Hukuman untuk Kain, Ringan atau Berat? (Bagian 2)

Posted on 28/07/2019 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/hukuman-untuk-kain-ringan-atau-berat.jpg Hukuman untuk Kain, Ringan atau Berat? (Bagian 2)

(Lanjutan tgl 21 Juli 2019)

Bagaimana kutukan untuk Kain di 4:11 akan terlaksana? Tanah yang sudah dikutuk oleh Allah karena dosa Adam (3:17) ternyata bukanlah tanah yang terjelek. Tanah yang akan diolah oleh Kain lebih buruk (4:12). Sebelumnya Kain masih bisa mendapatkan hasil positif dari tanahnya (sekalipun ini tentu saja diperoleh dengan susah-payah, bdk. 3:17-19), namun kini situasi menjadi tambah sulit. Dalam periode selanjutnya kutukan berupa ketidaksuburan tanah dan kegagalan panen menjadi peringatan serius bagi bangsa Israel yang tidak setia terhadap perjanjian (28:16-18).

Hukuman lain untuk Kain adalah menjadi pelarian dan pengembara (nā‘ wānad). Walaupun secara hurufiah frase ini menyiratkan dua hal yang berbeda, tetapi pilihan beberapa versi Inggris modern untuk menggabungkan keduanya (NIV/NLT/NJB “restless/homeless wanderer” = pengembara yang resah/tanpa rumah”) terlihat lebih masuk akal. Dari sisi fonologi (bunyi), keduanya sangat mirip. Arti dari kata dasar nûa‘ dan nûd juga beberapa tumpang-tindih. Dua kata ini muncul bersamaan dalam sebuah paralelisme di Yesaya 24:20 (“Bumi terhuyung-huyung [nûa‘] sama sekali seperti orang mabuk dan goyang [nûd] seperti gubuk yang ditiup angin”).  Sesuai kaidah bahasa Ibrani, penggunaan dua kata yang bunyi dan artinya hampir sama dimaksudkan sebagai sebuah bentuk penekanan. Kain bukan hanya menjadi pengembara (terpisah dari keluarga), tetapi hidupnya juga menjadi tanpa tujuan yang jelas. Ia akan terus-menerus berada dalam keresahan dan ketidakpastian. Ini mirip dengan bangsa Israel di padang gurun yang dihukum TUHAN dengan berkeliling tanpa kepastian selama 40 tahun (Bil 14; Ul 2:14-15). 

Apakah Kain benar-benar menjadi pengembara yang terus-menerus berpindah tempat (seperti suku tertentu yang nomadik)? Sebagian besar penafsir cenderung menolak makna seperti ini. Yang dipentingkan dalam hukuman nā‘ wānad adalah keterpisahan dari keluarga/komunitasnya. Bagi masyarakat kuno hal ini merupakan sesuatu yang sangat berat karena pada waktu itu seseorang mendapatkan identitas diri dan perlindungan dari komunitasnya.

Ada beberapa alasan yang mendukung gagasan di atas:

  1. Kain pada akhirnya menetap di suatu tempat (4:16), tidak berpindah-pindah
  2. Keturunan Kain bahkan mulai mendirikan kota (4:17)
  3. Kain mengaitkan hukuman ini dengan keterpisahannya dari hadapan Tuhan (4:14), bukan dalam konteks selalu berpindah tempat
  4. Kekuatiran Kain terhadap konsekuensi dari hukuman ini adalah kehilangan perlindungan (4:14).

Bagaimana Kain meresponi hukuman dari Allah ini? Dalam ay. 13 dikatakan Kain merasa hukuman (‘āwōnî) yang diberikan terlalu berat untuk dia tanggung (nāśā’). Kata ‘āwōnî dapat berarti “kesalahanku” atau “hukumanku”, sedangkan kata nāśā’ dapat diterjemahkan “mengampuni” atau “menanggung”. Beberapa versi kuno (LXX, Vulgata, dan Targum Onkelos) memilih memahami perkataan Kain di ayat ini sebagai bentuk permohonan pengampunan (“kesalahanku terlalu besar untuk diampuni”). Penafsiran para rabi dalam Talmud Babilonia juga mengambil posisi yang sama. Pada periode selanjutnya penafsiran seperti ini juga dipegang oleh Martin Luther dan sebagian penafsir modern.

Bersambung…………

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community