Penampilan fisik dalam perjanjian lama

Posted on 23/06/2013 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/penampilan_fisik_dalam_perjanjian_lama.jpg Penampilan fisik dalam perjanjian lama

Dalam Alkitab, acapkali penampilan fisik seseorang dipaparkan secara mendetil. Kitab  Kidung Agung merupakan satu-satunya kitab dalam Alkitab yang memaparkan penampilan fisik seseorang secara mendetil. Tetapi mungkin ada beberapa orang yang mempertanyakan definisi atau kriteria cantik/ganteng dalam Alkitab dan membandingkannya dengan definisinya dalam konteks dunia modern sekarang ini. Hal ini berkenaan dengan gambaran yang diberikan oleh Alkitab, misalnya Sarah dikatakan cantik (Kej. 12:11), bahkan sangat cantik (ay. 14). Pujian “(sangat) cantik” yang dikenakan kepada Sara akan sulit dipahami oleh orang modern mengingat usia Sara yang tidak mudah lagi.

GANTENG & CANTIK

Dalam 1 Samuel 9:2 Saul digambarkan sebagai “seorang muda yang elok rupanya (†ôB); tidak ada seorangpun dari antara orang Israel yang lebih elok dari padanya: dari bahu ke atas ia lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya.” Kegantengan yang dimiliki Saul setidaknya dinilai dari 2 sisi, yaitu wajahnya dan tinggi badannya. Untuk menonjolkan kegantengan yang dimiliki Saul, penulis kitab 1 Samuel bahkan membandingkannya dengan seluruh laki-laki di Israel. Tinggi badannya sangat mencolok, bahkan dinyatakan 2 kali (1 Sam. 9:2 dan 10:23-24).

Selain Saul, penampilan fisik Daud juga digambarkan secara menonjol dalam 1 Sam. 16:12 “kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok.” Penampilan fisik Daud ini juga dikorfirmasi oleh Goliat, musuhnya, ketika mereka akan berperang (1 Sam. 17:42). Rupanya “kemerah-merahan” merupakan salah satu kriteria ganteng untuk seorang lelaki (Kid. 5:10). Selain itu bentuk tubuh tertentu digambarkan merupakan idealisme seorang laki-laki (Dan. 1:15). Rambut dan janggut seorang laki-laki juga mendapatkan perhatian untuk mendukung penampilan fisiknya (2 Sam 14:26; Kid. 5:11). Kemampuan fisik untuk bergerak secara cepat juga menjadi sasaran kriteria keindahan fisik seorang laki-laki (2 Sam 1:23; Kid. 2:8,9,17; 8:14). Semua kumpulan kriteria di atas (dan pastinya ada beberapa lainnya yang tidak disebutkan di Alkitab), terkumpul menjadi satu dan diwakili oleh satu kata †ôB, yang dalam LAI seringkali diterjemahkan dengan “elok parasnya” untuk menggambarkan keindahan fisik seorang laki-laki.

Bagi seorang perempuan, penggunaan ungkapan-ungkapan untuk menggambarkan keindahan fisiknya hampir sama dengan laki-laki, namun ada sedikit perbedaan. Abigail, istri Nabal dikatakan “bijak dan cantik” (1 Sam 25 .3) sama seperti Rahel (Kej. 29:17), Yusuf (Kej. 39:6; 1 Sam. 16:12). Sebagaimana mata Daud yang ditampilkan sebagai salah satu keindahan fisiknya (1 Sam 16:12), begitu pula yang ditonjolkan pada Rahel dengan menampilkan kontras dari mata Lea (LAI: tidak berseri matanya). Dalam Kid. 4:1 digambarkan bahwa mata yang indah itu diibaratkan seperti merpati dan dalam Amsal 6:25 bulu mata menjadi nilai tersendiri yang membuat seorang wanita itu menarik.  Gigi yang bagus (Kid. 4:2; 6:6), payudara (Kid. 7:3) serta suara yang merdu (Kid. 2:14) merupakan bagian yang merangkai keindahan fisik seorang wanita. 

Di atas semua itu, keindahan fisik yang digambarkan oleh Alkitab mencapai gambaran yang sempurna pada perincian fisik Absalom, anak Daud. Dalam 2 Samuel 14:25-27 tidak digambarkan satu persatu kondisi fisik Absalom. Alkitab hanya memakai kata “Dari telapak kakinya sampai ujung kepalanya tidak ada cacat padanya.” Penampilan fisik yang baik dan tidak adanya cacat juga muncul dalam penggambaran anak-anak muda Israel yang dibawa sebagai tawanan di kerajaan Babel (Dan. 1:4). Cacat yang dimaksud memang tidak digambarkan, namun dari Imamat 21:18-20 dipaparkan beberapa kriteria yang dimaksud dengan cacat tubuh.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community