
(Lanjutan tgl 9 Agustus 2020)
Hal lain yang tersirat dari pekerjaan Habel adalah perubahan pola makan manusia. Walaupun teks tidak memberi petunjuk yang jelas bahwa Habel menggembalakan binatang sebagai konsumsi makanan, namun bagian lain dari kitab Kejadian menyiratkan bahwa manusia sudah mengenal binatang yang halal dan haram (7:2, 8). Ini jelas berkaitan dengan masalah makanan manusia, apalagi di 9:2-3 Allah secara eksplisit memberikan ijin kepada manusia untuk memakan daging binatang. Jika dugaan ini benar, maka pola makan vegetarian di 1:29 telah mengalami perubahan.
Pekerjaan Kain adalah petani (‘ÅbÄ“d ’adÄmâ, lit. “hamba tanah”). Apa yang dikerjakan Kain secara jelas mengingatkan pembaca pada tugas Adam, baik sebelum (2:15) maupun sesudah kejatuhan ke dalam dosa (3: 23). Dengan menyebutkan pekerjaan Kain para pembaca dibimbing untuk menangkap kesinambungan sejarah umat manusia. Hukuman untuk Adam (3:18-19) tetap diteruskan kepada Kain, walaupun tidak ada keterangan eksplisit bahwa Kain menjadi petani dengan susah-payah. Setelah ia membunuh adiknya, maka pekerjaannya menjadi jauh lebih sulit (4:11-12).
Dua pekerjaan yang berbeda di atas telah mendorong beberapa penafsir untuk menghubungkannya dengan beberapa mitos kafir kuno. Ada yang mengaitkan cerita ini dengan mitos Sumeria tentang perseteruan antara dewa pertanian dan penggembalaan yang memperebutkan seorang perempuan sebagai isteri mereka. Peperangan ini diakhiri dengan kedamaian. Upaya beberapa ahli ini sangat tidak beralasan. Perbedaan yang ada jauh lebih esensial dan beragam daripada kesamaannya. Mitos kuno sarat dengan ideologi politeistik yang asing bagi konsep Alkitab. Teks pun tidak membahas tentang perempuan sama sekali.
Yang lain berusaha menyandingkan kisah ini dengan perselisihan paten antara masyarakat agraris dan masyarakat penggembala yang nomadik (selalu berpindah tempat). Dalam perseteruan ini dewa lebih berpihak pada mereka yang nomadik. Usaha untuk menyamakan kisah Kain-Habel dengan perseteruan kuno juga tidak dapat dibenarkan. Pembacaan yang lebih seksama akan menunjukkan bahwa perseteruan sebenarnya bukan antara masyarakat agraris dan penggembala. Keduanya sama-sama penggembala, tetapi yang satu tinggal menetap di kota, sedangkan yang lain di padang rumput secara berpindah-pindah. Di samping itu, ide bahwa seorang dewa lebih berpihak pada para penggembala justru terlihat aneh jika dipandang dari perspektif Kejadian 1-2. Manusia diberi tugas untuk mengusahakan dan memelihara taman (2:15). Makanan manusia pun adalah buah dan sayur (1:29). Gambaran positif ini (terutama sebelum kejatuhan ke dalam dosa) sulit dipahami apabila Kejadian 4 dibaca sebagai perseteruan dua macam masyarakat dengan Allah membela mereka yang penggembala.