Menjadi Murid Yesus (Mat. 4:18-22)

Posted on 05/01/2020 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/menjadi-murid-yesus-matius-4-18-22.jpg Menjadi Murid Yesus (Mat. 4:18-22)

Gereja kita mencanangkan tahun ini sebagai tahun pemuridan. Bukan berarti sebelumnya tidak ada pemuridan di gereja ini. Kita sudah memiliki hampir sekitar 10 kelompok pemuridan. Bagaimanapun, kita belum melakukannya secara masif dan intensif. Melalui tema besar tahun 2020, yaitu Radical Discipleshift, diharapkan sebagian besar jemaat dapat dimuridkan dan REC segera memiliki lebih banyak pemimpin baru.

Selaras dengan hal di atas, sangat tepat apabila di Hari Minggu pertama tahun ini kita sama-sama memikirkan ulang pengiringan kita kepada Kristus. Apakah kita sungguh-sungguh mengikuti Dia atau sekadar melibatkan Dia dalam urusan kita? Apakah kita sungguh-sungguh menjadi murid atau sekadar penggemar belaka?

Dalam teks khotbah hari ini kita menemukan sebuah kisah yang sangat menarik. Bagi pembaca Alkitab mula-mula yang sangat mengenal tradisi kerabian Yahudi, mereka akan langsung menangkapkan keunikan kisah ini. Rabi-rabi Yahudi tidak mencari murid. Orang-orang datang kepada mereka dan menggabungkan diri sebagai murid. Yesus tidak demikian. Dia sendiri yang berkeliling mencari murid. Itulah pola kerja ilahi. Allah selalu mengambil inisiatif.

Perbedaan lain terletak pada pola pengajaran. Dalam tradisi kerabian Yahudi, seseorang baru boleh menjadi pengajar kalau sudah menyelesaikan standar tertentu. Sebelum titik itu, seorang murid hanya belajar dan belajar. Peraturan dalam masyarakat Qumran (abad ke-2 SM) bahkan menunjukkan adanya proses rekrutisasi yang rumit dan hirarkhi posisi/jabatan yang harus dijalani oleh setiap anggota. Tidak demikian dengan pola pemuridan Yesus. Sejak awal murid-murid sudah belajar dan mengajar. Mereka mengikuti Yesus ke mana saja Dia pergi sekaligus membantu Dia dalam pelayanan. Sesudah pelayanan keliling di Galilea berakhir (4:23-9:38), murid-murid langsung diutus ke berbagai tempat (10:1-15).

 

Arti menjadi murid (ayat 19)

Perkembangan kekristenan yang luas dan cepat kadangkala menimbulkan sebuah persoalan. Tidak semua orang yang menjadi Kristen benar-benar memahami apa artinya menjadi seorang murid Kristus. John Stott dengan tepat mengatakan bahwa kekristenan hanya meluas, tetapi tidak mengakar. Terlalu banyak “anugerah murahan” (Dietrich Bonhoeffer) yang diberitakan, sehingga banyak orang sekadar ikut-ikutan, tetapi tidak pernah menjadi pengikut.

Apa artinya menjadi murid Kristus? Teks kita mengajarkan dua poin penting.

Menjadi murid berarti mengikuti Dia. Frasa “Ikutlah Aku” (deute opisō mou, ayat 19a) secara hurufiah berarti “datanglah sesudah Aku” (YLT “come ye after me”). Seorang murid akan mengikuti gurunya ke mana saja guru itu pergi. Mereka tinggal bersama-sama, memeluk ajarannya, dan meniru gaya hidupnya. Pendeknya, menjadi murid berarti selalu bersama supaya menjadi sama.

Frasa “Ikutlah Aku” bukanlah sebuah undangan. Bukan salah satu opsi di antara sekian banyak pilihan. Ini adalah perintah. Siapa saja yang serius dengan Yesus wajib mengikuti Dia.  

Poin ini terdengar sederhana, namun seringkali dilupakan. Yesuslah yang seharusnya berjalan di depan, kita hanya mengikuti Dia. Sayangnya, sebagian orang justru hendak mengatur Yesus. Petrus mencegah perjalanan Yesus ke Yerusalem, sehingga Yesus dengan keras menegur dia: “Enyahlah!” (16:23; lit. “pergilah ke belakang-Ku”). Petrus berusaha berada di depan dan menentukan perjalanan! Itulah kesalahan umum orang-orang Kristen. Kita seringkali hanya meminta penyertaan Tuhan, tetapi tidak mau mengikuti pimpinan-Nya.

Menjadi murid juga berarti menjalankan misi-Nya. Yesus tidak berhenti pada “Ikutlah Aku”. Dia langsung menambahkan “kamu akan Kujadikan penjala manusia” (ayat 19b). Ini adalah tujuan dari pemuridan. Bukan sekadar belajar, belajar dan belajar. Kita belajar supaya nanti bisa menjadi pengajar dan memuridkan orang lain. Matius 28:19-20a “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu”.

Sebagian orang merasa kurang percaya diri dengan tugas ini. Beragam dalih diberikan untuk menghindari tugas ini (misalnya tidak fasih berbicara, belum layak, dsb). Semua alasan ini menyiratkan asumsi yang keliru. Yang paling berperan dalam proses persiapan ini adalah Yesus Kristus. Dalam teks Yunani, ayat 19b berbunyi: “Aku akan menjadikan kalian penjala manusia” (bdk. semua versi Inggris). Dia yang aktif menjadikan. Tugas kita hanya mengikuti prosesnya saja. Kurang percaya diri untuk menjalankan misi-Nya berarti kurang memercayai bahwa Dia mampu untuk memampukan kita. Yesus Kristus bukan hanya mengambil inisiatif, tetapi Dia juga selalu aktif di dalam seluruh prosesnya.

Kebenaran ini sangat perlu untuk ditegaskan, terutama kepada murid-murid yang pertama. Mereka adalah para penjala ikan. Mereka sudah mempunyai segudang pengalaman dan beragam ketrampilan dalam menagkap ikan. Walaupun demikian, menjala manusia berbeda dengan menjala ikan. Mereka perlu belajar dari Yesus dengan penuh ketundukan. Bukan mereka yang mengambil posisi sentral.

 

Harga sebuah pemuridan (ayat 20, 22)

Perintah Tuhan Yesus diresponi secara sangat positif. Petrus, Andreas, Yohanes dan Yakobus bukan hanya berkata “iya”. Mereka segera meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Yesus.

Sebagian orang bingung dengan sikap ini. Bagaimana mungkin murid-murid ini langsung menanggapi perintah itu padahal mereka baru berjumpa sekali dengan Yesus? Mereka baru muncul di kisah ini! Apakah respons mereka terburu-buru dan ceroboh?

Sama sekali tidak! Jika kita membandingkan dengan kisah ini dengan Yohanes 1:35-51 kita akan mengetahui bahwa peristiwa di Matius 4:18-22 bukanlah perjumpaan mereka yang pertama dengan Yesus. Sebelumnya mereka sudah pernah bertemu dan menyaksikan mujizat-mujizat Yesus. Pada perjumpaan pertama tersebut mereka belum mendapat panggilan untuk mengikuti Yesus. Mereka hanya ingin tahu dan menghabiskan waktu beberapa saat dengan Yesus (Yoh. 1:38-39). Jadi, kisah di Matius 4:18-22 merupakan tindakan lanjut dari pertemuan-pertemuan sebelumnya. Tidak heran, murid-murid bisa langsung memberikan respons yang sangat cepat.

Sekilas respons ini tidak terlalu sukar untuk dilakukan. Semua terjadi dengan begitu cepat (ayat 20 “segera”; ayat 22 “segera”). Bagaimanapun, jikat kita melihat dari perspektif kuno waktu itu, respons tersebut sangat radikal. Mengikuti Yesus berarti meninggalkan hal-hal yang lain yang mungkin berharga.

Pertama, meninggalkan pekerjaan (ayat 20). Pola pemuridan pada waktu itu tidak memungkinkan bagi seseorang untuk menjalankan pekerjaan sehari-hari seperti biasanya. Pemuridan dan pekerjaan sukar untuk dijalankan secara bersamaan dengan maksimal. Seorang murid akan mengikuti gurunya ke mana saja dia pergi. Terikat dengan suatu pekerjaan jelas akan menjadi kendala yang besar. Pilihan perlu diambil.

Meninggalkan pekerjaan jelas tidak mudah. Ini berbicara tentang penghasilan dan kebutuhan seluruh keluarga. Bagi Petrus yang sudah menikah (bdk. 8:14) pilihan ini menjadi lebih sukar. Puji Tuhan! Petrus mampu mengambil keputusan yang tepat.

Dalam konteks pemuridan sekarang, situasinya jelas berbeda. Kita tidak perlu mengikuti Yesus secara fisik. Kita sudah memiliki ajaran-ajaran-Nya di dalam Alkitab. Kita hanya dituntut untuk mengikuti itu.

Walaupun demikian, prinsip yang diajarkan tetap sama: pemuridan lebih penting daripada pekerjaan. Jangan sampai karena pekerjaan, kita melupakan proses menjadi murid Tuhan. Sebaliknya, pekerjaan tersebut harus menjadi salah satu proses pemuridan. Maksudnya, kita belajar menerapkan sifat dan ajaran Kristus dalam pekerjaan kita. Kita menjadikan pekerjaan sebagai pelayanan. Tidak ada dikotomi antara pekerjaan dan pelayanan.

Kedua, meninggalkan keluarga (ayat 22). Kisah pemanggilan Yohanes dan Yakobus sedikit berbeda. Ayah mereka, yang bernama Zebedeus, turut disebutkan dalam kisah ini (ayat 21 “bersama ayah mereka”). Ketika mereka mengiyakan panggilan Yesus, Alkitab menulis: “mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya” (ayat 22).

Apa yang dilakukan oleh Petrus dan Andreas serta Yakobus dan Yohanes sebenarnya sama. Dengan mengikuti Yesus mereka harus meninggalkan pekerjaan dan keluarga. Walaupun demikian, pemunculan Zebedeus di ayat 21-22 memberi sorotan lebih pada elemen tambahannya, yaitu keluarga. Poin yang ingin ditegaskan di sini adalah keutamaan Kristus atas keluarga (bdk. 10:37 “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku”).

Dalam konteks pemuridan sekarang, kita tentu saja tidak boleh meninggalkan keluarga. Kita bisa belajar dari Kristus melalui Alkitab. Namun, kita tetap harus mengutamakan Kristus di atas keluarga. Jangan sampai keluarga menjadi penghalang bagi pertumbuhan rohani kita. Bukankah banyak orang yang mulai jauh dari Tuhan ketika sudah berkeluarga dan memiliki anak? Bukankah banyak orang lebih peduli dengan masa depan anak daripada pekerjaan Tuhan di muka bumi? Bukankah situasi keluarga kadangkala menjadi penghambat kerohanian? Kita perlu berhati-hati dengan semua ini.

Maukah Anda berubah dari penggemar menjadi pengikut? Siapkah Anda meninggalkan segala sesuatu yang bisa menghambat proses pemuridan itu (dosa, relasi, pekerjaan, kebiasaan, hobi, dsb)? Kiranya anugerah Allah yang memampukan kita semua untuk mengambil dan melakukan keputusan yang benar. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community