Kesalehan Sebagai Injil Kelima (1 Petrus 2:11-12)

Posted on 21/10/2018 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/kesalehan-sebagai-injil-kelima-1-petrus-2-11-12.jpg Kesalehan Sebagai Injil Kelima (1 Petrus 2:11-12)

Sebagian orang berpikir bahwa pemberitaan Injil hanyalah pemberitahuan secara verbal tentang sebuah konsep teologis. Tidak heran, berita yang disampaikan terdengar begitu kering dan abstrak. Hal ini tentu saja sangat disayangkan.

Injil bukan hanya sebuah konsep. Injil adalah kuasa ilahi yang menghasilkan transformasi diri. Setiap orang Kristen dipanggil untuk menjelaskan berita Injil secara gamblang, sekaligus menunjukkan dampak berita itu bagi kehidupan mereka secara transparan. Ada berita, ada kuasa. Ada informasi, ada transformasi.

Teks kita hari ini akan menunjukkan betapa pentingnya kesalehan hidup dalam upaya kita untuk menjangkau orang lain dengan kasih Kristus. Dalam banyak kasus, kesalehan berbicara lebih kuat daripada pemberitaan. Bukti konkrit tentang kuasa Injil yang mengubahkan seringkali lebih meyakinkan daripada bukti logis tentang kebenaran Injil.

Hal ini tentu saja tidak berarti bahwa yang satu bisa mengganti yang lain. Keduanya harus ada. Pemberitaan harus dibarengi dengan kesalehan. Kita harus mampu memberikan jawaban yang benar tetapi dibungkus dengan sikap yang benar pula (3:15-16).

 

Nasihat untuk hidup saleh

Dalam banyak terjemahan 2:11 dan 2:12 diperlakukan sebagai dua kalimat yang sejajar, seolah-olah Petrus sedang memberikan dua nasihat: menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging (ayat 11) dan memiliki cara hidup yang baik di tengah bangsa bukan Yahudi (ayat 12). Terjemahan semacam ini kurang begitu tepat. Kata kerja di ayat 11 dan 12 tidak sejajar (lihat KJV/ASV). Induk kalimat ada di ayat 11 (indikatif parakalō + infinitif apechesthai), sedangkan ayat 12 merupakan anak kalimat (partisip echontes). Ayat 12 (“memiliki cara hidup yang baik”) merupakan penjelasan terhadap ayat 11 (“menjauhi keinginan-keinginan daging”). Jadi, ayat 11 dan 12 merupakan satu nasihat saja.

Keinginan-keinginan daging (tōn sarkikōn epithymiōn) di ayat 11 mempunyai cakupan arti yang sangat luas, tidak terbatas pada masalah seksual atau kerakusan saja. Di 2:1 Petrus juga menyinggung tentang beragam dosa yang berkaitan dengan pikiran, perkataan, dan hati (“Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah”). Pendeknya, dosa apa saja harus dijauhi.

Nasihat ini sangat relevan bagi penerima surat. Mereka adalah kelompok minoritas yang sedang menghadapi tekanan. Loyalitas dan ketaatan mereka kepada Yesus Kristus bukan hanya dipandang aneh oleh banyak orang, tetapi juga sebagai ancaman dan perlawanan terhadap budaya yang ada. Tanpa berbuat jahat saja orang-orang Kristen sudah berkali-kali difitnah (2:12; 3:16). Tidak sedikit dari mereka yang harus menderita karena kebenaran (2:19-20). Dengan menjauhi segala macam dosa, mereka telah menutup celah yang lebih besar bagi orang lain untuk melancarkan tuduhan dan fitnahan. Penderitaan memang tidak terelakkan, namun penderitaan akibat kesalahan adalah tidak diperlukan dan sangat disayangkan.

 

Alasan-alasan di balik kesalehan

Petrus tidak hanya memberikan nasihat. Dia juga menyediakan alasan-alasan yang cukup bagi nasihat itu. Mengapa kita perlu menunjukkan kehidupan yang saleh?

Pertama, karena status kita berbeda dengan orang-orang lain (ayat 11a). Sapaan “saudara-saudara yang kekasih” (agapētoi) bukan sekadar sapaan biasa yang tanpa makna. Para penerima surat adalah orang-orang yang dikasihi oleh Allah. Mereka adalah umat kepunyaan Allah yang menerima belas-kasihan dari Dia (2:9-10). Dunia bisa membuang dan merendahkan mereka, tetapi hal itu tidak akan mengubah sebuah fakta: melalui kasih Allah di dalam Kristus Yesus mereka menyandang beragam status istimewa di ayat 9-10. Mereka berbeda dengan dunia.

Perbedaan ini dipertegas dengan sebutan “pendatang dan perantau” (paroikos dan parepidēmos). Dua kata ini mempunyai arti yang sangat berdekatan dan beberapa kali muncul secara bersamaan, sehingga kita tidak perlu membedakan keduanya. Ini adalah sebuah ungkapan. Abraham menggambarkan dirinya sebagai pendatang dan perantau di tanah Kanaan (Kej. 23:4, paroikos dan parepidēmos). Pada saat itu dia memang belum memiliki tanah Kanaan. Yang akan memiliki tanah itu adalah keturunan-keturunannya (bdk. Kej. 12:1-3). Begitulah keadaan kita di dunia ini. Kita tidak memiliki harta apapun yang permanen di bumi ini. Tidak seharusnya hati kita terpikat pada hal-hal yang duniawi.

Ungkapan paroikos dan parepidēmos juga muncul di Mazmur 39:13. Di sana pemazmur sedang menggambarkan kesementaraan hidup manusia. Dia memohon kepada Allah: Dengarkanlah doaku, ya TUHAN, dan berilah telinga kepada teriakku minta tolong, janganlah berdiam diri melihat air mataku! Sebab aku menumpang pada-Mu, aku pendatang seperti semua nenek moyangku”. Begitu juga dengan keadaan kita di dunia ini. Semua adalah sementara. Akan ada langit dan bumi yang baru yang jauh lebih baik daripada yang sekarang (2Pet. 3:13; Why. 21:1-22:5). Di sanalah kita akan tinggal selama-lamanya.

Kedua, karena pergumulan dalam diri kita (ayat 11b). Di dalam Kristus Yesus dan melalui karya Roh Kudus, Allah telah menguduskan kita seluruhnya (1:2). Namun, hal ini bukan berarti bahwa pergumulan melawan dosa sudah berakhir. Kita masih hidup di dalam daging dengan segala keinginannya. Dengan kata lain, kita masih harus mengontrol dan mengalahkan hawa nafsu daging. Ditambah dengan tawaran dunia yang menggiurkan dan tipu-daya Iblis yang licik, pergumulan ini menjadi semakin tidak mudah.

Petrus menggambarkan kesulitan ini dengan sebuah kata yang diambil dari dunia militer atau peperangan, yaitu kata “berjuang” (strateuomai). Hampir semua versi lain menerjemahkan kata ini dengan “bertempur” atau “berperang”. Ada usaha yang keras yang tersirat di balik kata ini. Keinginan-keinginan daging bukan sekadar menawarkan dosa atau mendorong kita pada dosa. Mereka benar-benar ingin mengalahkan jiwa kita. Mereka akan berjuang begitu rupa untuk menaklukkan kita. Itulah natur berdosa yang masih melekat pada kita.

Jika kita hanya bersikap pasif, kita pasti kalah. Persandaran kepada Roh Kudus bukan pengganti bagi kepasifan. Keyakinan terhadap kesempurnaan karya Kristus di kayu salib bukan alasan untuk hidup secara sembarangan. Dengan iman kepada Kristus, melalui kuasa Roh Kudus, dan oleh anugerah Bapa, kita dimampukan untuk memenangi pertempuran melawan hawa nafsu. Iman dan persandaran itu diwujudkan melalui kewaspadaan dan keseriusan kita dalam mengontrol setiap keinginan daging.

Ketiga, karena keselamatan orang lain (ayat 12). Kesalehan bukan hanya tentang kita dan Allah. Ini juga menyentuh kehidupan orang lain. Di dalam anugerah-Nya, Allah bisa menggunakan kesalehan kita sebagai jembatan menuju keselamatan bagi orang lain. Dia menerangkan bahwa tujuan dari kesalehan adalah “supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka” (ayat 12b).

Bagian terakhir dari ayat ini sebenarnya berbunyi “supaya mereka memuliakan Allah pada hari kedatangan”. Tidak terlalu jelas siapa yang dilawat dan untuk apa kedatangan itu. Sebagian penafsir memahami “hari kedatangan” (hēmera episkopēs) dengan kaitan dengan penghakiman atas orang-orang yang tidak percaya. Maksudnya, di akhir zaman nanti para pemfitnah dan penentang kekristenan akan dipaksa untuk memuliakan Allah pada saat Dia menghukum mereka semua.

Tafsiran di atas tampaknya tidak terlalu tepat. Konteks surat 1 Petrus secara keseluruhan memang menunjukkan nilai penting kesalehan di mata orang-orang luar. Mereka yang memfitnah akan merasa malu apabila mereka melihat kesalehan orang-orang Kristen (3:15-16). Para isteri dapat memenangkan suami mereka kepada Kristus tanpa kata-kata, yaitu apabila mereka menunjukkan kesalehan dan ketundukan (3:1-2). Hal ini juga sesuai dengan ajaran Tuhan Yesus: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga”(Mat. 5:16).

Sudahkah Anda menghidupi Injil yang Anda beritakan? Apakah kuasa Injil itu sudah tampak dalam diri Anda? Maukah kita dipakai oleh Allah sebagai sarana untuk membawa orang lain pada Kristus? Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community