Apakah Allah Menciptakan Matahari Dua Kali? (Bagian 2)

Posted on 03/05/2020 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/apakah-allah-menciptakan-matahari-dua-kali.jpg Apakah Allah Menciptakan Matahari Dua Kali? (Bagian 2)

(Lanjutan tgl 26 April 2020)

Berikut adalah beberapa argumen yang mendukung pandangan ini:

  1. Frase “langit dan bumi” di 1:1 sudah mencakup segala sesuatu (lihat pembahasan di 1:1). Jika ini diterima, maka matahari sudah termasuk yang diciptakan Allah sebelum hari 1.
  2. Kata kerja hāyā (jadilah) di 1:14 muncul dalam konstruksi kalimat yang berbeda dengan hāyā di 1:3 dan 6. Di bagian sebelumnya hāyā muncul sebagai predikat sederhana, sedangkan di 1:14 kata ini diikuti infinitif pelengkap yang menyiratkan satu tujuan (Jadilah untuk). Konstruksi seperti ini sebaiknya diterjemahkan “biarlah benda penerang di langit memisahkan...”
  3. Penekanan pada hari 4 bukan terletak pada keberadaan matahari, tetapi fungsinya sebagai pengatur waktu dan musim yang tetap. Penekanan ini lebih tepat dipahami sebagai petunjuk bahwa sebelumnya matahari memang sudah ada (hari ke-1), tetapi belum berfungsi sebagai pengatur. Bagian bumi yang gelap tetap gelap, sedangkan yang terang juga tetap terang (1:3-5). Dengan meletakkan matahari di langit sebagai pengatur waktu, maka terang dan gelap bisa mendatangi bumi secara bergantian dan teratur.
  4. Semua proses penciptaan mengarah pada klimaks penciptaan manusia dan kesempurnaan semua ciptaan (1:31). Seandainya Allah menciptakan terang khusus di hari 1 yang selanjutnya digantikan peranannya oleh matahari, maka kisah di hari 1 akan menjadi satu-satunya proses penciptaan yang mubazir dan tidak sampai kepada klimaks.

Seperti sudah sempat disinggung di atas, penekanan di hari 4 terletak pada fungsi benda-benda penerang. Fungsi ini diulang berkali-kali dan dalam sebuah struktur yang indah (A B C D - D’ C’ B’ A’). Perhatikan kesejajaran berikut ini:

1:14a untuk memisahkan siang dan malam (A)

1:14b untuk mengatur musim dan waktu (B)

1:15 untuk menerangi bumi (C)

1:16a untuk mengatur siang (D)

1:16b untuk mengatur malam (D’)

1:17 untuk menerangi bumi (C’)

1:18a untuk mengatur hari (B’)

1:18b untuk memisahkan terang dan gelap (A’)

Penekanan pada fungsi benda-benda penerang jelas menyiratkan polemis teologis melawan konsep mitos kafir kuno. Matahari, bulan, dan bintang bukan obyek penyembahan. Mereka ada bukan untuk dilayani, melainkan melayani. Mereka bukan penentu kehidupan di bumi. Walaupun dalam taraf tertentu mereka adalah “pengatur” musim dan waktu, tetapi fungsi ini pun sudah diatur oleh Allah (Mzm 104:19; 136:7-9). Keberhasilan perjalanan bisnis maupun pertanian memang sangat berkaitan dengan pengaturan ini, tetapi musim yang teratur berasal dari Allah (Ul 33:13-14; Kis 14:17; 17:26). TUHAN sajalah yang menempatkan (Mzm 8:4; 74:16) dan mengendalikan mereka semua (Mzm 19:5-7; Yes 40:25-26; 44:6-20).

Kebenaran di atas sangat relevan bagi bangsa Israel. Mereka telah melihat sendiri bagaimana TUHAN mengendalikan matahari di tanah Mesir (Kel 10:22-23). Dalam periode selanjutnya mereka pun akhirnya berhasil menguasai salah satu daerah di Kanaan karena TUHAN membuat matahari tidak bergerak sampai bangsa Israel selesai mengalahkan semua musuh mereka (Yos 10:12-13).

Walaupun demikian, mereka tetap sangat rentan terhadap bahaya penyembahan berhala yang berbentuk ibadah kepada benda-benda langit. Karena itu, beberapa kali Musa memperingatkan mereka terhadap bahaya ini (Ul 4:19) dan memberikan hukuman yang sangat berat bagi para pelanggar (Ul 17:2-5).

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community