Seperti Dia Yang Mengasihi (1 Yohanes 4:7-11)

Posted on 17/01/2016 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Seperti-Dia-Yang-Mengasihi-(1-Yohanes-4-7-11).jpg Seperti Dia Yang Mengasihi (1 Yohanes 4:7-11)

Kasih adalah salah satu kebutuhan terbesar umat manusia. Sayangnya, kebutuhan ini tampaknya tidak kunjung terpenuhi. Gaya hidup individualisme membuat kasih menjadi komoditi yang langka. Situasi ini diperparah dengan beragam konsep yang keliru tentang kasih. Kasih dicampuradukkan dengan perasaan membutuhkan dan ketergantungan. Kasih dipandang sebagai sarana untuk mencapai sesuatu yang lain.

Yang paling memprihatinkan adalah situasi di antara orang Kristen sendiri tidak jauh berbeda dengan keadaan di dunia. Sikap cuek merajai banyak gereja, terutama gereja-gereja besar (mega-church). Berbagai konflik dan intrik di dalam gereja juga menjadi bukti tak terbantahkan bahwa gereja sedang mengalami krisis serius dalam hal kasih. Tidak heran, dunia tidak bisa melihat keutamaan dan keunikan kasih Kristiani.

Sudah waktunya gereja berbenah. Tiba saatnya gereja berperan mewarnai dunia dengan kasih ilahi. Paling tidak, gereja dapat memulainya secara internal, yaitu di antara orang-orang Kristen sendiri.

Isi nasihat: saling mengasihi (ayat 7a)

Nasihat untuk saling menasihati (4:7a) mungkin terdengar begitu klise di telinga kita. Kita berkali-kali mendengarkannya. Walaupun demikian, ayat 7a mengajarkan beberapa poin sederhana yang seringkali kita abaikan.

Hal yang menarik dari isi nasihat di ayat 7a adalah sapaan “saudara-saudaraku yang kekasih” (agapētoi). Sapaan ini memang berkali-kali muncul dalam Alkitab (Rom 12:19; 1 Kor 10:14; 15:58; 2 Kor 7:1; 12:19; Flp 2:12; 4:1; Ibr 6:9; Yak 1:16, 19; 1 Pet 2:11; 4:12; 2 Pet 3:1, 8, 14, 17; 1 Yoh 2:7; 3:2, 21; 4:1, 7, 11; Yud 1:3, 17, 20), tetapi pemunculannya di 1 Yohanes 4:7a terasa begitu sesuai. Sebelum memberikan nasihat kepada orang lain untuk saling mengasihi, Yohanes terlebih dahulu memberikan sebuah teladan sederhana. Ia menyapa pembacanya dengan sapaan yang penuh kasih.

Ini mungkin terlihat sepele, namun tidak banyak orang yang mampu melakukannya. Sebagian orang cenderung cuek dengan orang lain. Mereka tidak mau mengambil inisiatif untuk menyapa atau memulai pembicaraan dengan orang lain. Marilah kita mulai dengan sebuah langkah kecil: menyapa orang lain dengan penuh kasih!

Ada hal lain lagi yang menarik dari nasihat Yohanes yang sederhana di ayat 7a. Nasihat untuk saling mengasihi mengajarkan bahwa kasih bersifat resiprokal (“saling”). Kasih yang ideal bersifat dua arah. Setiap pihak belajar untuk memberi dan mengambil (take and give).

Sifat resiprokal ini tidak membuat kasih menjadi bersyarat. Yohanes tidak mengatakan: “hendaklah kamu mengasihi orang lain yang lebih dahulu mengasihi kamu.” Maksudnya, tidak ada “syarat dan ketentuan berlaku” dalam hal kasih. Walaupun orang lain belum dan tidak mengasihi kita, nasihat untuk mengasihi tetap mengikat kita. Kita tidak boleh menunda atau membatalkan kasih kita kepada orang lain.

Alasan-alasan untuk mengasihi

Motivasi dalam melakukan suatu tindakan seringkali lebih penting daripada tindakan itu sendiri. Motivasi menentukan apakah suatu tindakan kebaikan benar-benar merupakan tindakan yang penuh kasih. Sebagai contoh, kita dengan mudah membedakan bantuan sosial dan suap dari sisi motivasi. Walaupun dua tindakan ini sama-sama melibatkan pemberian materi kepada orang lain, namun keduanya berbeda: yang pertama disebut kasih, yang kedua disebut manipulasi.

Ironisnya, banyak tindakan “kasih” justru bersifat manipulatif. Seorang pemudi menggunakan seks untuk mendapatkan cinta sementara si pemuda menggunakan cinta untuk mendapatkan seks. Jemaat memperalat persembahan dan persepuluhan sebagai cara jitu untuk diberkati Tuhan lebih banyak lagi.

Jika demikian, alasan-alasan apa yang membuat kasih Kristiani menjadi begitu unggul dan unik jika dibandingkan dengan yang lain?

Pertama, kita mengasihi karena kasih berasal dari Allah (4:7b-8). Alasan ini secara indah dimulai dengan “kasih berasal dari Allah” (ayat 7b) dan diakhiri dengan “Allah adalah kasih” (ayat 8b). Yohanes tampaknya ingin menegaskan bahwa Allah bukan hanya sebagai sumber kasih (ayat 7a), tetapi Allah sendiri adalah kasih. Artinya, hakekat Allah tidak dapat terpisahkan dari kasih. Membayangkan Allah pernah eksis tanpa kasih merupakan sebuah kebodohan. Bahkan sebelum segala sesuatu ada, Allah tetap kasih. Doa Tuhan Yesus menunjukkan hal ini. Dalam doa-Nya kepada Bapa, Ia berkata: “Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan” (Yoh 17:24).

Kebenaran teologis bahwa kasih berasal dari Allah (ayat 7a) dan bahwa Allah adalah kasih (ayat 8b) menjadi tolok ukur apakah seseorang berasal dari Allah dan mengenal Dia (ayat 7b-8a). Siapa saja yang mengakui berasal dari Allah dan mengenal Allah, maka orang itu harus membuktikannya melalui kasih. Logika di balik pernyataan ini tidak sukar untuk ditangkap.

Asal seseorang menentukan perilaku orang itu. Sebagai contoh, seseorang yang berasal dari sebuah desa kecil di Yogyakarta akan mudah dikenali melalui logat dan tata kramanya. Filsafat Jawa pun sangat mengental pada pikirannya. Demikian juga dengan orang yang mengaku berasal dari Allah.

Hal yang sama berlaku bagi mereka yang mengaku mengenal Allah. Dalam Alkitab, mengenal Allah tidak pernah hanya secara teoritis. Pengenalan terhadap Allah bersifat pribadi. Ada pertemuan dan pengalaman. Siapa saja yang pernah mengalami Allah secara pribadi pasti akan memiliki kasih untuk dibagikan, karena Allah adalah kasih dan sumber segala kasih.

Kedua, kita mengasihi karena Allah sudah mengasihi kita begitu rupa (ayat 9-11). Kasih Allah bukanlah sebuah spekulasi filosofis yang abstrak dan teoritis. Pernyataan “kasih berasal dari Allah” atau “Allah adalah kasih” didukung oleh bukti yang faktual, yaitu inkarnasi Kristus ke dalam dunia. Kasih ilahi tidak menggantung di awan-awan atau terngiang-ngiang dalam pikiran filsuf. Kasih itu telah dimanifestasikan atau dinyatakan; bukan hanya sekadar dibuktikan, tetapi hal itu terjadi di tengah-tengah kita (ayat 9a).

Kehebatan kasih ilahi dalam teks ini dipertegas dengan tiga hal: harga yang dibayar (ayat 9b), inisiatif kasih (ayat 10a), dan obyek kasih (ayat 10b). Kekuatan sebuah cinta seringkali dinilai berdasarkan kualitas pengorbanan yang dilakukan. Dalam hal ini kasih Allah seharga Anak-Nya yang tunggal (ayat 9b). Ia kehilangan Anak-Nya yang tunggal supaya kita bisa menjadi anak-anak-Nya.

Ayat 10a menekankan bahwa inisiatif kasih ada pada pihak Allah. Kalau pun sekarang kita bisa mengasihi Allah dan sesama, hal itu hanya dimungkinkan karena kita sudah lebih dahulu menerima kasih dari Allah. Tanpa kasih-Nya kita tidak memiliki apa-apa untuk dibagikan. Karena itulah perjumpaan pribadi dengan Allah di dalam pertobatan memegang peranan penting bagi relasi sosial orang Kristen. Hanya mereka yang sudah mengalami kasih Allah yang mampu meneladani dan membagikan kasih itu.

  Kehebatan kasih Allah semakin kentara apabila kita mempertimbangkan siapa yang Ia kasihi (ayat 10b). Obyek kasih-Nya adalah orang-orang berdosa yang membutuhkan pendamaian dengan diri-Nya. Mereka adalah seteru atau musuh Allah dan berada di bawah murka Allah. Justru untuk orang-orang semacam inilah kasih Allah diberikan. Ia rela kehilangan Anak-Nya yang tunggal supaya musuh-musuh-Nya bisa menjadi anak-anak-Nya. What a wonderful love! What an amazing grace!

Ketiga, kita mengasihi karena orang lain melihat Allah melalui kasih kita (ayat 12). Di awal ayat ini Yohanes menandaskan sebuah sifat Allah yang penting, yaitu ketidakbisaan untuk dilihat (the invisibility of God). Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah, karena Allah memang tinggal di dalam terang yang tidak terhampiri (1 Tim 6:16). Pernyataan ini sama dengan yang Ia ajarkan di awal Injil Yohanes (1:18 “Tidak seorang pun pernah melihat Allah”).

Jika Allah sebagai sumber kasih tidak dapat dilihat, bagaimana orang bisa mengetahui hal itu? Keberadaan Allah bisa terlihat melalui kasih yang dipraktekkan oleh orang-orang Kristen. Dengan saling mengasihi, kita telah menunjukkan darimana kita berasal, yaitu dari Allah yang adalah kasih (1 Yoh 4:7-8). Dengan saling mengasihi pula kita sudah menunjukkan bahwa kasih Allah ada di dalam diri kita (1 Yoh 4:9-10). Pendeknya, kasih dalam diri kita membuktikan bahwa Allah diam di dalam kita (ayat 12a).

Kasih kita bukan hanya sebagai bukti bagi keberadaan Allah. Kasih kita juga menyempurnakan kasih Allah (ayat 12b “dan kasih-Nya sempurna di dalam kita”; versi Inggris “his love is perfected in us”). Apa artinya?

Ayat ini mengajarkan sebuah kebenaran penting: titik akhir dari aliran kasih ilahi adalah orang lain. Kasih ilahi tidak hanya ada dalam diri Allah dan berhenti sampai di situ saja. Kasih ilahi tidak dimaksudkan untuk berhenti pada saat kita menerima kasih itu dalam diri kita. Kasih itu harus terus mengalir ke sekeliling kita. Dalam kalimat lain kita dapat meringkas aliran kasih Allah sebagai berikut: dari Allah, melalui Yesus Kristus, kepada kita, untuk orang lain.

Semua alasan di atas mengajarkan sebuah kasih yang tanpa syarat. Kita seringkali gagal mengasihi karena kita melihat orang lain. Kasih kita menjadi “kasih jika” (aku akan mengasihi kamu jika kamu…). Khotbah hari ini mengarahkan alasan kasih pada diri Allah. Walaupun orang lain tidak memberi alasan yang cukup kuat bagi kita untuk mengasihi mereka, tetapi kita akan selalu menemukan alasan untuk mengasihi dalam diri Allah. Kasih kita menjadi “kasih walaupun” (aku tetap mengasihi kamu walaupun kamu…). Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community