ANATHEMA (Im. 27:28; Luk. 21:5; 1Kor. 16:20)

Posted on 16/03/2014 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/ ANATHEMA (Im. 27:28; Luk. 21:5; 1Kor. 16:20)

Kata anathema berasal dari kata Yunani yang sama dengan kata Ibrani untuk “melarang” atau “mengutuk.” Konsep asal merupakan tanda dari “sesuatu yang dibangun” di Bait Allah, seperti sebuah persembahan. Di kemudian hari, kata ini menunjuk pada orang atau sesuatu yang dikutuk. Idenya adalah untuk menyerahkan kepada Allah orang atau sesuatu yang dipandang rendah kepada penghancuran yang sempurna. Menurut Imamat, orang yang telah dikutuk tidak dapat ditebus. Paulus mengatakan anathema bagi mereka yang memberitakan Injil yang menyimpang (Gal. 1:8, 9). Orang-orang Kristen terkadang dinyatakan “anathema Yesus” atau untuk mengutuk-Nya, sebagai suatu tindakan penghujatan. Anathema kemudian menjadi sinonim bagi kata ekskomunikasi. Karena seseorang atau sesuatu telah sekali diabdikan, anathema adalah suatu putusan yang membutuhkan penghapusan. Anathema adalah unsur biasa dari suatu sumpah, yang dilibatkan oleh pengambil sumpah pada diri mereka sendiri dalam peristiwa di mana mereka gagal menjalankan janji-janji yang dibuatnya dalam sumpah.

 

Sumber:

Tischler, Nancy Marie Patterson. All Things in the Bible. Westport: Greenwood Press, 2006

 

 

Refleksi:

Kita telah dimerdekakan dari kutuk karena Kristus telah memerdekakan kita dari kutuk hukum Taurat (Gal. 3:13), sehingga kita yang telah dilahirbarukan oleh Roh Kudus dan percaya kepada Kristus tak mungkin dapat terkena kutuk baik kutuk hukum Taurat maupun kutuk-kutuk lainnya seperti kutuk keturunan, kutuk sakit penyakit, dll seperti yang diajarkan oleh beberapa pengajar “theologi” kemakmuran. Meskipun kita telah dimerdekakan dari kutuk Taurat, sebagai umat-Nya, kita tetap diperintahkan-Nya untuk menjalankan kehendak-Nya namun dengan hati bersyukur dan atas anugerah-Nya (Ef. 2:10; Flp. 2:12-13). Namun ketika kita menjalankan kehendak-Nya, kita tidak lagi berada di bawah kutuk Taurat, tetapi di bawah kasih karunia Allah, sehingga kita dapat menjalankan kehendak-Nya dengan rela sebagai wujud kita benar-benar mengasihi-Nya.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita yang telah dimerdekakan dari kutuk Allah ini menggunakan anugerah Allah ini untuk memuliakan-Nya dengan menjalankan apa yang Ia kehendaki? Biarlah anugerah Allah memampukan kita untuk terus hidup berpusat pada Allah.

DTS

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community