Sejauh Mana Kebebasan Berpakaian Bagi Pelayan Ibadah? (Bagian 2)

Posted on 31/03/2019 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/sejauh-mana-kebebasan-berpakaian-bagi-pelayan-ibadah.jpg Sejauh Mana Kebebasan Berpakaian Bagi Pelayan Ibadah? (Bagian 2)

(Lanjutan tgl 24 Maret 2019)

Budaya suatu gereja juga patut dipertimbangkan. Setiap gereja memiliki branding dan segmen jemaat yang unik. Penampilan mereka biasanya disesuaikan dengan dua hal itu. Jika ada penampilan yang teralu berbeda, mereka mungkin akan merasa tersandung. Kepekaan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan merupakan tanda kebijaksanaan. Toh, pakaian bukan hal yang paling esensial.

Seandainya budaya suatu gereja ingin diubah, perubahan perlu dilakukan secara lebih strategis. Memulai dengan perubahan penampilan jelas bukan cara yang efektif. Jemaat perlu diedukasi dahulu untuk membedakan esensi (inti) dan ekspresi (kemasan). Mereka perlu diberitahu bahwa Alkitab hanya mengatur yang esensial. Ekspresi tergantung pada budaya di setiap periode. Hanya jika konsep mereka sudah diubah, mereka akan mampu mengubah penampilan mereka. Paling tidak, mereka menjadi lebih apresiasi terhadap kemasan yang baru.

Aspek kedua yang perlu ditekankan adalah kesopanan. Poin ini lebih bersentuhan dengan sensualitas. TUHAN pernah memperingatkan para imam untuk tidak naik ke atas mezbah sehingga terlihat aurat mereka (Kel. 20:26). Jelas ada kaitan antara kesopanan (secara sensual) dengan ibadah yang benar.

Kita bisa langsung melihat relevansi poin ini dalam ibadah-ibadah kontemporer sekarang. Pakaian-pakaian yang bisa mengungkapkan bagian-bagian tubuh tertentu dapat menganggu konsentrasi orang dalam beribadah. Pakaian yang terlalu tipis dan berwarna terang, pakaian yang mini, atau jenis kain yang terlalu ketat bukanlah pilihan yang tepat. Poin ini terutama harus lebih diperhatikan oleh para pelayan yang sangat dinamis di panggung (suka bergerak atau berjingkrak-jingkrak). Gerakan-gerakan tertentu bisa menyingkapkan pakaian, dan itu tidak elok untuk dipandang.

Aspek lain adalah kesederhanaan. Sederhana bukan berbicara tentang harga. Sederhana lebih ke arah tidak berlebihan. Di luar ibadahpun Alkitab sudah sering menyinggung tentang hal ini (1Tim. 2:9-10; 1Pet. 3:5).

Penampilan yang berlebihan bisa merusak konsentrasi orang. Berlebihan ini termasuk terlalu mewah, terlalu mencolok, terlalu menor, terlalu ramai aksesoris, terlalu sensitif desain atau kata-katanya, dsb. Ingat, ibadah bukan konser dan pelayan ibadah bukan selebriti. Pantaskah bagi seorang pelayan untuk berpenampilan secara berlebihan? Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community