Repobration: Is God Just (Roma 9:1-5 17-29)

Posted on 16/02/2014 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Repobration-Is-God-Just-(Roma-9-1-5-17-29).jpg Repobration: Is God Just (Roma 9:1-5 17-29)

Pendahuluan:

Salah satu alasan yang seringkali dikemukakan oleh golongan orang-orang tertentu untuk menolak doktrin predestinasi adalah berkaitan dengan keadilan Allah. Menurut golongan ini, jika keselamatan kekal manusia merupakan hasil pemilihan/penentuan  Allah sejak kekekalan dan hanya diperuntukan bagi sebagian orang (predestinasi), itu berarti bahwa Allah pilih kasih karena mengasihi yang sebagian, tetapi tidak mengasihi yang lain. Jika Allah pilih kasih, itu sama dengan Allah tidak adil. Allah adalah maha adil, sehingga tidak mungkin bisa bertindak tidak adil. Doktrin predestinasi pasti salah karena melanggar prinsip keadilan.

Apakah benar bahwa tindakan Allah yang memilih sebagian orang untuk diselamatkan berdasarkan kedaulatan dan kemurahan-Nya saja, adalah sebuah ketidakadilan? Jika Allah hanya memilih sebagian manusia untuk diselamatkan, itu berarti ada sebagian manusia yang akan binasa karena tidak dipilih. Jika demikian, apa tujuan Allah menciptakan golongan yang tidak dipilih? 

Isi :

Ayat 1-5 merupakan latar belakang dari masalah yang sedang dibahas oleh Paulus mulai dari ayat 6-29. Adalah sesuatu hal yang sangat mendukacitakan hati Paulus bahwa sekalipun bangsa Israel telah diperlakukan khusus oleh Allah (menerima kemuliaan, perjanjian-perjanjian, Taurat, dll) dan dipilih untuk menjadi pintu bagi keselamatan bangsa-bangsa lain, tetapi ternyata tidak semua (setiap) orang Israel mendapatkan keselamatan yang dari Allah.

Kenyataan yang demikian sangat memungkinkan bagi orang Israel untuk mempertanyakan tindakan-tindakan Allah dan realisasi dari firman-Nya. Apakah Allah gagal menyelamatkan seluruh bangsa Israel? Paulus menjawab: Firman Allah tidak mungkin gagal. Karena janji keselamatan yang Allah nyatakan, sesungguhnya ditujukan kepada setiap orang Israel secara rohani, bukan secara etnis (ay. 6-13).

Pertanyaan lain yang sangat memungkinkan muncul adalah apakah Allah adil jika hanya menyelamatkan sebagian orang Israel, dan sebagian tidak diselamatkan? Paulus menjawab tidak mungkin Allah bertindak tidak adil karena dasar keselamatan seseorang atau alasan Allah menyelamatkan seseorang, bukan bergantung kepada tindakan orang tersebut tetapi semata-mata bergantung pada kemurahan hati Allah (ay. 14-16). Setiap manusia telah berdosa kepada Allah (3:23). keberdosaan manusia mengakibatkan setiap manusia kehilangan hak untuk mendapatkan yang baik dari Allah, termasuk keselamatan kekalnya. Dengan demikian, ketika Allah memutuskan untuk memilih Si A namun tidak memilih Si B, maka Si B tidak punya tidak punya hak untuk menuntut kepada Allah supaya diselamatkan juga. Ketika Allah memilih Si A, itu adalah anugerah, dan ketika Si B tidak dipilih, itu memang adalah bagiannya. Tidak ada pelanggaran terhadap prinsip keadilan dalam tindakan Allah.

9:17-18. Keputusan Allah untuk menyelamatkan sebagian orang, tidak hanya didasarkan pada kemurahan hati Allah tetapi juga didasarkan pada kedaulatan-Nya yang mutlak. Ayat 17 adalah kutipan dari Keluaran 9:16, dan ayat 18 adalah kesimpulan yang ditarik dari kutipan tersebut. Firaun dikatakan telah mengeraskan hatinya dalam (Kel. 8:15,32; 9:34), tetapi di sisi lain Allah dikatakan telah mengeraskan hatinya (Kel. 4:21; 7:3; 9:12; 10:20; 11:10). Peristiwa ini digunakan untuk menunjukkan kedaulatan Allah yang mutlak. Firaun harus bertanggung jawab atas pilihannya, tetapi Allah menggunakan keangkuhan, kekerasan hati Firaun untuk mencapai kehendak-Nya (bdk: Ams. 21:1).

Firaun layak mati karena penindasan dan keangkuhan, tapi nyawanya tidak diambil selama serangkaian tulah yang terjadi, sehingga tingkat penuh kekerasan hatinya makin jelas dan kemuliaan Allah dalam pembebasan umat-Nya disempurnakan (bdk: Yos. 9:9). Bagi Paulus, ketenaran Firaun ini sesungguhnya juga tergantung pada belas kasihan Allah  (ay. 18).

9:19-26. Dalam gaya penulisan diatribenya, Paulus menyadari bahwa pernyataannya tentang kedaulatan Allah yang mutlak ternyata bisa menimbulkan suatu pertanyaan yang baru, yakni jika Tuhan bertindak secara sepihak, menurut kehendak dan tujuan sendiri, apakah ini tidak menghapus semua dasar untuk penghakiman, karena manusia tidak dalam posisi untuk menolak kehendak ilahi? Mengapa kemudian, manusia harus disalahkan? Dalam jawabannya, Paulus pertama menunjukkan ketidaktepatan ciptaan berbantah kepada Allah (ay. 20) seolah-olah ia memiliki kebijaksanaan yang cukup untuk menilai Mahakuasa.

Cara memahami kehendak Allah yang berdaulat penuh adalah  kehendak Allah harus dimengerti dalam dilihat pada dua tingkatan. Pertama adalah rencana penebusanNya bagi seluruh umat manusia yang telah jatuh (bdk: Kej 3:15). Rencana ini tidak dipengaruhi oleh pilihan manusia. Kedua, Allah memilih untuk menggunakan perantaraan manusia (bdk: Kel. 3:7-10), untuk menggenapi rencana-Nya (baik secara positif: Musa, dan negatif: Firaun).

20-21. Gambaran ini diambil dari Yesaya 29:16; 45:9-13; 64:8 dan Yeremia 18:1-12. Gambaran sebagai tukang periuk sering ditujukan untuk Allah sebagai pencipta, sementara tanah liat ditujukan kepada manusia. Melalui analogi ini, Paulus hendak menekankan ide utama tentang kedaulatan dari Sang Pencipta, dan dinyatakan dalam bentuk tiga pertanyaan rektorik. Dua pertanyaan ada di ayat 20 dan satu pertanyaan di ayat 21. Pertanyaan terakhirnya mengembalikan pada ide mengenai pilihan positif Allah melalui Musa dan pilihan negatif-Nya melalui Firaun. Kontras yang sama terlihat dalam Ishak - Ismael (ay 8-9), Yakub - Esau (ay. 10-12) dan bangsa Israel dan Edom (ay. 13). Analogi yang sama ini dikembangkan untuk menggambarkan perbedaan mengenai orang Yahudi yang percaya dan tidak percaya. Pilihan positif Allah akhirnya dinyatakan dalam pencakupan akan orang bukan Yahudi yang percaya (ay. 24-29).

 9:22-23. Ayat 22 menyatakan sifat penebusan Allah. Allah ialah Allah dari keadilan. Ia akan menuntut pertanggung jawabab manusia atas perbuatan mereka. Walaupun semua manusia tanpa terkecuali layak untuk dimurkai (bdk: Rom. 1:18-3:21), tetapi secara khusus istilah "benda-benda kemurkaan" jelas hanya mengacu kepada semua orang yang tetap menolak dan memberontak kepada Allah. Ketika memikirkan tentang murka Allah, point penting yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa  Sifat Allah yang terutama adalah kemurahan dan bukan kemurkaan (bdk:  Ul. 5:9-10; 7:9; Hos 11:8-9). Karena itu, penghukuman Allah kepada manusia berdosa bukan merupakan suatu akibat perubahan dari Allah yang mengasihi menjadi Allah yang membenci, tetapi hukuman atau murka Allah sesungguhnya merupakan produk dari kemaha-adilan-Nya. 

Frasa "kesabaran-Nya yang besar" menunjukan bahwa sesungguhnya kasih Allah juga menjangkau mereka yang akan binasa, tetapi mereka sendiri yang memilih dalam kebebasannya untuk tetap menolak Allah (bdk: Ams. 5:22). Dengan demikian, Allah bukan penyebab dari kebinasaan manusia.

Selanjutnya Paulus menegaskan bahwa mereka yang terkategori sebagai "benda-benda kemurkaan," sesungguhnya bukan merupakan sebuah insiden yang terjadi diluar kendali Allah, tetapi sebaliknya justru dipersiapkan untuk tujuan Allah. Kata "dipersiapkan" digunakan dalam naskah papyrus untuk menyebut sesuatu yang dipersiapkan guna penggenapan tujuan akhirnya. Pemberontak yang tidak percaya akan mendapatkan hari penghakiman dan konsekuensi mereka. Namun demikian, Allah memilih untuk menggunakan orang-orang yang tidak percaya untuk menggenapi rencana-Nya (bdk: Ams. 16:4).

23-29. Dalam bagian ini, Paulus membri kontras antara "benda-benda kemurkaan (ay. 22), dengan mereka adalah "benda-benda belas kasihan-Nya." Di antaranya Allah menghendaki untuk menunjukkan kekayaan kemuliaan-Nya, yang telah dipersiapkan-Nya, mencakup baik Yahudi dan bukan Yahudi (ay. 24). Ide ini konsisten dengan ajaran sebelumnya (1:16; 2:10, 11; 3:22) dan dengan pernyataan para Nabi.

Tuhan yang menyatakan diri secara khusus kepada Israel (bdk: Am. 3:2) adalah Tuhan yang sama yang dalam kedaulatan-Nya memanggil bangsa lain untuk menjadi umat-Nya (ay. 25). Ide ini juga secara tegas telah dinubuatkan dalam Hosea 1:10; 2:22. Paulus menggunakan Firman Allah (PL) untuk menunjukkan bahwa ia mengajarkan tujuan Allah untuk memperluas rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa non Yahudi.

Dalam ayat 27-29, Paulus kembali menegaskan bahwa apa yang telah Tuhan tetapkan melalui firman-Nya tidak mungkin tidak terlaksana. Hal itu dibuktikan dengan mengutip nubuatan dalam kitab Yesaya bahwa Allah telah menyatakan bahwa tidak semua orang Israel secara etnis merupakan umat pilihan Allah. Dengan demikian keadilan dan konsistensi Allah justru semakin diteguhkan melalui kebinasaan sebagian orang Israel.

Aplikasi:

Kesadaran bahwa kita tercakup dalam golongan "benda-benda belaskasihan-Nya" harus memotifasi kita untuk terus bertambah-tambah didalam bersyukur dan mengabdikan diri secara total kepada Allah.

Kesadaran bahwa rencana dan kontrol Allah berlaku atas segala sesuatu harus menjadikan kita sebagai orang-orang yang selalu bersyukur dan bersandar kepada Allah.

Hal yang terpenting untuk selalu dihayati adalah: Allah memilih untuk menyelamatkan kita, bukan karena kita lebih baik, atau lebih suci dari orang lain, tetapi semata-mata karena kemurahan hati Allah. kerena itu hiduplah dengan penuh kerendahan hati di hadapan Allah, dan bermurah-hatilah kepada sesama kita.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community