Pelayanan Pendamaian (2 Korintus 5:18-21)

Posted on 15/03/2020 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/pelayanan-pendamaian-2-korintus-5-18-21.jpg Pelayanan Pendamaian (2 Korintus 5:18-21)

Sejak manusia jatuh ke dalam dosa mereka mengalami pelbagai keretakan hubungan. Relasi dengan sesama rusak. Adam menyalahkan Hawa (Kej. 3:12). Alam juga tidak lagi bersahabat seperti semula (Kej. 3:17-19). Yang paling parah, hubungan manusia dengan Allah mengalami kerusakan parah. Manusia diusir dari Taman Eden (Kej. 3:23-24).

Kisah-kisah selanjutnya menunjukkan bagaimana manusia terus-menerus melawan kehendak Allah. Mereka bukan hanya terpisah. Mereka memusuhi Allah. Mereka adalah seteru-seteru Allah.

Puji Tuhan! Masih ada harapan di dalam Allah. Kemauan Allah untuk mendapatkan manusia kembali kepada-Nya jauh melebihi keengganan manusia untuk kembali pada Pencipta mereka. Allah menyediakan sebuah sarana manusia: pelayanan pendamaian.

Teks khotbah hari ini akan menyoroti pelayanan ini. Hampir setiap ayat dalam teks ini memuat akar kata “damai”. Secara khusus, kata “pendamaian” dikaitkan dengan pelayanan (5:18) atau berita (5:19).

Dalam bagian ini Paulus banyak melakukan pengulangan. Sebagai contoh, ayat 18-19 adalah sejajar (paralel). Ayat 21 merujuk balik pada peranan Kristus di ayat 18-19. Karena struktur paragraf yang agak rumit seperti ini dan karena teks ini juga sudah pernah dikhotbahkan beberapa minggu yang lalu, kali ini kita akan mendekati teks ini dengan cara yang agak berbeda. Kita akan berfokus langsung pada aspek-aspek pelayanan pendamaian. 

 

Inisiator: Allah

Sebagai seteru Allah, manusia telah dan terus-menerus menentang dan menjauhi Allah. Ironisnya, bahkan pencarian kesalehan supaya diperkenan oleh Allah merupakan bentuk perlawanan terhadap Allah. Usaha manusia untuk mendekat kepada Allah melalui kebaikan justru semakin menjauhkan mereka dari Allah. Mereka merasa tidak perlu mengandalkan Allah.

Jika Allah tidak melakukan apa-apa, manusia tetap akan berada dalam keadaan yang sama. Dalam anugerah-Nya, Allah bertindak. Dia tidak menunggu. Dia mengambil inisiatif.

Poin ini diungkapkan oleh Paulus melalui berbagai cara. Secara eksplisit dia menuliskan: “Dan semua ini dari Allah” (ayat 18a). Bentuk jamak “semuanya ini” (ta panta) merujuk balik pada semua yang sudah diterangkan sebelumnya (karya penebusan Kristus, hasil penebusan, pelayanan Paulus, dsb). Segala sesuatu yang baik, terutama keselamatan kita, merupakan inisiatif Allah.

Inisiatif ilahi ini juga terlihat dari frasa “Allah mendamaikan” (ayat 18, 19). Kata kerja “mendamaikan” (katallassō) muncul dalam bentuk aktif dengan Allah sebagai subjeknya. Allah mendamaikan kita dan dunia dengan diri-Nya.

Dari perspektif relijius pada waktu itu dan pada umumnya, konsep seperti ini mungkin mengagetkan. Hampir semua agama mengajarkan manusia untuk mencari Allah. Manusia harus melakukan sesuatu supaya mereka memiliki relasi dengan atau perkenanan dari Allah. Sebagai contoh, dalam mitologi-mitologi kuno diajarkan bahwa manusia harus melayani dewa-dewa supaya dewa-dewa itu tidak marah. Kegagalan melakukan tugasnya membuat manusia akan mengalami berbagai bencana dan musibah. Manusia menyediakan makanan atau mempratekkan ritual tertentu hanya untuk mengambil hati para dewa. Pendeknya, manusia mendamaikan diri mereka dengan Allah.

Tidak demikian dengan kekristenan. Allah yang mendamaikan dunia/manusia berdosa dengan diri-Nya. Dia sebagai subjek. Dia sebagai inisiator. Seluruh kisah Alkitab menegaskan poin ini. Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, Allah yang mencari mereka dan menyediakan solusi (Kej. 3). Mereka justru melarikan diri dari Allah (Kej. 3:7-10). Ketika Zakheus sibuk ingin melihat orang seperti apakah Yesus itu, Yesus justru sudah mengenal dia secara pribadi dan ingin menumpang di rumahnya (Luk. 19:1-10). Bahkan kisah Zakheus ini ditutup dengan kalimat: “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk. 19:10). Luar biasa! Bahkan ketika manusia mencari Allah, mereka sebenarnya sedang dicari oleh Allah.

 

Mediator: Kristus

Kasih Allah mendorong Dia untuk mengambil inisiatif. Dia begitu menginginkan kita. Persoalannya, keadilan dan kekudusan-Nya mengahalangi Dia untuk menerima kita apa adanya. Kita adalah orang-orang yang berdosa. Bagaimana mungkin Pencipta yang Mahakudus bisa mendekap kita dala keberdosaan kita tanpa melakukan apa-apa? Allah tidak mungkin melakukan sesuatu yang bertabrakan dengan semua sifat-Nya.

Dalam hikmat Allah yang sempurna, sebuah solusi sudah disediakan, yaitu melalui Kristus. Kita didamaikan dengan Allah “dengan perantaraan Kristus” (dia Christou, ayat 18). Kita didamaikan dengan Allah “di dalam Kristus” (en Christō, ayat 19; kontra LAI:TB “oleh Kristus”). Kristus adalah agen yang mengeksekusi pendamaian. Di dalam Dia kita menerima pendamaian dari Allah.

Proses bagaimana orang berdosa didamaikan oleh Allah dijelaskan melalui sebuah anak kalimat partisip di ayat 19 dan seluruh ayat 21. Oleh Kristus dan di dalam Kristus, Allah “tidak memperhitungkan pelanggaran-pelanggaran mereka” (ayat 19). Pelanggaran kita diperhitungkan menjadi pelanggaran Kristus dan kebenaran Kristus diperhitungkan menjadi kebenaran kita. Sebuah misteri yang besar diungkapkan oleh Paulus di ayat 21 “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah”.

Hanya melalui cara inilah kasih Allah dinyatakan tanpa melanggar keadilan dan kekudusan-Nya. Orang yang berdosa harus dihukum. Mereka juga perlu dijadikan benar dan kudus supaya layak bersekutu dengan Allah. Semua ini ditanggung dan dilakukan oleh Kristus. Kebenaran hidup Kristus membuktikan bahwa Dia tidak takluk pada dosa. Kematian Kristus menunjukkan bahwa Dia sudah merengkuh upah dosa, yaitu kematian dan keterpisahan dengan Bapa. Kebangkitan Kristus membuktikan bahwa Dia sudah mengalahkan upah dosa.

 

Komunikator: kita

Apa yang Allah sudah mulai dan apa yang Kristus sudah ekesekusi harus dikomunikasikan kepada banyak orang. Siapa yang melakukannya? Kita!  

Sebagai komunikator, kita perlu memiliki pengalaman, landasan pelayanan, dan berita yang disampaikan. Komunikator pendamaian harus lebih dahulu mengalami pendamaian. Mereka adalah ciptaan yang baru di dalam Kristus (ayat 17). Pelayanan ini merupakan bagian dari hidup bagi Kristus (ayat 15 “Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka”). Seseorang yang belum memiliki pendamaian dengan Allah tidak mungkin bisa menjadi pelayanan pendamaian yang efektif. Bagaimana mungkin seseorang membagikan sesuatu yang dia sendiri tidak miliki?

Selain pengalaman, kita juga perlu mengerti landasan pelayanan. Kita melayani bukan karena jasa dan talenta. Semua adalah anugerah Allah. Dia yang telah mempercayakan (didōmi, lit. “memberikan”) pelayanan pendamaian ini kepada kita (ayat 18). Dia telah mempercayakan (tithÄ“mi, lit. “menaruh”) berita pendamaian itu di dalam kita (ayat 19). Allah selalu menjadi subjek.

Tugas ini tidak terbatas pada para rasul saja. Tugas ini berlaku untuk semua orang yang sudah didamaikan oleh Allah melalui Kristus. Itulah sebabnya frasa “mempercayakan pelayanan/berita pendamaian” di ayat 18-19 selalu didahului dengan “yang telah mendamaikan dunia/kita dengan diri-Nya”. Semua yang sudah didamaikan pasti dipercayakan berita dan pelayanan pendamaian.

Para komunikator pendamaian juga harus memahami berita yang disampaikan. Sebagai utusan-utusan Kristus (versi Inggris “ambassadors of Christ”), kita harus menyampaikan berita yang berpusat pada Kristus (Christ-centered). Berita pendamaian disampaikan “demi Kristus” (hyper Christou, LAI:TB “dalam nama Kristus”).

Isi berita juga harus memegahkan Allah dan Kristus. Kita tidak mendorong manusia untuk mendamaikan diri mereka sendiri dengan Allah. Berita seperti ini memegahkan usaha manusia. Sebaliknya, kita harus berkata: “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah!” (ayat 20b). Bentuk pasif “didamaikan” secara jelas mengajarkan bahwa manusia hanya dalam posisi penerima (pasif). Allah yang mengupayakan dan menyediakan. Manusia berdosa hanyalah penerima saja. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community