The trinity and male headship

Posted on 20/10/2013 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/The-trinity-and-male-headship.jpg The trinity and male headship

Minggu yang lalu kita sudah mendengarkan firman Tuhan tentang kesejajaran pria-wanita sekaligus posisi laki-laki sebagai kepala. Salah satu tidak meniadakan yang lain. Hari ini kita akan melihat bahwa posisi laki-laki sebagai kepala (headship) bersumber dari dan merefleksikan relasi dalam Tritunggal.

Ada dua teks yang akan menjadi fokus dalam khotbah kali ini. Yang pertama dari Kejadian 1:26-27, yang kedua dari 1 Korintus 11:3, 7-12. Pemilihan dua teks dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Alkitab secara konsisten mengajarkan apa yang akan kita bahas hari ini, yaitu bahwa posisi laki-laki sebagai kepala bersumber dari dan merefleksikan Allah Tritunggal.

Kejadian 1:26-27

Teks ini membicarakan tentang manusia sebagai gambar Allah. Karena manusia adalah gambar Allah, maka dalam taraf tertentu manusia pasti mencerminkan Penciptanya. Sama seperti sebuah foto atau lukisan memberitahukan sesuatu tentang yang asli (orang atau pemandangan), demikian pula manusia sebagai gambar Allah merefleksikan beberapa hal tentang Penciptanya. Walaupun demikian, sebagaimana lukisan tidak mungkin mengungkapkan yang asli secara penuh, manusia juga bukan representasi sempurna dari Allah. Ada sebagian (banyak) hal tentang Allah yang tidak mungkin dijelaskan melalui analogi apapun yang ada di dunia. Relasi laki-laki dan perempuan mencerminkan sedikit dari relasi Tritunggal, namun tetap ada hal-hal tertentu yang tidak tersampaikan. Tidak ada satu ilustrasi pun yang tidak defektif, terutama pada saat digunakan untuk menerangkan Allah yang tidak terbatas.

Kejamakan dan ketunggalan dalam diri Allah

Dalam Kejadian 1:26-27 ini kita akan melihat ketunggalan dan kejamakan yang ada dalam diri Allah maupun manusia. Mari kita mulai dengan Allah terlebih dahulu. Kejamakan ilahi tersirat dari penggunaan kata “Kita” pada frase “Baiklah Kita” dan “menurut gambar dan rupa Kita” di ayat 26. Ketunggalan Allah terlihat dari penggunaan kata “gambar-Nya”. Menariknya, pada saat bentuk jamak “gambar dan rupa” digunakan, frase ini diikuti oleh kata ganti jamak (“Kita”). Pada saat hanya bentuk tunggal “gambar” yang muncul, kata gantinya juga tunggal (“-Nya”).

Beragam penafsiran sudah diusulkan untuk menerangkan bentuk jamak di ayat 26. Yang paling populer ada tiga. Orang-orang Yahudi memilih untuk memahami ayat ini sebagai percakapan antara Alah dan para malaikat. Pandangan ini kurang sesuai dengan ayat 27 yang menyatakan bahwa penciptaan hanya dilakukan oleh Allah saja, tanpa malaikat (“Maka Allah menciptakan..”). Selain itu, ayat 27 menjelaskan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah saja (“menurut gambar-Nya”). Seandainya malaikat terlibat dalam penciptaan manusia, penulis Kitab Kejadian mungkin akan menggunakan bentuk jamak “Kita” seperti di ayat 26.

Pandangan lain berasal dari teolog liberal. Sesuai dengan asumsi dasar mereka bahwa Kitab Kejadian bukanlah firman Tuhan tetapi sebuah sastra biasa yang dipengaruhi oleh mitologi Timur Dekat Kuno yang politheistik, mereka menafsirkan bentuk jamak ini sebagai bukti dari pengaruh mitologi kuno yang gagal dimodifikasi oleh penulis Alkitab. Kelemahan dari pandangan ini adalah posisi ayat 26 dan 27 yang berdekatan. Sulit dimengerti mengapa seorang redaktor atau penulis “gagal mengubah” ayat 26 sesuai teologi Yahudi, sedangkan di ayat 27 ia tidak lupa “melakukan peredaksian” yang diperlukan.

Sampai sekarang tafsiran yang lebih masuk akal dan konsisten adalah yang menghubungkannya dengan Tritunggal. Memang jumlah Pribadi yang tersirat dalam ayat ini tidak eksplisit disebutkan “tiga”, tetapi paling tidak ada petunjuk terhadap kejamakan dan ketunggalan Allah. Dalam wahyu Allah berikutnya yang lebih progresif, kejamakan dan ketunggalan Allah mengarah pada kejamakan Pribadi dalam Tritunggal (“tiga Pribadi tetapi satu hakekat”).

Kejamakan dan ketunggalan ini juga tampak pada manusia sebagai gambar Allah. Kata “manusia” di ayat 26 berbentuk tunggal, tetapi kemudian diikuti frase “supaya mereka berkuasa...”. Ayat 27a membicarakan manusia dalam konteks ketunggalan: “manusia itu” dan “dia”. Ayat 27b tentang kejamakan manusia: “lai-laki dan perempuan” dan “mereka”.

Hal yang sama masih diajarkan dalam Kejadian 2. Di ayat 18 Allah memandang kesendirian Adam sebagai sesuatu yang tidak baik. Allah memberikan seorang penolong baginya. Menariknya, ayat 24 justru mengatakan: “supaya keduanya menjadi satu daging”. Ada kejamakan dan ketunggalan dalam diri manusia. Ini adalah cerminan dari Allah Tritunggal.

1 Korintus 11:3, 7-12

Kita sudah pernah mengupas bagian ini secara detil dalam seri khotbah eksposisi 1 Korintus. Karena itu, kita tidak akan mengulangi pembahasan yang detil itu di sini. Sebaliknya, kita akan berfokus pada relasi antara doktrin Tritunggal dan posisi laki-laki sebagai kepala. Kita akan membahas yang terakhir terlebih dahulu.

Laki-laki sebagai kepala (ayat 7-10)

Dalam bagian ini Paulus secara berhati-hati menjelaskan relasi antara laki-laki dan perempuan. Walaupun persoalan konkrit yang dibahas adalah tentang sikap perempuan dalam ibadah, tetapi pemikiran Paulus memberikan pencerahan pada relasi laki-laki dan perempuan secara umum.

Menurut Paulus laki-laki menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah (ayat 7a), sedangkan perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki (ayat 7b). Ini sesuai dengan prinsip yang sudah diletakkannya di ayat 3: laki-laki adalah kepala perempuan. Pemunculan kata “gambar” dan “kemuliaan” secara bersamaan bukanlah hal yang asing dalam tradisi Yahudi. Penciptaan manusia sebagai gambar Allah memang dipandang sebagai sebuah pemberian kemuliaan kepada manusia. Banyak literatur Yahudi kuno yang menyinggung tentang hal ini. Hal yang sama dapat kita temukan di Ibrani 1:3, ketika Yesus disebut sebagai cahaya kemuliaan Allah dan gambar Allah.

Berdasarkan teks Yunani, terjemahan “menyinarkan” di ayat 7 sebenarnya kurang tepat. Kata hyparchōn (ayat 7a) atau estin (ayat 7b) berarti “adalah”. Jika kita mempertahankan terjemahan hurufiah ini maka kita seharusnya memandang pengaturan ilahi di ayat 7 bukan sebagai fungsi atau tugas, melainkan fakta atau hakekat. Pada dasarnya, laki-laki adalah kemuliaan dan gambar Allah. Pada dasarnya perempuan adalah kemuliaan laki-laki. Ini bukan tentang berhasil atau tidaknya seorang laki-laki menjadi kepala. Ini berbicara tentang hakekat. Pilihan bagi laki-laki bukanlah “kepala atau bukan”, tetapi “kepala yang baik atau yang buruk”.

Begitu pula dengan perempuan. Terlepas dari semua kelebihan yang mungkin dimiliki oleh seorang istri, ia tetap adalah kemuliaan laki-laki. Semakin baik seorang istri, semakin mulia suaminya. Ini adalah konsep umum dalam tradisi keagamaan Yahudi. Sebagai contoh, Amsal 11:16 (“Perempuan yang baik hati beroleh hikmat”) dalam Septuaginta diterjemahkan “Seorang isteri yang murah hati memberikan hormat kepada suaminya” (LXX). Kehormatan isteri bukan dicapai pada saat ia menjadi kepala, tetapi pada saat ia menolong suaminya menjadi kepala yang baik.

Apa alasan Paulus membedakan laki-laki dan perempuan seperti ini? Pertama, laki-laki adalah sumber keberadaan perempuan (ayat 8). Perempuan diciptakan dari tulang dan daging laki-laki (Kej 2:21-23). Kedua, laki-laki adalah alasan bagi keberadaan perempuan (ayat 9). Perempuan diciptakan untuk laki-laki (Kej 2:18), bukan sebaliknya.

Cara berpikir seperti di atas seharusnya tidak sulit untuk diamini. Sumber selalu lebih utama daripada apa yang dihasilkan dari sumber itu. Sesuatu yang ada demi sesuatu yang lain berati kalah utama daripada alasan itu. Sebagai contoh, orang tua selalu lebih utama daripada anak, karena anak berasal dari orang tua. Anak ada karena orang tua, bukan sebaliknya. Dengan cara yang sama, karena segala sesuatu adalah dari Allah dan oleh Allah, maka sudah sewajarnya jika segala sesuatu juga untuk Allah (Rom 11:36).

Konsep tentang relasi laki-laki dan perempuan di atas membawa implikasi praktis yang luas. Salah satunya disinggung Paulus di ayat 10. Perempuan diharuskan memakai kerudung kepala. Apa maksudnya? Kepala (atau kemuliaan) perempuan adalah laki-laki. Dalam ibadah kemuliaan ini harus ditutupi, supaya hanya kemuliaan Allah saja yang dominan. Karena itulah laki-laki tidak usah menutupi kepalanya. Ia menyinarkan kemuliaan Allah.

Interdependensi antara laki-laki dan perempuan (ayat 11-12)

Sebagian orang menganggap ayat ini sebagai koreksi terhadap ayat 7-10. Penafsiran semacam ini sulit dipertahankan. Tidak ada nada korektif di ayat 11-12. Dua ayat ini sebaiknya kita pahami sebagai upaya Paulus untuk menghindari kesalahpahaman yang mungkin muncul, terutama dalam pikiran kaum perempuan.

Posisi laki-laki sebaga kepala tidak meniadakan kesejajaran dan ketergantungan laki-laki pada perempuan. Di dalam Tuhan tidak ada perbedaan jenis kelamin (ayat 11). Artinya, semua orang berdiri sama rata di hadapan Allah: sama-sama berdosa dan ditebus oleh darah Kristus (Gal 3:27-29). Di samping itu, walaupun laki-laki adalah sumber keberadaan perempuan (ayat 12a “dari laki-laki”), tetapi perempuan tetap menjadi sarana keberadaan laki-laki  (ayat 12b “dilahirkan oleh perempuan”).

Di atas segalanya, kesaling-tergantungan ini harus berpusat pada Allah (“segala sesuatu berasal dari Allah”). Segala bentuk ketergantungan yang tidak theosentris adalah dosa. Terlepas dari betapa pentingnya peranan suami bagi isteri atau sebaliknya, dasar kehidupan mereka adalah Allah. Di luar ini hanyalah romantisme yang tidak kudus.

Cerminan Tritunggal

Apa yang Paulus ajarkan tentang relasi laki-laki dan perempuan menyiratkan relasi antara Bapa dan Kristus. Subordinasi Kristus kepada Bapa secara jelas diajarkan di sini. Di ayat 3 disebutkan bahwa kepala Kristus adalah Allah. Allah lebih tinggi daripada Kristus.

Apakah poin di atas berarti meniadakan keilahian Kristus dalam arti yang sesungguhnya? Sama sekali tidak! Paulus tidak lupa memberi petunjuk tentang kesejajaran antara Bapa dan Kristus. Misalnya, di ayat 7a laki-laki tidak disebut sebagai gambar dan kemuliaan Kristus (bdk. ayat 3), melainkan gambar dan kemuliaan Allah. Dari sini terlihat ketunggalan antara Allah dan Kristus. Kesejajaran dan interdependensi antara laki-laki dan perempuan di ayat 11-12 juga didasarkan pada Tuhan (Kristus) maupun Allah (Bapa).

Jika kita melihat kembali di 8:6, kita akan menemukan bahwa interdependensi antara Bapa dan Kristus tampak begitu jelas. Walaupun segala sesuatu dari dan untuk Bapa, tetapi semuanya itu diciptakan oleh dan demi Kristus. Yohanes 1:3 secara eksplisit mengajarkan bahwa tanpa Kristus, tidak ada apa pun dari segala yang dijadikan.

Begitu juga dengan ketergantungan dari sisi ke-Bapaan dan ke-Anakan. Sama sekali suatu pribadi tidak mungkin menjadi bapa tanpa anak dan anak tanpa bapa, demikian pula ke-Bapaan Allah bergantung pada ke-Anakan Kristus dan ke-Anakan Kristus pun bergantung pada ke-Bapaan Allah.

Dalam dunia teologi penjelasan ini dapat dirangkum dalam dua istilah: Tritunggal ontologis dan Tritunggal ekonomis. Secara ontologis (pada hakekatnya), semua Pribadi dalam Tritunggal adalah satu hakekat. Karena hanya ada satu hakekat, maka semua sifat hakekat itu dimiliki bersama-sama dalam taraf yang sama. Secara ekonomis (dalam relasi dengan yang lain), ada sebuah pengaturan. Bapa lebih besar daripada Anak; keduanya lebih besar daripada Roh Kudus.

Begitu pula dengan relasi laki-laki dan perempuan. Secara hakekat keduanya sama. Tidak ada yang lebih mulia daripada yang lain. Walaupun demikian, secara ekonomis keduanya berbeda. Laki-laki adalah kepala. Sebagai kepala, laki-laki harus meneladani Kristus sebagai kepala jemaat dan Bapa sebagai kepala Kristus. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community