Gua Singa dalam Daniel 6 – Literal atau Kiasan? (Bagian 1)

Posted on 26/01/2020 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/gua-singa-dalam-daniel-6-literal-atau-kiasan.jpg Gua Singa dalam Daniel 6 – Literal atau Kiasan? (Bagian 1)

(Lanjutan tgl 19 Januari 2020)

Jika mendengar kata ‘gua singa’ dalam narasi Alkitab, acapkali orang mengidentikkannya dengan kisah Daniel yang berada di gua singa (Daniel 6).  Daniel yang sangat dikasihi raja Media, Darius, dimasukkan ke dalam tempat penghukuman berupa gua singa. Hal ini diakibatkan oleh kecemburuan para petinggi kerajaan yang melihat posisi Daniel yang sangat bagus di pemerintahan Darius: Daniel menjadi  salah satu dari 3  pejabat tinggi yang bertugas membawahi  120 orang wakil raja. Dari antara 3 pejabat tinggi, Daniel menempati posisi tertinggi dan raja Darius berencana menempatkan Daniel di posisi tertinggi menguasai kerajaan (6:4). Teman-temannya iiri sehingga mereka mencari cara untuk mengurungkan rencana raja. Mereka tidak mendapati kesalahan dalam diri Daniel kecuali dalam hal Daniel yang beribadah kepada Allah. Maka mereka mencari cara dengan membujuk raja Darius mengeluarkan peraturan: jika dalam 30 hari ada orang yang menyembah allah lain selain raja Darius, maka orang tersebut akan dimasukkan ke gua singa. Daniel masuk dalam kualifikasi hukuman dilempar ke gua singa karena dalam sehari 3 kali dia beribadah kepada Allah.

 

LITERAL ATAU METAFORA?

Yang menjadi pertanyaan sekarang apakah istilah ‘gua singa’ itu memang benar-benar gua singa dalam arti literal? Ataukah istilah ini hanya sekedar merupakan kiasan, sebagaimana ada pepatah mengatakan ’lepas dari mulut harimau jatuh ke mulut buaya.” ‘Mulut harimau’ atau ‘mulut buaya’ yang dimaksud pastilah bukan dalam arti mulut harimau atau buaya yang sesungguhnya. Penggunaan kiasan itu hanya sekedar ingin menunjukkan kondisi seseorang yang keluar dari sebuah bahaya besar, namun justru jatuh ke masalah yang lebih besar lainnya.

Dalam dunia kuno sekeliing Alkitab, ada salah satu contoh penggunaan ‘gua singa’ dalam arti ‘musuh-musuh’. Sebuah surat resmi yang dikeluarkan oleh pemerintahan Neo-Asyur diceritakan tentang pengusir setan yang bernama Urad-Gula. Urad-Gula ini bekerja pada raja Esarhadon, namun dia diberhentikan pada era raja Asyurbanipal. Dia menulis surat kepada raja Asyurbanipal, menceritakan kondisinya yang menyedihkan dan meminta bantuan finansial. Urad-Gula menggambarkan suasana pengadilan di istana raja seperti ‘gua singa-singa’ yang merujuk pada teman-teman dan saingan-saingannya yang jahat.

Beberapa sarjana lebih memahami bahwa gua singa adalah bentuk bahasa metafora untuk menggambarkan perangkap yang dilakukan oleh para musuh terhadap Daniel berdasarkan kisah yang bermotif orang Babel atau orang Persia. Ada beberapa keberatan untuk memperlakukan kisah gua singa ini sebagai kisah literal, seperti misalnya

  • tidak adanya catatan tentang penghukuman lempar ke gua singa yang dilakukan oleh orang-orang Persia
  • tidak mungkin seekor singa tinggal di sebuah gua; singa hidup di udara terbuka

 

PENGHUKUMAN DI GUA SINGA

Seperti disampaikan sebelumnya, salah satu keberatan memahami penghukuman dilempar ke gua singa adalah tidak adanya catatan bentuk penghukuman tersebut yang dilakukan oleh orang-orang Persia. Tidak adanya catatan tentang bentuk penghukuman itu tidak menjadi alasan untuk menolak kemungkinan keberadaan jenis bentuk penghukuman itu. Setidaknya bentuk penghukuman yang melibatkan binatang buas pernah ada dalam catatan orang Asyur: jika seseorang melanggar sumpahnya, maka orang tersebut akan dimasukkan ke kandang binatang-binatang buas yang dipersiapkan di alun-alun kota supaya dapat dilihat jika orang itu  ditelan binatang buas di depan publik. Yang juga perlu diketahui adalah bahwa kegiatan berburu singa merupakan jenis olahraga hiburan raja-raja di daerah Tmur Dekat Kuno. Singa-singa yang tertangkap harus ditempatkan di sebuah tempat, kemungkinan besar di taman semacam kebun binatang milik kerajaan. Persinggungan raja Timur Dekat Kuno dengan singa juga dapat dipahami dengan mengetahui bahwa raja-raja itu suka menggambarkan diri mereka dalam pertarungan dengan singa. Tidak mengherankan jika singa menjadi simbol kekuasaan dan kerajaan. Singa-singa yang berhasil ditaklukkan oleh para raja itu selanjutnya akan dimasukkan ke kandang, bukan dilepaskan ke alam liar lagi. Kandang-kandang yang dipakai tempat menyimpan singa yang ditaklukkan itulah yang kemungkinan disebut dengan ‘gua singa’.

Bersambung…………

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community