Kakinya adalah tiang-tiang marmar putih, bertumpu pada alas emas murni

Posted on 18/02/2018 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Kakinya-adalah-tiang-tiang-marmar-putih.jpg Kakinya adalah tiang-tiang marmar putih, bertumpu pada alas emas murni

Istilah Ibrani soq (LAI : kaki) dapat berarti paha ataupun seluruh kaki. Jika berhubungan dengan kaki orang (bukan binatang), soq lebih  mengarah pada arti kaki secara keseluruhan (Maz. 147:10; Ams. 26:7; Yes 47:2). Perbandingan kaki dengan tiang-tiang memiliki persamaan dengan apa yang pernah muncul di kitab Sirakh 28:18:

Seperti tiang emas di atas alas perak, demikianlah betis yang gagah di atas tumit yang kukuh kuat.

Walaupun ayat di atas ditujukan kepada kaum perempuan, bukan laki-laki seperti di Kidung Agung 5:15, namun kesamaan gambaran tentang kaki ini menjadi petunjuk untuk memahami bagian ini. Dan yang menarik juga adalah perbandingan kaki wanita dengan tiang muncul dalam puisi tradisional Arab.

Your legs are like marble columns in the Omayad mosque.

Let me see your legs! (….) my legs are columns of marble.

Kali ini di Kid. 5:15, tiang yang dipakai adalah tiang marmar putih. Istilah ‘marmar putih’ (ses) pernah muncul di bagian lain Alkitab, yaitu 1 Taw 29:2 (pualam);dan Ester 1:6 (marmar putih). Menariknya kemunculan kata ses ini berbarengan dengan rangkaian barang-barang berharga yang mahal. Dalam dunia kuno, ada 2 jenis ses (marmar putih) yang dikenal. Pertama yang terbuat dari gipsum dengan warna putih sempurna, sedangkan yang kedua  terbuat dari batu gamping (banyak tersebar di daerah Timur Tengah) dengan warna antara putih dan kuning yang bergaris garis putih. Banyak benda rumah tangga yang terbuat dari ses ini, seperti tempat/pot untuk parfum, gelas (untuk minum) yang memiliki kaki, kaki tenpat tidur atau kursi, guci/kendi, tiang-tiang dan berbagai hiasan lainnya. Bahkan pembuatan patung seringkali mempergunakan bahn ini baik sebagian atau seluruhnya.

Dengan demikian perbandingan kaki dengan tiang-tiang marmar putih dimaksudkan untuk memberi penekanan terhadap kekokohan kaki sang pria.

Kembali di bagian ini, sang wanita memakai gambaran tentang ‘emas’ (bdg, ay. 11 kepalanya seperti emas; ay. 14 tangannya bundaran emas). Kemunculan emas ini menjadi inti keseluruhan pujian bahwa sang pria ini merupakan keindahan tersendiri dan unik bagi sang wanita. Bayangkan seorang pria:

Kepala seperti emas, bahkan emas murni

Tangannya bundaran emas

Kakinya bertumpu pada alsa emas

Kepala di atas, tangan di tengah dan kaki di bagian bawah badan, seakan-akan mewakili hampir seluruh badan sang pria bertaburan dengan gambaran tentang emas.

Perawakannya seperti gunung Libanon, terpilih seperti pohon-pohon aras

Kemunculan kata Libanon dan pohon aras memang sesuatu yang umum di era Alkitab. Istilah aras dari Libanon banyak muncul (Hakim 9:15; 1 Raja 5:16; Mazm 37:36; 92:12; Ezra 3:7). Kali ini sang wanita memuji perawakan sang pria yang diibaratkan gunung Libanon.

Kata ‘perawakan’ (mar’eh) berasal dari kata kerja ra’ah, yang artinya ‘melihat’. Dengan menilai ‘perawakan’ berarti sang wanita melibatkan unsur visual dalam menilai sang pria. Ketika perawakan tersebut diibaratkan dengan aras Libanon, maka ini perlu diperhatikan secara seksama, karena penggambaran dengan aras Libabon memiliki banyak unsur, entah kuatnya, tingginya, baunya, dll. Jika melihat hubungan keseluruhan bagian ini, maka unsur tinggi menjadi perhatian sang wanita. Ketika di ay 10b  dikatakan sang pria ‘menyolok mata di antara selaksa orang’, maka pasti ada bagian tertentu yang memunculkan unsur tersebut, yaitu tinggi badan sang pria. Dan penggambaran ini sesuai dengan salah satu identifikasi gambaran pohon aras:

untuk menghukum semua pohon aras di Libanon yang tumbuh meninggi dan tetap menjulang, dan menghukum semua pohon tarbantin di Basan; (Yes 2:13)

Padahal Akulah yang memunahkan dari depan mereka, orang Amori, yang tingginya seperti tinggi pohon aras dan yang kuat seperti pohon tarbantin; Aku telah memunahkan buahnya dari atas dan akarnya dari bawah. (Amos 2:9)

Tinggi badan sang pria ternyata menjadi perhatian sang wanita untuk dipuji. Untuk membandingkan bagaimana tinggi badan itu penting, lihat kisah Saul : Orang ini ada anaknya laki-laki, namanya Saul, seorang muda yang elok rupanya; tidak ada seorangpun dari antara orang Israel yang lebih elok dari padanya: dari bahu ke atas ia lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya (1 Sam 9:2).

NK_P

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community