Tetap Bermisi Walau Dibenci (Matius 10:21-25)

Posted on 30/08/2020 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/tetap-bermisi-walau-dibenci-matius-10-21-25.jpg Tetap Bermisi Walau Dibenci (Matius 10:21-25)

Bagi banyak orang, pelayanan misi di pedalaman seringkali identik dengan penderitaan. Kesan umum ini memang tidak berlebihan. Melayani orang asing di tempat yang terpencil memang ibarat sebuah pintu besar menuju berbagai lapisan persoalan: kesendirian, keterbelakangan, kekurangan, dan penolakan. Semua ini bisa lebih parah jika muncul persoalan personal, misalnya anggota keluarga yang kurang mampu menyesuaikan diri di budaya yang berbeda. Pendeknya, misi lekat dengan tribulasi.

Situasi ini seharusnya tidak terlalu mengagetkan. Sejak awal Yesus memang sudah mengingatkan murid-murid-Nya bahwa penderitaan seringkali tidak terhindarkan. Berbagai wujud penganiayaan – tekanan, kebencian, penolakan, bahkan kematian – siap menghadang di tengah jalan. Persoalan dan penderitaan bukan kejutan dalam pelayanan.

Dalam khotbah-khotbah sebelumnya kita sudah belajar bahwa murid-murid Yesus mungkin saja akan menghadapi penolakan (10:13-15). Penolakan ini bahkan mungkin berbentuk penganiayaan secara fisik (10:16-20). Sekarang Yesus memberitahukan bahwa penganiayaan ini sangat mungkin sampai merenggut nyawa seseorang (10:21-25).

Seperti apakah penganiayaan yang akan dijalani? Bagaimana kita menyikapi penganiayaan tersebut?

 

Penjelasan tentang penganiayaan (ayat 21-22)

Apa yang Yesus katakan di bagian ini tampaknya bukan hanya membicarakan tentang pelayanan awal murid-murid di Galilea. Bahaya yang disebutkan berlaku juga untuk pemberitaan Injil di berbagai tempat. Apa yang disebutkan di ayat 21-22 mungkin belum dialami pada saat murid-murid baru dalam tahap belajar memberitakan Injil.

Ungkapan “menyerahkan…untuk dibunuh” (ayat 21a, paradidōmi…ton thanaton) dan “membunuh” (ayat 21b, thanatoō) merujuk pada hukuman mati secara resmi oleh penguasa sipil (pemerintah). Pertobatan menjadi murid Yesus akan membuat anggota keluarga marah besar. Anggota keluarga lebih rela melihat mereka mati daripada berpindah iman.

Penggenapan dari pernyataan Yesus di ayat 21 ini tidak tercatat dalam Alkitab. Hukuman mati secara formal baru terjadi pada rasul Yakobus di bawah keputusan Raja Herodes Agrippa I (Kis. 12:1-4), namun kita tidak melihat keterlibatan anggota keluarga dalam kasus tersebut. Walaupun demikian, sejarah kuno oleh Tacitus dan Pliny mencatat bahwa orang-orang Kristen sering diadukan oleh orang lain kepada pemerintah sehingga mereka dijatuhi hukuman mati, misalnya pada zaman Kaisar Nero (tahun 60-an) dan Trajan (awal tahun 100-an). Sangat mungkin di antara para pengadu tersebut justru adalah anggota keluarga sendiri.

Jika orang terdekat saja dapat melakukan hal itu, apa yang bisa diharapkan dari orang lain? Tidak berlebihan jika Yesus mengatakan: “kamu akan dibenci oleh semua orang karena nama-Ku” (ayat 22a). Frasa “semua orang” di ayat ini jelas bukan “setiap individu”. Ada orang yang juga membuka pintu untuk para pekabar Injil (10:12-13; 5:13-14). “Semua orang” menyiratkan keluasan ancaman: siapa saja bisa menjadi pengadu, termasuk anggota keluarga sendiri.

Selama penganiayaan pada zaman Nero sejarahwan Tacitus melaporkan bahwa orang-orang Kristen diberi label “kebencian umat manusia” (odium humanis generis). Makna di balik ungkapan ini mungkin berupa tuduhan (orang-orang Kristen membenci semua orang lain) atau laporan (orang-orang Kristen dibenci oleh semua orang). Manapun yang benar, artinya sama saja. Penganiayaan yang begitu luas pada zaman Nero dan beberapa kaisar lain menunjukkan bahwa dunia sedang membenci orang-orang Kristen. Situasi ini tidak mengherankan, pada masa-masa tersebut menjadi orang Kristen merupakan pelanggaran serius yang layak dijatuhi hukuman mati. Jika ada orang yang tidak suka dengan orang Kristen, dia tinggal memberian laporan saja kepada penguasa.   

Di tengah ancaman yang begitu serius ini, Yesus berpesan: “orang yang bertahan sampai kesudahannya akan selamat”. Kata “sampai kesudahannya” (eis telos) dalam konteks ini tidak perlu ditafsirkan sebagai akhir zaman. Sesuai konteksnya, kesudahan yang dimaksud sangat mungkin bersifat umum (kematian). Dengan kata lain, siapa saja yang tetap memilih untuk mati karena iman mereka, orang-orang itu akan diselamatkan. Murid-murid mungkin kehilangan nyawa mereka (hidup sementara), tetapi mereka akan mendapatkan jiwa mereka (kehidupan kekal). Di 16:25 Yesus berkata: “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya”.

 

Bagaimana bertahan sampai kesudahannya (ayat 23-25)?

Menasihati untuk bertahan sampai akhir adalah satu hal. Memberitahukan cara untuk mencapai hal itu adalah hal yang berbeda. Yesus memberikan dua-duanya.

Apa saja yang harus dilakukan oleh murid-murid supaya mereka bisa bertahan?

Pertama, menyelamatkan diri dengan cerdik (ayat 23a). Nasihat untuk melarikan diri ke kota-kota lain di ayat ini cukup menarik. Kesiapan untuk mati bagi Tuhan (10:21-22) bukan berarti kecerobohan dalam menantang bahaya (10:23a). Bahaya memang tidak perlu ditakuti, tetapi juga tidak perlu dicari.

Ini adalah contoh konkrit dari bertindak dengan cerdik seperti ular (10:16). Para pekerja Injil tidak perlu takut dengan siapapun. Namun, kita juga tidak perlu mencari masalah dengan siapapun. Sebisa mungkin hindari masalah. Bukan karena takut, tapi cerdik. Masih banyak kota-kota lain yang membutuhkan Injil dari kita.

Kedua, meyakini otoritas Yesus (ayat 23b). Di bagian ini Yesus menubuatkan tentang kedatangan Anak Manusia. Waktu yang disiratkan juga pendek (“sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel”). Sebagian orang telah salah mengaitkan hal ini dengan akhir zaman. Tidak heran mereka menganggap ada kesalahan (atau penundaan) dalam kalimat ini. Ini adalah dugaan yang keliru.

Kedatangan Anak Manusia harus dipahami dalam konteks penggenapan dari nubuat di Daniel 7:13-14. Teks ini memang merupakan salah satu teks mesianis terkenal. Sesuai nubuat di sana, Anak Manusia akan datang kepada Yang Lanjut Usia untuk menerima segala kekuasaan dan kemuliaan sebagai raja atas segala bangsa dan suku bangsa. Tidak ada petunjuk sama sekali bahwa nubuat itu mengarah pada kedatangan Anak Manusia ke bumi pada akhir zaman. Anak Manusia datang dengan awan-awan dari langit kepada Yang Lanjut Usia di hadapan-Nya (di sorga juga).

Kapan nubuat ini digenapi? Sesuai dengan Injil Matius, kedatangan Anak Manusia terjadi terjadi pada saat kebangkitan Yesus dari antara orang mati. Sebelum Dia naik ke sorga, Yesus berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (28:18). Tidak heran pada saat diadili oleh imam besar Yesus tidak menunjukkan ketakutan sama sekali. Dia bahkan mengingatkan imam besar tentang nubuat Daniel. Yesus berkata: “mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langi” (26:64b).

Perkataan Yesus sungguh digenapi. Sebelum seluruh kota di Israel mendengarkan Injil melalui murid-murid, Anak Manusia sudah datang. Dia yang empunya segala otoritas atas segala sesuatu. Jadi, penganiayaan yang menimpa orang-orang Kristen bukan berarti bahwa Tuhan tidak mengendalikan keadaan. Dia mengontrol segala sesuatu. Tidak peduli bagaimana hasil pekabaran Injil kita – entah semua kota sudah dikunjungi atau belum – Dia tetap mengendalikan semuanya.

Ketiga, mensyukuri penderitaan bersama Tuhan (ayat 24-25). Dalam bagian ini Yesus mengutip dua peribahasa populer yang mengandung inti yang sama: seorang murid tidak mungkin lebih tinggi daripada gurunya, demikian pula seorang hamba tidak mungkin lebih tinggi daripada tuannya (ayat 24). Ungkapan ini tentu saja bukan merupakan penyangkalan terhadap kemungkinan bahwa seorang murid/hamba bisa memiliki kemampuan lebih tinggi daripada guru/tuannya. Yang ditekankan di sini bukan kemampuan, tetapi relasi dan asosiasi. Dalam relasi mereka, guru/tuan akan selalu lebih tinggi. Selain itu, budaya kuno memang mengasosiasikan murid dengan gurunya atau hamba dengan tuannya. Apa yang terjadi pada satu pihak dianggap terjadi pada pihak lain, begitu pula sebaliknya. Murid-murid akan dianiaya “karena  Aku” (10:22). Dalam Yohanes 15:20 Yesus berkata: “Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu”).

Walaupun murid/hamba tidak mungkin melebihi guru/tuannya, murid/hamba bisa menyamai guru/tuannya (ayat 25a). Kesamaan ini bisa terjadi dalam banyak hal. Namun, yang sedang disorot di sini adalah penolakan dan penderitaan. Ketika kita menderita karena kebenaran, kita sedang dilibatkan dalam penderitaan Tuhan. Menderita bersama Tuhan akan semakin menambah pengalaman dan pemahaman kita tentang kasih Tuhan. Kita semakin menghargai harga yang Dia bayar untuk mendapatkan kita.

Di ayat 25b Yesus secara khusus menyinggung tentang tuduhan orang lain kepada-Nya sebagai Beelzebul (“Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya”). Nama”Beelzebul” merujuk pada pimpinan/penghulu roh-roh jahat (Setan). Tuduhan kepada Yesus ini datang dari orang-orang Farisi, terutama pada saat Yesus mengusir roh-roh jahat dalam diri seseorang (9:34; 12:24). Jika kebaikan yang dilakukan oleh Tuhan yang kudus saja dituduh bersumber dari pimpinan kejahatan, apakah mengherankan apabila orang lain menyalahpahami dan menyalahgunakan kebaikan yang kita tunjukkan kepada mereka? Sekali lagi, persoalan dan penderitaan bukan sebuah kejutan dalam pelayanan. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community