Menjadi Bayi Rohani Yang Sehat (1 Petrus 2:1-3)

Posted on 05/04/2020 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/menjadi-bayi-rohani-yang-sehat-1-petrus-2-1-3.jpg Menjadi Bayi Rohani Yang Sehat (1 Petrus 2:1-3)

Dalam khotbah sebelumnya kita sudah belajar bahwa orang-orang yang mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa (Ef. 2:1-3) telah dihidupkan bersama-sama dengan Kristus (Ef. 2:4-5). Setelah dihidupkan di dalam Kristus, perjalanan rohani tidak berhenti. Keselamatan bukanlah akhir dari perjalanan. Sebaliknya, keselamatan hanyalah awal yang memungkinkan segala sesuatu yang ada di depan.

Orang-orang yang sudah dipindahkan dari kegelapan kepada terang atau dari keberdosaan kepada kebenaran harus terus mengalami pertumbuhan. Stagnansi bukanlah opsi. Pertumbuhan adalah sebuah keniscayaan. Pertumbuhan adalah bukti dari kehidupan.

Bagaimana seorang yang baru dihidupkan dapat mengalami pertumbuhan? Apa yang harus dilakukan? Mengapa dia perlu menjalani proses pertumbuhan?

Sebelum kita meneliti masing-masing ayat secara detil, kita perlu menyinggung tentang terjemahan lebih dahulu. Dalam LAI:TB ayat 1 dan 2 dianggap sejajar: sama-sama berbentuk perintah dan keduanya dihubungkan dengan kata sambung “dan” (awal ayat 2). Dalam teks Yunani ternyata tidak demikian. Yang berbentuk perintah hanya ayat 2a, sedangkan ayat 1 merupakan anak kalimat (partisip). Kata sambung “dan” di awal ayat 2 juga tidak muncul dalam teks Yunani. Dengan kata lain, induk kalimat terdapat di ayat 2a, sedangkan ayat 1 merupakan penjelasan terhadap ayat 2a.

Partisip di ayat 1 secara hurufiah dapat diterjemahkan: “setelah menanggalkan segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah” (apothemenoi, partisip aorist). Seluruh frasa ini merujuk pada pengalaman pertobatan di bagian sebelumnya (1:18-25). Orang-orang Kristen di Asia Kecil merupakan petobat baru di dalam Kristus. Mereka telah ditebus dari kehidupan yang lama (1:18-21). Mereka telah menyucikan diri dalam kebenaran sebagai konsekuensi dari kelahiran kembali melalui firman kebenaran (1:22-25). Kehidupan yang lama sudah mereka tanggalkan. Namun, perjalanan belum berakhir. Mereka perlu terus bertumbuh dalam kebenaran.

 

Cara bertumbuh: menginginkan air susu yang murni dan rohani (ayat 2a)

Bagaimana penerima surat ini seharusnya bertumbuh diterangkan di ayat 2a “jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani”. Walaupun terjemahan LAI:TB ini tidak terlalu menyimpang dari teks Yunani, tetapi penekanannya berbeda.  Tidak ada kata perintah “jadilah” dalam teks Yunani. Sebaliknya, kata perintah terletak pada kata “ingin” (epipothÄ“sate). Di situlah penekanannya.  Jadi, Petrus sebenarnya sedang berkata: “Sama seperti bayi yang baru lahir, inginkanlah air susu yang murni dan rohani”.

Penggunaan kata epipotheō (LAI:TB “ingin”) bukan hanya menyiratkan sebuah keinginan yang biasa, tetapi keinginan yang begitu besar (NIV “crave”). Dalam Septuaginta (LXX) kata ini digunakan untuk rusa yang merindukan sungai yang berair (Mzm. 42:2) atau untuk Daud yang hatinya hancur karena merindukan pelataran TUHAN (Mzm. 84:3). Paulus mengundang Allah sebagai saksi betapa dia sangat merindukan jemaat Filipi (Flp. 1:8). Kata yang sama muncul lagi untuk Epafroditus yang sangat merindukan jemaat Filipi juga (Flp. 2:26). Bahkan kata ini juga digunakan untuk Allah yang sangat menginginkan kita: “Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!” (Yak. 4:5). Pendeknya, keinginan ini bukan sekadar ada, tetapi sangat besar.

Ide di atas sesuai dengan metafora yang digunakan. Petrus secara cermat memilih bayi yang baru lahir. Bukan sekadar bayi (brephos), tetapi yang baru saja dilahirkan (artigennēta). Seorang bayi yang baru dilahirkan sangat mengantungkan hidupnya pada air susu ibunya (ASI). Dia tidak mempunyai pilihan minuman atau makanan yang lain. Tanpa ASI dia pasti sulit bertahan hidup, apalagi bertumbuh dengan baik. Seperti itulah kerinduan yang seharusnya ada pada orang-orang yang baru dilahirkan di dalam Kristus.

Apa yang dimaksud dengan “susu yang murni dan rohani” (to logikon adolon gala)? Sebagian teolog memilih terjemahan “air susu yang murni dari firman” (NASB/KJV). Maksudnya, mereka mengambil kata to logikon sebagai firman TUHAN. Terjemahan seperti ini sebenarnya sangat tidak lazim. Kata dasar logikos hanya mengandung arti “rohani/sejati” atau “masuk akal” (bdk. Rm. 12:2). Jadi, kita sebaiknya mengikuti terjemahan LAI:TB dan mengambil logikos dalam arti “rohani”.

Walaupun demikian, “air susu yang murni dan rohani” kemungkinan besar memang merujuk balik pada firman Allah di bagian sebelumnya (1:23-25). Penerima surat ini sudah dilahirkan kembali melalui firman Allah yang kekal. Sebagaimana firman Allah adalah benih yang tidak fana, demikian juga benih itu akan terus ada dan menjadi tumbuhan yang besar dalam diri orang percaya. Firman kebenaran – yaitu Injil (1:25b) – bukan hanya menghidupkan, tetapi juga menumbuhkan. Bukan hanya sarana pertobatan, tetapi kedewasaan.                  

 

Cara menumbuhkan keinginan yang besar terhadap firman Tuhan (ayat 2b-3)

Perintah yang diberikan oleh Petrus di ayat 2a sekilas mungkin membingungkan. Bagaimana seseorang diperintahkan untuk menginginkan sesuatu? Bukankah keinginan memang berasal dari hati seseorang? Bukankah keinginan bersifat otomatis dan apa adanya?

Beberapa orang Kristen kadangkala berpikir seperti itu. Mereka merasa bahwa gairah rohani yang tinggi untuk bertumbuh di dalam Kristus merupakan sejenis karunia rohani. Hanya orang-orang tertentu yang memilikinya. Mungkin orang-orang itu memang sedang disiapkan oleh Tuhan untuk sebuah pekerjaan rohani yang besar.

Pemikiran seperti ini adalah salah. Menginginkan firman Tuhan ternyata dapat dibangkitkan. Kita tidak seharusnya berpuas diri dengan keadaan yang ada dan tidak melakukan apa-apa. Petrus menunjukkan dua jalan bagi kita.

Pertama, mengetahui tujuannya (ayat 2b). Ada tujuan yang besar di balik keinginan yang besar terhadap firman Tuhan, yaitu “supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan” (LAI:TB). Dalam teks Yunani, frasa ini berbunyi “supaya di dalamnya kalian ditumbuhkan menuju keselamatan”. Bentuk pasif “ditumbuhkan” (auxÄ“thÄ“te) ini seringkali diabaikan dalam berbagai terjemahan, sehingga posisi firman Tuhan sebagai subjek kurang ditekankan. Ini sangat disayangkan. Firman Tuhan bukan hanya sebagai objek (yang dipelajari), tetapi juga subjek (yang memberi pertumbuhan rohani). Ketika mata dan pikiran kita menyelidiki firmanTuhan, firman yang sama sedang menyelidiki hati kita. Jadi, melalui firman Tuhan kita dilahirkan, melalui firman Tuhan pula kita ditumbuhkan.

Pertumbuhan ini mengarahkan seseorang pada keselamatan (eis sōtÄ“rian, lit. “menuju keselamatan”). Terjemahan LAI:TB “beroleh keselamatan” dapat menimbulkan kesan seolah-olah keselamatan yang dibicarakan belum dimiliki. Kesan semacam ini pasti keliru. Sebelumnya Petrus sudah mengajarkan bahwa keselamatan kita “telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir” (1:5). Orang-orang percaya telah mencapai tujuan imannya, yaitu keselamatan jiwanya (1:9). Bagi Petrus, keselamatan adalah sudah, sedang, dan akan datang sekaligus (realized eschatology). Kita sudah diselamatkan pada saat dilahirkan kembali melalui firman Allah. Oleh firman Allah juga kita akan dituntun menuju keselamatan yang penuh di akhir zaman. Dari awal sampai akhir perjalanan kita bergantung total pada firman Tuhan.

Kedua, mengetahui alasannya (ayat 3). Mayoritas penerjemah memilih untuk mengambil kalimat pengandaian di bagian ini secara hurufiah. Mereka memakai kata “jikalau” (LAI:TB; mayoritas versi Inggris “if”), seakan-akan menyiratkan bahwa apa yang diandaikan belum tentu benar atau terjadi. Sesuai dengan konteks dan jenis kalimat pengandaian yang digunakan dalam Bahasa Yunani, kita sebaiknya menganggap ayat 3 sebagai suatu keadaan yang benar-benar terjadi. Penerjemah Revised Standard Version (RSV) secara eksplisit menggunaan kata sambung “karena” (for). Penerjemah New International Version (NIV) memilih “sekarang bahwa” (now that). Jika benar demikian, ayat 3 berfungsi sebagai alasan bagi perintah di ayat 2a.

Kita akan memiliki kerinduan yang besar terhadap firman Tuhan apabila kita sudah mengecap kebaikan Tuhan (lit. “bahwa Tuhan adalah baik”; mayoritas versi Inggris). Walaupun kata “mengecap” (geuomai) di sini bisa mengandung arti mencoba sedikit saja (Mat. 27:34; Yoh. 2:9), tetapi makna kata tersebut tidak terbatas di situ. Kata geuomai juga digunakan untuk aktivitas makan sampai selesai (Kis. 20:11).  Bahkan kata ini berkali-kali dikaitkan dengan kematian (Mat. 16:28; Mrk. 9:1; Luk. 9:27; Yoh. 8:52; Ibr. 2:9). Berdasarkan penjelasan ini, kata geuomai sebaiknya diterjemahkan “menikmati”. Seberapa banyak yang dinikmati tidaklah penting bagi Petrus. Menikmati sedikit saja sudah cukup, apalagi menikmati lebih banyak. Pengalaman ini merupakan dorongan yang besar untuk memiliki kerinduan yang besar terhadap firman Tuhan.

Kebaikan Tuhan yang dimaksud di sini bisa merujuk pada apa saja. Namun, yang terutama pasti adalah penebusan-Nya. Kristus telah menebus kita dengan darah-Nya yang melebihi emas dan perak (1:18-19). Jika diri-Nya saja diberikan, Dia pasti akan menyediakan segala kebaikan lain yang bermanfaat bagi keselamatan dan pertumbuhan rohani kita.

Orang-orang yang sudah mengalami kebaikan Tuhan pasti selalu ingin memahami isi hati Tuhan. Mereka tahu bahwa Tuhan memiliki kehendak yang baik bagi mereka. Kehendak itu telah diungkapkan di dalam firman-Nya. Semakin memahami firman Tuhan berarti semakin memahami kebaikan-kebaikan lain yang sudah disiapkan Allah bagi kita. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community