AMIN (Mrk. 3:28; Yoh. 21:18)

Posted on 09/03/2014 | In Do You Know ? | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/ AMIN (Mrk. 3:28; Yoh. 21:18)

Kata “amin” yang berarti “Kiranya terjadi demikian,” “sungguh pasti,” atau “sungguh-sungguh,” digunakan dalam Perjanjian Lama sebagai formula liturgis oleh jemaat untuk menyatakan keabsahan sebuah sumpah atau kutuk. Kata ini juga berarti menekankan suatu doa berkat atau doksologi. Kata ini boleh diletakkan baik di awal maupun akhir kalimat.

Di dalam kalimat-kalimat Yesus yang dicatat, kata ini biasanya diterjemahkan, “sungguh-sungguh,” (LAI: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya”—Yoh. 1:51-52; 3:3; dst) yang menandakan bahwa kata-kata berikutnya itu otoritatif. Di dalam Gereja Perjanjian Baru, mengikuti pola Doa Bapa Kami, kata “amin” juga digunakan secara teratur untuk menutup sebuah doa—sebagai penegasan baik oleh orang yang berdoa maupun jemaat.

Gelar “Amin” dihubungkan dengan Allah, yang memiliki otoritas untuk menggenapi semua janji-Nya (Why. 3:14; 2Kor. 1:20). Jadi, penggunaan “Amin” oleh Yesus sebagai pembukaan kalimat-Nya menandakan pernyataan-Nya akan otoritas ilahi-Nya. Di dalam Wahyu 3:4, kata ini digunakan sebagai nama untuk Kristus.

 

Sumber:

Tischler, Nancy Marie Patterson. All Things in the Bible. Westport: Greenwood Press, 2006

 

Refleksi:

Setelah menyimak definisi kata “amin”, kita mengerti bahwa “amin” bukan mantra yang harus diucapkan oleh orang Kristen setelah doa selesai atau pertanda selesainya doa, tetapi “amin” berarti kita mengharapkan apa yang kita katakan atau doakan itu terjadi (tentu sesuai dengan kehendak-Nya yang berdaulat). Kata ini juga merujuk pada Allah yang akan menggenapi semua janji-Nya dan juga merujuk pada Kristus yang adalah Allah.

Pengertian “amin” ini mengajar kita agar kita tidak sembarangan mengucapkan kata “amin” jika apa yang kita dengar, ucapkan, dan doakan tidak sesuai dengan firman-Nya. Banyak orang Kristen hari-hari ini terlalu cepat mengucapkan kata “amin” setelah mendengar khotbah seorang pengkhotbah di gereja tanpa memikirkan ulang apakah isi khotbah itu benar-benar Alkitabiah. Kata ini sudah menjadi respons singkat jemaat terhadap khotbah pendeta.

Bagaimana dengan kita? Biarlah kita makin hari makin mengaminkan apa yang kita dengar, kata, dan doakan apa yang sesuai dengan firman-Nya, Alkitab. Amin. Soli Deo Gloria.

 

DTS

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community