Kelahiran-Nya Yang Mengagetkan (Matius 1:1-17)

Posted on 30/12/2018 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/kelahiran-nya-yang-mengagetkan-matius-1-1-17.jpg Kelahiran-Nya Yang Mengagetkan (Matius 1:1-17)

Hampir setiap keluarga memiliki aib dan kisah pilu. Mereka menyimpan kehancuran dan masa lalu yang kelam. Walaupun semua keluarga berbagi cerita yang sama, cara mereka menyikapinya berbeda-beda. Ada yang mencoba menyangkali dan menutupi semua itu dengan pencitraan di luar. Ada pula yang membiarkan diri mereka tenggelam dalam penyesalan dan kehinaan. Yang lain memilih sikap yang bijaksana: memandang kehinaan masa lalu dari perspektif rencana keselamatan Allah yang besar. Kehinaan untuk direngkuh supaya kita menjadi pribadi yang lebih utuh.

Itulah berita Natal pada hari ini. Yesus Kristus tidak lahir dari keluarga yang sempurna. Banyak cerita dalam keluarganya. Tidak semua membanggakan, tetapi semua patut dikenang. Kehancuran dan kehinaan kita seringkali menjadi panggung besar untuk menampilkan kemurahan dan anugerah Allah. Justru di panggung itulah kita menemukan kehancuran kita diganti dengan keutuhan dan kehinaan diganti dengan kemuliaan.

 

Keturunan rajawi yang hebat

Pengharapan mesianis sangat marak pada abad ke-1 Masehi. Berbagai aspek terkait dengan kedatangan mesias. Konsep mesianis yang beredar pun cukup beragam. Salah satu konsep yang dominan adalah Mesias dari keturunan Daud. Mesias akan datang menjadi raja atas Israel untuk selama-lamanya. 

Aspek ini juga diyakini dan diajarkan oleh Matus melalui beragam cara. Salah satunya adalah silsilah di 1:1-17. Tidak sukar untuk menemukan Daud sebagai fokus sorotan dalam silsilah ini. Matius memang terlihat lebih menekankan Yesus Kristus sebagai anak Daud daripada anak Abraham. Walaupun Yesus Kristus juga anak Abraham, tetapi nama Daud muncul lebih dahulu (1:1 “Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham”). Pengaturan silsilah ke dalam pola 14 x 3 juga masih berkaitan dengan Daud. Angka 14 didapat dari nama Daud dalam Bahasa Ibrani (D = 4, W = 6 dan D = 4). Itulah sebabnya dalam daftar nama di ayat 2-16 nama Daud muncul beberapa kali, sekaligus sebagai poin sentral pada kelompok pertama dan kedua: dari Abraham ke Daud, dari Daud ke pembuangan, dari pembuangan ke Yesus Kristus. Bahkan untuk memberi penekanan pada Daud, Matius sengaja tidak memasukkan nama tertentu dan hanya menuliskan “pembuangan”, sehingga dari Abraham sampai Yesus Kristus cuma ada nama Daud.

Perikop-perikop selanjutnya pun masih berhubungan dengan Daud. Dalam mimpinya, Yusuf dipanggil dengan sebutan “Yusuf, anak Daud” (1:20). Kelahiran Yesus Kristus terjadi di Betlehem, kota Daud (2:5-6). Dia disebut sebagai pemimpin Israel yang akan menggembalakan mereka. Jadi, kisah Natal di Matius 1-2 berfokus pada aspek rajani Yesus Kristus. Dia adalah keturunan Daud yang akan menjadi raja atas Israel dan seluruh bumi.

 

Sisi lain yang suram

Sebagai seorang keturunan raja terbesar Israel, yaitu Daud, Yesus Kristus memang terlihat mentereng. Namun, ini bukanlah keseluruhan cerita. Masih ada sisi lain. Sisi yang gelap.

Jika kita mencermati silsilah di 1:1-17, kita akan menemukan beberapa keunikan silsilah ini jika dibandingkan dengan silsilah-silsilah lain di Alkitab (misalnya Kej. 5:1-32; Luk. 3:23-38). Kunikan ini bertabrakan dengan pandangan kultural pada waktu itu.

Pertama, perempuan. Dalam budaya Yahudi kuno yang patriakhal, perempuan tidak mendapatkan penerimaan dan penghormatan yang seharusnya. Mereka dianggap di bawah laki-laki. Hampir tidak pernah ada silsilah yang mencantumkan nama perempuan. Bahkan silsilah dibuat untuk menunjukkan keturunan dari pihak laki-laki.

Menariknya, Matius menyertakan empat nama perempuan dalam silsilahnya: Tamar, Rahab, Rut, dan isteri Uria (Batsyeba). Yang paling menarik jelas ada di ayat 16 “Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus”. Dalam ayat ini Yusuf disebut “suami Maria”. Selain itu, dalam teks Yunani, frasa “yang melahirkan” berjenis kelamin feminin (merujuk pada Maria).

Kedua, non-Israel. Orang-orang Yahudi sangat membanggakan bangsa mereka. Kemurnian sebagai orang Yahudi sangat dikedepankan. Mereka menganggap diri lebih tinggi daripada bangsa-bangsa lain. Berbagai bukti bahkan menunjukkan bahwa mereka memandang rendah bangsa-bangsa lain.

Silsilah di ayat 1-17 mungkin cukup mengagetkan bagi orang-orang Yahudi. Yesus Kristus ternyata tidak sepenuhnya berasal dari keturunan Israel. Beberapa nama perempuan yang disebutkan dalam silsilah ini sangat mungkin bukan orang Israel. Tamar dan Rahab adalah penduduk Kanaan. Ruth orang Moab. Isteri Uria (Batsyeba) orang Het.

Alasan Matius menyertakan nama-nama ini mungkin berhubungan dengan universalitas keselamatan yang akan dibawa oleh Yesus Kristus. Bukan kebetulan kalau Matius memilih untuk menceritakan kisah kedatangan orang-orang majus dari timur (luar Israel). Dia ingin menunjukkan bahwa keselamatan adalah untuk segala bangsa. Jika benar demikian, Matius 1 membentuk sebuah inklusio yang indah dengan Matius 28. Keduanya sama-sama berbicara tentang keselamatan bagi semua bangsa (bdk. 1:3, 5-6; 2:1-12; 28:19-20). Keduanya juga menyinggung tentang Allah yang menyertai umat-Nya (1:23; 29:20b).

Ketiga, perempuan tidak sempurna. Baik Tamar, Rahab, Ruth dan Batsyeba berbagi kesamaan. Mereka sama-sama bukan perempuan ideal. Beberapa bahkan layak dikategorikan sebagai pendosa.

Tamar berzinah dengan Yehuda, mertuanya (Kej. 38:). Rahab adalah seorang pelacur di Yerikho (Yos. 2:1-24). Rut adalah janda dari Moab yang nyaris kehilangan harapan hidup (Rut 1-3). Batsyeba adalah isteri Uria yang diajak berzinah oleh Daud (2Sam. 11-12).

Walaupun kesalahan tidak sepenuhnya berada di pundak perempuan-perempuan ini, tetapi kehidupan mereka tetap jauh dari ideal. Jika seseorang boleh memilih nenek moyangnya sendiri, dia pasti akan memilih nama-nama lain yang jauh dari kesan negatif. Di mata orang Israel, pezinah, pelacur dan janda tidak mendapat tempat terhormat.

Bagaimana dengan kita? Apakah ada di antara kita yang berasal dari keluarga yang tidak bahagia? Memiliki masa lalu yang pilu? Peristiwa traumatis yang sukar dilupakan? Kesalahan fatal yang masih mengganggu pikiran? Biarlah momen Natal kali ini mengingatkan kita untuk berani mengakui dan merengkuh semua itu. Kita tidak mungkin mengubahnya, tetapi kita bisa menyikapinya dengan bijaksana. Biarlah kehancuran dan kehinaan kita menjadi sarana kemuliaan Allah. Biarlah melalui kelemahan kita orang lain bisa melihat kekuataan Allah. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community