Mengapa manusia tidak mati setelah makan buah pengetahuan yang baik dan jahat? (Bagian 1)

Posted on 30/06/2019 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/mengapa-manusia-tidak-mati-setelah-makan-buah-pengetahuan-yang-baik-dan-jahat.jpg Mengapa manusia tidak mati setelah makan buah pengetahuan yang baik dan jahat? (Bagian 1)

Persoalan yang cukup rumit berkaitan dengan peringatan hukuman di 2:17 (“pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati”) adalah realisasinya di pasal 3 yang tampaknya tidak sesuai. Bukankah Adam tidak langsung mati pada hari ia memakan buah itu?  Apakah Allah hanya sekadar memberikan gertakan belaka? Apakah Iblis justru lebih jujur daripada Allah (3:4 “sekali-kali kamu tidak akan mati”)?

Para penafsir mencoba memberikan beragam alternatif solusi bagi persoalan ini. Sebagian melihat “kematian” di 2:17 secara rohani (“dosa yang memisahkan mereka dari Allah”) dan ini memang langsung terjadi pada saat manusia memakan buah tersebut (3:7-10). Pendekatan ini terlihat terlalu dogmatis. Teks tidak memberikan petunjuk yang jelas bagi pembaca untuk mengetahui jenis kematian seperti ini.

Sebagian lagi memahami peringatan di 2:17 dalam arti manusia kematian secara fisik, tetapi menambahkan bahwa pada saat manusia memakan buah itu mereka menjadi “dapat mati” (mortal). Pandangan ini mengasumsikan bahwa manusia semula diciptakan sebagai makhluk yang tidak dapat mati.

Keberatan yang lazim diajukan untuk menentang solusi ini adalah ajaran Alkitab di tempat lain bahwa hanya Allah yang tidak bisa mati (1 Tim 6:16). Keberatan ini tidak terlalu kuat, karena para malaikat pun juga tidak mengalami kematian. Jika Allah mau, Ia bisa saja menciptakan manusia dengan kepasitas kekekalan, baik secara hakiki (dalam diri manusia ada kapasitas itu) atau melalui makan buah dari pohon kehidupan. Kekekalan manusia pasti berbeda dengan Allah, karena kekekalan Allah tidak ada awal maupun akhir. Keberatan serius terhadap solsui “manusia menjadi dapat mati” justru terletak pada makna tersebut yang sangat asing dalam PL. Semua pemunculan môÅ£ tāmûÅ£ tidak ada yang mengandung makna seperti itu.

Sebagian lagi berusaha menerangkan peringatan di 2:17 dalam terang seluruh Kejadian 1-11. Dalam bagian ini salah satu tema yang dominan adalah “anugerah”. Setiap kali Allah memberikan hukuman selalu disertai dengan anugerah (3:16-19 [hukuman], 3:15, 21 [anugerah]; 4;11-15 [hukuman], 4:15 [anugerah]). Sesuai perspektif ini, ketidakselarasan antara peringatan di 2:17 dan realisasi di pasal 3 harus dilihat sebagai bentuk anugerah Allah atas manusia. Walaupun pandangan ini sangat menarik dan mendalam secara teologis, tetapi kita sebaiknya mengkaji ulang solusi ini. Pasal 3 sudah memberikan beberapa bentuk anugerah yang lebih konkrit dan jelas. Lagipula, pada waktu peringatan ini diberikan tidak ada petunjuk apa pun tentang anugerah. Yang ditekankan justru adalah keseriusan dalam peringatan ini.

Solusi terbaik adalah dengan membaca ulang peringatan di 2:7 secara lebih teliti dan apa adanya, tanpa merisaukan Kejadian 3 terlebih dahulu.

Bersambung………………...

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community