Daud benci orang timpang dan orang buta (2 Samuel 5:8) (Bagian 8)

Posted on 08/11/2020 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/daud-benci-orang-timpang-dan-orang-buta-2-samuel-5-8.jpg Daud benci orang timpang dan orang buta (2 Samuel 5:8) (Bagian 8)

(Lanjutan tgl 1 November 2020)

Kata bayit beberapa kali dipakai dalam konteks yang berbeda. Beberapa kali bayit dipakai untuk merujuk pafa tempat tinggal pribadi, entah perseorangan atau keluarga besar (Yos. 2:19). Kata ini juga merujuk pada istana raja (2 Sam. 7:1).  Tempat tinggal binatang juga disebut dengan bayit, seperti keledai liar (Ayub 39:6), sarang laba-laba (Ayub 8:14). Selain itu kata bayit juga dipakai untuk merujuk pada kuil atau bait, baik kuil dewa Dagon (1 Sam. 5:2), bait Allah di Silo (Hakim 18:31) maupun yang di Yerusalem (1 Raja 6:5). Tempat Allah bersemayam di sorga juga disebut dengan bayit (Maz. 36:8). Secara figuratif kata bayit juga merujuk pada anggota keluarga termasuk para budak (Kej. 7:1; 17:27). Seisi istana Firaun juga memakai kata bayit (Kej. 50:4). Dari beberapa contoh kemunculan kata bayit ini, kita dapat mengerti betapa luasnya cakupan kata yang dapat memakai kata bayit. Dengan demikian untuk menentukan ucapan ‘orang-orang buta dan orang-orang timpang tidak boleh masuk bayit’ diperlukan penyelidikan lebih lanjut. Perlu dipahami terlebih dahulu apa fungsi rangkaian uapan itu.

Di bagian terakhir dari 2 Sam. 5:8 dituliskan ‘sebab itu orang berkata’. Istilah ‘sebab itu’ merupakan formula bahasa Ibrani yang  biasanya merupakan bagian yang seakan menyimpang dari cerita utama dan menambahkan informasi tambahan yang baru. Informasi itu biasanya merupakan penjelasan tentang kebiasaan yang umum dilakukan atau tentang asal usul ucapan yang sudah terkenal. Dalam istilah yang umum, kata ‘sebab itu’ (Ibrani: ‘al-ken) dikenal dengan etiological sayings. Dengan kata lain, ketika di 2 Sam 5:8b dikatakan ‘sebab itu orang berkata’, hal itu berarti bahwa apa yang ditampilkan di 2 Sam. 5:6-8a menjadi penyebab atau cikal bakal kemunculan kata-kata ini ‘orang-orang buta dan orang-orang timpang tidak boleh masuk bait.’ Bandingkan juga dengan kalimat yang hampir sama di beberapa bagian lain kitab Samuel:

Itulah sebabnya (Ibrani: ‘al-ken)  para imam Dagon dan semua orang yang masuk ke dalam kuil Dagon tidak menginjak ambang pintu rumah Dagon yang di Asdod, sampai hari ini (1 Sam. 5:5)

Iapun menanggalkan pakaiannya, dan iapun juga kepenuhan di depan Samuel. Ia rebah terhantar dengan telanjang sehari-harian dan semalam-malaman itu. Itulah sebabnya (Ibrani: ‘al-ken) orang berkata: "Apakah juga Saul termasuk golongan nabi?" (1 Sam. 19:24)

Bandingkan juga 1 Sam. 10:12; 23:28; 2 Sam. 5:20. 

Bagian lain yang mendukung bahwa kata-kata "orang-orang buta dan orang-orang timpang tidak boleh masuk bait" merupakan sebuah ungkapan atau semacam peribahasa adalah  bahwa ungkapan tersebut tidak ditujukan kepada orang-orang tertentu, dalam hal ini ‘orang-orang buta dan orang-orang timpang’. Memang, di dalam kalimat-kalimat sebelumnya, kata ‘orang-orang buta dan orang-orang timpang’ muncul dengan artikel Ibrani h yang menandakan bahwa ada obyek tertentu yang dimaksud.

6 Lalu raja dengan orang-orangnya pergi ke Yerusalem, menyerang orang Yebus, penduduk negeri itu. Mereka itu berkata kepada Daud: "Engkau tidak sanggup masuk ke mari; orang-orang buta dan orang-orang timpang (di depannya ada artikal h) akan mengenyahkan engkau!" Maksud mereka: Daud tidak sanggup masuk ke mari.

7 Tetapi Daud merebut kubu pertahanan Sion, yaitu kota Daud.

8 Daud telah berkata pada waktu itu: "Siapa yang hendak memukul kalah orang Yebus, haruslah ia masuk melalui saluran air itu; hati Daud benci kepada orang-orang timpang dan orang-orang buta (di depannya ada artikal h)."

Mungkin jika membandingkannya dengan penggunaan artikel bahasa Inggris, hal ini akan lebih mudah dipahami:

Ay. 6 the blind and the lame will ward you off

Ay. 8a  David hates the blind and the lame

‘The blind and the lame’ yang dimaksud adalah orang-orang buta dan timpang yang sengaja ditempatkan di arena pertempuran. Ketika di bagian akhir kata itu kembali muncul, maka yang muncul bukanlah ‘the blind and the lame’ melainkan ‘blind and lame’ atau the ‘blind and lame’. Dengan kata lain, ungkapan  "Orang-orang buta dan orang-orang timpang (blind and lame’ atau the ‘blind and lame’) tidak boleh masuk bait" tidak berlaku hanya untuk orang-orang buta dan orang-orang timpang yang menghalangi Daud dan pasukannya untuk masuk ke Yerusalem; ungkapan itu akhirnya justru menjadi semacam  ungkapan yang berlaku umum bahwa ‘orang buta dan orang timpang’ tidak boleh masuk ke bait.

Bersambung……………

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community