Kedaulatan Allah Atas Gereja: Berkah di Balik Masalah (Kisah Para Rasul 6:1-7)

Posted on 19/07/2015 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/berkah_dibalik_masalah.jpg Kedaulatan Allah Atas Gereja: Berkah di Balik Masalah  (Kisah Para Rasul  6:1-7)

Pendahuluan:

Gereja mula-mula di dalam pasal-pasal sebelumnya harus mengalami berbagai penolakan bahkan penganiayaan yang datang dari pihak luar. Ternyata Tuhan mengijinkan gereja mengalami tantangan dari luar dengan sebuah tujuan yaitu agar gereja mengalami perkembangan hingga ke ujung bumi. Setelah Injil tersebar lebih luas dan lebih banyak orang yang mendengar Injil, gereja mengalami persoalan yang baru. Kali ini persoalan tidak datang dari pihak luar, tetapi dari pihak dalam.

Sekalipun semua terjadi dalam control Tuhan dan Allah memiliki tujuan tersendiri. Sedangkan Iblis memiliki tujuan yang berbeda, ia sebaliknya ingin menyerang gereja agar terjadi perpecahan), Kita harus waspada terhadap serangan Iblis, karena ia ingin memecah-belah kita dengan memberikan rasa iri, sentimen, benci, dsb. Jika kita waspada dan menyelesaikan semua persoalan dengan baik, maka persoalan ini dapat berguna untuk pengembangan pekerjaan Tuhan, jika kita tidak waspada, maka Iblis yang akan mendapat keuntungan.

Mari kita melihat persoalan yang dialami oleh gereja di dalam teks ini, bagaimana para rasul menyelesaikannya dan dampaknya bagi kerajaan Allah.

I) Persoalan di dalam gereja (ay 1).

Mula-mula pelayanan meja ditangani oleh para rasul sendiri. Kisah para rasul 4:35,37 menceritakan bahwa persembahan untuk orang miskin diletakkan di depan kaki rasul-rasul. Dari teks ini kita tahu bahwa mungkin sekali sampai saat itu, pelayanan meja ditangani oleh rasul-rasul sendiri. Tetapi akhirnya mereka menjadi kewalahan menangani hal itu, setelah jumlah jemaat menjadi lebih banyak.

Setelah gereja mengalami pertambahan jumlah anggota, kebutuhan pelayan juga meningkat. Secara khusus yang melayani sebagai “pelayan meja” (bahasa aslinya: διακονίᾳ/ diakonia; RSV menerjemahkan: “distribution of food”) atau mereka yang mengatur pembagian makanan kepada orang miskin termasuk para janda. Kisah Para Rasul 2:41 menyebutkan jumlah orang percaya waktu itu adalah 3.000 orang dan semakin bertambah seperti yang terlihat di ayat 1. Sedangkan rasul-rasul hanya 12 orang. Tentunya bisa dibanyangkan bahwa pelayanan meja tidak dapat berjalan dengan baik, sekalipun para rasul menginginkan yang terbaik. Hal ini menjadi alasan timbulnya masalah di dalam gereja. Lukas memberikan informasi bahwa orang yang berbahasa Yunani bersungut-sungut karena pembagian kepada janda mereka diabaikan. Keluhan ini mungkin saja salah. Mungkin mereka hanya merasa seolah-olah diperlakukan dengan tidak adil. Atau mungkin juga memang terjadi ketidakadilan, tetapi yang tidak disengaja oleh sebab sedikitnya para rasul yang harus melayani ribuan jemaat.

Masalah ini bisa memberikan dampak buruk jika tidak diselesaikan dengan baik. Bagaimana para rasul menyelesaikan masalah ini?

II) Cara para rasul menyelesaikan masalah

Para rasul pun memiliki kerinduan yang sama: mereka ingin melayani jemaat dengan sepenuh-penuhnya.

Tindakan para rasul di dalam menyelesaikan persoalan ini menunjukan bahwa mereka memiliki kerinduan agar tidak ada pelayanan yang diabaikan.Mereka ingin pelayanan terhadap orang miskin dapat dilakukan dengan sepenuh-penuhnya. Sebagaimana mereka ingin pelayanan Firman dikerjakan dengan kesungguhan dan fokus (perhatikan frase dalam ay.4: “supaya kami memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman), demikian juga dengan pelayanan meja. Pelayanan ini sekalipun terlihat remeh hanya mengumpulkan, menghitung, membagikan, mencatat dsb, namun mereka memandangnya sebagai pelayanan yang penting dan harus dikerjakan secara optimal.

Para rasul ingin mencari orang khusus untuk melayani sebagai pelayan meja bukan semata-mata karena pelayanan Firman lebih utama dari pelayanan meja, tetapi karena panggilan mereka sebagai pelayanan Firman sangat jelas, sehingga mereka harus mengutamakan pelayanan Firman. Pelayanan mejapun harus diutamakan tetapi bukan oleh mereka, tetapi oleh mereka yang terpanggil untuk itu. Para rasul ingin masing-masing pelayanan bisa dikerjakan dengan lebih fokus dan maksimal.

Ini adalah karakter seorang hamba Tuhan. Hamba Tuhan yang baik tidak harus melakukan semua pelayanan di gereja, tetapi ia harus mengatur sedemikian rupa agar semua pelayanan dapat dikerjakan sepenuh-penuhnya dan tidak ada pelayanan yang diabaikan.

Rasul-rasul pun menyadari kekurangan mereka (ayat 2).

Mereka mempelajari penyebab timbulnya masalah. lalu menemukan bahwa diri merekalah yang harus dipersalahkan: “mereka melalaikan firman Allah untuk melayani meja” (Kis. 6 :2). Kata “melalaikan” (καταλείψαντας atau giving up) artinya berhenti melakukan sesuatu atau mengabaikan sesuatu untuk yang lain. Karena terlalu sibuk untuk berdoa dan mengajar Firman Tuhan dan juga melayani diakonia, maka pelayanan mereka menjadi tidak fokus, tidak maksimal, dan ada yang merasa terabaikan.

Yang menarik adalah para rasul tidak membela dirinya dengan menjelaskan semua kesibukan mereka di dalam pemberitaan Injil. Tetapi dengan rendah hati mereka mengakui bahwa problem itu adalah kekurangan mereka. Ini adalah karakter yang harus ada dalam diri setiap anak Tuhan, yaitu kebijaksanaan di dalam mengevaluasi diri dan kerendahan hati di dalam mengakui kekurangan. Tanpa dua karakter ini (kebijaksanaan dan kerendahhatian) seseorang akan menjadi sombong dan berdosa, dengan demikian sesungguhnya pekerjaan Tuhanlah yang dikorbankan. Mengapa? Karena semua bidang berjalan dengan tidak optimal sebab dikerjakan hanya oleh satu orang, kedua karena jemaat yang lain tidak dilibatkan dalam pelayanan padahal mungkin mereka dipanggil untuk pelayanan tertentu. Akhir dari semuanya pertumbuhan dan pengaruh gereja akan menjadi sangat lambat.

Rasul-rasul mengatur prioritas pelayanan mereka

LAI menerjemahkan “Kami tak merasa puas” (ay.2) . Beberapa versi bahasa Inggris (misalnya NIV dan RSV) menerjemahkannya “adalah yang tidak benar, jika kami mengabaikan pelayanan Firman demi melakukan pelayanan diakonia”. Apakah para rasul sedang mengajarkan bahwa pelayanan diakonia tidak penting, hanya pelayanan Firman yang penting? Tentu tidak. Para rasul tahu dengan jelas bahwa Tuhan telah memanggil mereka dan mengkhususkan mereka untuk berkhotbah. Mereka tidak boleh meninggalkan pengajaran Firman. Bagi para rasul kemampuan untuk melakukan yang prioritas dan mempercayakan yang lain kepada orang yang tepat adalah cerminan dari seorang pemimpin yang baik.

Revised Standard Version menerjemahkan “It is not pleasing” atau “ini tidak menyenangkan”. Tentunya tidak menyenangkan bagi Allah. Allah tidak senang jika mereka yang dipanggil untuk mengajar Firman kehabisan waktu dan energinya untuk melayani meja dan mengabaikan pelayanan Firman atau sebaliknya mereka yang panggilannya adalah pelayanan meja memaksakan dirinya untuk melayani di bidang pelayanan yang lain dan mengabaikan pelayanan meja. Ketidaksesuaian pelayanan dengan panggilan akan merugikan pekerjaan Allah dan Allah tidak senang.

Rasul-rasul mendelegasikan tugas kepada orang lain

Para rasul memanggil murid-murid (ay.2) dan menjelaskan panggilan mereka yaitu untuk pemberitaan Firman. Para rasul di sini mengajarkan kepada pada jemaat agar bekerja sesuai dengan panggilan Allah. Para rasul memulai dengan menjelaskan panggilan diri mereka sendiri terlebih dahulu. Bahwa mereka dipanggil dan dikhususkan untuk menyampaikan Firman. Mereka punya waktu dan kekuatan yang tidak cukup untuk dapat mengerjakan pelayanan yang lain dengan fokus.

Para rasul juga mengakui kekurangan mereka dan memberikan solusi untuk kekurangan itu. Mereka mengusulkan agar dipilih tujuh orang dari antara umat untuk tugas diakonia untuk membantu orang-orang yang berkekurangan agar pelayanan ini dapat berjalan lebih baik dan adil. Dengan demikian pelayanan meja berjalan optimal, demikian juga pelayanan firman. Usulan solusi itu diterima dengan baik dan dilaksanakan.

Kerinduan para rasul agar pelayanan ini berjalan baik terlihat betapa berhati-hatinya mereka di dalam merekrut orang yang akan bertugas. Rasul-rasul memberikan syarat-syarat (ay 3). Pertama, mereka haruslah “Terkenal baik” NASB menerjemahkan “of good reputation” (mempunyai reputasi yang baik). Kedua, “Penuh Roh”, ini bisa terlihat bukan dari karunia bahasa Roh, tetapi dari buah roh (Gal. 5:22-23) dalam hidup mereka. Dan yang ketiga, “Penuh hikmat”, artinya: Mengerti Firman Tuhan ( Maz. 119:98-100), dan takut kepada Allah (Ams. 1:7).
Dari kualifikasi yang ditetapkan para rasul terlihat bahwa pelayanan diakonia bukan pelayanan yang remeh. Tidak ada pelayanan yang remeh yang bisa dilayani oleh orang yang sembarangan. Semua pelayanan bagi kerajaan Allah harus dilakukan oleh mereka-mereka yang dikenal baik, penuh Roh dan hikmat, agar setelah mereka melayani mereka tidak ditolak.

III) Hasil akhir (ay 7).

Cara memandang masalah dan cara menyelesaikan persoalan menentukan hasil. Ketika para rasul memandang masalah dengan benar dan menyelesaikan persoalannya dengan tepat, maka pelayanan Firman dilakukan dengan lebih fokus karena mereka tidak harus pecah konsentrasi untuk pelayanan yang lain, demikian juga dengan pelayanan meja bisa dikerjakan oleh orang-orang khusus dengan fokus yang penuh. Dengan pelayanan yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan tidak ada yang dikorbankan maka sungut-sungut tidak ada lagi, bahkan Firman Allah makin tersebar dan jumlah murid Tuhan di Yerusalem semakin bertambah banyak bahkan para imampun menyerahkan diri dan menjadi percaya (ay.7).

Para imam mungkin termasuk orang yang “sulit” untuk dijangkau menurut mata jasmani manusia, mereka adalah orang yang sangat menentang Injil. Namun dengan doa dan penyampaian Injil yang fokus, mereka menyerahkan diri dan percaya.

Gereja sepanjang zaman tidak akan lepas dari persoalan internal maupun eksternal. Di dalam kedaulatan-Nya, Allah mengijinkan semuanya terjadi. Sejarah membuktikan bahwa seringkali persoalan yang Tuhan ijinkan justru mendatangkan berkat. Dengan penganiayaan murid Tuhan di Yerusalem, Injil semakin menyebar sampai ujung dunia. Ketika persoalan itu timbul di dalam internal gereja, Tuhanpun mendatangkan berkat dengan dibangkitkannya tujuh diaken pertama yang membuat pelayanan kepada Tuhan semakin efektif.

Penutup:

Di dalam gereja akan terus terjadi persoalan. Kita harus belajar untuk memandang persoalan dalam gereja dengan tepat. Pelayanan akan menjadi efektif atau sebaliknya pelayanan yang semakin merosot ditentukan dari cara kita memandang dan menyelesaikan persoalan. Ketika kita melihat persoalan secara tepat kita akan menemukan kekurangan kita, mengoptimalkan orang lain, mengatur prioritas kita dan menyelesaikannya dengan hikmat dan pimpinan Tuhan, maka pekerjaan Tuhan justru semakin maju, sebaliknya jika kita memandang persoalan dengan salah dan menyelesaikannya dengan hikmat sendiri maka iblislah yang akan mengambil keuntungan.

Kiranya semua kita dipimpin oleh Tuhan, agar dapat waspada dan siap menyelesaikan semua persoalan dengan baik dan dengan demikian pekerjaan Allah semakin diperluas. Amin

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community