Mengalami Kasih Ilahi (Roma 5:5-8)

Posted on 16/04/2017 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Mengalam-Kasih-Ilahi-Roma-5-5-8.jpg Mengalami Kasih Ilahi (Roma 5:5-8)

Penderitaan dapat membuat orang-orang Kristen meragukan kasih Allah. Kita bergumul dengan kebaikan dan keadilan Allah pada saat kita mengalami penyakit, kesendirian, kekecewaan, kemiskinan, dan berbagai bentuk penderitaan yang lain. Benarkah penderitaan berarti ketidakadaan kasih dan kebaikan Allah?

Sama sekali tidak! Paulus justru mengajarkan bahwa kesengsaraan merupakan sarana pembuktian kasih Allah jika penderitaan itu disikapi dengan tepat (ayat 3-5). Penderitaan mendewasakan karakter kita, sehingga pada akhirnya malah mengokohkan pengharapan kepada Allah. Dari kesengsaraan menuju pada ketekunan à tahan uji (RSV/NASB/NIV/ESV “karakter”) à pengharapan. Dalam ungkapan yang lebih sederhana dan ringkas, iman seseorang menjadi matang melalui kesengsaraan.

Menariknya, di mata Paulus kepastian pengharapan tidak hanya ditentukan oleh respons kita yang tepat terhadap kesengsaraan. Yang penting adalah apa yang dilakukan oleh Allah kepada kita. Kasih Allah yang memastikan bahwa pengharapan kita tetap teguh. Di ayat 5 Paulus berkata: “Dan pengharapan tidak mengecewakan (lit. “tidak memalukan”), karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita”.

Kasih ilahi seperti apa yang sedang diterangkan oleh Paulus di sini? Mengapa kasih ilahi tersebut bisa menjadi pondasi yang kokoh bagi pengharapan kita?

Kasih yang subjektif (ayat 5)

Kasih bukan sekadar sebuah konsep. Bukan hanya sebuah gagasan yang abstrak. Bukan pula sebuah ungkapan yang kering. Apalah artinya kasih apabila tidak dapat dirasakan?

Setiap orang Kristen yang sejati pasti pernah mengalami kasih ilahi. Kata “telah dicurahkan” (enkechytai) dalam teks Yunani berbentuk perfek, sehingga menyiratkan sebuah tindakan yang terjadi di masa lampau tetapi hasil atau akibatnya masih dirasakan sampai sekarang. Kasih yang sedang dibicarakan di sini lebih tepat digambarkan seperti sebuah mata air yang sekali keluar akan terus-menerus keluar. Bukan seperti air di kran yang kadang tertutup kadangkala terbuka. Bukan seperti air di poci yang bisa kering dan perlu diisi ulang.

Kapan kasih itu mulai mengalir dalam diri kita? Pada saat Roh Kudus diberikan kepada kita! Dengan kata lain, tatkala Roh Kudus mempertobatkan kita. Karya Roh Kudus dalam proses pertobatan membuat kita menjadi anak-anak Allah (8:15-16). Sejak momen itulah Roh selalu meyakinkan kita tentang status kita sebagai anak-anak Allah. Sebagai anak-anak Allah, kita akan selalu menjadi objek kasih-Nya.

Status inilah yang membuat kita merasa tenang dan nyaman. Kita kadangkala memang tidak mampu memahami rencana dan kebaikan Allah, namun sebagai anak-anak-Nya kita seharusnya meyakini bahwa Bapa di surga pasti selalu memberikan yang terbaik bagi kita. Dia akan mengaruniakan segala pemberian yang baik dan anugerah yang sempurna (Yak 1:17). Dia tidak mungkin memberikan yang jahat kepada anak-anak-Nya (Mat 7:11).

Pengalaman subjektif memainkan peranan penting dalam pertumbuhan rohani. Manusia bukan hanya makhluk intelektual, melainkan juga emosional. Kita berpikir dan merasa. Memahami dan mengalami.

Kasih yang objektif (ayat 6, 8)

Kita seringkai tertipu oleh perasaan sendiri. Perasaan memang kadangkala tidak bisa diandalkan. Apa yang dirasa belum tentu sesuai dengan apa yang ada di realita. Pernahkah kita dianggap GR (alias gede rasa) oleh orang lain? Kita merasa dicintai dan diperhatikan, padahal tidak demikian.

Kasih yang subjektif tidak akan bermakna apabila tidak ditancapkan pada kenyataan. Itu sama sekali bukan kasih. Itu hanyalah sebuah kebohongan yang menyenangkan. Khayalan yang membawa kedamaian.

Paulus beberapa kali menandaskan bahwa kasih ilahi dibuktikan melalui sebuah peristiwa historis, yaitu kematian Kristus. Dia mati bagi kita (ayat 6, 8). Ini adalah demonstrasi kasih Allah yang objektif, ultimat, dan tak berubah. Tidak ada kebaikan ilahi lain yang dapat merampas keutamaan kasih Kristus di kayu salib. Tidak ada kesusahan atau keburukan apapun dalam hidup kita yang bisa mengubah sebuah realita: Kristus memberikan nyawa-Nya bagi kita. 

Bukan hanya itu. Kematian ini terjadi “pada waktu yang ditentukan oleh Allah” (ayat 6b). Secara sintaks, frasa ini bisa menerangkan “ketika kita masih lemah” (NIV “You see, at just the right time, when we were still powerless, Christ died for the ungodly”). Frasa ini juga bisa merujuk pada kegenapan rencana Allah (LAI:TB “Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah”). Galatia 4:4 mengatakan: “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat”. Alternatif manapun yang diambil, frasa ini tetap menandaskan aspek historis dari kematian Kristus. Kisah penebusan bukan sekadar dongeng atau gagasan. Kisah ini benar-benar terjadi di dalam waktu. Di dalam sejarah.

Kasih yang beranugerah (ayat 6-8)

Keagungan sebuah kasih tidak hanya diukur dari harga yang dibayar sebagai pembuktian (Kristus menyerahkan nyawa di kayu salib). Yang tidak kalah penting untuk dipertimbangkan adalah objek kasih. Seseorang yang baik dan menarik tidak akan mengalami banyak kesulitan untuk mendapatkan kebaikan dari orang lain. Seseorang yang berkedudukan pasti memperoleh banyak perhatian dan penghormatan. Ini semua adalah kasih manusiawi. Kita cenderung mengasihi orang yang memang layak untuk dikasihi.

Tidak demikian dengan kasih ilahi. Berkali-kali Paulus menjelaskan siapa kita di hadapan Allah. Kita dahulu adalah orang-orang yang lemah (ayat 6a). Kita dahulu adalah orang-orang durhaka (ayat 6b; lit. “tidak saleh”). Kita dahulu adalah orang-orang berdosa (ayat 8b). Walaupun demikian, Allah tidak menunggu perubahan hidup kita baru Dia menunjukkan kasih-Nya. Justru kasih Allah yang memungkinkan terjadinya perubahan itu. Kasih sejati tidak akan menunggu. Kasih ilahi mengambil insiatif. Ketika kita masih lemah. Masih durhaka. Masih berdosa. Ketika itulah Kristus sudah memutuskan untuk mati bagi kita.

Untuk menjelaskan poin ini, Paulus memberikan sebuah perbandingan dengan fenomena kasih yang biasa terjadi di sekitar kita (ayat 7). Kita pasti pernah mengetahui beberapa kisah kasih yang sangat heroik maupun romantis. Seorang pahlawan mau mengorbankan nyawa demi rakyat jelata dan bangsanya. Seorang ayah harus berhadapan dengan maut tatkala mau melindungi anaknya. Seorang laki-laki rela mengorbankan jiwanya demi melindungi kekasihnya. Tidak peduli sehebat apapun kisah cinta tersebut, tidak akan ada yang dapat menyamai kasih Allah di dalam Kristus kepada kita. Semua kisah cinta di atas ditujukan pada orang yang baik atau orang yang benar. Kasih ilahi ditujukan pada orang yang tidak baik dan tidak benar.

Coba kita renungkan poin ini sejenak. Seandainya Anda melihat seorang asing yang sedang dirampok dan dikeroyok oleh segerombolan anak geng yang nakal, apakah Anda akan mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan orang tersebut? Kita pasti akan berpikir seribu kali. Walaupun orang tak dikenal itu dalam posisi yang benar, kita cenderung hanya mau menolong tanpa mengambil resiko.

Coba pikiran sebuah skenario yang sedikit berbeda. Bagaimana jika yang Anda lihat sedang dirampok dan dikeroyok adalah sahabat, anggota keluarga, atau orang lain yang baik kepada Anda? Apakah Anda semakin terdorong untuk menolong? Tentu saja. Anda bahkan tidak segan-segan untuk menghadang maut demi menyelamatkan orang itu.

Dua skenario di atas menunjukkan bahwa mengasihi orang yang baik memang lebih mudah daripada mengasihi orang yang benar. Kebaikan seringkali lebih kuat daripada kebenaran, dalam kaitan dengan harga sebuah pengorbanan. Mengasihi orang yang baik? Itu wajar! Mengasihi orang yang benar? Itu jarang!

Bagaimana dengan mengasihi orang yang tidak baik dan tidak benar? Bagaimana seandainya orang yang sedang dirampok dan dikeroyok adalah orang yang pernah merampok Anda? Apakah Anda akan mengasihani dia? Apakah Anda akan memberikan secuil pertolongan kepada dia? Anda pasti berpikir sejuta kali untuk melakukannya.

Saya dan Anda adalah korban perampokan di skenario terakhir ini. Kita memusuhi Allah. Tidak ada yang baik dalam diri kita. Tidak ada yang benar dalam hidup kita (3:10-18). Semua manusia berada di bawah murka Allah (1:18; 3:20). Luar biasanya, Kristus justru memilih untuk mati bagi kita. Oh, betapa agungnya kasih Kristus! Terpujilah kasih-Nya yang melampaui segala kata dan realita! Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community