Anak-anak Lamekh : Catatan Permulaan Peradaban di Bumi (Kej. 4:19-22)

Posted on 03/09/2017 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Anak-anak-Lamekh-Catatan-Permulaan-Peradaban-di-Bumi-Kejadian-4-19-22.jpg Anak-anak Lamekh : Catatan Permulaan Peradaban di Bumi (Kej. 4:19-22)

Dalam Kej. 4:19 dikatakan Lamekh memiliki 2 istri (Ada dan Zila), catatan paling awal tentang perkawinan poligami dalam Alkitab. Masing-masing isteri Lamekh memiliki dua anak. Ada melahirkan dua anak laki-laki, sedangkan Zila adalah ibu dari seorang anak laki-laki dan perempuan. Tiga anak laki-laki Lamekh ditampilkan dengan cara yang sama, yaitu nama dan pencapaian di bidang tertentu. Fakta bahwa anak-anak Lamekh yang adalah keturunan Kain tetap bisa bertambah banyak dan bahkan menjadi penemu beberapa elemen penting kebudayaan merupakan tanda bahwa anugerah Allah tetap bekerja di antara keturunan yang sudah jatuh ini.

Nama ketiga anak Lamekh memiliki kemiripan bunyi: Yabal (4:20), Yubal (4:21), Tubal-Kain (4:22a). Pemberian nama yang mirip seperti ini bukanlah sesuatu yang asing. Alkitab memberikan beberapa contoh lain seputar kebiasaan ini (Medan dan Midian, 25:2; Efa dan Efer, 25:4; Yiswa dan Yiswi, 46:17; Ohola dan Oholiba, 23:4). Para ahli mencoba menjelaskan keterkaitan antar tiga nama anak Lamekh. Sebagian meyakini bahwa ketiganya berasal dari akar kata yěbûl, yang berarti “menghasilkan”. Ini dianggap sesuai dengan pencapaian mereka untuk kebudayaan. Yang lain menawarkan kata yāḇal yang berhubungan dengan festival atau sebuah prosesi perayaan/upacara. Sama seperti sebelumnya, kita tidak mungkin bisa menentukan secara pasti usulan mana yang paling tepat. Petunjuk dalam teks terlalu sedikit untuk membuat keputusan apapun.

Yabal dikenal sebagai bapa orang yang diam di dalam kemah dan memelihara ternak (4:20). Sekilas hal ini sediki membingungkan karena Habel sebelumnya sudah memelihara ternak (4:2). Bagaimana kita menjelaskan hal ini? Kuncinya terletak pada kata “ternak” yang digunakan. Kata miqneh di 4:20 memiliki arti yang lebih luas daripada şō’n di 4:2. Yang pertama bisa merujuk pada semua jenis binatang ternak (livestock, 47:16-17; Kel 9:3), sedangkan yang kedua terbatas pada binatang yang ukurannya relatif kecil seperti kambing dan domba (cattle). Kalau Habel hanya memelihara ternak untuk makan dan korban, Yabal kemungkinan besar juga menjual ternaknya dengan bantuan binatang-binatang beban yang ia ternakkan juga. Kalau Habel berdiam di satu tempat saja, Yabal lebih dinamis berpindah tempat sambil mencari tempat penggembalaan yang baik dan memperdagangkan hasilnya.

Yubal adalah penemu musik, terutama kecapi dan seruling (4:21). Nama Yubal sendiri terdengar mirip dengan kata yȏbēl, yaitu tanduk biri-biri jantan yang digunakan untuk  menandai perayaan Yobel atau festival keagamaan yang lain (Kel 19:13; Im 25:9-10; Yos 6:5). Kecapi dan seruling memang sering diyakini sebagai alat musik tertua. Keduanya beberapa kali muncul secara bersamaan (21:12; 30:31).

Keduanya digunakan untuk berbagai macam keperluan, baik ibadah maupun aktivitas lain. Dalam mitologi kuno terdapat sebuah kisah tentang dewa peternakan yang bernama Pan. Dewa ini konon dipercaya sebagai penemu seruling. Jika kisah kuno ini dibandingkan dengan Kejadian 4:20-21 kita dengan mudah menemukan kesamaan dan perbedaannya. Penemuan seruling sama-sama dikaitkan dengan peternakan. Perbedaannya, peternakan berhubungan dengan Yabal, sedangkan seruling dengan Yubal. Seruling tidak ditemukan oleh dewa, melainkan oleh seorang manusia.

Tubal-Kain adalah bapa tukang tembaga dan besi (4:22a). Menurut rekonstruksi historis yang biasa diusulkan dalam anthropologi, kebudayaan manusia berkembang dari kebudayaan batu – tembaga – besi. Konsep popular ini sedikit berbeda dengan 4:22 yang menggambarkan penemuan tembaga dan besi secara bersamaan (pada satu jaman). Menurut anthropologi umum, kebudayaan tembaga dimulai pada awal millennium ke-4 SM sementara kebudayaan besi pada awal millennium ke-3 SM. Menurut 4:22 tembaga dan besi ditemukan pada masa yang lebih awal. Penemuan arkheologi menunjukkan adanya obyek-obyek tertentu yang terbuat dari tembaga atau besi tetapi berasal dari jaman yang lebih tua daripada urutan periode di anthropologi. Inti perbedaan mungkin terletak pada kualitas dan cara pembuatan logam. Para penafsir meyakini bahwa logam di 4:22 merupakan logam meteoris (bukan buatan manusia), sedangkan yang dimaksud dalam anthropologi adalah logam terrestrial (dihasilkan manusia dari dalam bumi). Cara pembuatan pun tergolong masih sangat sederhana. Kata kerja lāţaš di ayat ini hanya berarti “memukul” atau “menajamkan” (1 Sam 13:20; Mzm 7:13; 52:4; Ay 16:9). Beberapa versi cenderung menerjemahkan dengan istilah yang lebih modern (NIV “forged”), padahal pada jaman itu sangat mungkin belum dikenal sistem peleburan logam seperti sekarang.

Satu-satunya anak Lamekh yang tidak disebutkan pekerjaannya adalah Naama (4:22b). Nama ini juga dipakai oleh isteri Rehabeam (1 Raj 14:21). Ketidakadaan keterangan untuk Naama telah memunculkan beragam spekulasi. Dalam salah satu tradisi Yahudi Naama disamakan dengan isteri Nuh. Tradisi Yahudi yang lain menampilkan Naama sebagai penyanyi professional. Hal ini dikaitkan dengan arti nama Naama dalam bahasa Ibrani (“menyenangkan”) dan kemiripan dengan akar kata Ugarit yang berarti “lagu”. Kita tidak mengetahui secara pasti mengapa nama Naama disebutkan di sini. Ini mungkin hanya sekadar menunjukkan bahwa masing-masing isteri Lamekh memiliki dua anak. Ada kemungkinan in merupakan penegasan bagi karakteristik silsilah Kain yang menyertakan nama perempuan, sedangkan silsilah Set tidak mencantumkan satu nama perempuan pun.

 NK_P

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community