Gambaran Alkitab tentang Kaki

Posted on 19/06/2016 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/gambaran-alkitab-tentang-kaki.jpg Gambaran Alkitab tentang Kaki

Alkitab banyak memakai istilah 'kaki' sebagai gambaran untuk mengungkapkan banyak hal. Ketika bangsa Israel berkemah di gunung Sinai, Kel. 24:4 mengatakan bahwa Musa mendirikan mezbah di kaki gunung Sinai. Sebagian batas perbatasan selatan bagi suku Benyamin dikatakan  ‘ke ujung (dalam bahasa Ibraninya tertulis : kaki) pegunungan yang di tentangan lebak Ben-Hinom… (Yosua 18:16). Firaun mempergunakan ‘tangan atau kaki’ untuk menekankan otoritas Yusuf, “Akulah Firaun, tetapi dengan tidak setahumu, seorangpun tidak boleh bergerak (Ibrani : lift up his hand or foot) di seluruh tanah Mesir (Kej 41:44). 'Kaki' juga merepresentasikan seluruh badan. Ketika nabi Ahia menyampaikan kabar buruk kepada istri Yerobeam, dia mengatakan, 'Tetapi bangunlah dan pulang ke rumahmu. Pada saat kakimu melangkah  masuk kota, anak itu akan mati' (1 Raja 14:12). 

Kaki melambangkan penaklukan atau kemenangan

Salah satu contoh penggunaan ‘kaki’ sebagai gambaran penaklukan atau kemenangan adalah ucapan kesombongan yang dilontarkan raja Asyur, Sanherib, “Aku ini telah menggali air dan telah minum air asing, dan aku telah mengeringkan dengan telapak kakiku segala sungai di Mesir” (2 Raja 19:24). Gambaran ini mudah dipahami jika mengerti budaya tentang pemenang pada era itu. Seseorang yang mengalami kemenangan melawan musuhnya akan meletakkan kakinya di atas leher dari musuh yang dikalahkannya. Yosua pun melakukan hal yang sama ketika orang Israel berhasil mengalahkan  5 raja orang Amori: Setelah raja-raja itu dikeluarkan dan dibawa kepada Yosua, maka Yosuapun memanggil semua orang Israel berkumpul dan berkata kepada para panglima tentara, yang ikut berperang bersama-sama dengan dia: “Marilah dekat, taruhlah kakimu ke atas tengkuk raja-raja ini.” Maka datanglah mereka dekat dan menaruh kakinya ke atas tengkuk raja-raja itu (Yos 10:24). Tuhan Yesus juga mengatakan hal yang sama, “Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu” (Mat 22:44). Nabi Yesaya memberikan gambaran yang lebih detil: Maka raja-raja akan menjadi pengasuhmu dan permaisuri-permaisuri mereka menjadi inangmu. Mereka akan sujud kepadamu dengan mukanya sampai ke tanah dan akan menjilat debu kakimu. Maka engkau akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, dan bahwa orang-orang yang menanti-nantikan Aku tidak akan mendapat malu (Yes 49:23). Kemenangan seseorang atas musuh-musuhnya juga dilambangkan dengan ‘membasuh kaki’ di darah orang fasik (Maz. 58:11; 68:24).

Kaki melambangkan pengabdian atau otoritas

Salah satu ungkapan yang seringkali dipakai untuk menggambarkan penaklukan dan kemenangan  dalam dunia Timur Dekat Kuno adalah 'jatuh' dan 'sujud' di bawah kaki orang lain sebagai tanda pengabdian atau ketertundukan (1 Sam 25:23-25; Yes. 60:14), pengakuan akan otoritas (Est 8:2-3) atau penghormatan (Wahyu 1:17). Posisi para rasul yang berotoritas di gereja awal di Yerusalem juga diakui ketika para orang percaya yang memiliki tanah atau rumah menjualnya, membawa uangnya  dan meletakkannya di kaki para rasul (Kis. 4:34-35).

'Kaki' Tuhan dan konteks artinya

Walaupun Tuhan tidak dapat digambarkan secara fisik, namun lkitab seringkali memakai anggota badan Tuhan sebagai sarana untuk menyampaikan arti bahasa tertentu. Nahum menyebut awan adalah debu kaki Tuhan (1:3), artinya Ia adalah pemilik dan pemerintah alam semesta. Ketika Yehezkiel menyebut Bait Suci sebagai tempat tapak kaki Tuhan (43:7), Yehezkiel memaksudkan Bait Suci sebagai tempat yang dipilih Tuhan untuk Dia disembah. Gambaran Bait Suci sebagai tapak kaki Tuhan (Yeh. 43:7), tumpuan kaki Tuhan (1 Taw. 28:2), tentang Yerusalem (Rat 2:1) maupun bumi sebagai tumpuan kaki Tuhan (Yes. 66:1), selaras dengan catatan Kitab Suci bahwa Tuhan adalah Raja dan Pemerintah atas segala sesuatu (Maz. 24:7-10’ 29:1-10) dan raja Israel secara khusus (Yes. 41:21; 43:15; 44:6).  

Pada akhirnya, kaki, baik yang dipergunakan sebagai ungkapan kepada manusia atau kepada Allah, memiliki artinya masing-masing. Setiap bentuk ungkapan yang dipakai merefleksikan norma bahasa dan budaya dari penulis maupun pendengar sehingg bisa dipahami oleh orang-orang yang terlibat dalam komunikasi tersebut.

NK_P

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community