Pertobatan Besar dari Para Pendosa Besar (Yunus 3)

Posted on 21/05/2017 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Pertobatan-Besar-dari-Para-Pendosa-Besar-Yunus-3.jpg Pertobatan Besar dari Para Pendosa Besar (Yunus 3)

Dalam khotbah sebelumnya kita sudah melihat bagaimana Yunus mengalami perjumpaan yang tidak terduga dengan TUHAN di dalam perut ikan. Nabi yang ingin lari sejauh mungkin dari TUHAN ini (1:3, 10) akhirnya menyadari betapa menyesakkannya jika dia diusir dari hadapan TUHAN (2:4a). Keterpurukan semakin dalam. Ketakutan dan keputusasaan pun mulai datang. Hanya oleh anugerah TUHAN saja, Yunus akhirnya bisa berujar: “Keselamatan datang dari TUHAN” (2:9).

Walaupun demikian, anugerah TUHAN tidak berhenti sampai di situ saja. Keselamatan hanyalah sarana, bukan titik akhir. TUHAN menyelamatkan Yunus dengan sebuah tujuan. Ada hal lain yang lebih besar daripada keselamatan diri sendiri, yaitu penggenapan rencana ilahi bagi banyak orang.

Allah yang beranugerah

Sama seperti dua pasal sebelumnya, aktor utama di pasal 3 tetaplah Allah. Yang disorot adalah TUHAN dengan segala kemurahan dan anugerah-Nya. Melalui rangkaian peristiwa di pasal ini para pembaca diajak untuk melihat kekayaan lain dari kebaikan ilahi.

TUHAN memberi kesempatan kedua (ayat 1-3). Para pembaca yang teliti pasti akan menangkap kesan pengulangan yang kuat di bagian ini. Ungkapan “datanglah firman TUHAN kepada Yunus” muncul di 1:1 dan 3:1. Seolah-olah tidak ingin poin ini terlewatkan begitu saja, penulis kitab ini memberi tambahan “untuk kedua kalinya” (3:1). Bagian awal dari perkataan TUHAN pun sama persis (1:2; 3:2, lit. “Bangunlah, pergilah ke Niniweh, kota yang besar itu”).

Perbedaan yang ada hanya terletak pada respons Yunus. Kali ini dia langsung bangun (3:3, kontra LAI:TB “bersiaplah”) dan pergi ke Niniwe. Penambahan “sesuai dengan firman Allah” (3:3) mempertegas perbedaan yang ada. Yunus telah berubah menjadi hamba yang patuh, sama seperti “hamba TUHAN” yang lain dalam kisah ini, yaitu angin ribut dan ikan besar.

TUHAN memberi kesempatan yang cukup (ayat 4). Durasi waktu muncul secara eksplisit di ayat 3-4. Keterangan detil seperti ini bukan tanpa alasan. Penulis kitab ini ingin menunjukkan bahwa ada waktu yang cukup bagi penduduk Niniwe untuk bertobat. Seandainya TUHAN hanya memberi waktu seminggu bagi mereka untuk bertobat, hati para pembaca pasti berdebar-debar, karena untuk menyisir kota itu saja membutuhkan waktu tiga hari. Masa anugerah selama 40 hari berarti ada waktu yang cukup untuk menyampaikan berita kepada seluruh penduduk maupun untuk bertobat.

Bukan itu saja. Pembaca juga pasti teringat dengan kisah Sodom dan Gomora. Alasan di balik penghukuman sama: kejahatan mereka telah sampai kepada TUHAN di surga (Kej 18:20-21; Yun 1:2). Bentuk hukuman pun menggunakan akar kata yang sama: “menunggangbalikkan” (Kej 19:25; Yun 3:3). Perbedaannya terletak pada durasi masa anugerah. Pemberian kesempatan yang panjang ini terbukti tidak keliru. Berbeda dengan penduduk Sodom dan Gomora yang justru menunjukkan keberdosaan mereka (Kej 19:4-9), penduduk Niniweh menunjukkan pertobatan.

TUHAN memberi kesempatan yang besar (ayat 3, 5-8). Jika kita membaca seluruh kitab ini dengan seksama, kita akan menemukan berkali-kali kebesaran kota ini disebutkan. Pemunculannya pun di posisi yang sangat penting: di awal kitab (1:2) dan di akhir kitab (4:11). Di tengah-tengah kitab kata “besar” bahkan muncul dua kali (3:2-3). Semua ini jelas bukan sekadar strategi sastra belaka. Ada maksud theologis yang ingin diutarakan.

Secara khusus di pasal 3 kita melihat kontras yang jelas: “kota yang besar” dengan “penduduknya yang besar” dan “dosanya yang besar” ternyata mengalami “pertobatan yang besar”. Seluruh penduduk Niniwe bertobat tanpa terkecuali. Dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah. Bahkan seluruh binatang pun dilibatkan dalam ritual pertobatan ini. Keikutsertaan binatang-binatang ini bukan hanya sesuai dengan budaya Persia kuno. Para binatang memang seharusnya menjadi korban dari hukuman ilahi (3:4). Tidak berlebihan jika mereka disertakan dalam ritual pertobatan. Semua keterangan ini bertujuan untuk menyampaikan sebuah pesan: sebesar ini pula hukuman yang akan menimpa jika mereka tidak berbalik dari dosa mereka. Kota yang besar akan porak-poranda. Jumlah penduduk yang besar akan binasa. Kekayaan yang besar (dalam bentuk ternak) pun akan sirna. Betapa besar anugerah Allah yang melewatkan itu semua!

Konsep theologis di atas juga muncul secara konsisten di seluruh Alkitab. TUHAN adalah panjang sabar dan berlimpah kasih setai (Neh 9:17; Mzm 86:15; 103:8). Kemurahan, kesabaran, dan kelapangan hati-Nya dimaksudkan untuk membawa banyak orang kepada pertobatan (Rm 2:4). Penundaan hukuman seringkali merupakan jembatan untuk menuntun orang pada pertobatan (2 Pet 3:9).

Pertobatan yang benar

Pertobatan dalam jumlah yang besar akan menjadi sia-sia apabila pertobatan itu tidak benar. Bukan seberapa besar, tetapi seberapa benar. Itulah yang ditunjukkan oleh raja dan penduduk Niniwe (ayat 5-9).

Pertobatan yang benar ditandai dengan kesedihan (ayat 5). Berpuasa merupakan praktik yang lazim di budaya kuno. Ada banyak alasan mengapa orang berpuasa. Salah satunya adalah berduka. Jika ini yang terjadi, puasa biasanya disertai dengan penggunaan kain kabung, seperti yang ada di ayat ini.

Tidak ada pertobatan tanpa kesedihan. Bukan berarti harus bercucuran air mata. Bukan pula harus mengenakan kain duka. Yang dipentingkan adalah dukacita rohani menurut kehendak Allah (2 Kor 7:9-11). Dukacita karena dosa. Berduka karena telah mendukakan Allah. Kesedihan karena melanggar kehendak Allah seharusnya lebih besar daripada kesedihan karena dihukum oleh Allah. Itulah pertobatan sejati.

Pertobatan yang benar ditandai dengan kerendahhatian (ayat 6-8). Pemunculan raja di ayat ini pasti memiliki tujuan tersendiri. Tanpa pemunculannya pun pembaca sudah mengetahui bahwa semua orang Niniwe, termasuk rajanya, bertobat. Ungkapan “dari yang terbesar sampai yang terkecil” (3:5, kontra LAI:TB “baik orang dewasa maupun anak-anak”) mencakup raja. Ungkapan ini bukan membicarakan tentang usia, tetapi kedudukan.

Bagaimanapun, pemunculan raja secara eksplisit menjelaskan aspek lain dari pertobatan, yaitu kerendahhatian. Wujud pertobatan raja justru melebihi rakyatnya. Dia turun dari tahtanya. Dia menanggalkan jubah kebesaran. Dia mengenakan kain kabung. Dia duduk di atas abu. Dia berpuasa. Pertobatan seorang raja membutuhkan kerendahhatian yang lebih besar daripada pertobatan rakyat biasa.

Pertobatan yang benar juga ditandai dengan perubahan tindakan (ayat 8). Sang raja tidak hanya melihat pertobatan sebagai sebuah ritual keagamaan. Dia menyerukan seluruh penduduk kota untuk “masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya”. Kesadisan yang selama ini melekat pada diri mereka harus dilepaskan. Jikalau kita tidak ingin kehidupan kita ditunggangbalikkan oleh Allah, kita harus menunggangbalikkan dosa-dosa kita.

Entah berapa banyak orang yang menangisi kesalahannya, tetapi tetap mengulangi kebebalan yang sama. Entah berapa banyak orang yang maju ke depan dalam kebaktian kebangunan rohani, tetapi tidak menunjukkan kemajuan dalam kerohanian. Inikah yang disebut pertobatan? Tentu saja tidak! Penyesalan tidak selalu identik dengan pertobatan. Pertobatan sejati menuntut lebih banyak daripada sekadar tangisan. Harus ada perubahan tindakan.

Yang terakhir, pertobatan sejati juga ditandai dengan kesadaran tentang anugerah (ayat 9). Ungkapan “siapa tahu” di awal ayat ini tidak menyiratkan keraguan. Tidak pula menunjukkan kebingungan. Sebaliknya, ungkapan ini mengajarkan sebuah poin penting: “bukan pertobatan yang melepaskan kita dari hukuman, melainkan anugerah Tuhan”.

Sang raja sudah melakukan semua yang ia pantas lakukan: berduka, merendahkan diri, dan berbalik dari kejahatan. Walaupun demikian, ia benar-benar menyadari bahwa itu semua tidak akan cukup tanpa anugerah TUHAN. Kelepasan dari hukuman tidak ditentukan oleh apa yang kita mampu lakukan, melainkan apa yang Allah mau lakukan.

Karya penebusan Kristus di atas kayu salib menjadi bukti dan ilustrasi tertinggi dari kebenaran ini. Orang berdosa dilepaskan dari hukuman bukan melalui ritual maupun tindakan. Kebebasan dari dosa dan hukuman Allah terjadi karena ini: anugerah Bapa di dalam penebusan Yesus Kristus melalui karya Roh Kudus. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community