Apakah manusia diciptakan sebelum atau sesudah ada tumbuhan? (Kejadian 2:4b-7)

Posted on 05/02/2017 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Apakah-manusia-diciptakan-sebelum-atau-sesudah-ada-tumbuhan.jpg Apakah manusia diciptakan sebelum atau sesudah ada tumbuhan? (Kejadian 2:4b-7)

Ketika kita membaca kisah penciptaan manusia di Kejadian 1:4b-7 kita pasti akan menghadapi sedikit kebingungan. Dalam teks ini dikisahkan bahwa Allah menciptakan manusia pada waktu belum ada semak maupun tumbuh-tumbuhan di padang. Ayat 5-7 “belum ada semak apapun di bumi belum ada tumbuhan apapun di padang...tetapi ada kabut naik...membasahi seluruh permukaan bumi...pada waktu itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu”. Bagaimana mungkin? Bukankah tumbuh-tumbuhan sudah diciptakan pada hari ke-3 (1:11-12) sebelum Allah menciptakan manusia (1:26-27)? Lebih jauh lagi, kata Ibrani yang dipakai untuk tumbuh-tumbuhan di 1:11-12 dan 2:5 ternyata sama, yaitu esheb. Bagaimana dua bagian ini bisa diharmonisasikan?

Teolog liberal biasanya menganggap dua teks tersebut memang berkontradiksi. Berdasarkan asumsi mereka bahwa kitab Kejadian merupakan hasil koleksi berbagai bahan dari sumber yang berbeda tradisi dan penulisnya, mereka berpendapat bahwa redaktur kitab ini kurang teliti dalam menggabungkan dua sumber yang berbeda, sehingga terdapat kontradiksi. Atau, redaktur tersebut sangat menghormati dua teks yang ia pakai, sehingga ia membiarkan keduanya tanpa perubahan apapun walaupun keduanya berkontradiksi.

Apakah usulan di atas bisa diterima? Yang perlu kita ingat adalah bahwa seandainya dua teks tersebut berkontradiksi satu dengan yang lain, penulis kitab Kejadian (Musa atau seorang redaktur sekalipun) pasti akan dengan mudah menemukan ketegangan tersebut, karena letak dua teks tersebut berdekatan. Selain itu, bukankah teori peredaksian (seandainya itu benar) menunjukkan bahwa redaktur bukan hanya mengumpulkan, tetapi juga mengedit (mengubah) sumber-sumber yang ia pakai? Mengapa ia gagal mengedit dua teks yang berdekatan dan tampak berkontradiksi ini?

Selain itu, Yesus sendiri pernah menggabungkan dua kutipan dari Kejadian  1 dan 2, yaitu di Matius 19:4-5 (band. Kej 1:27 dan 2:24). Pengutipan ini menunjukkan bahwa Yesus menerima dua pasal pertama dari kitab Kejadian sebagai Firman Allah dan sebagai satu kesatuan. Sebagai satu kesatuan Firman Allah, keduanya jelas tidak mungkin berkontradiksi, karena kontradiksi menunjukkan salah satu atau keduanya salah.

Sebagian sarjana injili mengusulkan solusi lain untuk mengharmonisasikan dua teks yang sedang kita bahas. Mereka melihat Kejadian 2:5-7 dalam hubungan dengan taman Eden (2:8), sedangkan pasal 1:11-12 berhubungan dengan bumi secara umum. Mereka memahami “tanah” atau “padang” di 2:5 merujuk pada tempat di mana taman Eden berada. Dengan kata lain, di daerah tempat taman Eden berada memang tidak ada semak belukar maupun tumbuh-tumbuhan. Berdasarkan hal ini, mereka menganggap tidak ada pertentangan antara dua teks itu.

Bagaimanapun, usulan ini tampak terlalu dipaksakan. Kejadian 2:5-7 jelas berbicara tentang keadaan bumi sebelum ada manusia maupun taman Eden. Kata Ibrani eres di 2:5 (LAI:TB “padang”) lebih tepat dipahami sebagai rujukan untuk bumi secara umum (bukan hanya taman Eden). Ini lebih sesuai dengan arti kata eres di pasal 1 yang memang merujuk pada planet bumi atau daratan (1:1, 2, 10, 11, 15, 17, 20, 22, 24, 25, 26, 28, 29, 30). 

Solusi yang lebih tepat bisa diperoleh apabila kita memahami arti kata esheb (“tumbuh-tumbuhan”) di Kejadian 1:12 dan 2:5 serta fungsi Kejadian 2:5-7 dalam alur pemikiran pasal 1-3. Penjelasan di pasal 2:5-7 – yang sekilas tampak kontradiktif – ternyata bisa menampilkan keindahan kemampuan sastra Musa sebagai penulis kitab Kejadian. Bagaimana menjelaskan hal ini?

Pertama-tama, kita harus memahami cakupan arti kata esheb yang dipakai di pasal 2:5 maupun 1:11-12. Kata yang muncul 33 kali dalam Perjanjian Lama ini memiliki arti yang beragam. Esheb bisa merujuk pada segala macam tumbuhan di tanah, misalnya tumbuhan liar, sayuran maupun rumput (Kej 1:29, 30; 2:5; 3:18; 9:3; Kel 9:22, 25; 10:12,15; Ul 11:15; 29:23; 32:2; 2Raj 19:26; Ay 5:25; Mzm 72:16; 92:7; 102:4, 11;104:14; 105:35; 106:20; Ams 19:12; 27:25; Yes 37:27; 42:15; Yer 12:4; 14:6; Amos 7:2; Mik 5:7; Zak 10:1). Yang paling penting untuk diingat, kata esheb bisa merujuk pada tanaman liar (mayoritas pemunculan esheb memiliki arti ini) maupun tanaman agrikultural (membutuhkan usaha manusia). Arti yang terakhir ini dapat dilihat di Mazmur 104:14 “engkau menumbuhkan rumput bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan (esheb) untuk diusahakan manusia”. Esheb di Mazmur 105:35 juga disejajarkan dengan hasil tanah (“yang memakan segala tumbuh-tumbuhan [esheb] di negeri mereka dan memakan hasil tanah mereka”).

Beranjak dari luasnya cakupan arti di atas, kita sebaiknya menyelidiki konteks Kejadian 2:5 untuk melihat arti khusus dari kata esheb yang muncul di sana. Ayat 5b “belum ada orang mengusahakan tanah itu” mengindikasikan bahwa esheb di sini harus dipahami dalam arti “tanaman yang memerlukan usaha manusia”. Dengan demikian, esheb di sini memang berbeda dengan esheb di pasal 1:11-12 yang merujuk pada tanaman liar di padang (tidak memerlukan usaha manusia).

Lebih jauh, kita juga perlu memahami fungsi Kejadian 2:5 dalam seluruh alur pemikiran pasal 1-3. Dalam ayat ini Musa sedang memberikan antisipasi tentang kejatuhan manusia dalam dosa. Ia sedang membuat perbandingan antara keadaan bumi sebelum dan sesudah kejatuhan ke dalam dosa. Maksud ini bisa dilihat dari rujukan tentang semak duri di 2:5-7 dan 3:18-19, meskipun kata yang dipakai di dua teks itu berbeda (2:5 memakai siah, sedangkan 3:18 memakai qos wedardar). Selain itu, rujukan “Tuhan belum menurunkan hujan ke bumi” di 2:5 pasti membawa perhatian pembaca pada peristiwa penghukuman di 7:4 “tujuh hari lagi Aku akan menurunkan hujan di bumi selama 40 hari 40 malam”.

Berdasarkan penjelasan di atas, pemunculan kata esheb di dua teks itu juga harus dipahami dalam hubungan dengan kejatuhan manusia ke dalam dosa. Sebelum kejatuhan ke dalam dosa, tidak ada tumbuh-tumbuhan (esheb) yang perlu diusahakan manusia. Esheb tumbuh dengan sendirinya (1:11-12) sebagai makanan yang siap dikonsumsi manusia maupun binatang (1:29-30). Setelah kejatuhan ke dalam dosa keadaan bumi mengalami perubahan. Kejadian 3:18-19a mencatat “semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu dan tumbuh-tumbuhan (esheb) di padang akan menjadi makananmu, dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu”.

Dari semua penjelasan di atas kita bisa meyakini bahwa Kejadian 2:5-7 tidak berkontradiksi dengan pasal 1:11-12. Penjelasan di pasal 2:5 justru telah menjadi bagian dari strategi sastra Musa yang berfungsi membantu pembacanya melihat pasal 1-3 dalam satu kesatuan yang utuh.

YTH

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community