Semakin Serupa Dengan Kristus (Roma 8:29-30)

Posted on 01/03/2020 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/semakin-serupa-dengan-kristus-roma-8-29-30.jpg Semakin Serupa Dengan Kristus (Roma 8:29-30)

Mengukur kualitas kerohanian seseorang tidak gampang. Hanya Allah yang mengetahuinya secara pasti. Sebagai manusia kita hanya bisa melihat dari apa yang terlihat. Itupun tidak selalu tepat.

Sebagian orang melihat dari jabatan dan aktivitas di pelayanan. Ini bisa menipu. Apa yang terlihat bisa saja sekadar pencitraan. Sebagian lagi melihat dari disiplin rohani (ibadah dan saat teduh). Ini hanya sekadar sarana pertumbuhan, bukan ukuran atau tujuan.

Ukuran yang sejati adalah keserupaan dengan Kristus. Segala sesuatu yang menghalangi keserupaan dengan Kristus adalah sampah dan kerugian. Halangan ini bisa datang dari jabatan dan aktivitas gerejawi yang mungkin saja menumbuhkan arogansi. Bahkan disiplin rohani juga bisa menjadi halangan kalau membuat seseorang merasa diri lebih benar.

Teks hari ini akan mengajarkan kepada kita tiga konsep penting tentang keserupaan dengan Kristus. Tanpa memahami poin-poin ini kita akan mengalami keputusasaan pada saat menjalani prosesnya. Kita akan memberi penekanan yang keliru pada semua usaha kita.

 

Keserupaan dengan Kristus adalah rencana kekal Allah

Pembacaan sekilas sudah cukup untuk menunjukkan bahwa ayat 29-30 hanya berfungsi sebagai penjelasan. Salah satu petunjuk yang paling jelas adalah kata sambung “sebab” di awal ayat 29. Jadi, ayat 29-30 merupakan keterangan tambahan. Ide utama terletak di ayat 28.

Secara lebih khusus, ayat 29-30 menerangkan frasa “terpanggil sesuai dengan rencana Allah” di ayat 28. Rencana seperti apa yang dimaksud di sini ayat 28? Jawabannya ada di dua ayat selanjutnya, yaitu rencana keselamatan (ayat 28-29).

Rencana ini bukan hasil pemikiran tiba-tiba. Bukan respons spontan terhadap kejatuhan manusia ke dalam dosa. Rencana ini sudah ada sejak kekekalan.

Penerjemah LAI:TB secara tepat menambahkan keterangan “dari semula” pada kata kerja pasif “dipilih” (proegnō) dan “ditentukan” (proōrisen). Tambahan tersebut didapat dari kata depan pro (lit. “sebelumnya”) yang digabungkan dengan kata kerja ginōskō (memilih/mengetahui) dan horizō (menentukan).

Yang dimaksud “dari semula” tentu saja adalah “dari kekekalan”. Kata “memilih sebelumnya” (proginōskō) dan “menentukan sebelumnya” (proorizō) memang seringkali dikaitkan dengan masa sebelum penciptaan. Yesus Kristus telah dipilih sebelum dunia dijadikan (1Pet. 1:20). Salib adalah hikmat ilahi yang tersembunyi sejak dunia belum dijadikan dan disediakan (lit. “ditetapkan”) bagi kita (1Kor. 2:1). Penentuan ilahi atas kita (Ef. 1:5) dilakukan oleh Allah sebelum dunia dijadikan (Ef. 1:4).

 

Keserupaan dengan Kristus adalah sebuah kepastian

Jika keselamatan sejak kekal merupakan rencana Allah, apakah ini bisa gagal atau dibatalkan? Tentu saja tidak. Alkitab secara konsisten mengajarkan bahwa rencana Allah tidak mungkin gagal (Ay. 42:2; Mzm. 33:11; Yes. 14:27).

Paulus tampaknya sangat memahami hal ini. Untuk menegaskan kepastian dari rencana keselamatan Allah, dia menggunakan 5 (lima) kata kerja bentuk lampau di Roma 8:29-30, yaitu memilih, menentukan, memanggil, membenarkan, dan memuliakan. Pilihan bentuk lampau ini cukup menarik. Masih ada orang-orang pilihan yang sampai sekarang mungkin belum mendengarkan Injil (belum dipanggil – dibenarkan – dimuliakan), tetapi dari perspektif ilahi nasib mereka sudah pasti. Siapa saja yang dipilih pasti akan dimuliakan.

Contoh lain adalah kita sendiri. Kalau sekarang kita sudah dibenarkan di dalam Kristus, itu berarti sebelumnya kita sudah dipilih, ditentukan, dan dipanggil. Nah, kita yang sudah dibenarkan juga pasti akan dimuliakan, walaupun peristiwa itu baru akan terjadi nanti di akhir zaman. Namun, di mata Allah, semua proses ini sudah pasti. Apa yang ada di kekekalan yang satu pasti akan terjadi di kekekalan yang satunya.

Cara lain yang digunakan oleh Paulus untuk menekankan kepastian keselamatan adalah objek kata kerja yang konsisten. Yang dipilih adalah yang ditentukan. Yang ditentukan adalah yang dipanggil. Yang dipanggil adalah yang dibenarkan. Dengan kata lain, objek semua kata kerja itu adalah sama (identik).

Dalam teks Yunani, kita menemukan kata ganti penghubung hous (yang dipilih, yang ditentukan, yang dipanggil, yang dibenarkan) yang digunakan secara konsisten. Penerjemah LAI:TB berusaha mengungkapkan poin ini melalui penambahan kata “semua” (ayat 28a). Semua yang dipilih adalah sama dengan yang ditentukan, dipanggil, dibenarkan dan dimuliakan. Paulus tidak mengatakan: “sebagian besar dari yang dipilih juga ditentukan” atau “hampir semua dari yang ditentukan juga dipanggil”.

Cara lain untuk menekankan kepastian keselamatan adalah pemilihan kata “memilih sebelumnya” (proginōskō). Entah kita menafsirkan kata ini secara lebih literal (“mengetahui sebelumnya”, KJV.NASB/NIV/ESV) maupun kontekstual (“memilih sebelumnya”, LAI:TB),  ide tentang kepastian keselamatan tetap sukar untuk dibantah. Apa yang Allah sudah tahu sebelumnya (terjemahan literal) tidak mungkin akan berubah. Dia tidak pernah kaget dengan perubahan karena Dia mengetahui semua perubahan. Apa yang Allah sudah pilih sebelumnya (terjemahan kontekstual) juga tidak mungkin Dia batalkan. Dia tidak pernah kaget dengan ketidaksetiaan manusia karena Dia sudah memertimbangkan semua itu dalam rencana-Nya.

 

Keserupaan dengan Kristus adalah bukti kasih kepada Allah

 Dari dua poin di atas mungkin terkesan bahwa dalam proses menyerupai Kristus kita hanya bersikap pasif. Semua dilakukan oleh Allah sepenuhnya. Kesan ini ternyata tidak mewakili keutuhan pemikiran Paulus. Kita juga memainkan peranan kita. Dan dorongan untuk melakukannya adalah kasih kita kepada Allah.

Seperti yang sudah diterangkan sebelumnya, ayat 29-30 merupakan penjelasan untuk frasa “mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” di ayat 28. Nah, di ayat 28 sendiri frasa tersebut menerangkan “mereka yang mengasihi Allah”. Secara lengkap ayat 28 berbunyi: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”. Dari struktur kalimat seperti ini terlihat bahwa kasih kita kepada Allah didahului oleh kasih Allah kepada kita. Allah yang lebih dahulu memilih dan memanggil kita, sehingga kita bisa mengasihi Dia (bdk. 1Yoh. 4:10).

Dalam ungkapan lain yang lebih spesifik, cinta kita kepada Allah (ayat 28) tidak dapat dipisahkan dari rencana kekal Allah untuk menentukan kita menjadi serupa dengan Kristus (ayat 29). Rencana ilahi ini tidak mungkin tercapai apabila kita tidak memiliki kasih kepada Allah. Kasih harus menjadi dorongan dan kekuatan dalam proses menyerupai Kristus.

Poin ini juga dipertegas melalui frasa “supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (ayat 29). Kata “sulung” dan “banyak saudara” menyiratkan sebuah relasi kekeluargaan. Kasih ada di pusat relasi ini. Tidak ada ketakutan di dalamnya, karena kita bukan lagi sebagai hamba tetapi anak (8:15).

Kristus yang adalah Anak Allah secara hakiki telah menjadi saudara sulung kita. Sulung bukan secara waktu. Kesulungan-Nya lebih berkaitan dengan posisi Kristus sebagai pokok atau sumber dari status kita sebagai anak-anak Allah. Tanpa penebusan-Nya, kita tidak mungkin menjadi anak-anak Allah.

Bagaimana kita bisa mengasihi Allah? Dengan mengingat bahwa Dia lebih dahulu mengasihi kita. Sebelum kita ada, kita sudah ada di dalam hati-Nya. Allah sudah merencanakan keselamatan kita dari semula. Dia memilih kita tanpa sebelumnya memertimbangkan iman atau kebaikan kita. Kita ditentukan menjadi anak-anak Allah semata-mata berdasarkan kasih dan kebebasan-Nya (Ef. 1:5-6 “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya”.

Seberapa besar kerinduan Anda untuk menjadi serupa dengan Kristus? Apakah Anda pernah merasa putus asa dengan hasilnya? Kiranya khotbah ini memberi penghiburan dan kekuatan bagi kita semua. Keserupaan dengan Kristus merupakan rencana kekal Allah dan pasti akan terjadi. Tugas kita hanyalah mengasihi Dia dan menyenangkan hati-Nya. Tugas ini hanya bisa dilakukan jika kita terus-menerus menghangatkan hati kita dengan kasih-Nya. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community