Obedience from the Very Beginning (Hebrews 10:5-7)

Posted on 28/12/2014 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/ Obedience from the Very Beginning (Hebrews 10:5-7)

Pembahasan tentang ketaatan Yesus Kristus kepada Bapa-Nya kadangkala hanya dibatasi pada kematian-Nya di kayu salib (bdk. Flp 2:6-8). Walaupun puncak pergumulan ketaatan Yesus Kristus terlihat jelas selama proses penangkapan sampai penyaliban-Nya, seluruh hidup-Nya merupakan cermin ketaatan sejati. Penulis Kitab Ibrani menyatakan bahwa sejak awal Yesus Kristus sudah menunjukkan ketaatan-Nya. Ungkapan seperti “datang ke dalam dunia” (10:5a), “menyediakan tubuh” (10:5b) maupun “Aku datang” (10:7a) menunjukkan bahwa penulis Kitab Ibrani sedang menyinggung tentang inkarnasi Kristus ke dalam dunia. Dengan demikian kisah Natal tidak hanya berbicara tentang ketaatan Yusuf, Maria, atau orang-orang majus, tetapi – yang terutama – tentang ketaatan Kristus.

 

Inkarnasi Kristus adalah keharusan bagi ibadah kita

Kata sambung “karena itu” di 10:5 menyiratkan bahwa bagian ini – yaitu tentang kedatangan Kristus ke dalam dunia - merupakan konsekuensi dari apa yang sudah dibahas di bagian sebelumnya (10:1-4; ESV “consequently”). Di bagian tersebut penulis secara eksplisit menyatakan keterbatasan sistem korban pengampunan dosa melalui korban binatang (10:4). Ritual korban di Perjanjian Lama memang “menghapuskan” dosa, tetapi tidak mampu menyucikan hati nurani (10:2). Sebaliknya, pengulangan ritual korban justru menjadi pengingat bagi dosa-dosa umat Allah (10:3). Hal ini jelas tidak sempurna, karena tujuan ibadah kepada Allah adalah penyempurnaan hati nurani (9:14). Jika hati nurani kita terus-menerus tertuduh di hadapan Allah, bagaimana kita bisa menghampiri Dia dengan penuh keyakinan (10:19, 22; 4:16)? Jelas, korban binatang tidak mungkin menghapuskan semua dosa dan menyucikan hati nurani kita. Hanya melalui persembahan korban tubuh Kristus kita dapat disucikan seutuhnya dan selamanya (10:10, 14). Tanpa Kristus berinkarnasi menjadi manusia, kesempurnaan ibadah tidak mungkin tercapai.

Poin ini sebenarnya sudah dibahas sebelumnya oleh penulis Kitab Ibrani. Yang menebus dan yang ditebus harus sama (2:11). Karena itu, Kristus Yesus perlu datang sebagai manusia dan dijadikan sama dengan saudara-saudara-Nya yang lain – yaitu umat pilihan – supaya Ia pun dapat menebus mereka dan menolong mereka dalam pencobaan (2:14-18). Tanpa Natal tidak mungkin ada Jumat Agung dan Paskah yang sempurna. Manusia tidak ditebus melalui korban binatang, melainkan korban sesama manusia: Allah menjadi manusia!

 

Inkarnasi Kristus adalah rencana Allah

Sama seperti para penulis Perjanjian Baru yang lain (Gal 4:4; 1 Pet 1:10-12, 20), penulis Kitab Ibrani juga memandang inkarnasi Yesus Kristus sebagai sebuah realisasi dari rencana ilahi. Kedatangan Kristus ke dunia bukan sebuah peristiwa sejarah yang terjadi secara tiba-tiba atau sebuah respon spontan dan tergesa-gesa terhadap situasi tertentu. Ini adalah perwujudan pikiran Allah sejak kekal.

Kebenaran ini diekspresikan dalam Ibrani 10:5-7 melalui pengutipan dari Mazmur 40:7-9. Penulis Kitab Ibrani memahami Mazmur 40 sebagai mazmur mesianis, seperti terlihat dari caranya menggunakan mazmur ini beberapa kali dan mengaplikasikan kepada Kristus (2:3, 12; 10:5-7). Pengutipan ini menunjukkan bahwa Allah tidak hanya memiliki rencana, tetapi Ia juga sudah menyatakan rencana tersebut melalui firman-Nya.

Sehubungan dengan pengutipan mazmur mesianis ini, kita perlu mengetahui bahwa penulis Kitab Ibrani mengutip Mazmur 40:7-9 melalui Septuaginta (LXX), bukan dari Teks Masoret (MT). Hal ini terlihat dari perbedaan antara “Engkau telah membuka telingaku” (Mzm 40:7, MT) menjadi “Engkau telah menyediakan tubuh bagi-Ku” (Ibr 10:5; Mzm 40:7 LXX). Perbedaan ini dapat diterangkan melalui dua cara: penerjemah Septuaginta menerjemahkan secara bebas (parafrase) atau kutipan mereka berasal dari tradisi teks yang berbeda dengan teks Masoret. 

Pemunculan kata “tubuh” yang dikaitkan dengan peristiwa inkarnasi (“datang ke dalam dunia”) tidak boleh ditafsirkan bahwa dalam inkarnasi Kristus hanya mengambil tubuh manusia. “Tubuh” berdiri sebagai perwakilan dari keseluruhan hakekat manusiawi Kristus. Hakekat manusiawi ini bersatu – tapi tidak bercampur – dengan hakekat ilahi-Nya. Kristus adalah manusia sejati sekaligus Allah sejati. Dua hakekat dalam satu pribadi.

Istilah “hakekat” merujuk pada hal-hal dasar yang dimiliki oleh manusia atau Allah, sedangkan “pribadi” lebih ke arah perwujudan dari hal-hal mendasar itu. Vas bunga, genteng, celengan, dan tembikar memiliki “hakekat” yang sama, yaitu “tanah liat”, tetapi dalam bentuk dan ukuran yang berlainan. Sebagai Allah maupun manusia, Kristus memiliki perasaan, pikiran, dan kehendak manusia, tetapi semua itu terwujud dalam pribadi yang satu (dalam diskusi teologi seringkali disebut “Pribadi Logos”).

 

Inkarnasi Kristus adalah bukti ketaatan-Nya pada Allah

Ibrani 10:5-7 tidak hanya menunjukkan bahwa inkarnasi Kristus adalah keharusan dan rencana Allah. Teks ini juga memaparkan inkarnasi Kristus sebagai bukti ketaatan-Nya pada Allah. Ketaatan di kayu salib dimulai dari ketaatan pada saat inkarnasi. Korban Kristus di kayu salib hanya dimungkinkan melalui ketaatan-Nya untuk menggenapi rencana ilahi pada waktu inkarnasi.

Kaitan antara korban dan ketaatan semacam ini bukanlah hal yang baru di Alkitab. Ungkapan “korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki” atau “kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan” di Ibrani 5-6 tidak berarti bahwa Allah merendahkan atau membatalkan apa yang Ia perintahkan. Allah suka dan berkenan pada korban. Tetapi, pemberian korban tidak terpisahkan dari ketaatan. Sebaliknya, ketaatan adalah inti dari semua korban.

Korban yang tidak disertai dengan ketaatan adalah sia-sia. Saul mendapat teguran keras dari Samuel tatkala Saul memilih untuk mempersembahkan korban sendiri daripada menaati perintah Allah untuk menunggu kedatangan Samuel (1 Sam 13:8-14). Pada peristiwa yang lain, Samuel berkata kepada Saul: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan” (1 Sam 15:22). TUHAN juga muak terhadap ibadah dan korban bangsa Yehuda, karena hidup mereka bertentangan dengan firman Tuhan (Yes 1:10-18). Pendeknya, korban yang berkenan dan disukai oleh Allah harus disertai dengan ketaatan dari yang mempersembahkan korban tersebut.

Yang menarik dari korban Kristus bukan hanya ketaatan-Nya, tetapi juga bagaimana ia menunjukkan ketaatan itu. Ketaatan itu dilakukan secara sukarela. Tidak ada keterpaksaan dalam ketaatan-Nya. Hal ini ditunjukkan melalui beberapa cara.

Pertama, frase “Ia berkata” di ayat 5a. Dalam konteks persembahan korban di Perjanjian Lama, binatang yang dikorbankan di atas mezbah tidak memiliki kehendak. Semua tergantung pada pemilik mereka. Tidak demikian dengan korban Kristus. Dengan mulut-Nya sendiri Kristus menegaskan keharusan inkarnasi bagi kesempurnaan ibadah orang-orang percaya.

Kedua, frase “Aku datang…untuk melakukan kehendak-Mu” di ayat 7. Kristus benar-benar menyadari dari awal untuk apa Ia datang ke dalam dunia, yaitu melakukan kehendak Bapa-Nya (bdk. Yoh 6:38). Menggenapkan kehendak Bapa adalah tujuan hidup Kristus.

 

Bagaimana dengan kita? Apakah ketaatan kepada Allah sudah kita lakukan dengan sukarela? Apakah kita sadar bahwa kita diciptakan untuk merealisasikan rencana Allah bagi dunia ini? Maukah kita hidup bagi kerajaan Allah? Biarlah momen Natal ini mengingatkan kita untuk meneladani Sang Juruselamat, Yesus Kristus, yang mau menaati kehendak Bapa-Nya. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community