The Unforgivable Sin: Blasphemy Against the Holy Spirit (Matius 12:22-37)

Posted on 14/09/2014 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/ The Unforgivable Sin: Blasphemy Against the Holy Spirit (Matius 12:22-37)

Perkataan Yesus bahwa penghujatan terhadap Roh Kudus merupakan dosa yang tidak terampuni menimbulkan banyak pertanyaan. Apa arti menghujat Roh Kudus? Mengapa hanya penghujatan kepada Roh Kudus yang tidak diampuni, sedangkan penghujatan kepada Anak Manusia masih dapat diampuni? Bagaimana kita tahu bahwa seseorang sudah menghujat Roh Kudus?

Pertanyaan-pertanyaan ini bagi sebagian orang hanyalah pertanyaan teologis biasa yang membutuhkan penjelasan meyakinkan dari Alkitab. Tetapi, bagi orang lain lagi, pertanyaan-pertanyaan ini merupakan pergumulan praktis yang menyesakkan. Beberapa orang merasa bahwa mereka pernah menghujat Roh Kudus, sehingga mereka kehilangan harapan atas pengampunan Allah. Walaupun mereka tetap terlibat dalam disiplin rohani dan pelayanan, dalam lubuk hati mereka terdapat sebuah keraguan dan keputusasaan.

Jadi, apakah arti menghujat Roh Kudus? Jika kita memahami arti dosa ini, kita akan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan lain yang terkait. Sebelumnya, mari kita melihat dahulu keseriusan dari dosa ini.

 

Keseriusan dosa menghujat Roh Kudus

 

Kekhususan dari dosa menghujat Roh Kudus dapat diketahui dari dua cara. Kita bisa melihat dari kontras antara dosa ini dengan dosa-dosa yang lain. Matius 12:32-32 secara eksplisit membandingkan semua dosa dan hujat (dapat diampuni) dengan menghujat Roh Kudus (tidak dapat diampuni). Selanjutnya, ada kontras antara menghujat Anak Manusia (dapat diampuni) dengan hujat terhadap Roh Kudus (tidak dapat diampuni). Dari perbandingan ini terlihat jelas bahwa menghujat Roh Kudus adalah dosa yang sangat spesial.

Cara lain untuk mengetahui kekhususan dosa ini adalah dari konsekuensinya. Sesudah menyatakan bahwa dosa menghujat Roh tidak dapat diampuni, Yesus menambahkan: “di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak” (Mat 12:32b). Bagian terakhir dari pernyataan ini (“di dunia yang akan datang pun tidak”) tidak boleh dipahami sebagai petunjuk bahwa setelah kematian masih ada harapan untuk pengampunan (Ibr 9:27). Tambahan ini hanya bersifat menekankan: sampai kapan pun menghujat Roh Kudus tidak akan diampuni. Konsekuensinya mencakup kehidupan di dunia ini maupun kekekalan.

 

Arti dari dosa menghujat Roh Kudus

 

Kita tidak mungkin menafsirkan arti dari dosa ini tanpa memperhatikan konteks yang ada. Pada waktu itu ada seorang yang kerasukan roh jahat, bisu, dan tuli (12:22). Tidak ada petunjuk yang jelas apakah kebisuan dan kebutaan ini diakibatkan oleh kerasukannya. Matius lebih menyoroti perdebatan antara orang-orang Farisi dan Yesus daripada keterangan detil tentang kondisi orang tersebut atau proses penyembuhannya. Walaupun demikian, jika ditilik dari fakta bahwa kesembuhan dari kebutaan dan kebisuan ini merupakan tanda bahwa roh jahat dalam dirinya juga sudah diusir keluar, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa roh jahat itu telah membuat orang ini bisu dan buta.

Dalam cerita ini, orang-orang Farisi tidak menyangkali apa yang terjadi. Mereka mengakui bahwa setan dalam diri orang itu telah diusir keluar oleh Yesus. Persoalannya, mereka menafsirkan fakta ini secara berbeda. Mereka berpendapat bahwa Yesus mengusir roh jahat dengan kuasa penghulu roh-roh jahat, yaitu Beelzebul (12:24).

Walaupun Matius 12:22-37 tidak memberi petunjuk yang sangat konklusif bahwa orang-orang Farisi dalam kisah ini telah menghujat Roh Kudus – bisa jadi mereka sudah menghujat atau berada pada titik terdekat dari dosa tersebut - apa yang mereka lakukan memberi gambaran cukup jelas tentang penghujatan kepada Roh Kudus. Dosa ini lebih daripada sekadar penolakan terhadap ajaran dan pelayanan Yesus. Apa saja petunjuk tentang dosa menghujat Roh Kudus?

Pertama, dosa ini hanya terjadi pada mereka yang sudah mengetahui tentang Yesus Kristus dan mengalami karya Roh Kudus, namun tidak memberi respon yang tepat. Orang-orang Farisi sudah sering melihat mujizat yang dilakukan Yesus. Mereka pun berkali-kali mendengarkan – bahkan memperdebatkan – ajaran Yesus. Sebagai orang yang terlatih dalam tradisi keagamaan Yahudi, mereka juga pasti sudah mengenal doktrin tentang Roh Allah (pneumatologi) dengan cukup baik. Orang-orang semacam Farisi justru yang berpotensi melakukan dosa penghujatan kepada Roh. Jika mereka sungguh-sungguh telah melakukan dosa ini, maka tidak ada harapan bagi mereka (bdk. Ibr 6:6 “namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui lagi sedemikian”; 10:26 “sebab jika kita sengaja berbuat dosa sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu”).

Kedua, dosa ini merupakan penolakan secara sengaja terhadap fakta-fakta tentang Yesus yang sudah diketahui sebagai kebenaran. Jawaban Yesus terhadap pemikiran orang-orang Farisi membuktikan bahwa penolakan mereka adalah tidak masuk akal dan dilakukan secara sengaja (12:24-27).

Berbeda dengan orang banyak yang walaupun cenderung tidak percaya tetapi masih memberi ruang untuk kemungkinan sebaliknya (12:23 NASB “Semua orang kagum dan bertanya-tanya: ‘Dia bukan Anak Daud kan?’”), orang-orang Farisi secara sengaja dan total menutup kemungkinan lain yang berbeda dengan keyakinan mereka.

Cara berpikir orang-orang Farisi tidak sesuai dengan konsep berpikir secara umum tentang kehancuran akibat tidak adanya kesatuan (12:25-26). Jika suatu komunitas saling memusuhi dan berperang, komunitas itu tidak mungkin bisa bertahan. Begitu pula dengan kerajaan setan. Mengusir roh jahat dengan kuasa Belzeebul adalah tidak masuk akal, kecuali pengusiran itu tidak sungguh-sungguh terjadi (hanya merupakan tipuan setan).

Sikap orang-orang Farisi bertentangan dengan diri mereka sendiri (12:27). Pengusiran roh-roh jahat dalam tradisi Yahudi bukan hal yang asing. Yosefus, sejarahwan Yahudi abad ke-1 M, mencatat fenomena ini (J.W. 7.185; Ant. 8.45-49). Para pengikut (lit. ‘anak-anak’) Farisi juga mempraktekkan hal itu. Jika roh-roh jahat hanya bisa diusir melalui kekuatan supranatural dan jika orang-orang Farisi tahu bahwa para pengikut mereka mengusir roh-roh jahat bukan dengan kuasa Belzeebul, mengapa mereka memberikan penilaian yang berbeda untuk Yesus?

Tuduhan dari pihak Farisi bahwa Yesus menggunakan kuasa Belzeebul tampaknya bukan kali ini saja dilakukan. Yesus bahkan disebut sebagai Belzeebul (bdk. 10:25). Jadi, penolakan ini bersifat terus-menerus dan secara sengaja.

Ketiga, dosa ini menganggap pekerjaan Roh Kudus sebagai pekerjaan Setan (12:28-30). Setelah mematahkan tuduhan pihak Farisi, Yesus lalu menjelaskan bahwa Ia mengusir roh jahat dengan kuasa Roh Allah (12:28). Baik “Aku” maupun “dengan kuasa Allah” di teks ini mengandung penekanan.

Manifestasi kuasa Roh Allah dalam pengusiran roh jahat menandakan sesuatu yang besar, yaitu kerajaan Allah sudah datang atas mereka. Kerajaan yang sebelumnya ‘sudah dekat’ (ēngiken, 3:2; 4:17; 10:7), kini kerajaan itu ‘sudah datang’ (ephthasen, 12:28). Ada gambaran tentang peperangan kosmik dan perebutan kekuasaan antara Allah dan Iblis yang jelas dalam ayat ini.

Hal ini semakin dipertegas dengan ucapan Yesus di 12:29. Terlepas dari apakah teks ini sebuah ilustrasi secara umum atau ‘orang kuat’ di sini merujuk pada Iblis, poin yang disampaikan tetap sama: salah satu tujuan pelayanan Yesus adalah meruntuhkan kekuasaan Iblis dan merampas harta milik Iblis. Kekalahan Iblis yang digambarkan dalam keadaan ‘terikat’ cukup menarik. Orang kuat tersebut tidak langsung dibunuh, namun hanya diikat. Ia tetap ada, tetapi dengan kekuatan yang sangat terbatas.

Sama seperti dalam peperangan kuno waktu itu, tidak ada netralitas bagi negara-negara tertentu yang bersentuhan. Misalnya, peperangan Siria dan Mesir pada dinasti Ptolomeus dan Seleukus dahulu memaksa bangsa Yahudi untuk memihak, karena Israel terletak di antara dua negara yang terus berperang itu. Demikian pula dengan pertempuran secara rohani. Karena peperangan ini bersifat kosmik (mencakup seluruh dunia), tidak ada tempat bagi netralitas. Setiap orang harus memilih. Berdiam diri pada saat kerajaan Allah melakukan invasi di dunia ini sama dengan melawan kerajaan itu (12:30). Jika orang-orang Farisi bersikukuh menganggap pengusiran roh jahat yang dilakukan Yesus sebagai manifestasi kuasa Belzeebul, mereka sebenarnya sedang melawan kerajaan Allah. Mereka tidak berpihak pada Yesus; berarti, mereka memihak Belzeebul.

Keempat, dosa ini bersumber dari natur yang jahat (12:33-37). Ayat 33-37 berfungsi untuk menerangkan mengapa perkataan yang negatif – yaitu penghujatan terhadap Roh Kudus – dapat dikeluarkan oleh seseorang. Akar masalah terletak pada hati manusia. Karena itu pula, penghujatan terhadap Roh Kudus tidak selalu berbentuk ucapan (12:32), tetapi juga bisa berupa pikiran yang menentang Allah (12:24-25). Yang penting adalah apa yang tidak nampak, yaitu hati manusia yang sudah tercemar oleh dosa.

Ayat 33-37 sekaligus menerangkan mengapa penghujatan terhadap Roh Kudus tidak dapat diampuni: penghujatan ini berasal dari natur yang rusak. Yang serius di sini bukanlah apa yang dilakukan (menghujat Roh), namun mengapa tindakan itu dilakukan (natur yang jahat). Walaupun mengetahui dan melihat kebenaran, orang berdosa tetap akan menindas kebenaran itu (bdk. Rom 1:18-21). Walaupun kebenaran sudah tampak begitu jelas dan tidak terbantahkan, mereka tetap akan memilih untuk mempercayai sesuatu yang tidak masuk akal. Walaupun karya Roh Kudus dalam mujizat dinyatakan, mereka akan menentangnya. Walaupun persuasi kebenaran diberikan, mereka akan bersikeras pada kebodohan mereka. Keengganan mereka untuk bertobatlah yang membuat dosa mereka tidak dapat diampuni. Jika manifestasi kuasa Roh Kudus saja selalu ditolak, apakah ada pribadi lain yang dapat meyakinkan mereka pada kebenaran? Jadi, penghujatan kepada Ro Kudus tidak dapat diampuni karena orang yang melakukannya tidak akan mampu untuk bertobat dari dosa ini. Tanpa pertobatan, tidak ada pengampunan.

 

Apakah Saudara sudah melakukan dosa ini?

 

Apakah ada perasaan kuatir dan takut dalam diri kita bahwa kita mungkin telah menghujat Roh Kudus? Jika perasaan itu ada dalam diri kita, maka kita pasti belum melakukan dosa ini. Orang yang menyesali dosa-dosanya dan memiliki kerinduan yang sungguh untuk kembali kepada Allah pasti tidak termasuk kategori orang-orang yang menghujat Roh Kudus. Mereka yang melakukan dosa ini adalah yang secara sengaja, terus-menerus, dan dengan segala cara menentang kebenaran dan kerajaan Allah yang sudah dinyatakan di depan mata mereka.

Saudara yang belum melakukan dosa ini, bukan berarti bahwa Saudara tidak akan melakukan dosa ini. Jika kita terus-menerus berkanjang pada dosa – sekalipun kebenaran firman Allah dan pekerjaan Roh Kudus didemonstrasikan dengan jelas – pada suatu titik Roh Kudus akan berhenti bekerja lagi dalam diri kita, karena kita telah dinilai menghujat Dia. Jika ini terjadi, tidak ada kemungkinan secuil pun bagi pertobatan.

Mengapa masih menunggu? Bertobatlah sekarang! Besok mungkin akan terlambat. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community