Not all hear (Roma 10:4-15)

Posted on 12/05/2013 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Not-all-hear-(Roma-10-4-15).jpg Not all hear (Roma 10:4-15)

Keselamatan di dalam Kristus adalah “injil” (lit. “kabar baik”). Jika ini memang kabar yang baik, mengapa masih banyak orang yang belum menerimanya? Bukankah semua orang menyukai kabar yang baik? Paulus memberi dua jawaban: tidak semua pernah mendengarkan injil (10:4-15) dan tidak semua mau menerima injil (10:16-21). Hari ini kita hanya akan membahas alasan yang pertama. 

Keselamatan berdasarkan iman di dalam Kristus (ayat 4-8)

Di ayat 4a Paulus mengajarkan bahwa Kristus adalah telos (lit. “akhir”) dari hukum Taurat. Hal ini pasti bukan berarti bahwa Ia meniadakan/mengakhiri Taurat (Mat 5:17-19). Berdasarkan konteks yang ada, ayat 4a merujuk pada Kristus sebagai penggenap tuntutan Taurat. Walaupun kebenaran bisa diperoleh melalui ketaatan kepada Taurat (Rom 10:5; 2:6-11), namun dalam kenyataannya tidak ada seorang pun yang mampu memenuhi tuntutannya (3:10-20). Walaupun banyak orang Yahudi berusaha mendirikan kebenaran mereka sendiri melalui ketaatan kepada Taurat (10:3a), dalam kenyataannya hal itu justru merupakan dosa ketidaktundukan pada Allah (10:3b). Solusi bagi situasi tanpa harapan seperti ini hanyalah Kristus. Ialah yang memenuhi tuntutan hukum Taurat secara sempurna (Ia adalah telos hukum Taurat), sehingga kebenaran dapat diberikan kepada semua orang yang percaya kepada-Nya (10:4b). Jika Allah hanya membenarkan berdasarkan iman tanpa tuntutan hukum Taurat dipenuhi dahulu oleh Kristus, maka firman Allah melalui Musa akan batal (10:5). Hal ini tidak mungkin terjadi, karena firman Allah tidak mungkin gagal (9:6a). Sebaliknya, apabila Kristus memenuhi tuntutan Taurat tetapi keselamatan tetap berdasarkan perbuatan baik, maka tidak akan satu orang pun yang bisa diselamatkan. Tidak ada seorang pun yang mampu berbuat baik sampai sesuai dengan apa yang dituntut oleh Allah. Karena itu, dalam hikmat Allah yang tidak terselami (11:33-34), Ia telah menetapkan Kristus sebagai penggenap hukum Taurat sekaligus pembuka jalan bagi kebenaran ilahi, yaitu kebenaran melalui iman (10:3-4).

Roma 10:6-8 menjelaskan bagaimana Kristus ditampilkan sebagai telos hukum Taurat. Paulus sengaja mengutip teks PL yang pada mulanya berbicara tentang Taurat, lalu menerapkan teks itu kepada Kristus. Teks yang dikutip adalah Ulangan 30:11-14. Dalam teks ini Musa menyatakan bahwa Taurat Tuhan itu tidaklah sukar dan jauh (30:11). Bangsa Israel tidak perlu pergi ke langit atau ke seberang lautan untuk mendapatkannya (30:12-13). Semua itu sudah diberikan Allah kepada mereka, sehingga mereka tinggal melakukannya (30:14).

Dengan cara yang sama Kristus (sebagai telos Taurat) juga tidak jauh. Manusia tidak perlu mengambil insiatif dan bersusah-payah mengupayakan agar Kristus mau turun dari surga untuk menjadi manusia (10:6) atau pergi ke dunia orang mati untuk membangkitkan Kristus (10:7). Semua itu sudah dilakukan Allah dan diberikan kepada kita, sehingga sama seperti firman Taurat dekat dengan bangsa Israel demikian pula firman iman juga sangat dekat dengan kita (10:8).  

 Walaupun Taurat dan keselamatan dalam Kristus adalah dekat dan tidaklah sukar, tetapi manusia tetap gagal memenuhinya. Inti persoalan terletak pada diri manusia. Seluruh aspek kehidupan manusia sudah tercemar oleh dosa (3:10-18), sehingga manusia tidak mau tunduk pada kebenaran Allah (10:3). Daripada diselamatkan tanpa memiliki peran sedikit pun (keselamatan berdasarkan anugerah melalui iman), manusia lebih suka mendirikan kebenaran sendiri, sekalipun hal itu adalah mustahil (keselamatan berdasarkan perbuatan baik).

Iman yang benar (ayat 9-10)

Jika Kristus sudah menggenapi tuntutan Taurat (10:4-8), maka bagian manusia hanyalah beriman kepada-Nya (10:4b). Tapi, bagaimana iman yang benar itu? Ayat 9-10 mengajarkan beberapa kebenaran penting. Pertama, iman harus bersumber dari hati. Ayat 9-10 menyinggung tentang mulut dan hati, namun dengan urutan yang berbeda. Urutan “mulut-hati” di ayat 9 disebabkan kutipan PL di ayat 8 juga menggunakan urutan yang sama. Untuk menghindari kesalahpahaman, Paulus sengaja di ayat 10 sengaja membalik urutannya, untuk mengajarkan bahwa pengakuan verbal harus bermula dari hati. Pengakuan di mulut harus dimulai dari keyakinan di dalam hati.

Kedua, walaupun iman menyangkut masalah hati, tetapi iman bukanlah semata-mata masalah emosi. Ada kebenaran kognitif yang obyektif di dalamnya. Iman berkaitan dengan sebuah peristiwa historis yang sangat penting, yaitu kebangkitan Kristus (ayat 9). Kekristenan tidak mengajarkan iman yang buta, tidak rasional, atau tidak didasarkan pada realita. Iman lebih daripada sekadar romantisme psikologis dalam relasi kita bersama Tuhan.

Ketiga, iman bukanlah sekadar luapan emosi atau persetujuan intelektual, namun persandaran seluruh hidup kepada Kristus. Iman berarti mengakui ke-Tuhanan Kristus atas hidup kita (ayat 9). Kebangkitan Kristus tidak hanya membuktikan bahwa Ia adalah Tuhan pada diri-Nya sendiri (1:4), tetapi juga Tuhan atas hidup kita. Sebagai Tuhan, Ia seharusnya menjadi tempat persandaran di tengah kelemahan kita. Dia adalah obyek seruan kita (10:13).

Kepastian keselamatan berdasarkan iman (ayat 11-13)

Kesejajaran di ayat 10 menyiratkan kepastian keselamatan (mulut//hati, mengaku//percaya, dibenarkan//diselamatkan). Siapa saja yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus pasti akan memiliki status yang baru sebagai orang benar, bukan sebagai orang berdosa. Sekali ini terjadi, maka itu sama saja dengan diselamatkan untuk seterusnya (bdk. 8:29-30 “..dipilih...ditentukan...dipanggil...dibenarkan.. dimuliakan..”). Apa dasar dari kepastian ini? Bukankah kita kadangkala lemah dan kalah oleh dosa?

Jaminan keselamatan didasarkan pada janji Allah (10:11; juga 9:33). Alkitab berkali-kali mengajarkan bahwa Allah tidak pernah mempermalukan orang yang percaya kepada-Nya. “Malu” di sini bukanlah masalah perasaan belaka. Dalam Alkitab frase “tidak dipermalukan” biasanya muncul pada saat orang percaya menghadapi pergumulan yang berat karena iman mereka dan orang-orang fasik mempertanyakan kegunaan iman tersebut (Mzm 6:9-11; 22:5-6; 31:1-5; 53:6). Di tengah situasi seperti ini Allah selalu memberi kemenangan (tidak mempermalukan orang yang percaya kepada-Nya).

Kepastian keselamatan juga didasarkan pada kebesaran dan kekayaan kemurahan Allah (10:12). Kebenaran melalui iman berhubungan erat dengan fakta bahwa Allah adalah Allah semua orang (10:12; 3:29-30). Karena Ia adalah Allah untuk semua orang, maka Ia pasti hanya akan menggunakan satu cara keselamatan yang dapat diakses oleh semua orang. Jika keselamatan adalah melalui sunat dan Taurat, maka keselamatan semacam itu hanya dimungkinkan untuk orang Yahudi. Kebesaran Allah di atas menjamin bahwa kemurahan-Nya juga melimpah bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Ia kaya bagi semua yang berseru kepada-Nya (10:12b).

Keselamatan kita juga pasti karena Allah selalu menolong setiap orang yang berseru kepada-Nya (10:13). Sebagaimana sudah disinggung di bagian sebelumnya, beriman menyangkut masalah persandaran hidup. Perjalanan kerohanian kita tidak selamanya mulus. Kegagalan dan kebingungan seringkali mengiringi langkah kita. Tidak jarang kita mengalami keputusasaan. Masa-masa kritis seperti ini bisa membahayakan iman kita jika kita menyerah. Sebaliknya, bagi kita yang berseru kepada Tuhan, Ia akan selalu memberi pertolongan dan kekuatan. Ia akan datang untuk menyelamatkan kita dari situasi yang sesulit apapun. Kekayaan kemurahan-Nya (10:12) jauh melebihi kelemahan dan keberdosaan kita (10:13)!

Mengapa tidak semua menerima kabar baik? (ayat 14-15)

Bagian sebelumnya sudah menjelaskan bagaimana keselamatan hanya dimungkinkan melalui iman kepada Kristus sebagai penggenap tuntutan hukum Taurat. Yang dibutuhkan manusia pun hanya beriman kepada-Nya. Keselamatan bukan hanya dimungkinkan di dalam Kristus, tetapi juga dijamin oleh Allah. Jika kabar ini sedemikian baik, mengapa masih banyak orang tidak menerimanya?

Persoalan pasti bukan terletak pada kualitas keselamatan yang diberitakan (ini benar-benar kabar yang baik bagi manusia yang tanpa harapan!). Persoalan juga bukan terletak pada kualitas kemurahan Allah (Ia kaya bagi semua orang yang percaya-Nya!). Roma 10:14-15a mengungkapkan bahwa persoalan terletak pada ketidakadaan para pembawa kabar baik. Berseru hanya dimungkinkan jika orang itu lebih dahulu beriman; beriman hanya dimungkin kalau ia sudah mendengar; mendengar hanya dimungkinkan jika ada orang lain yang memberitakan kabar baik; memberitakan kabar baik hanya dimungkinkan jika ada yang diutus. Dari pihak Allah tentu saja Ia menghendaki ada banyak utusan Injil. Persoalannya, apakah semua orang percaya mau memberikan diri sebagai utusan?

Keterlibatan kita dalam misi seharusnya dilihat sebagai hak istimewa dan anugerah yang besar dari Allah. Allah bisa saja menyelamatkan semua orang pilihan tanpa menyertakan satu pemberita injil sekalipun, sebagaimana Ia dahulu menyelamatkan Paulus (Kis 9). Ia tidak membutuhkan manusia! Bagaimanapun, dalam kedaulatan dan kemurahan-Nya yang besar Allah telah menetapkan untuk melibatkan manusia dalam proyek keselamatan di muka bumi. Ia tidak hanya menetapkan hasil, tetapi juga seluruh rangkaian proses untuk mencapai hasil tersebut. Di dalam proses itu, kita ditetapkan Allah untuk mengambil peranan di sana. What a grace!

Paulus lalu menutup dengan sebuah kutipan dari PL (Rom 10:15b; Yes 52:7). Dalam konteks aslinya, teks PL ini merujuk pada nubuat tentang kelepasan dari pembuangan di Babel sekaligus menyiratkan keselamatan rohani melalui hamba Tuhan yang menderita (Yes 53). Jika kelepasan selama 70 tahun dari Babel sudah merupakan kabar yang sedemikian baik, apalagi kelepasan dari kebinasaan kekal di neraka! Jika bangsa Israel yang hidupnya di Babel tidak terlalu menderita saja sudah membayangkan kelepasan dari Babel sebagai hal yang lebih baik, apalagi orang-orang berdosa yang hidup tanpa kedamaian dan arah hidup! Lebih jauh lagi, yang disebutkan indah di Yesaya 52:7 maupun Roma 10:15b bukanlah kabar yang dibawa, melainkan kaki-kaki para pembawa kabar baik (LAI:TB “kedatangan”, semua versi Inggris “the feet of those/them”). Jika bunyi kaki mereka saja sudah sedemikian indah, apalagi kabar yang mereka bawa!

Bukankah kita semua menyukai keindahan? Bukankah kita semua suka mendengarkan dan menceritakan kabar yang baik kepada orang-orang di sekeliling kita? Mengapa kita justru tidak berhasrat menceritakan keselamatan di dalam Kristus yang sedemikian besar kepada orang-orang lain yang belum mendengarnya? Kalaupun kita sudah melakukannya, mengapa kita seringkali kurang yakin dengan berita yang kita bagikan? Mengapa kita terlalu sering takut untuk ditolak? Biarlah di minggu pertama bulan misi di tahun 2013 ini kita kembali diingatkan tentang keindahan dan kebaikan ilahi dalam keselamatan kita. Biarlah kita belajar berbagi keindahan dan kebaikan itu kepada semua orang. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community