yonathan, sahabat Daud, pergi menghadap Daud (2 Sam. 9). Dimana? Ya pasti di kota dan istana Daud di Yerusalem. Bahkan 2 Sam 9:13 menuliskan ‘Demikianlah Mefiboset diam di Yerusalem, sebab ia tetap makan sehidangan dengan raja. Adapun kedua kakinya timpang.’ Sebenarnya kalimat ini sangat amat bertentangan dengan apa yang sedang dibahas di keseluruhan bagian ini. Dalam Perjanjian Baru pun, yaitu di Matius 21 dikatakan, ‘maka datanglah orang-orang buta dan orang-orang timpang kepada-Nya dalam Bait Allah itu dan mereka disembuhkan-Nya (Matt. 21:14). 

Semoga artikel ini (lebih panjang dari yang penulis pikirkan) membantu kita memahami tentang salah satu bagian dalam Alkitab yang banyak menimbulkan masalah (2 Sam. 5:6-8). Tuhan memberkati kita sekalian. Amen.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community