The Spirit of Truth: Lead Me to All the Truth (John 16:12-15)

Posted on 12/10/2014 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/ The Spirit of Truth: Lead Me to All the Truth (John 16:12-15)

Dalam khotbah minggu yang lalu kita sudah mempelajari karya Roh Kudus bagi dunia melalui kita (16:4b-11). Sekarang kita akan mengupas aspek lain dari karya Roh Kudus, yaitu peranannya dalam diri orang-orang yang percaya (16:12-15). Roh Kudus menuntun kita kepada seluruh kebenaran.

 

Sedikit waktu, bayak pesan (ayat 12)

 

Bagian ini tidak dapat dipisahkan dari kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus ke sorga yang sebentar lagi akan terjadi. Murid-murid tidak akan melihat dan bersama-sama dengan Kristus lagi di dunia (16:4b). Waktu yang mereka miliki sangat sedikit.

Keterbatasan waktu ini menjadi lebih terasa karena masih banyak hal yang Yesus perlu katakan kepada mereka (16:12a, lit. “Aku masih memiliki banyak hal untuk dikatakan”). Selain itu, murid-murid pun belum mampu untuk menanggungnya sekarang apabila Yesus mengutarakan semuanya pada waktu itu (16:12b). Beberapa saat sesudah Tuhan Yesus naik ke sorga, Yohanes dalam salah satu suratnya berkata: “Aku menulis kepadamu, bukan karena kamu tidak mengetahui kebenaran, tetapi justru karena kamu mengetahuinya” (1 Yoh 2:21a). Apa yang membedakan persepsi murid-murid tentang kebenaran ada saat mereka bersama-sama dengan Yesus dan sesudahnya? Roh Kebenaran!

 

Roh Kebenaran (ayat 13a)

 

Pemunculan kata “Dia” (ekeinos) di awal ayat ini (NASB ‘But when He, the Spirit of Truth,…”) merujuk balik pada Roh Kudus di ayat 4b-11. Hanya saja, kali ini sebutan yang digunakan bukanlah ho paraklētos (Penghibur atau – lebih tepat - Pembela), melainkan to pneuma tēs alētheias (Roh Kebenaran). Perubahan sebutan untuk Pribadi yang sama ini jelas bukan tanpa tujuan. Di tengah penganiayaan dari dunia, murid-murid membutuhkan seorang Pembela (16:4b-11). Pada saat hanya ada sedikit waktu tetapi masih banyak pesan yang perlu disampaikan, kehadiran Roh Kebenaran sangat dibutuhkan.

Roh Kudus akan memimpin murid-murid ke dalam seluruh kebenaran (ayat 13). Kata “memimpin” (hodēgeō) secara hurufiah berarti “memimpin jalan” (terdiri dari dua kata: “jalan” dan “memimpin”). Dalam tulisan Yohanes yang lain, kata ini dikenakan pada Anak Domba yang akan menuntun kita ke mata air kehidupan (Why 7:17).

Penyelidikan yang lebih teliti akan menunjukkan bahwa semua kebenaran yang akan diajarkan oleh Roh Kudus berkaitan dengan Kristus. Walaupun Roh Kudus mampu mengarahkan kita pada kebenaran tertentu yang praktis dan spesifik dalam kehidupan kita, tetapi bukan itu yang ditekankan dalam teks ini. Walaupun Roh Kudus juga menubuatkan hal-hal yang akan datang (16:13), namun fokus kebenaran tetaplah Kristus.

Pertama, pemunculan ide tentang “jalan” yang dikaitkan dengan ide tentang “kebenaran” (Roh Kebenaran akan memimpin jalan kita) mengingatkan kita pada perkataan Kristus di Yohanes 16:4 “Akulah jalan itu dan kebenaran itu dan kehidupan itu”).

Kedua, penggunaan artikel di depan kata “kebenaran” (tēs alētheias) menyiratkan bahwa Kristus sedang membicarakan sebuah kebenaran yang sudah diketahui oleh murid-murid-Nya. Ini bukan tentang hal-hal yang benar-benar baru bagi murid-murid.

Ketiga, di 14:26 dijelaskan bahwa segala sesuatu yang akan diajarkan oleh Roh Kudus tidak terpisahkan dari semua yang diajarkan oleh Tuhan Yesus (“Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu”). Keterangan yang sama muncul di 16:13b.

Keempat, puncak dari wahyu Allah adalah Kristus sendiri, bukan Roh Kudus. Kristus adalah Firman (1:1). Kristus menyatakan Allah (1:18), sehingga siapa yang melihat Kristus telah melihat Bapa (14:9). Bagian Alkitab yang lain pun menegaskan kebenaran yang sama (Ibr 1:1-4). Jadi, walaupun Roh Kudus datang lebih kemudian daripada Yesus, tetapi Yesus tetap sebagai wahyu tertinggi.

Kelima, di tempat lain di dalam Alkitab, pada saat kata hodēgeō dihubungkan dengan kebenaran atau firman, kebenaran yang dimaksud memang sudah ada. Sebagai contoh adalah pekabaran injil yang dilakukan Filipus kepada sida-sida dari Etiopia (Kis 8:31 hodēgeō = “membimbing”). Dalam kisah ini tugas Filipus bukan menyampaikan wahyu Allah yang baru, namun menjelaskan arti dari teks Alkitab yang sedang dibaca oleh sida-sida dari Etiopia.

Terakhir, ide tentang membimbing ke dalam kebenaran dalam Perjanjian Lama juga berhubungan dengan kebenaran yang sudah ada. Pemazmur berdoa agar TUHAN membawa dia pada kehendak-Nya atau kebenaran-kebenaran-Nya (Mzm 25:4-5; 43:3; 86:11; 143:10). Pemazmur jelas tidak sedang menantikan wahyu-wahyu baru yang belum pernah dia dengar. Sebaliknya, ia hanya berharap agar ia dituntun pada kebenaran ilahi yang ada. 

 

Karakteristik pekerjaan Roh Kebenaran (ayat 13b-15)

 

Dewasa ini banyak orang terlalu antusias dengan semua “wahyu baru” yang diklaim sebagai pekerjaan Roh Kudus. Walaupun dalam berbagai kesempatan telah terbukti bahwa hal-hal semacam itu seringkali adalah dusta dan menyesatkan, antusiasme ini tetap tidak berkurang. Kita seharusnya memahami bahwa Roh Kebenaran bekerja dengan ciri-ciri khusus yang dapat dideteksi.

Roh Kebenaran hanya mengatakan apa yang didengar-Nya dari Yesus (16:13b). Sebagaimana Yesus hanya mengatakan dan melakukan apa yang Ia dengar dari Bapa-Nya (3:34-35; 5:19-20; 7:16-18; 8:26-29, 42-43; 12:47-50; 14:10), demikian pula Roh Kudus hanya menyampaikan apa yang Ia dengar Yesus (16:13b). Ada kesatuan di dalam diri Allah Tritunggal. Kedekatan relasi dan koherensi wahyu menandai relasi Allah Tritunggal.

Roh Kebenaran menyatakan hal-hal yang akan terjadi (16:13b). Sebagian orang menafsirkan bagian ini secara eskhatologis yang jauh. Maksudnya, mereka memikirkan wahyu-wahyu baru yang akan diungkapkan Roh Kudus di zaman sekarang. Hal ini jelas tidak bisa dibenarkan. Ungkapan “yang akan datang” tidak terbatas pada zaman sekarang. Ungkapan ini harus ditafsirkan sesuai konteks: apa yang terjadi segera sesudah Yesus naik ke sorga. Sesuai konteks, hal-hal yang akan datang bisa merujuk pada penganiayaan dan kesaksian murid-murid (15:26-27; 16:1-11). Hal-hal yang akan datang juga bisa berbentuk persepsi terhadap ajaran Yesus yang belum dipahami sebelumnya oleh murid-murid, misalnya tubuh Yesus sebagai bait Allah (2:21-22; lihat juga 7:39). Dengan kata lain, “hal-hal yang akan datang” berhubungan dengan persepsi terhadap maksud kebenaran dan aplikasinya bagi situasi murid-murid sesudah pencurahan Roh Kudus di Hari Pentakosta.

 

Roh Kebenaran memuliakan Kristus (16:14-15). Dua ayat ini harus diambil sebagai satu kesatuan berdasarkan pemunculan kata “milik-Ku” di ayat 14-15 (ayat 14b, lit. “sebab Ia akan mengambil apa yang menjadi milik-Ku dan menyatakannya kepada kalian”; bdk. mayoritas versi Inggris). Alasan yang lain adalah pengulangan frase “Ia akan mengambil apa yang menjadi milik-Ku dan menyatakannya kepada kalian” (ayat 14, 16; hoti ek tou emou lambanei kai anangelei hymin).

Sebagaimana Anak memuliakan Bapa melalui pelayanan-Nya di dunia (7:18; 17:4), demikian pula Roh Kebenaran akan memuliakan Kristus melalui pekerjaan-Nya (16:14). Sebagaimana Anak memuliakan Bapa dengan cara menyelesaikan semua pekerjaan yang diberikan pada Anak (17:4), Roh Kudus juga akan memuliakan Kristus dengan menyelesaikan tugas-Nya: mengambil milik Kristus dan menyampaikan kepada murid-murid. Karya Roh Kudus yang memuliakan Kristus merupakan realisasi dari keinginan Bapa bahwa penghormatan harus diberikan pada Bapa dan Anak (5:23). Ini sekaligus sebagai salah satu jawaban atas doa Yesus untuk dimuliakan (17:1, 5).

Bagian ini bukan hanya mengajarkan apa yang dilakukan Roh Kudus terhadap Anak, tetapi juga menyatakan kontinuitas dan intimasi antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Bagian ini menyatakan bahwa apa yang menjadi milik Anak adalah milik Bapa (ayat 15) dan apa yang menjadi milik Anak nanti akan menjadi milik Roh Kudus (ayat 14). Yesus sudah mengambil, memiliki, dan menyampaikan milik Bapa kepada murid-murid-Nya, kini Roh Kudus akan melakukan hal yang sama. Ia akan terus bekerja sampai kita mengerti kebenaran dan mengaplikasikan secara benar dalam hidup kita.

 

Aplikasi

 

Janji dalam teks ini terutama ditujukan pada murid-murid Kristus yang awal. Merekalah yang mendengar semua ajaran Yesus dan bisa diingatkan oleh Roh Kudus. Generasi-generasi berikutnya tidak mendengarkan ajaran Yesus secara langsung.

Walaupun demikian, ajaran-ajaran Yesus sudah dituliskan dalam Alkitab (20:30-31; 21:24-25). Roh Kebenaran akan menggenapi janji dalam teks kita hari ini dengan jalan mengingatkan kita tentang isi Alkitab. Ia juga akan memberikan persepsi kepada kita, sehingga kita mampu mengerti isi Alkitab dan mengaplikasikannya secara spesifik sesuai situasi kita masing-masing. Dalam hal ini kita tetap perlu waspada. Kita tidak boleh lekas dibuai oleh slogan-slogan tertentu yang seolah-olah menekankan pekerjaan Roh Kudus, tetapi justru menjauhkan kita dari karya Kristus dan kebenaran Alkitab. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community