Tidak Ada Tempat Pelarian (Yunus 1)

Posted on 07/05/2017 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Tidak-Ada-Tempat-Pelarian-Yunus-1.jpg Tidak Ada Tempat Pelarian (Yunus 1)

Di antara semua nabi dalam Alkitab, Yunus terbilang cukup unik. Walaupun beberapa nabi menyampaikan nubuat tentang bangsa-bangsa lain (Yesaya dan Yeremia), hanya Yunus yang diutus langsung ke negeri asing untuk menyampaikan pesan TUHAN. Walaupun beberapa nabi sempat berbantah-bantah dengan TUHAN pada awal pengutusan mereka (Musa dan Yeremia), hanya Yunus yang langsung melarikan diri dari panggilan Allah. Tidak heran, kisah Yunus menjadi salah satu cerita paling populer dalam Perjanjian Lama.

Pasal pertama dari kitab Yunus mengisahkan tentang kedaulatan Allah. Apa yang Dia rencanakan pasti akan terlaksana. Kehendak-Nya tidak dapat dibelokkan oleh siapa pun juga dan di mana pun juga. Melalui kisah ini kita diingatkan tentang kekaguman pemazmur pada TUHAN: “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?” (Mzm 139:7).

Melarikan diri dari panggilan TUHAN (ayat 1-3)

Sekilas tidak ada yang janggal dalam kisah pemanggilan Yunus di bagian ini. Frasa “Datanglah firman TUHAN kepada nabi X” (ayat 1) muncul 112 dalam Alkitab. Seruan “bangun [dan pergilah]” (ayat 2a, qûm lēķ) juga muncul di bagian lain Alkitab (1 Raj 17:8; bdk. Yer 13:6). Yunus juga sebelumnya sudah pernah diutus untuk memberitakan firman TUHAN kepada bangsa Israel (2 Raj 14:25).

Yang berbeda kali ini adalah objek pelayanan Yunus. Dia harus pergi kepada penduduk kota Niniweh. Ibukota kerajaan Asyur. Kepada orang-orang asing.

Kota ini terkenal karena kemegahannya (1:2; 3:2-3; 4:11). Walaupun berbagai penemuan arkheologis dan catatan kuno memberikan ukuran yang agak berlainan, semua sepakat bahwa kota ini terbilang sangat besar menurut ukuran dunia kuno. Tembok kota sepanjang 70-96 km memiliki ketebalan sekitar 10-16 m dengan ketinggian mencapai 10-100 m. Niniweh dianggap salah satu kota terbesar (jika bukan yang terbesar).

Kebesaran Niniweh bukan hanya terletak pada ukuran kota, melainkan juga ukuran dosa mereka (1:2). Tinggi tembok kota Niniweh masih kalah dengan ketinggian dosa mereka. Ungkapan “sudah sampai kepada-Ku” secara hurufiah berarti “sudah sampai ke atas di hadapan-Ku” (semua versi Inggris). Gambaran ini mengingatkan kita pada dosa penduduk Sodom dan Gomora (Kej 18:20-21). Berbagai catatan historis menunjukkan kekejaman bangsa Asyur (bdk. Nah 3:3, 19). Mereka tidak segan-segan memotong kaki dan tangan serta mencungkil mata musuh. Entah berapa banyak orang yang sudah dikuliti hidup-hidup dan kulitnya digantung di tembok kota. Begitu banyak perempuan hamil yang dibelah perutnya sebagai bahan perjudian para tentara Asyur, lalu bayi-bayi mereka dilemparkan ke tembok. Sangat sadis! Kekejaman Nazi dan Stalin yang begitu biadab terasa lebih manusiawi jika dibandingkan dengan kebejatan bangsa Asyur.

Yunus diutus untuk menegur dosa mereka. Yunus menolak, tapi ia tidak mau berbantah dengan TUHAN seperti Musa (Kel 4) dan Yeremia (Yer 1). Ada banyak alasan yang mungkin dipikirkan oleh Yunus. Dia mungkin merasa percuma. Sulit membayangkan bahwa bangsa yang besar dan kejam tersebut mau mendengarkan peringatan dari Allah (TUHAN) yang disembah oleh bangsa Israel yang kecil. Yunus mungkin merasa takut. Bagaimana jika penduduk kota itu bukan hanya menolak pesan yang ia sampaikan tetapi juga menyiksa dia? Yunus merasa tidak peduli. Bangsa Israel sendiri sedang terkungkung dalam dosa dan menghadapi kemelut politis. Untuk apa dia perlu bersusah-payah memperhatikan bangsa lain? Yunus mungkin tidak menginginkan pertobatan mereka. Bukankah mereka bangsa yang kejam dan layak dihukum? Ucapan Yunus di akhir kitab ini menunjukkan bahwa alasan terakhir adalah yang paling tepat. Dia memahami belas kasihan dan kemurahan TUHAN atas orang-orang berdosa (4:2). Dia yakin bahwa penduduk Niniweh akan bertobat apabila mendengarkan teguran dari TUHAN. Ini yang tidak dikehendaki oleh Yunus. Nasionalisme yang picik, rasisme yang terselubung, dan kemarahan terhadap kesadisan bangsa Asyur membuat Yunus menolak panggilan TUHAN.

Dia tetap bangun dan pergi, namun ke arah sebaliknya. Bukan berlayar ke arah timur ke Niniweh (seberang kota Mogul modern, Irak), dia malah pergi ke arah barat ke Tarsis (kemungkinan besar sama dengan Spanyol sekarang). Dia ingin menghindari hadirat TUHAN sejauh mungkin (1:3, 10). Kota Tarsis termasuk salah satu kota yang begitu jauh yang belum pernah mendengar kehebatan TUHAN (Yes 66:19). Yunus mungkin berpikir bahwa TUHAN tidak akan repot-repot mengejar dia sampai ke Tarsis.

Dikejar oleh TUHAN yang berdaulat (ayat 4-17)

Dugaan Yunus separuh benar. TUHAN tidak mengejar dia sampai ke Tarsis. Sebelum mencapai kota itu TUHAN sudah lebih dahulu menemui dia. Tidak ada tempat pelarian bagi dia. Amos 3:8 berkata: “Singa telah mengaum, siapakah yang tidak takut? Tuhan ALLAH telah berfirman, siapakah yang tidak bernubuat?”. TUHAN tidak pernah salah mengutus. Dia tidak pernah lelah mengejar.

Pengejaran ini dilakukan TUHAN dengan cara yang spektakuler. Dia ingin menunjukkan kedaulatan-Nya kepada Yunus. Tiba waktunya bagi Yunus untuk lebih mengenal TUHAN, bukan hanya sebagai Allah yang berkemurahan (4:2), tetapi juga yang berdaulat atas segala sesuatu (1:4-17). Sama seperti TUHAN berkuasa atas bangsa Yehuda dan Israel, demikian pula Dia memegang kontrol atas segala bangsa. Sama seperti TUHAN berkuasa atas semua manusia, Dia juga mengontrol lautan dan segala isinya.

Badai yang sangat besar menerjang kapal barang yang ditumpangi Yunus (4:4). Ketakutan para awak kapal yang sudah sangat terlatih di tengah laut ini menyiratkan keseriusan dari badai tersebut. Ini bukan badai yang biasa.

Segala upaya dilakukan untuk menyelamatkan diri dari bahaya, tetapi semua terlihat sia-sia. Agama-agama palsu tidak menyelamatkan (1:5a). Walaupun semua awak sudah memanggil dewa mereka masing-masing, keadaan tidak berubah. Entah berapa banyak dewa laut dan badai yang sudah dimintai pertolongan. Semua tidak membawa kemajuan.

Usaha manusia pun tidak menyelamatkan (1:5b). Dengan pengetahuan dan pengalaman berlayar yang sudah sekian lama, para awak mencoba mencari solusi terbaik. Mereka berusaha meringankan beban kapal, sehingga tidak mudah tenggelam. Semua tindakan ini tidak membawa perubahan apa-apa.

Di tengah situasi ini TUHAN, dalam kedaulatan-Nya, membukakan kebebalan Yunus. Banyak pelajaran rohani ini terkesan sangat ironis. Sang nabi yang seharusnya memberitakan kebenaran justru harus belajar tentang kebenaran. Seruan nahkoda “bangunlah” (1:6) mengingatkan Yunus pada seruan TUHAN sebelumnya (1:2 “bangunlah”). Perintah nahkoda kepada Yunus supaya dia berdoa kepada Allah-Nya (1:6) benar-benar berlawanan dengan keinginannya untuk menjauhi hadirat TUHAN (1:3, 10). Harapan nahkoda agar TUHAN mengindahkan mereka – yang semuanya adalah orang non-Israel – pasti menyakitkan di telinga Yunus. Bukankah kemurahan kepada bangsa-bangsa lain itu yang mendorong Yunus untuk melarikan diri ke Tarsis? Pendeknya, sang nabi yang sedianya diutus untuk berkhotbah kepada bangsa asing kini justru sedang mendengarkan khotbah dari seorang asing. Betapa ironisnya situasi ini!

Dalam kedaulatan-Nya TUHAN juga menyingkapkan ketidakkonsistenan Yunus. Dia mengaku “takut kepada TUHAN” (1:9), tetapi tindakannya tidak menunjukkan pengakuan tersebut. Justru para awak kapal yang menunjukkan ketakutan yang tulus kepada TUHAN (1:10). Mereka menegur dia: “Bagaimana engkau dapat melakukan hal ini!” (RSV/NRSV/ESV; kontra LAI:TB yang memberikan tanda tanya). Pengakuannya tentang TUHAN sebagai Allah atas langit, laut, dan daratan (1:9) bertabrakan dengan kebodohannya dalam melarikan diri dari hadapan TUHAN. Pengakuan iman tidak sejalan dengan tindakan.

Dalam kedaulatan-Nya TUHAN juga mengajarkan kemurahan kepada Yunus. Para awak kapal tidak mau langsung menuruti usulan Yunus untuk mencampakkan dia ke laut (1:11-12). Mereka masih memikirkan cara lain untuk menyelamatkan Yunus, sehingga dia bisa menyelesaikan panggilan TUHAN (1:13). Bukankah ini bentuk kemurahan yang luar biasa kepada orang yang bersalah?

Bagaimanapun, TUHAN ingin menunjukkan kemurahan-Nya dengan cara yang berbeda. Usaha awak kapal dibuat gagal. Yunus akhirnya dilemparkan ke laut. Dia seharusnya mati di tengah lautan. Bukankah dia tidak menyesali perbuatannya? Bukankah dia tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun terhadap TUHAN? Dalam kemurahan-Nya yang besar, TUHAN mengirim ikan yang besar untuk menyelamatkan Yunus (1:17).

Dalam kedaulatan-Nya TUHAN juga memberikan cicipan kedaulatan dan kedaulatan-Nya atas bangsa-bangsa lain. Melalui semua peristiwa ini, para awak kapal mengenal siapa TUHAN. Mereka takut kepada-Nya (1:10). Mereka berdoa kepada-Nya (1:14). Mereka beribadah kepada-Nya (1:16). Hal yang sama akan terjadi pada penduduk Niniweh (pasal 3). Apa yang dikuatirkan Yunus (4:2) tampaknya sungguh-sungguh akan terjadi!   

Dalam minggu pertama Bulan Misi 2017 ini, apakah yang Allah sudah letakkan dalam hati Anda? Apa yang Anda bisa lakukan demi perluasan misi di seluruh dunia? Jika TUHAN sudah memanggil, janganlah kita mengabaikan dan melarikan diri dari rencana-Nya. Kemurahan ajaib yang Dia sudah berikan kepada kita melalui penebusan Yesus Kristus di kayu salib kiranya mendorong kita untuk bersemangat menunjukkan kemurahan kepada mereka yang terhilang. Marilah dengan sukacita dan sukarela kita melakukan apapun yang kita bisa bagi kemajuan injil Yesus Kristus dan kemuliaan Allah! Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community