The Holy Spirit is also fully God (Kisah Para Rasul 5:1-11)

Posted on 28/04/2013 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/The-Holy-Spirit-is-also-fully-God-(Kisah-Para-Rasul-5-1-11).jpg The Holy Spirit is also fully God (Kisah Para Rasul 5:1-11)

Salah satu pertanyaan yang seringkali muncul dalam usaha memahami doktrin Allah dalam penyataan Alkitab adalah: “siapakah Roh Kudus?” Sebagian orang Kristen telah mengenal dan menerima bahwa Roh Kudus adalah Pribadi ketiga dari Allah Tritunggal. Namun di pihak lain,  saya juga menemukan bahwa tidak sedikit orang Kristen yang tidak mengenali dan mengerti Roh Kudus dalam kapasitas yang semestinya, sejauh yang Alkitab telah bukakan. Roh Kudus lebih dikenal sebagai “Apa” dan bukan “Siapa” sehingga tanpa disadari mereka cenderung “menganak-tirikan” Roh Kudus.

Contohnya adalah sebuah pengajaran dari salah satu gereja: "Karena Roh Kudus pada hakikatnya adalah TUHAN Allah sendiri. Tepatnya Roh Kudus secara khusus menunjuk pada daya atau kuasa Ilahi yang merupakan lingkup dari karya Allah. Atau kuasa Ilahi yang dinamis untuk melaksanakan kehendak dan karya Allah. Jadi bila Roh Kudus Allah disebut berkarya dalam suatu peristiwa atau melalui orang-orang tertentu, berarti hal itu menjadi bukti kehadiran dari kekuatan atau kekuasaan Allah yang dinamis".

Charles Ryrie menulis, "Pemahaman tentang pelayanan Roh Kudus adalah dasar kehidupan kristiani.” Tetapi kita tidak bisa sepenuhnya memahami pekerjaan seseorang tanpa juga mengetahui sesuatu tentang orang itu. Demikian juga, perlu untuk mengetahui sesuatu tentang pribadi Roh Kudus dalam rangka untuk sepenuhnya menghargai karya-Nya. Ini mungkin tampak membosankan bagi pembaca untuk belajar tentang kepribadian Roh dan keilahian-Nya, tetapi ‘Siapa Dia’ adalah dasar untuk mengerti apa yang Dia lakukan, di mana pengetahuan mengenai Pribadi dan karya-Nya adalah dasar bagi pengabdian dan hidup orang percaya.

Ada banyak bagian Alkitab yang menyatakan tentang siapa Roh Kudus, baik secara eksplisit maupun implisit. Salah satu yang menjadi fokus kita adalah Kisah Para Rasul 5:1:1-11. 

Isi:

5:1 "Ananias" Dari nama Ibrani ‘Hananya’ yang berarti "YHWH telah berbelas-kasihan" atau "YHWH adalah murah hati." Safira adalah istri Ananias, sebuah nama yang dalam bahasa Aram berarti "indah." Keduanya orang-orang percaya. Nama-nama yang indah, namun tidak seindah kisah hidupnya. Zaman sekarang juga terdapat banyak nama yang indah namun tidak seindah karakternya.

5:2 “menahan” (νοσφίζω/nosphizo) kata Yunani yang sama digunakan dalam Yosua 7:1 versi Septuaginta (LXX) untuk menggambarkan dosa Akhan. F.F.Bruce berkomentar bahwa Ananias melakukan dosa di masa gereja mula-mula seperti apa yang dilakukan Akhan dalam masa penaklukan. Dosa ini memiliki potensi merusak seluruh gereja. Istilah ini juga digunakan dalam Titus 2:10 dan merujuk budak yang mencuri dari majikan mereka.

Kata yang digunakan menyiratkan bahwa Lukas (penulis Kisah Para Rasul) bermaksud untuk menarik makna paralel antara dosa Akhan ketika Israel memulai penaklukan atas Kanaan dan dosa Ananias dan Safira saat dimulainya gereja dan misinya. Kedua insiden yang mendatangkan penghakiman langsung dan drastis dari Allah dan menjadi pelajaran serius bagi orang percaya.

"Membawa sebagian dari uang itu, dan ia meletakkannya di depan kaki rasul-rasul." Mirip dengan apa yang Barnabas lakukan di 4:37, pasangan ini memiliki kebebasan untuk menjual atau tidak properti pribadi mereka (lih. ay 4). Mereka memiliki kebebasan untuk memberikan sebagian atau semuanya untuk pekerjaan Tuhan, tetapi mereka tidak berhak untuk memberikan sebagian tetapi menyatakan memberikan semuanya. Motif dan tindakan ganda yang mengungkapkan hati mereka (lih. ay 4c; Lukas 21:14). Allah melihat hati (lih. 1Sam. 16:7; 1Raj. 8:39; 1Taw. 28:9; Ams. 21:2; Yer. 17:10, Luk. 16:15, Kis. 1:24 ; Rom. 8:27).

5:3 "Setan vs Roh Kudus." Terjemahan yang lebih tepat adalah "Dipenuhi/πληρόω", bukan “Dikuasai/καταδυναστεύω” yang konotasinya dirasuk/dikontrol secara paksa (bdk. Kis. 10:38; bdk. Yak. 2:6, Kel. 1:13). Kata ini hanya muncul 2 kali dalam PB dan tidak pernah dikenakan pada Roh Kudus. Tetapi dalam bagian ini, Lukas menggunakan kata  "Dipenuhi/πληρόω." Ini adalah kata yang juga dikenakan untuk Roh Kudus (lih. Ef 5:18). Hal ini ini menunjukan bahwa menunjukan bahwa Ananias dan Safira secara sadar dan bebas memilih untuk mendustai Roh Kudus.

Fakta ini ini menunjukkan bahwa tidak semua orang yang berada dalam kumpulan orang percaya atau gereja memiliki hati yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Bagaimana kita bisa membedakannya? Hati yang tidak beres selalu berhasrat pada hal-hal yang berseberangan dengan Allah dan cenderung untuk tidak menghormati Allah. Walaupun dari luar terlihat sangat rohani, namun sesungguhnya mereka suka mencuri kemuliaan Allah. Inilah kondisi hati Ananias dan Safira, sehingga mereka bisa terlihat rohani dari luar, tetapi sesungguhnya hati mereka jahat. 

"Mendustai Roh Kudus." Mereka berbohong kepada Petrus dan gereja, tetapi kenyataannya mereka berbohong kepada Roh Kudus. Secara teologis, hal ini sangat mirip ketika Yesus menampakkan diri kepada Saulus di jalan menuju Damaskus, "Mengapa engkau menganiaya Aku?" (lih. Kis. 9:4). Paulus menganiaya orang percaya, tetapi Yesus menjadikannya masalah pribadi. Yesus menganggap Paulus menganiaya diri-Nya, seperti halnya Ananias dan Safira mendustai Roh Kudus di topik ini. Peristiwa ini juga harus menjadi peringatan keras untuk orang percaya modern. Di sisi lain, kisah ini menjadi penghiburan tersendiri bagi orang percaya bahwa setiap hal yang menimpa kehidupan kita, itu juga menjadi ‘urusan Tuhan.’

‘Mendustai Roh Kudus’ secara implisit menyatakan kepada kita bahwa Roh Kudus adalah satu Pribadi. Dosa dusta tidak bisa dikenakan pada seseorang jika obyeknya adalah suatu benda, melainkan hanya bisa dituntut jika obyeknya sesuatu yang berpribadi. Misalnya, saya tidak dapat dituntut karena berdusta pada meja, mobil, atau kucing, tetapi saya pasti dituntut jika membohongi seseorang. Ketika Petrus menyatakan bahwa Ananias telah mendustai Roh Kudus, dan Ananias dan isterinya mengalami murka Allah, secara implisit menunjukan bahwa Roh Kudus adalah satu Pribadi, bukan sekedar benda atau kuasa.

5:4 "Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah." Bukan karena mereka menyimpan sebagian dari uang itu, tetapi mereka berbohong agar terlihat rohani. Perhatikan bahwa sesuatu tindakan baik yang dilakukan dengan motivasi buruk adalah dosa. Perhatikan juga bahwa Roh Kudus yang disebutkan di ayat 3 adalah Allah. Aliktab sering menyebutkan Roh Kudus dan Allah/Yahweh secara dibolak-balik. Contoh: Dalam bagian ini, mendustai Roh Kudus = mendustai Allah. Di bagian lain, suara Tuhan = Firman Roh Kudus (Kis. 28:25-27 dengan Yes. 6:8-10), dan mencobai Roh Kudus = mencobai Allah, bdk. Ibr. 3:7-11 dan Kel. 17:1-7. Fakta-fakta ini menunjukan bahwa Roh Kudus adalah Allah!

5:5 "ia rebah dan putuslah nyawanya." Mati dengan cara yang buruk tidak selalu berarti bahwa seseorang mengalami tulah atau kutukan Tuhan. Tetapi terdapat beberapa kisah dalam catatan Alkitab (PL & PB) bahwa seseorang mati dengan cara yang tidak lazim marupakan akibat dari tulah atau kutukan Tuhan. Dalam bagian ini, Lukas menggunakan kata yang tidak umum (ἐκψύχω/ ‘napas terakhir,’ bukan ἀποθνῄσκω/‘meninggal’) untuk menjelaskan kematian Ananias dan Safira. Istilah ini jarang ditemukan dalam PB, hanya muncul dalam Kisah Para Rasul (lih. 5:4,10; 12:23).

Menurut masyarakat kuno, nafas terakhir adalah bukti bahwa roh orang tersebut telah pergi (lih. Hak. 4:21). Hal ini mirip dengan penghakiman Allah pada anak-anak Harun dalam Imamat 10:2. Hal ini muncul dalam PB hanya dalam konteks di mana seseorang tertimpa oleh penghakiman ilahi.

Faktor psikologis dan fisik mungkin juga menjadi penyebab sekunder dalam kematian Ananias, tetapi penekanan Lukas pada Allah sebagai penyebab utama terlihat dari kata kerja yang digunakan dan dampak bagi kumpulan orang percaya pada saat itu. Ini adalah keterangan di mana Lukas memberitahu pembacanya untuk memahami komentar selanjutnya: "Ketakutan yang besar melanda semua orang yang mendengar berita ini.”

5:7 “kira-kira tiga jam kemudian” ini menunjukkan kejelasan cerita oleh saksi mata. Ciri tulisan Lukas adalah perhatian pada hal-hal yang terinci. Mencerminkan gaya penulisan dan metode penelitiannya. Episode tragis diulang dengan Safira. Sama seperti suami dan istri bersatu dalam konspirasi mereka, mereka pun bersatu dalam penghakiman yang datang atas mereka.

5:9 “mencobai” Ada dua istilah Yunani yang digunakan untuk menunjukkan hal ini. Yang dipakai oleh Lukas dalam bagian ini berkonotasi negatif seperti dalam Kel. 17:2 dan Ul. 6:16, di mana teks-teks ini memperingatkan terhadap menguji/mencobai YHWH (Bdk. Mazmur 78:18; 41, 56).

Ada dua istilah Yunani yang memiliki pengertian menguji seseorang untuk tujuan tertentu:

1. δοκίμιον Istilah ini adalah istilah metalurgi untuk menguji keaslian sesuatu oleh api. Api ini memunculkan logam yang sesungguhnya dengan memisahkan (memurnikan) dari kotoran-kotorannya. Proses alamiah ini menjadi suatu ungkapan yang kuat bagi Allah atau manusia yang menguji orang lain. Istilah ini digunakan hanya dalam pengertian positif dari pengujian dengan suatu maksud kepada penerimaan (bdk. Yak. 1:3; Ibr. 3:9).

2. πειράζω Istilah ini memiliki konotasi tujuan untuk maksud mencari kesalahan atau penolakan. Ini sering digunakan sebagai gelar dari setan (Mat. 4:3; 1Tes. 3:5) dan dalam kaitan dengan pencobaan Yesus di padang gurun (Mat. 4:1; Ibr. 2:18).

5:11 “sangat ketakutanlah… semua orang yang mendengar hal itu.” Lukas menggunakan kata umum Phobos beberapa kali dalam pengertian umum yang sama (lih. Luk. 1:69; 3:37, Kis. 19:17). Bagi orang percaya itu adalah rasa penghormatan, menghargai, dan kagum, tetapi untuk orang-orang kafir itu adalah suatu ketakutan dan teror (lih. Lukas 12:4-5; Ibrani 10:31).

Aplikasi:

Bersyukurlah dan bersukacitalah karena Roh Kudus yang mendiami kita adalah Allah yang berkuasa, yang sanggup untuk menolong, menghibur dan memampukan kita untuk melewati segala pergumulan yang kita alami

Roh Kudus berhak mendapatkan penghormatan dan pengagungan dari setiap kehidupan dan ibadah orang percaya.

Setiap kebenaran yang telah dipahami, tetapi dengan sengaja dan sadar memilih untuk melanggarnya adalah sama dengan dosa mencobai Tuhan. Karena itu, bergumulah sampai pada titik maksimal untuk menaati setiap kebenaran yang telah dipahami.

Hanya Roh Kudus yang sanggup untuk memimpin kita pada kehidupan yang berkenan kepada Allah, karena itu biarlah setiap kita membuka hati untuk dipenuhi dan dipimpin oleh kuasa-Nya.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community