Daud benci orang timpang dan orang buta (2 Samuel 5:8) (Bagian 8)

Posted on 01/11/2020 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/daud-benci-orang-timpang-dan-orang-buta-2-samuel-5-8.jpg Daud benci orang timpang dan orang buta (2 Samuel 5:8) (Bagian 8)

(Lanjutan tgl 25 Oktober 2020)

Pada akhirnya kita harus menyimpulkan bahwa kata w’yigga batsinnor artinya tidaklah diartikan secara literal kata per kata melainkan dipahami sebagai sebuah ungkapan (figuratif) yang disampaikan Daud yang kepada pasukannya yang intinya berkata ‘seranglah orang-orang buta dan timpang’. Dengan mengambil arti figuratif ini, maka akan lebih mudah memahami ucapan Daud, yaitu Daud menyuruh pasukannya untuk menyerang orang-orang buta dan timpang karena pintu kota Yerusalem tidak akan bisa dikalahkan jika mereka masih tetap menghalang-halangi Daud dan pasukannya untuk masuk.

Pemahaman figuratif kata w’yigga batsinnor juga akan sangat membantu memahami versi lain dari kitab Tawarikh. Untuk menyerang orang-orang buta dan timpang itu bukanlah perkara yang mudah sehingga Daud harus memberikan semacam sayembara dan hadiah bagi orang pertama yang berhasil menaklukkan penduduk Yebus; dalam hal ini musuh pertama yang dihadapi mereka adalah mengalahkan orang-orang buta dan timpang itu. Alkitab tidak menjelaskan secara rinci apa yang dilakukan orang-orang buta dan timpang itu yang membuat Daud dan pasukannya tidak gampang menghadapi mereka. Mungkin mereka memberikan semacam kutukan kepada Daud dan pasukannya yang justru membuat takut pasukan Daud. Namun Yoas berani menyerang orang-orang buta dan timpang itu (tidak dijelaskan bagaimana cara yang dilakukan Yoas) dan dengan berhasil menyerang orang-orang buta dan timpang berarti Yoas juga berhasil memasuki pintu kota Yerusalem dan membuka jalan masuk penyerangan pasukan Daud terhadap kota Yerusalem. Di sinilah yang menjadi inti permintaan sayembara yang dilakukan Daud terhadap pasukannya, yaitu membuka jalan bagi pintu masuk kota Yerusalem.

 

Orang-orang buta dan orang-orang timpang tidak boleh masuk bait

Masalah selanjutnya dari versi 2 Sam. 5 tidaklah berhenti selesai sampai kita berhasil memahami kata w’yigga batsinnor itu. Selanjutnya muncul ungkapan yang merupakan konsekuensi dari bagian sebelumnya: Sebab itu orang berkata: "Orang-orang buta dan orang-orang timpang tidak boleh masuk bait."  Kembali lagi, bagian ini menimbulkan berbagai penafsiran sehubungan dengan kata Ibrani bayit. Secara umum kata Ibrani bayit berarti ‘rumah atau tenpat tinggal’. Tetapi beberapa terjemahan bahasa Inggris menerjemahkan kata ini secara berbeda

Therefore it is said, "The blind and the lame shall not come into the house" (ESV, JPS, KJV (N), NASB, RSC (N),

Therefore they say, The lame and the blind shall not enter into the house of the Lord (LXE)

That is why they say, "The`blind and lame' will not enter the palace" (NIB)

That's why people say, "Those who are 'blind and disabled' won't enter David's palace" (NIV, NIRV)

(Hence the saying: the blind and the lame may not enter the Temple) (NJB)

That is why they say: "No one who is blind or lame may enter the House” (TNK)

Dalam hal ini LAI mengambil terjemahan yang sama dari  New Jerusalem Bible dan terjemahan Septuaginta (LXE) yaitu dengan menerjemahkan dan memahami kata Ibrani bayit itu bait atau bait Allah. Sedangkan versi terjemahan lainnya memahami kata Ibrani bayit dengan ‘the house’ atau ‘the palace’. Jika memang kata Ibrani bayit dalam bagian ini diterjemahkan dengan ‘rumah’, maka rumah siapakah atau rumah manakah yang dimaksud? Jika kata Ibrani bayit dalam bagian ini diterjemahkan dengan ‘bait atau bait Allah’, apa hubungan peristiwa ini dengan bait (atau bait Allah) yang bahkan belum ada saat peristiwa ini terjadi? Jika kata Ibrani bayit dalam bagian ini diterjemahkan dengan ‘istana (Daud)’, hal ini juga menimbulkan keberatan karena istana Daud pun belum didirikan. Jadi apa yang dimaksud dengan kata Ibrani bayit dalam bagian ini ?

Bersambung…………….

NK_P

 

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community