The Dignity of Fatherhood (Efesus 6:4)

Posted on 13/09/2015 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/dignity_of_fatherhood.jpg The Dignity of Fatherhood (Efesus 6:4)

Keindahan dan kehormatan seorang bapa semakin lama semakin pudar. Banyak ayah yang hanya berperan sebagai penyedia materi. Sebagian hanya memberi perlindungan dan bantuan jika diperlukan.

Lebih parah lagi, sebagian bahkan tidak memainkan peranan sama sekali sebagai seorang ayah. Jarang ada di rumah. Tidak ada komunikasi dengan anak-anak. Tidak menunjukkan keteladan hidup yang baik.

Satu-satunya cara untuk mengembalikan kebapaan (fatherhood) dengan segala kehormatannya (dignity) adalah dengan menjadi ayah yang baik. Figur ayah seperti apa yang diajarkan dalam Alkitab? Hari ini kita akan mengupas topik ini berdasarkan Efesus 6:4.

Kebapaan dan spiritualitas

Penyelidikan tata bahasa dan konteks secara lebih luas menunjukkan bahwa tugas kebapaan bersentuhan dengan hal-hal yang rohani. Secara tata bahasa dan konseptual, nasihat praktis dalam konteks keluarga (5:22-6:9) merupakan salah satu tanda orang dipenuhi oleh Roh Kudus (5:18). Dipenuhi Roh bukan hanya dalam terlihat dalam kebersamaan di dalam gereja atau relasi pribadi dengan Allah, melainkan juga dalam kehidupan sehari-hari di dalam keluarga. Lebih jauh, tugas seorang bapa juga secara eksplisit dikaitkan dengan Tuhan. Para ayah diperintah untuk mendidik anak-anak di dalam ajaran dan nasihat Tuhan (6:4b). 

Keterkaitan antara spiritualitas dan kehidupan berkeluarga juga disinggung di bagian lain Alkitab. Tuhan Yesus menegur orang-orang Farisi yang “mementingkan korban kepada Allah” tetapi mengabaikan tanggung-jawab kepada orang tua (Mat 15:3-6). Paulus mengecam secara keras orang-orang Kristen yang tidak mempedulikan anggota keluara mereka yang membutuhkan (1 Tim 5:8). Ia juga menjadikan teladan di keluarga sebagai persyaratan wajib bagi para penatua dan diaken (1 Tim 3:4-5, 11-12).

Berdasarkan penjelasan di atas, tugas kebapaan menurut Alkitab tidak mungkin tercapai apabila seorang ayah tidak memiliki pengalaman pribadi dengan Allah melalui karya Roh Kudus di dalam hatinya. Tugas kebapaan harus dimulai dari pertobatan. Jika seseorang tidak mengenal Allah secara pribadi sebagai Bapa, bagaimana mungkin ia mampu meneladani figur kebapaan Allah? Transformasi anak-anak seringkali dimulai dari transformasi ayah mereka.

Ayah yang terhormat

Menjadi ayah yang baik tidak terjadi dalam sekejap. Proses ini juga tidak muncul secara alamiah. Ada beberapa konsep yang perlu dipahami dan beberapa langkah yang harus dilakukan. 

Pertama, tugas utama dalam pembinaan spiritualitas anak-anak terletak pada ayah (6:4a). Pemunculan kata “bapa-bapa” (hoi pateres) di ayat ini cukup menarik perhatian. Pada bagian sebelumnya anak-anak diperintahkan untuk menaati orang tua (6:1). Istilah “orang tua” ini lalu diterangkan “ayah dan ibu” (6:2). Pada saat membicarakan tentang tanggung-jawab orang tua kepada anak, Paulus hanya menyebutkan bapa/ayah. Bukan bentuk jamak “orang tua”. Tidak ada tambahan “ibu”.

Hal di atas bukan berarti bahwa ibu tidak terlibat dalam pendidikan rohani anak. Mereka justru yang secara praktis lebih terlibat, karena sebagian besar ibu berada di rumah dan mengasuh anak-anak. Pemunculan sebutan “bapa-bapa” menyiratkan sebuah konsep teologis dan kebiasaan pada waktu itu: tanggung-jawab utama dalam pembinaan spiritualitas anak ada di tangan para ayah. Mereka memang tidak memiliki hak istimewa dalam hal waktu (mereka biasanya harus bekerja di luar rumah), namun mereka diberi kehormatan untuk menjadi imam dan guru rohani paling penting di dalam keluarga.

Seorang ayah tidak harus pandai berbicara, berdoa, atau berkhotbah, tetapi ia harus mempedulikan dan menekankan kerohanian anak-anak. Seorang ayah tidak perlu terlibat dalam segala hal yang detil, tetapi ia harus memastikan terciptanya atmosfir rohani di dalam rumah. Memantau disiplin rohani anak-anak dan memberikan teladan positif yang konkrit dalam perkataan, tindakan, dan pengambil keputusan merupakan tugas seorang ayah yang tidak tergantikan.

Kedua, seorang ayah tidak boleh menyalahgunakan otoritasnya (6:4b). Hal menarik lain dari teks ini adalah pemunculan bentuk perintah negatif (larangan): “jangan bangkitkan amarah dalam hati anak-anakmu”. Larangan ini bahkan diletakkan di bagian awal sebelum perintah “didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan”. Ini jelas menyiratkan sebuah penekanan. Hal ini mungkin menyiratkan sebuah kesalahan umum dan fatal yang biasa dilakukan oleh para ayah pada zaman itu.

Sebagian besar penafsir mengaitkan larangan ini dengan hukum patria potestas (lit. “kuasa/kedaulatan seorang ayah”) yang berlaku di budaya Romawi pada waktu itu. Menurut hukum ini, seorang ayah mengontrol dan memiliki semua barang dan orang yang berlindung di bawah atapnya. Kekuasaannya hampir mutlak. Ia bahkan berwenang untuk menjatuhkan mati bagi orang lain di keluarganya atau menjual mereka sebagai budak. Di tengah situasi ini, penyalahgunaan kuasa dengan mudah dapat terjadi.

Paulus menasihatkan agar para ayah tidak membangkitkan amarah di dalam hati anak-anak mereka. Secara hurufiah bagian ini berbunyi : “Jangan memprovokasi anak-anak kalian”. Hampir semua versi Inggris menambahkan “amarah” atau “kemarahan” sesudah kata “provokasi” (KJV/ASV/NASB/ESV). Dalam Alkitab kata parorgizō bisa berkaitan dengan kemarahan, cemburu, sakit hati, kegelisahan, dsb (bdk. Yeh 16:26; 32:9; Rom 10:19). Pendeknya, Paulus sedang membicarakan tentang sesuatu yang tidak menyenangkan dalam hati anak-anak akibat perilaku ayah mereka.

Paulus tentu saja tidak melarang ayah untuk memarahi anak-anak mereka. Dalam beberapa hal kemarahan adalah kudus dan diperlukan. Paulus juga tidak bermaksud meniadakan peraturan dan disiplin yang bisa membuat anak-anak marah (bdk. 6:4c; Ibr 12:5-8). Tidak ada disiplin dan ganjaran yang langsung terasa enak bagi anak-anak (bdk. Ibr 12:11). Yang sedang dibicarakan di sini adalah tindakan seorang ayah yang keliru dan tidak perlu, yang hanya memprovokasi anak. Salah satu contoh paling jelas dan umum adalah penyalahgunaan kekuasaan oleh seorang ayah.

Ketiga, seorang ayah harus mendidik dengan penuh kasih, secara seimbang, dan berfokus pada Kristus (6:4c). Ada hal yang perlu dihindari (6:4b), ada hal yang harus dilakukan (6:4c). Kata “mendidik” (ektrephō) hanya muncul di 5:29 dan 6:4. Di 5:29 kata ini dikontraskan dengan kata kerja “membenci” dan disejajarkan dengan “merawat”, sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa menyiratkan kasih atau perhatian. Kasih seyogyanya menjadi dorongan terkuat dalam proses pendidikan rohani anak-anak. Sayangnya kebenaran yng sederhana ini pun sering dilupakan. Sebagian mendidik anak dengan tujuan agar anak-anak tidak nakal dan mempermalukan orang tua. Masih banyak dorongan-dorongan lain yang kurang tepat tetapi - sayangnya - paling kuat.

Kata “ajaran” (paideia) muncul beberapa kali di Ibrani 12:5-11, dan dikaitkan secara erat dengan disiplin (ganjaran atau hajaran). Sebagian versi Inggris dengan tepat menerjemahkan “disiplin” (NASB/RSV/ESV) atau “hukuman” (ASV). Bagian ini mengajarkan bahwa mengasihi tidak identik dengan memanjakan. Mengasihi tidak sama dengan menyenangkan anak. Kadangkala disiplin yang kita terapkan dan hukuman yang kita berikan akan membuat anak berdukacita atau marah untuk sementara waktu, tetapi hal itu merupakan dukacita menurut kehendak Allah yang membawa pada pertobatan dan kesalehan hidup (bdk. 2 Kor 7:10-11).

Kata “nasihat” (nouthesia) bisa berarti “teguran”, “pengajaran”, atau “nasihat” (1 Kor 10:11; Ef 6:4; Tit 3:10). Mayoritas versi Inggris yang lebih baru memilih “pengajaran” atau “instruksi” (RSV/NASB/NIV/ESV; bdk. KJV/ASV “nasihat”). Terjemahan mana pun yang diambil, inti yang ingin disampaikan tetap sama: disiplin atau hukuman harus disertai dengan pengajaran. Pelajaran apa yang didapat oleh anak-anak melalui sebuah peraturan? Konsep teologis apa yang dipelajari anak pada saat kita menghukum mereka? 

Baik disiplin maupun pengajaran tidak boleh dipisahkan dari Tuhan (6:4c). Sebagaimana seluruh proses keselamatan kita berada di dalam Kristus - sejak kekekalan sampai selamanya (1:4, 6, 7, 13; 2:21-22) – demikian pula dengan tugas kebapaan. Ungkapan “disiplin dan ajaran Tuhan” (6:4c) berarti “menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus” (4:21). Maksudnya, proses kebapaan harus dikaitkan dan difokuskan pada injil keselamatan di dalam Yesus Kristus. Para ayah Kristen bukan sekadar mengajarkan moralitas, melainkan membimbing anak mereka untuk mempercayai dan menghidupi injil. Inilah yang membedakan kebapaan Kristen dari yang lain. Inilah yang memberi makna lebih pada kebapaan Kristen. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community