Roh Kudus Sumber Transformasi (Yehezkiel 36:25-27)

Posted on 18/10/2020 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Roh-Kudus-Sumber-Transformasi-(Yeh.-36.25-27).jpg Roh Kudus Sumber Transformasi (Yehezkiel 36:25-27)

Hampir semua orang menyadari betapa sulitnya menjalani hidup yang tanpa dosa. Paling tidak, kita mengakui bahwa kita belum mencapai apa yang seharusnya. Kita tahu kita seharusnya menjadi lebih baik, tetapi kita tidak pernah sampai ke sana.

Walaupun hampir semua orang menyadari situasi ini, tidak semua sepakat tentang ada apa di balik fenomena ini. Sebagian cenderung menjadikan keadaan dan godaan sebagai kambing hitam. Sebagian lagi mencoba menyalahkan setan sebagai biang keladi persoalan. Hanya sedikit yang mengerti dan mengakui bahwa akar persoalan ada di dalam. Semua kerusakan yang tampak dari luar hanyalah gejala dari suatu keadaan yang lebih mengerikan. Selama akar persoalan di dalam tidak ditemukan dan dibereskan semua upaya pembenahan akan berakhir dengan kegagalan.

Kerusakan kita bersifat radikal. Radikal dalam arti sampai ke akar. Penambalan tidak akan menyelesaikan persoalan. Penambahan aturan hanya akan menambah panjang daftar pelanggaran. Kerusakan radikal hanya bisa dibereskan melalui transformasi radikal.

Bagaimana transformasi radikal dapat terjadi? Bagaimana wujud konkrit dari transformasi tersebut?

 

Latar belakang transformasi

Teks kita hari ini tidak dapat dipisahkan dari pembuangan bangsa Yehuda ke Babel. Mereka melanggar perjanjian dengan TUHAN. Walaupun TUHAN sudah mengutus para nabi, mereka tetap tidak mau mendengarkan kecaman dan peringatan TUHAN. Sesuai dengan firman TUHAN, hukuman ilahipun terpaksa dijalankan. Mereka mengalami pembuangan ke negeri orang. Apa yang selama ini dibanggakan – yaitu bait Allah, Yerusalem, dan tanah perjanjian - telah dihancurkan.

Dalam anugerah TUHAN hukuman bukanlah tujuan. Hukuman hanyalah jembatan menuju pemulihan. Bukan akhir dari suatu perjalanan. Itulah perbedaan antara disiplin dari TUHAN dan penyiksaan. Hukuman yang tidak dimaksudkan untuk perbaikan adalah penyiksaan, sedangkan disiplin dari TUHAN selalu diarahkan pada pemulihan dan perbaikan.

TUHAN telah memberikan sebuah janji pemulihan (36:22-30). Dia akan melaksanakan janji tersebut. Dia melakukan semua ini jelas bukan karena kebaikan bangsa Yehuda (36:22 “bukan karena kamu Aku bertindak”; juga ayat 32). Jauh sebelum mereka dibuang, janji pemulihan bahkan sudah diucapkan. Alasan di balik pemulihan terletak pada TUHAN: karena Nama-Nya dan kekudusan-Nya (36:22b “karena Nama-Ku yang kudus”).

Kekalahan dan pembuangan ke Babel telah menajiskan nama TUHAN di antara bangsa-bangsa lain (36:22-23 “…najiskan…dinajiskan…najiskan…”). Ungkapan ini hanya bisa dipahami sesuai konteks kuno pada waktu itu. Bangsa-bangsa kuno cenderung memandang peperangan dua bangsa sebagai peperangan antar dewa yang disembah oleh bangsa-bangsa tersebut. Bangsa yang menang dipandang memiliki dewa yang lebih kuat daripada dewa yang disembah oleh bangsa yang kalah. Dalam perspektif kultural-religius seperti ini, tidak mengherankan apabila bangsa-bangsa lain memandang rendah TUHAN. Mereka akan memahami pembuangan ke Babel sebagai bukti ketidakmampuan TUHAN dalam memberikan penjagaan dan kemenangan kepada bangsa Yehuda. Nama TUHAN menjadi cemoohan di antara segala bangsa. Nama-Nya tidak lagi “kudus” – dalam arti “terpisah dari” – ilah-ilah yang lain.

Alasan inilah yang mendorong TUHAN untuk melakukan pemulihan. Bangsa Yehuda akan dikumpulkan dan dibawa kembali ke tanah perjanjian (36:24). Jika nubuat ini benar-benar menjadi kenyataan, bangsa-bangsa akan melihat bahwa TUHAN tetap berdaulat, bukan hanya atas umat-Nya, tetapi atas semua bangsa. Bahkan bangsa yang berkuasa atas umat-Nya berada di bawah kedaulatan-Nya (bdk. Yes. 44:28; 45:1, 13).      

  

Bukan transformasi biasa (ayat 25-27)

Sebagian orang mungkin berpikir bahwa pemulangan ke tanah perjanjian merupakan bentuk pemulihan yang sepadan. Umat yang dulu dibuang sekarang dibawa kembali ke pangkuan. Umat perjanjian akan memiliki kembali tanah perjanjian. Sangat sepadan, bukan?

Ternyata kebaikan TUHAN – seperti biasa – mengagetkan. Kata “sepadan” seringkali terlalu rendah untuk mengggambarkan kebaikan TUHAN. Jika Dia membalas pelanggaran kita dengan hukuman yang sepadan, keadaan kita pasti sudah jauh lebih mengerikan daripada sekarang. Jika Dia memberi kebaikan sepadan dengan kesalehan kita, keadaan kita pasti tidak mungkin sebaik sekarang.  

TUHAN tidak sekadar memulangkan bangsa Yehuda ke tanah perjanjian. TUHAN sudah menjanjikan pemulihan yang lebih radikal (36:25-27). Dia akan mendatangkan perubahan dari dalam. Jadi, ini bukan sekadar pemulihan dalam arti kembali pada yang awal. Pemulihan dari TUHAN selalu lebih indah karena mendatangkan nilai tambah.

Seandainya Dia hanya sebatas memulangkan bangsa Yehuda ke tanah perjanjian, Dia tidak benar-benar menyelesaikan akar persoalan. Bukankah persoalan utama mereka bukan pembuangan tetapi ketidaktaatan? Apakah pemulangan ke tanah perjanjian akan mendatangkan ketaatan? Hukuman mungkin bisa mendatangkan jera dan penghapusan hukuman bisa mendatangkan rasa lega, tetapi jera dan lega bukanlah musuh sepadan bagi kekuatan dosa. Ketaatan membutuhkan modal yang lebih besar.

Itulah sebabnya TUHAN menganugerahkan sebuah perubahan yang melebihi daripada apa yang dibayangkan atau diharapkan oleh bangsa Yehuda. Perubahan ini akan menyelesaikan akar persoalan, yaitu ketidaktaatan. TUHAN melakukan transformasi yang sejati, yaitu transformasi dari dalam hati.

Apa saja yang akan dilakukan oleh TUHAN dalam transformasi radikal ini? Dalam khotbah kali ini kita hanya akan menyoroti tiga hal saja di ayat 25-27. Apa yang dipaparkan di sana bukanlah tiga hal yang terpisah. Sebaliknya, yang satu diperjelas oleh poin selanjutnya.

Pertama, TUHAN akan menyucikan kita dari segala kenajisan dan berhala (ayat 25). Kata dasar Å£hr muncul 3x di ayat ini (LAI:TB “jernih, mentahirkan, mentahirkan”). Pengulangan ini sangat mungkin menyiratkan betapa najisnya bangsa Yehuda di mata TUHAN. Penambahan kata “segala” di depan “kenajisan” dan “berhala” semakin menguatkan dugaaan ke arah sana.

Keadaan bangsa Yehuda benar-benar parah. Jika mereka menganggap kehilangan bait Allah, kota kebanggaan dan tanah perjanjian sebagai persoalan terbesar, mereka telah salah mendiagnosa persoalan. Persoalan mereka juga bukan ketidaknyamaman selama berada di pembuangan. Persoalan mereka adalah ketidaktaatan.

Secara khusus TUHAN mengaitkan kenajisan mereka dengan berhala-berhala. Hal ini cukup menarik. Jenis dosa yang dilakukan oleh bangsa Yehuda jelas sangat beragam. Daftarnya sangat panjang. Walaupun demikian, akar segala dosa memang penyembahan berhala. Ketika kita tidak menghargai Allah sebagai Allah dengan cara menaati Dia, kita telah meletakkan sesuatu yang lain sebagai pengganti-Nya. Kita menganggap hal itu lebih menarik dan berharga daripada Dia. Ketika kita menganggap bahwa Allah saja tidaklah cukup bagi kita, kita telah melakukan penyembahan berhala. Bukankah setiap dosa pada dasarnya merupakan pencarian kesenangan di luar diri Allah seolah-olah Allah bukanlah sumber kesenangan satu-satunya atau yang terutama?

Kedua, TUHAN akan memberi hati dan roh yang baru (ayat 26). Jika kita berpikir bahwa berhala-berhala hanya ada di gambar atau patung, kita telah keliru mendiagnosa posisi penyakit. Penyembahan berhala bukan masalah lokasi atau visualisasi, melainkan masalah hati.

Yehezkiel menggunakan ungkapan “hati yang keras” (lÄ“b hā’ eben, lit. “hati batu”). Hati seperti ini harus diganti dengan hati yang taat (lÄ“b bāśār, lit. “hati daging”). Yang dikontraskan di sini adalah hati yang keras dengan hati yang lembut. Hati yang lembut adalah hati yang responsif terhadap perintah Allah (NLT “a tender, responsive heart”).

Tidak ada cara lain untuk mengatasi persoalan ini selain tindakan kuratif yang radikal. Fokus pengobatan diarahkan pada “hati” dan “roh”. Dua istilah ini sama-sama menunjukkan bagian terpenting dalam diri manusia. Pusat kehidupan manusia.  

Transformasi ini jelas bukan usaha manusia. Tidak ada seorangpun yang bisa mengganti hatinya sendiri. Orang lain juga tidak bisa membantu. Memberi dukungan maupun menambah aturan tidak akan membawa perubahan signifikan.

Ketiga, TUHAN akan menaruh Roh Kudus dalam diri kita (ayat 27). Bagian ini menerangkan bagaimana hati yang membatu bisa menjadi hati yang baru. TUHAN akan meletakkan Roh-Nya ke dalam hati kita. Kehadiran Roh Allah inilah yang akan menghasilkan ketaatan kepada TUHAN.

Bagi pendengar mula-mula pada zaman Yehezkiel janji ilahi ini mungkin sedikit mengagetkan. Roh Allah biasanya diberikan pada orang-orang tertentu saja untuk tugas yang tertentu. Kediaman Roh Kudus dalam diri seseorang juga tidak selalu permanen. Menariknya, ketidaktaatan justru bisa menyebabkan Roh Allah meninggalkan seseorang, misalnya seperti dalam kasus Saul (1Sam. 16:14) dan Simson (Hak. 16:20).

Dalam terang Perjanjian Baru kita menemukan makna yang lebih penuh dari janji ini. Roh Kudus melahirbarukan seseorang (Yoh. 3:3-8). Dia mencurahkan kasih Kristus ke dalam hati seseorang (Rm. 5:5). Kasih inilah yang mendorong seseorang untuk memberikan ketaatan yang benar kepada Allah. Roh Kudus akan tinggal terus-menerus dalam diri seseorang sebagai meterai kepemilikan dan jaminan pengharapan (Ef. 3:13-14). Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community