Menghidupi kebenaran dan melawan kesesatan dalam Gereja

Posted on 16/08/2015 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/menghidupi_kebenaran_melawan_kesesatan_dalam_Gereja.jpg Menghidupi kebenaran dan melawan kesesatan dalam Gereja

Pendahuluan:

Membedakan jenis batu akik asli dengan permata palsu seringkali menyulitkan terutama bagi para penggemar baru, apalagi jika permata yang hendak dibeli berharga jutaan atau puluhan juta rupiah, tentu saja sangat diperlukan kehati-hatian yang ekstra. Ketika tidak hati-hati kita akan mengalami penyesalan bahkan kerugian yang besar. Hari ini kita akan belajar bagaimana membedakan seorang Kristen yang sejati dengan yang palsu(bukan batu akik). Tujuannya adalah bukan untuk menilai orang lain tetapi untuk menilai diri sendiri, apakah kita ini adalah orang Kristen yang sejati atau yang palsu.

Makna “Ibu yang terpilih”

Surat ini dialamatkan kepada “ibu yang terpilih” (ay.1). Siapakah ibu yang terpilih itu? Ada tiga tafsiran yang berbeda. Pertama, mereka yang menafsirkannya sebagai seorang wanita, misalnya Klemens dari Aleksandria yang menyatakan bahwa ini ditulis kepada seorang ibu bernama Electa (kata ini berasal dari kata Yunani yang artinya dipilih atau terpilih) . Contoh yang lain adalah Athanasius yang mengatakan bahwa surat ini ditujukan kepada seorang perempuan tetapi namanya Kyria (kata ini juga berasal dari kata Yunani yang berarti ibu). Kedua, sekelompok ahli Alkitab lainnya yang menganggap nama tersebut sebagai julukan kehormatan untuk pemimpin wanita tertentu di dalam gereja, meskipun ia tidak bernama (seperti penulis yang hanya menggunakan julukan “penatua”). Ketiga, yang paling mungkin adalah penafsiran bahwa “ibu” iti adalah sebuah jemaat. Jerome adalah seorang yang memiliki pandangan ini. Alasannya antara lain: (1) kata gereja dalam bahasa Yunani berbentuk feminine (ay 1); (2) Ini mungkin menunjuk gereja sebagai mempelai perempuan Kristus (lih. Ef 5:25-32; Wah 19:7-8; 21:2); (3) Ada suatu permainan antara bentuk tunggal dan jamak untuk sapaan orang kedua di seluruh pasal ini (tunggal dalam ay 4,5,13; jamak dalam ay 6,8,10,12).

Apakah pesan yang ingin diberikan Yohanes kepada penerima suratnya? Yohanes memberikan dua tanda seorang Kristen sejati.

Dua tanda seorang Kristen sejati.

(1) Seorang Kristen sejati mempraktekan kebenaran (ay.4-6)

Perhatikan pengulangan kata hidup (KJV,NAS,NIV menerjemahkan “walking/ berjalan"). Kata “hidup” ini tentunya bukan sekedar sesuatu yang kita terima, pelajari dan percayai. Menghidupi kebenaran tidak cukup dengan hanya sekedar tahu kebenaran; kita harus menunjukkan, melalui tindakan kita di manapun kita berada. Yohanes bersukacita karena dia tahu bahwa jemaat penerima surat “berjalan” dalam kebenaran. Merupakan suatu kebahagiaan bagi Yohanes ketika mengetahui bahwa beberapa dari anggota jemaatnya hidup dalam kebenaran. Ini adalah sukacita seorang hamba Tuhan.

Kasih versi Kristen bukanlah sekedar emosi tetapi merupakan ketaatan terhadap Firman Tuhan. Sebagai contoh, anak-anak mencintai orang tua mereka dengan menaati mereka. Di dalam Injil, Yesus berkata "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku" (Yoh. 14:15, NKJV). Betapa menyedihkan itu jika orang-orang Kristen mengaku mencintai Allah tetapi membenci saudara-saudara.

Kebenaran dan kasih adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Orang yang mengasihi tanpa kebenaran akan merusak sesama. Sebaliknya orang yang menyatakan kebenaran tanpa kasih adalah kesia-siaan. Namun, saat kebenaran diungkapkan dengan kasih, Roh Allah akan memakainya untuk mengubah pikiran seseorang , itulah yang akan mengoreksi sekaligus menuntun seseorang untuk dipulihkan. Kebenaran adalah “motivasi” dan “konteks” kasih Kristen sejati. Cinta sejati selalu terikat oleh kebenaran.

(2) Melindungi kebenaran (Ay. 7-11)

  1. Melindungi kebenaran dari mereka yang menyesatkan (Ay.7)

Penyesat yang dimaksudkan Yohanes mengacu pada guru-guru palsu yang disebutkan dalam suratnya yang pertama. Dia mengingatkan kita bahwa ujian bagi seorang guru adalah apa yang ia percayai tentang Yesus Kristus. Jika guru ini menyangkal bahwa Yesus Kristus datang dalam daging, maka ia adalah guru palsu atau Antikristus.

Frase “sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia” menjelaskan bahwa sebagaimana para rasul sudah pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil Kristus, demikian juga harus disadari bahwa para penyesat inipun dalam jumlah banyak sudah pergi ke seluruh dunia untuk menyebarkan ajaran sesat ini.

Kita perlu menyadari fakta bahwa ada banyak penyesat yang sangat militan untuk menyesatkan orang Kristen. Mereka menyebar ke seluruh dunia. Mereka bukan hanya ada di luar gereja, bahkan mereka mungkin ada di dalam gereja. Inilah yang membahayakan, sebagian orang menganggap gereja tempat yang paling aman untuk belajar, tetapi justru mereka disesatkan guru-guru palsu di sana. Apa yang harus dilakukan? Yang harus dilakukan adalah berhenti menjadikan gereja sebagai jaminan sumber pengajaran yang benar. Hanya Firman Tuhan satu-satunya sumber pengajaran yang benar. Siapapun yang mengajar kritisilah apakah sesuai dengan yang dikatakan Firman Tuhan?

Ajaran macam apakah yang sedang disebarkan oleh penyesat? Mereka tidak mengaku bahwa Yesus telah datang sebagai manusia. Tentunya mereka bukan hanya sekedar tidak mau mengakui, tetapi mereka dengan tegas menolak kemanusiaan Yesus bahkan mengajarkannya kepada orang yang mereka temui. Pada zaman itu ada dua kelompok bidat yang memiliki konsep demikian. Pertama, Docetik yang mengajar bahwa Yesus bukanlah manusia yang nyata, Dia hanya tampak seperti manusia. Dia tidak sungguh-sungguh mati di kayu salib, hanya tampaknya menderita dan mati. Kedua, Cerinthian yang mengajarkan sebaliknya bahwa Yesus benar-benar manusia, tetapi Roh Kristus datang atas-Nya pada waktu baptisan dan meninggalkannya pada waktu penyaliban. Karena itu Yesus mati, tetapi Kristus tidak mati. Kita tidak tahu ajaran mana yang sedang diyakini para pengikut ajaran sesat. Anggaplah 2 Yohanes sedang memberikan peringatan terhadap dua ajaran tersebut.

Menurut Yohanes, seorang Kristen sejati menyatakan kesetiaannya kepada Tuhan Yesus Kristus yang adalah Allah sejati dan manusia sejati baik pada kematian-Nya maupun kebangkitan-Nya.

  1. Melindungi kebenaran dari mereka yang merusak pekerjaan para rasul (Ay.8)

LAI menerjemahkan imperative “Βλέπετε “ dengan “waspadalah” menurut saya ini terjemahan yang cukup baik (dibandingkan dengan KJV “Look to yourselves”/ NAS “Watch yourselves”). Secara literal frase ini bisa diterjemahkan “Awasilah dirimu secara ketat supaya kamu tidak kehilangan apa yang sudah dicapai supaya kamu mendapatkan upahmu sepenuhnya”.

Ini merupakan perintah yang unik. Dalam konteks banyak penyesat, seharusnya Yohanes memberikan perintah untuk mengawasi pengajaran orang lain supaya mereka tidak menyebarkan pengajaran yang sesat. Ternyata itu sudah dilakukan di ayat 7. Tetapi Yohanes menambahkan sebuah perintah di ayat 7 untuk mengawasi secara ketat diri sendiri. Kita harus menaruh kewaspadaan bukan hanya kepada orang lain yang suka menyesatkan, tetapi juga kepada diri sendiri. Ini perintah yang tidak popular, tetapi kewajiban seorang Kristen. Orang Kriten tidak boleh hanya pandai mengawasi orang lain, tetapi juga harus pandai mengawasi diri sendiri.

Yohanes tidak menjelaskan apa yang harus diwaspadai tetapi langsung menjelaskan akibat jikalau kita tidak waspada, yaitu “kamu akan kehilangan apa yang kami kerjakan dan kehilangan upah”. Dilihat dari akibatnya, kita dapat menduga apa yang harus diwaspadai, yaitu waspadai apa yang kamu percayai dan waspadai perilakumu. Cara termudah untuk berbelok dari jalan Tuhan dan kehilangan semua “tanah spiritual” kita adalah terlibat dengan doktrin yang salah. Setan adalah perusak, dan dia menggunakan kebohongan untuk merampok berkat orang-orang kudus. Sudahkah saudara mengawasi dengan ketat apa yang engkau percayai?

  1. Melindungi kebenaran dari mereka yang meninggalkan ajaran Kristus (Ay. 11)

Yang ketiga lindungilah kebenaran dari mereka yang sudah meninggalkan ajaran Kristus. LAI menerjemahkan “yang telah melangkah keluar”, terjemahan yang lebih cocok adalah yang telah "melampaui batas". Artinya, ada orang-orang percaya yang tidak puas untuk tetap dalam batas-batas Firman Tuhan. Mereka melampaui yang Alkitab ajarkan, mereka melampaui dari yang telah tertulis. Jelas ini bukan kemajuan yang diharapkan. Kemajuan yang diharapkan justru ketika Injil tersebar luas sementara kita tetap "tinggal" di dalam Firman Tuhan.

Yohanes memperingatkan jemaatnya agar tidak menerima orang yang membawa ajaran sesat ke dalam rumah, dan jangan memberi salam kepadanya. Apakah ini berarti kita tidak boleh mengijinkan seorang penganut saksi Yehova ataupun mengucapkan selamat pagi kepadanya? Tentu tidak demikian.

Ada tiga hal yang perlu diketahui terkait hal ini. Pertama, Kita harus jelas bahwa pengajar sesat yang dimaksud bukan sekedar mereka yang memiliki perbedaan doktrin kecil. Tetapi mereka yang menyangkali kemanusiaan Yesus. Mereka menyangkali sebuah doktrin pokok dari Alkitab. Kedua, keramahtamahan penting bagi jemaat mula-mula. Karena pada waktu itu jemaat beribadah di rumah-rumah, kemungkinan jumlah jemaatnya tidak banyak agar tidak menjadi pusat perhatian dan mengurangi kemungkinan penganiayaan. Pada waktu itu para rasul dan pengajar lainnya terbiasa berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain dan selalu menumpang di rumah jemaat. Momen ini mereka pakai untuk menceritakan kabar jemaat lain sekaligus menjadi ajang pembelajaran untuk meningkatkan pengetahuan tentang Firman Tuhan. Para rasul dan guru ini biasanya disambut dengan sangat hangat. Itu sebabnya Yohanes melarang jemaat untuk menyambut pengajar sesat dengan keramahtamahan yang sama, dengan demikian orang tersebut tidak mendapat kesempatan untuk menyebarkan ajaran yang sesat di rumah itu. Jika itu terjadi seluruh “sel” mungkin akan tertular doktrin yang menyimpang dan selanjutnya akan terus menyebar dari rumah ke rumah bahkan jemaat di seluruh kota akan tertular.

Dengan demikian ayat ini tidak sedang mengajar kita untuk tidak memberi salam kepada orang yang memiliki doktrin berbeda di depan pintu kita. Aplikasi bagi kita adalah, sebelum kita memberikan kesempatan kepada seseorang untuk menyampaikan khotbah atau pengajaran di rumah kita atau persekutuan kita atau gereja kita, sudahkah kita yakin bahwa mereka memiliki pengajaran yang benar?

Aplikasi:

Apakah saudara adalah orang Kristen sejati? Jawabannya bukan sekedar bergantung pada pengakuan saudara, tetapi dari hidup saudara. Apakah saudara sungguh-sungguh mempraktekan kebenaran? Apakah saudara mewaspadai ajaran sesat dengan bersungguh-sungguh belajar Firman? Apakah saudara mengawasi diri sendiri dan apakah saudara waspada terhadap penyebaran ajaran sesat? Jikalau saudara mendapati dirimu tengah bersantai tanpa mempedulikan dengan apa yang saudara percayai, tanpa peduli dengan pengajaran yang ada, mungkin saudara bukanlah seorang Kristen sejati.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community