Penguasaan Diri (Kisah Para Rasul 24:25)

Posted on 10/07/2016 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/penguasaan-diri-kisah-para-rasul-24-25.jpg Penguasaan Diri (Kisah Para Rasul 24:25)

Dalam zaman yang mengedepankan kebebasan ini, segala bentuk keterbukaan dan eksplorasi diri begitu dijunjung tinggi. Norma dilanggar. Batasan dilangkahi. Salah satunya dalam hal penguasaan diri.

Kebebasan seksual dibanggakan. Ketamakan dipamerkan. Gaya hidup konsumptif menjadi ikon budaya masa kini. Ekspresi diri di media sosial seringkali tidak terkontrol. Anak kecil begitu bebas berkata-kata dan bertindak kurang sopan terhadap orang tua. Jelas sekali bahwa penguasaan diri perlu dikumandangkan secara lebih intensif bagi generasi sekarang.

Khotbah hari ini merupakan seri terakhir dari pembahasan Buah Roh (Gal 5:22-23). Satu buah, sembilan rasa. Rasa terakhir adalah penguasaan diri (enkrateia). Bagaimana konsep Kristiani tentang penguasaan diri? Bagaimana respons orang berdosa terhadap penguasaan diri? Kita akan menjawab pertanyaan ini berdasarkan ucapan Paulus kepada wali negeri Feliks di Kisah Para Rasul 24:25. 

Penguasaan diri yang benar (ayat 25a)

Penguasaan diri bukanlah topik yang asing bagi masyarakat Yunani-Romawi kuno. Filsafat Stoa sangat menekankan hal ini. Lingkungan dan perasaan perlu dikendalikan melalui disiplin diri. Beberapa filsuf dan penulis terkenal kuno menjadikan penguasaan diri sebagai salah satu elemen moralitas yang paling penting. Orang yang mampu menguasai keinginan dari dalam dan godaan dari luar adalah orang yang dewasa.

Jika topik ini bukan barang baru, mengapa Paulus perlu mengajarkan ulang kepada Feliks? Jawabannya terletak pada keunikan konsep Kristiani tentang penguasaan diri. Penguasaan diri bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Bukan pula masalah moral semata-mata. Ini masalah teologis. Paulus secara khusus mengaitkannya dengan kebenaran dan penghakiman (ayat 25a).

Pertama, penguasaan diri dan kebenaran. Pemunculan kata “penguasaan diri” yang dilekatkan dengan “kebenaran” tampaknya bukan hal yang aneh. Petrus juga menasihati jemaat agar menambahkan pengetahuan mereka dengan penguasaan diri (2 Pet 1:6). Jadi, penguasaan diri bukan masalah perasaan dan kehendak saja, melainkan pemahaman. Ini tentang sebuah konsep, bukan sekadar disiplin diri atau pengontrolan emosi.

Kebenaran yang dimaksud Paulus merujuk pada ajaran kekristenan. Secara lebih spesifik, hal ini merujuk pada “Jalan Tuhan” (24:22). Petunjuk lain untuk dugaan ini ada di Kisah Para Rasul 13:10. Di sana Paulus menegur Elimas, tukang sihir, dengan kalimat: “engkau musuh segala kebenaran (dikaiosynē), tidakkah engkau akan berhenti membelokkan Jalan Tuhan yang lurus itu?”

Jadi, walaupun penguasaan diri juga diajarkan dalam filsafat dan moralitas Yunani kuno, penguasaan diri secara Kristiani berbeda. Penguasaan diri tidak terpisahkan dari Injil Yesus Kristus (24:21, 24). Kemenangan Kristus atas dosa menjadi sumber kemenangan pengontrolan diri. Persandaran pada Roh Kudus akan menghasilkan penguasaan diri yang lebih besar.

Kedua, penguasaan diri dan penghakiman. Diskusi seputar penghakiman terlihat cukup ironis. Saat itu yang menjadi tersangka atau tertuduh adalah Paulus. Namun, ia malah mengungkit masalah penghakiman di depan Feliks. Menariknya, Feliks yang justru merasa tertuduh sehingga terpaksa melarikan diri dari Paulus. Tampaknya pengadilan ilahi jauh lebih kuat daripada penghakiman duniawi!

Paulus tampaknya tidak sekadar memikirkan penghakiman ilahi di akhir zaman (kontra RSV “future judgment”). Bentuk partisip present “yang akan datang” (tou mellontos) dapat menyiratkan penghakiman yang segera (NRSV/ESV “the coming judgment”). Kemungkinan lain adalah Paulus sedang menegaskan kepastian dari penghakiman tersebut, bukan masalah waktunya. Dalam khotbahnya di depan para filsuf di Atena, Paulus mengaitkan kebenaran dengan kepastian hukuman Allah. Ia berkata: “Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil (lit. “di dalam kebenaran”) akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati” (17:31). Hari penghakiman sudah ditetapkan. Hukuman tidak terhindarkan.

Respons orang berdosa (ayat 25b)

Respons Feliks terhadap perkataan Paulus tentang kebenaran, penguasaan diri, dan penghakiman ilahi mewakili penolakan orang-orang berdosa secara umum terhadap firman Allah. Respons ini sekaligus memberi peringatan yang serius tentang sikap yang benar terhadap firman Allah.

Pertama, tidak cukup hanya mengetahui kebenaran. Apa yang disampaikan Paulus di ayat 25 sebenarnya tidak benar-benar baru di telinga Feliks. Sebagai seorang wali negeri selama bertahun-tahun (24:10), ia pasti mengamati segala sesuatu secara seksama, termasuk perkembangan dan ajaran kekristenan. Ayat 22 menginformasikan secara eksplisit bahwa ia sudah mengetahui tentang Jalan Tuhan.

Sebagai seorang non-Yahudi di budaya Romawi, ia juga pasti tahu tentang nilai penting pengendalian diri. Persoalannya, ia hanya sebatas tahu. Tidak lebih daripada itu. Pengetahuan intelektual tidaklah cukup. Persetujuan secara intelektual pun belum memadai.

Kedua, tidak cukup hanya tersentuh oleh kebenaran secara emosional. Ucapan Paulus membawa dampak tertentu bagi Feliks. Ketakutan yang ia alami menunjukkan hal itu. Begitu takutnya, sampai-sampai ia menyuruh Paulus untuk pergi. Sayangnya, sama seperti roh-roh jahat yang hanya gemetar di hadapan Allah tetapi tidak mau tunduk (Yak 2:19; Mrk 1:24; 5:7), demikian pula dengan Feliks.

Merasa bersalah adalah satu hal. Mempercayakan diri pada Allah adalah hal lain. Feliks hanya merasa bersalah, tetapi tidak menyadari betapa seriusnya dosa di hadapan Allah. Dia hanya tersentuh secara emosional, namun tidak ada kelemahlembutan untuk menerima firman Tuhan. Ia sama seperti benih yang jatuh di tanah berbatu dalam perumpamaan Tuhan Yesus. Awalnya menerima firman dengan gembira, namun tidak mau bertahan lebih dalam (Mrk 4:16-17).

Ketiga, yang diperlukan adalah pertobatan yang sungguh-sungguh. Akar persoalan terletak dalam diri Feliks. Keseluruhan konteks menunjukkan bahwa hati Feliks memang bermasalah. Ia adalah hamba uang yang selalu menantikan suap (24:26a). Semua “kebaikan” yang ia pamerkan kepada Paulus (24:23) – misalnya dengan memberikan kelonggaran bagi Paulus untuk menerima kunjungan - ternyata hanya tipu muslihat untuk mendapatkan keuntungan dari Paulus. Jika ia tidak mengizinkan teman-teman Paulus untuk berkunjung, dari mana Paulus bisa mendapatkan uang dan akhirnya memberikan suap kepadanya?

Bukan cuma itu. Percakapan-percakapan yang ia lakukan dengan Paulus ternyata bukan dimaksudkan untuk mengetahui kebenaran secara lebih mendalam. Apa yang dikatakan Paulus adalah tidak penting bagi Feliks. Yang ia nantikan hanyalah uang. Ketamakan Feliks terhadap uang mengalahkan hasratnya terhadap kebenaran. Dia benar-benar perlu belajar untuk memiliki penguasaan diri dalam bidang keuangan. Masalahnya, tanpa kebenaran tidak mungkin ada penguasaan diri yang sejati. Tanpa rasa takut yang kudus terhadap penghakiman Allah, tidak mungkin ada pertobatan yang sungguh-sungguh.

Banyak orang melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan Feliks. Penolakan mereka terhadap kebenaran bukan disebabkan oleh keraguan mereka terhadap kebenaran itu. Mereka tahu kebenaran. Mereka bahkan menyetujuinya secara intelektual. Kebenaran itu malah mungkin membawa efek emosional tertentu dalam diri mereka. Hanya saja mereka tidak mau kehidupan mereka terusik dengan kebenaran itu. Mereka tidak siap dengan konsekuensi kebenaran. Mereka tidak siap menjalani proses transformasi.  

Bagaimana dengan Saudara? Sudahkah Saudara menguasai hawa nafsu, ambisi, dan kemarahan dalam diri Saudara? Siapkah Saudara untuk merengkuh kebenaran dan diubahkan olehnya? Maukah Saudara memberikan hidup yang berkenan kepada Pencipta dan Penebus kita yang kepada-Nya kita pasti akan memberi pertanggungjawaban di depan tahta penghakiman-Nya? Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community