Praying in the Holy Spirit (Yudas 1:20-21)

Posted on 09/11/2014 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/ Praying in the Holy Spirit (Yudas 1:20-21)

Bagi sebagian orang Kristen “berdoa di dalam Roh” cenderung diidentikkan dengan berdoa dalam bahasa roh atau dalam cara-cara tertentu yang luar biasa. Benarkah “berdoa dalam Roh” di Yudas 1:20 harus ditafsirkan seperti ini? Apa yang dimaksud Yudas di sini? Apakah fungsi berdoa dalam Roh?

Teks kita hari ini memang tidak secara khusus mengupas tentang berdoa dalam Roh. Pada pembahasan nanti kita bahkan akan melihat bahwa “berdoa dalam Roh” hanyalah salah satu anak kalimat saja. Poin utama dari teks ini bukan tentang berdoa dalam Roh. Walaupun demikian, teks ini tetap mengajarkan beberapa hal penting tentang berdoa dalam Roh. Hal-hal ini justru seringkali diabaikan dalam pembahasan populer tentang berdoa dalam Roh di sebagian gereja.

 

Beberapa pengamatan pendahuluan yang penting

 

Sebelum menyelidiki teks kita secara detil, ada beberapa poin umum yang perlu disimak. Pertama, nuansa Trinitarian dalam teks ini. Ayat 20-21 menyebut tentang doa dalam Roh Kudus, memelihara diri dalam kasih Allah (Bapa), dan menantikan rahmat Tuhan Yesus Kristus. Hal ini mirip dengan kebiasaan para rasul tatkala mengajarkan konsep Tritunggal secara tersirat melalui ungkapan-ungkapan Trinitarian (Mat 28:19; 1 Kor 12:4-6; 2 Kor 13:14). Di samping itu, tiga hal terpenting dalam kekristenan (bdk. 1 Kor 13:13) juga muncul di ayat 19-20: iman, pengharapan, dan kasih.

Kedua, struktur kalimat. Dalam banyak versi ayat 20-21 diterjemahkan seolah-olah bagian ini mengandung empat perintah yang sejajar: membangun diri di atas iman, berdoa dalam Roh, memelihara diri dalam kasih Allah, dan menantikan rahmat Tuhan Yesus. Dalam teks Yunani terlihat jelas bahwa empat perintah ini tidak sejajar. Kalimat inti terletak pada “memelihara diri dalam kasih Allah” (ayat 21a, imperatif indikatif), sedangkan perintah-perintah yang lain berfungsi sebagai anak kalimat (imperatif partisip, ayat 20 dan 21b) yang menjelaskan bagaimana cara memelihara diri dalam kasih Allah.

Ketiga, kaitan dengan konteks bahaya ajaran sesat. Di tengah ancaman serius dari para guru palsu (1:4, 12, 16, 18-19) jemaat tidak hanya dinasihatkan untuk mengenali kesalahan-kesalahan dalam ajaran itu. Mereka juga diperintahkan untuk menjaga diri mereka dalam kasih Allah melalui kehidupan yang saleh. Pemunculan kata “kalian” dan “tetapi” di awal ayat 20 mengandung kontras yang ditekankan: guru-guru palsu menjalani hidup yang penuh nafsu dan duniawi (ayat 18-19), tetapi orang-orang Kristen hidup dalam kesalehan (ayat 20-21).

Berhati-hati dan kritis dalam mendeteksi kesalahan orang lain adalah satu hal, memelihara kerohanian diri sendiri adalah hal lain. Keduanya harus kita lakukan dalam menghadapi ajaran sesat. Orang-orang yang sangat bersemangat melawan ajaran sesat kadangkala lupa bahwa kerohanian sejati bukan hanya tentang pengetahuan doktrinal. Kerohanian mencakup “3 H”: Head (pikiran – pengetahuan teologi dan Alkitab yang baik), Heart (hati – kesungguhan dan ketulusan untuk mengasihi dan hidup bagi Allah), dan Hand (tangan – keteladan hidup dalam setiap tindakan dan perkataan).

 

Inti perintah: memelihara diri dalam kasih Allah (ayat 21a)

 

Sekilas perintah ini agak membingungkan, karena terkesan menekankan usaha manusia untuk tetap berada dalam kasih Allah. Kesan ini akan sirna apabila kita mengingat bahwa di awal surat Yudas sudah mengajarkan bahwa Allah adalah subyek yang mengasihi dan memelihara kita (ayat 1). Di akhir suratnya Yudas juga menegaskan ulang bahwa Allah sanggup menjaga kita supaya kita tidak tersandung (ayat 24). Hal ini mampu dilakukan oleh Allah karena Ia yang memiliki “kemuliaan, kebesaran, kekuatan, dan kuasa sebelum segala abad, dan sekarang, dan sampai selama-lamanya” (ayat 25). Dari sini terlihat jelas bahwa ajaran Yudas tentang keselamatan tetap berpusat pada Allah (theosentris).

Ajaran yang theosentris bukan berarti pengabaian upaya manusia. Kedaulatan Allah bukan musuh dari tanggung-jawab manusia. Sebaliknya, Allah menjalankan kuasa dan kedaulatan melalui banyak cara, termasuk melalui ketaatan manusia. Walaupun Allah lebih dahulu mengasihi umat pilihan dan memelihara mereka, tetapi mereka harus berusaha untuk tetap di dalam kasih itu. Allah sendiri memang menjamin keberhasilan dari usaha tersebut, tetapi kita tetap berjuang sedemikian rupa agar kita tetap berada dalam kasih Allah (bdk. ayat 3 “supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman”).

Pembahasan tentang kasih Allah dan ajaran sesat di sini cukup menarik. Apa kaitan antara ajaran sesat dan kasih? Ayat 12 menunjukkan bahwa guru-guru palsu berada dalam perjamuan kasih di antara orang-orang percaya tetapi mereka sebenarnya tidak memiliki kasih. Mereka egois dan mencari keuntungan dari orang lain. Mereka tidak malu untuk menjilat orang lain sehingga terlihat seolah-olah mereka mengasihi orang-orang yang mereka kelabui tersebut (ayat 16).

Berbeda dengan kasih palsu dari guru-guru sesat ini, Allah memanggil dan mengasihi kita (ayat 1). Kita dilimpahi dengan kasih Allah yang berkemurahan (ayat 2). Dengan kata lain, kasih Allah jauh lebih dalam dan murni dibandingkan “kasih” guru-guru palsu. Dengan tetap memelihara diri dalam kasih Allah, kita dimampukan untuk tidak tergoda dan tergiur oleh kemunafikan guru-guru palsu yang memanfaatkan “kasih” untuk mendapatkan keuntungan. Di samping itu, sesama orang percaya juga harus mempraktekkan kasih Allah itu dalam kebersamaan mereka (ayat 20a “saudara-saudaraku yang terkasih,”; ayat 22-23 “tunjukkanlah belas-kasihan”).

 

Cara memelihara diri dalam kasih Allah (ayat 20, 21b)

 

Perintah inti di ayat 21a diterangkan dengan tiga kata perintah partisip di ayat 20 dan 21b. Bagaimana cara memelihara diri dalam kasih Allah?

Pertama, membangun diri di atas iman yang paling suci (ayat 20a). Kata benda “iman” (datif pistei) bisa diterjemahkan “melalui iman” atau “di atas iman,” namun pilihan terakhir lebih sesuai dengan metafora pembangunan di ayat ini (mayoritas versi).

Yang dimaksud “iman” (pistis) dalam konteks ini bukan perasaan yakin (secara subyektif), tetapi ajaran lebih pada ajaran atau kebenaran Kristen (secara obyektif). Beberapa petunjuk mengarah pada kesimpulan ini. Ayat 3 menasihatkan jemaat agar “tetap berjuang untuk iman yang telah disampaikan oleh orang-orang kudus”. Pengertian iman yang seperti ini juga lebih sesuai dengan bahaya kesesatan yang sedang dihadapi penerima surat. Para guru palsu sedang mencoba  memberitakan ajaran dan gaya hidup baru yang menyimpang dari tradisi pengajaran Kristen (iman) yang benar. Tafsiran ini juga didukung oleh pemunculan kata “membangun” (epoikodomeō) di tempat lain yang juga berhubungan dengan ajaran para rasul (Ef 2:20 “yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi”; Kol 2:7 “dibangun di atas Dia…bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu”). Para rasul telah memberitakan ajaran rasuli sebagai pondasi yang benar bagi gereja yang teguh (1 Kor 3:10, 12, 14), tugas generasi berikutnya adalah membangun diri di atas dasar itu.

Nasihat untuk membangun diri di atas iman (atau ajaran yang benar) seyogyanya lebih diperhatikan oleh gereja-gereja, terutama mereka yang anti terhadap doktrin/teologi. Menikmati kasih Allah (ayat 21a) bukan berarti menolak pengetahuan doktrinal (ayat 20a). Sebaliknya, doktrin yang benar akan menolong kita untuk lebih bisa mengapresiasi dan mengalami kasih ilahi itu dalam hati kita. Paulus berdoa agar semua orang Kristen memahami kasih Allah yang tidak terpahami oleh pikiran manusia (Ef 3:18-19). Sekali lagi, pengetahuan doktrinal dan pengalaman subyektif terhadap kasih Allah harus berjalan beriringan. Yang satu menguatkan dan menyempurnakan yang lain.

Kedua, berdoa dalam Roh Kudus (ayat 20b). Beberapa penafsir mengaitkan bagian ini dengan bahasa roh (1 Kor 12, 14) atau keluhan Roh yang tidak terpahami (Rom 8:26-27). Dugaan ini kurang tepat. Konteks tidak memberikan petunjuk apa pun tentang dua jenis doa yang spesifik tersebut. Lagipula, karunia berbahasa roh hanya untuk beberapa orang Kristen (1 Kor 12:7-10, 29-30), sedangkan bahaya ajaran sesat yang dihadapi penerima surat Yudas mengancam semua orang percaya. Jika hanya mereka yang berbahasa roh saja yang bisa berdoa dalam Roh Kudus, bagaimana yang lain dapat bertahan dalam persoalan tersebut? Sebagai tambahan, berdoa di dalam Roh muncul di Efesus 6:18a (lit. “dalam segala doa dan permohonan, berdoalah di segala waktu di dalam Roh”), namun di sana juga tidak ada pembicaraan tentang bahasa roh atau keluhan Roh yang tak terkatakan. Konteks Efesus 6 justru berhubungan dengan peperangan rohani melawan roh-roh jahat dan kemajuan pekabaran Injil (Ef 6:12-19).

Dengan cara yang sama, tambahan “di dalam Roh Kudus” di Yudas 1:20b juga sebaiknya dimengerti dalam konteks peperangan rohani melawan kesesatan. Doa adalah salah satu senjata dalam peperangan rohani. Beragam upaya menghadapi ajaran sesat – peringatan terhadap kemurtadan, penelanjangan kesesatan mereka, dsb – memang diperlukan, tetapi semua itu bukan pengganti bagi kedisiplinan dalam berdoa. Kekuatan kita terletak pada Allah (ayat 1, 24, 25), karena itu sudah sepatutnya kalau kita bersandar terus-menerus kepada-Nya melalui doa-doa kita.

Dengan tekun berdoa, kita akan mampu memelihara diri dalam kasih Allah. Melalui doa-doa, kita bukan hanya mengetahui kasih Allah seturut ajaran yang benar (secara obyektif), namun kita juga mengalaminya secara langsung (secara subyektif). Doa mendekatkan kita pada Allah, sehingga kita pun akan semakin merasakan dan dikuatkan oleh kasih-Nya.

Ketiga, menantikan rahmat Tuhan Yesus Kristus (ayat 21b). Kata “menantikan” (prosdechomai) seringkali muncul dalam konteks penyataan kerajaan Allah melalui karya Mesias. Baik Yusuf Arimatea (Mar 15:14; Luk 23:51), Simeon (Luk 2:25), dan Hana (Luk 2:38) menantikan kedatangan Mesias. Secara khusus, kata prosdechomai sering dihubungkan dengan kedatangan Yesus Kristus kedua kali. Dalam perumpamaan Yesus diajarkan bahwa kita harus selalu bekerja keras selama menantikan kedatangan tuan kita kelak (Luk 12:36). Kisah Para Para Rasul 24:15 mengaitkan prosdechomai dengan kebangkitan orang-orang mati. Salah satu gaya hidup orang-orang saleh menurut Paulus adalah “menantikan (prosdechomai) penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus” (Tit 2:13).

Yang menarik adalah pemunculan kata “rahmat” (eleos) di Yudas 1:21b. Kata kerja eleaō (“menunjukkan rahmat/belas-kasihan”) muncul 2x di ayat 22-23. Kata benda eleos sebelumnya sudah muncul di bagian salam pembuka (ayat 2 “rahmat, damai sejahtera, dan kasih”) yang biasanya hanya menyebutkan kasih karunia dan damai sejahtera (bdk. Rom 1:7b; 1 Kor 1:3; 2 Kor 1:2, dsb.).

Sehubungan dengan usaha untuk memelihara diri dalam kasih Allah (ayat 21a), pemunculan “rahmat” (eleos) sebenarnya tidak terlalu mengagetkan. Ada kaitan erat antara kasih dan rahmat. Hanya saja, pemunculan eleos di ayat 21b tetap menarik. Yudas mungkin memikirkan pondasi dari penyataan keselamatan kita di akhir zaman (ayat 21b “sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal”; bdk. 2 Tim 1:18). Kita akan diselamatkan bukan berdasarkan keadilan (perbuatan baik yang melebihi kejahatan), melainkan belas-kasihan (eleos) Tuhan. Tidak ada seorang pun yang mampu mencapai standar Allah (Mat 5:48 “Hendaklah kamu sempurna sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna”). Pada saat nanti keselamatan nanti dinyatakan secara penuh oleh Yesus Kristus di akhir zaman, itu terjadi semata-mata karena rahmat-Nya. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community