Mengapa manusia tidak mati setelah makan buah pengetahuan yang baik dan jahat? (Bagian 2)

Posted on 07/07/2019 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/mengapa-manusia-tidak-mati-setelah-makan-buah-pengetahuan-yang-baik-dan-jahat.jpg Mengapa manusia tidak mati setelah makan buah pengetahuan yang baik dan jahat? (Bagian 2)

(Lanjutan tgl 30 Juni 2019)

PEMBATASAN DARI ALLAH

Manusia memang bebas makan buah dari pohon-pohon di Taman Eden (2:16). Bagaimanapun, kita tidak boleh memandang kebebasan ini sebagai sebuah hak yang mutlak. Kebebasan manusia adalah di dalam ijin Allah. Kebebasan yang sesungguhnya terbatas pada perintah Allah (Yoh 8:32). Melangkah lebih jauh dari ini bukanlah tindakan kebebasan, tetapi perbudakan kepada dosa.

Di tengah kebebasan yang diberikan, Allah juga memberikan larangan (pembatasan) di 2:17. Pembatasan seperti ini seharusnya tidak mengagetkan kita, karena sebelumnya Allah sudah menetapkan batasan bagi alam (terang – gelap, air atas – air bawah, darat – laut, siang – malam) maupun makhluk hidup lain (binatang laut, darat, udara dan perkembangan menurut jenisnya). Pembatasan dalam perspektif Allah tidak lebih dari sebuah pengaturan, bukan belenggu.

Apa yang disebut “pembatasan” di sini sebenarnya sudah sangat longar. Semua pohon boleh dimakan buahnya dengan bebas (2:16), hanya satu yang tidak boleh dimakan (2:17). Semua pohon pun sama-sama menarik untuk dilihat dan sedap untuk dimakan (2:9; 3:6), sehingga manusia memiliki begitu banyak pilihan dan tidak terpaku pada salah satu di antaranya. Di kisah selanjutnya kita mengetahui bahwa ular secara licik telah berusaha mengaburkan kebaikan Allah ini dengan mengatakan yang sebaliknya (3:1b).

Susunan kalimat dalam larangan ini mirip dengan larangan dalam Sepuluh Perintah (Kel 20:3-17). Penambahan alasan bagi larangan tersebut (“karena pada hari engkau memakannya...”) juga mirip dengan Keluaran 20:5, 7, 11. Penggunaan keterangan waktu imperfek yang mengikuti kata “jangan” menyiratkan sebuah larangan yang durasinya panjang, walaupun kita tidak pernah tahu seberapa panjang Allah memaksudkan larangan ini.

 

‘PADA HARI’

Kata yang sering menimbulkan perdebatan dalam persoalan ini adalah kata “pada hari” (beyôm). Beberapa berusaha memahami dengan arti “ketika”, dengan alasan kata beyôm muncul di 2:4 dan 5:1 dengan arti yang sama. Yang lain memilih untuk menerima arti beyôm yang umum, yaitu “pada hari”.

Dalam hal ini kita sebaiknya melihat frase “pada hari engkau memakannya, mati, pastilah engkau akan mati” secara keseluruhan dan tidak hanya memfokuskan pembahasan pada kata beyôm. Frase yang mirip dengan ini muncul di 1 Raja-raja 2:37 ketika Salomo memberi peringatan kepada Simei: “pada waktu [beyôm] engkau keluar dan menyeberangi sungai Kidron, pastilah engkau mati dibunuh dan darahmu akan ditanggungkan kepadamu sendiri”. Beberapa ayat sesudahnya (2:42) diceritakan bahwa tidak langsung mati pada saat ia melanggar peringatan tersebut. Ia baru mati setelah Raja Solomo memerintahkan Benaya bin Yoyada untuk memancungnya (2:46). Contoh lain adalah perkataan Firaun kepada Musa: “sebab pada waktu engkau melihat mukaku, engkau akan mati” (Kel 10:28). Ungkapan ini jelas dimaksudkan Firaun sebagai keseriusan untuk membunuh Musa apabila Musa berani menghadap Firaun lagi. Dari dua kisah di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa yang dipentingkan dalam frase “beyôm... môÅ£ tāmûÅ£” bukanlah kesegeraan hukuman (dari sisi waktu), tetapi kepastian atau keseriusan hukuman.

 

Bersambung………………

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community