Hukuman Untuk Laki-laki (Kejadian 3:17-19)

Posted on 09/07/2017 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/hukuman-untuk-laki-laki-kejadian-3-17-19.jpg Hukuman Untuk Laki-laki (Kejadian 3:17-19)

Hukuman atas laki-laki adalah yang terpanjang. Kesalahan Adam pun sengaja diletakkan di depan sebagai penekanan (3:17a). Lebih jauh, kesalahan ini diterangkan secara panjang lebar (3:17a). Ini semua sangat mungkin berhubungan dengan posisi Adam sebagai kepala, sehingga ia mengemban tanggung-jawab yang lebih berat.

Tindakan Adam mendengarkan perkataan isterinya (3:17) mirip dengan kesalahan Abraham ketika ia bersedia menghampiri Hagar akibat desakan dari Sara (16:2). Mengikuti perkataan isteri sebenarnya pada dirinya sendiri tidaklah salah, sepanjang perkataan itu tidak bertentangan dengan firman Tuhan. Persoalannya, bagian selanjutnya dari 3:17 menunjukkan bahwa perkataan perempuan bertentangan dengan perkataan TUHAN.

Larangan untuk memakan buah diucapkan sekali lagi di bagian ini (3:17). Ada dua tujuan di baliknya. Pertama, untuk memberikan penegasan terhadap kesalahan Adam. Kali ini ia tidak ditanya lagi oleh TUHAN (bdk. 3:11). Ia langsung mendengarkan berita penghakiman tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun (3:17). Kedua, memberi penekanan pada kata “makan”. Kata ini muncul sebanyak lima kali di 3:17-19. Karena dosa Adam adalah memakan, maka hukumannya juga berkaitan dengan makanan. Begitu mudahnya Adam memakan buah yang dilarang oleh TUHAN, maka sekarang begitu susahnya bagi dia untuk memakan apa yang sebelumnya diperbolehkan, bahkan disediakan oleh Allah (1:29). 

Sebagai respon terhadap ketidaktaatan di atas, Allah mengutuk tanah karena Adam, sehingga ia harus bersusah-payah mencari makanannya (3:17). Seperti sudah disinggung sebelumnya, kesusahan (‘işşābȏn) yang dialami laki-laki (3:17b-19a) sama dengan kesusahan (‘işşābȏn) perempuan waktu melahirkan anak (3:16). Kesamaan lain terletak pada area terpenting dalam hidup mereka yang dikenai hukuman secara langsung. Bagi seorang perempuan, kebahagiaan dan kehormatan tertinggi adalah ketika ia mampu melahirkan banyak keturunan. Bagi seorang laki-laki, kepuasan tertinggi terletak pada keberhasilannya menyediakan nafkah bagi keluarga. Dua area penting inilah yang dijadikan obyek hukuman Allah.

Bentuk hukuman kepada laki-laki menyiratkan beberapa ironi yang tragis. Tanah sebelumnya merupakan asal laki-laki (2:7) dan menjadi daerah kerja yang dipercayakan Allah kepadanya (2:15). Sekarang tanah telah dikutuk dan menjadi sumber kesusahan bagi Adam (3:17-19). Tanah yang dulu adalah hamba, sekarang menjadi musuh. Kalau sebelumnya tanah adalah awal keberadaan Adam (2:7), sekarang tanah akan menjadi akhir dari keberadaan Adam (3:19). Sebelumnya tanaman (‘ēšeb) lebih dipandang sebagai pemberian Allah (1:29) dan sangat mudah didapatkan (1:11-12), kini makanan lebih terlihat sebagai hasil upaya keras manusia untuk mendapatkannya (3:18). Kalau dahulu di dalam taman semua buah dan tanaman hijau sudah tersedia dengan limpah (2:9), sekarang manusia harus diusir dari taman (3:23-24) dan memulai semua kesusahan mereka dalam mencari tanaman di padang (3:18b).

Kesusahan agrikultural terjadi karena tanah menumbuhkan semak duri dan rumput duri (3:18a). Gambaran seperti ini juga pernah dipakai di tempat lain untuk menggambarkan hukuman TUHAN yang serius (Hos 10:8). Tanaman berduri sebelumnya tidak ada di bumi (2:5-7). Situasi ini terlihat sangat tragis. Apa yang dahulu tumbuh dengan sendirinya dan bisa dinikmati sebagai makanan (1:11-12, 29; 2:9), sekarang justru harus diusahakan (3:17b-19a). Apa yang dahulu tidak ada (2:5-7) sekarang malah tumbuh dengan sendirinya (3:18a) tanpa perlu diupayakan oleh manusia.

Hukuman terakhir untuk Adam berhubungan dengan kematian. Ia harus kembali kepada debu, sebagaimana ia berasal (3:19b). Adam (’ādām) harus kembali kepada tanah (’ădāmâ). Bagian ini dituliskan dalam struktur chiasme:

engkau kembali

ke tanah

karena (kî) darinya [debu] engkau diambil

C’ karena (kî) engkau adalah debu

B’ dan kepada debu

A’ engkau akan kembali

Sebagian penafsir berpendapat bahwa kematian sebenarnya tidak termasuk hukuman. Pemunculan frase “sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu” hanya berfungsi untuk menjelaskan berapa lama kesusahan akan dialami oleh manusia. Kematian adalah bagian dari kehidupan manusia sejak awal.

Pendapat tersebut tidak sesuai dengan konteks Kejadian 2-3. Kematian harus dipahami sebagai kontras terhadap posisi manusia sebagai makhluk hidup (2:7). Kematian juga secara eksplisit disebutkan sebagai hukuman atas dosa (2:17). Kematian ini pula yang coba disangkal oleh ular (3:4). Semua petunjuk ini sudah cukup untuk menunjukkan bahwa kematian tidak termasuk dalam rencana awal Allah. Keberdosaan Adam membuat maut masuk dalam kehidupan manusia (Rom 5:12). Sejak saat itu semua manusia harus kembali pada debu (Ay 10:9; Mzm 103:14; 104:29; Pkt 3:20).

Hukuman untuk Adam dalam beberapa hal sama dengan hukuman untuk ular. Keduanya sama-sama mengalami hukuman yang berlangsung permanen (3:14, 17). Kematian keduanya juga ditampilkan secara cukup jelas (kepala ular akan dihancukan, Adam akan kembali kepada debu). Hukuman keduanya pun sama-sama berkaitan dengan debu (3:14, 19).

Hukuman bagi Adam bukanlah segala-galanya. Di dalam hukuman ini tetap ada anugerah dan pengharapan. Allah tidak langsung mematikan Adam saat itu juga. Ia hidup sampai usia 930 tahun (5:5). Allah hanya menutup akses kepada kekekalan (3:22-24). Ia juga masih bisa mendapatkan makanan dari tanah, walaupun kali ini harus dengan susah-payah (3:17-19). Hal ini tetap harus dipandang sebagai pemberian ilahi (9:2-3).

Dalam rencana ilahi yang lengkap, keadaan alam yang tidak bersahabat, kesusahan, dan kematian bukanlah titik akhir. Keturunan perempuan yang akan menghancurkan kepala ular (3:15) juga akan memulihkan segalanya. Penebusan Kristus berkaitan dengan pemulihan seluruh tatanan alam semesta (Rom 8:19-22). Allah sudah menyiapkan langit dan bumi yang baru (Yes 65:17; 66:22; 2 Pet 3:13; Why 21:1). Sebagai ganti kesusahan dan kematian, Allah menyediakan kehidupan kekal di surga yang tidak mengenal kesakitan dan air mata (Why 7:17; 21:4). Kematian fisik yang adalah hukuman Allah ternyata sekaligus menjadi berkat yang menyudahi semua kesusahan manusia (Why 14:13). Sebagai ganti tubuh jasmani yang dapat binasa, Allah akan menyediakan tubuh kemuliaan melalui karya penebusan Kristus (1 Kor 15:35-58).

NK_P

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community