Kebangkitan Kristus, Pengharapan Kita (2 Korintus 4:7-12)

Posted on 12/04/2020 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/kebangkitan-kristus-pengharapan-kita-2-korintus-4-7-12.jpg Kebangkitan Kristus, Pengharapan Kita (2 Korintus 4:7-12)

Dunia menyukai kehebatan. Kekuatan ditonjolkan. Kelemahan disembunyikan. Sebisa mungkin orang ingin terlihat sempurna. Apapun dilakukan untuk mencapainya. Bahkan harga diripun diletakkan di atasnya. Kalau tidak hebat seolah-olah kehidupan sudah tamat.

Alkitab mengajarkan prinsip hidup yang berbeda. Kelemahan tidak terelakkan dalam kehidupan. Kelemahan tidak perlu disembunyikan. Justru dalam kelemahan kekuatan Tuhan dinyatakan. Ada pengharapan di dalam kelemahan.

Bagaimana kita seharusnya memandang kekuatan dan kelemahan dalam kehidupan? Bagaimana kebangkitan Kristus selalu memberikan pengharapan di tengah berbagai kelemahan? Teks kita hari ini merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan semacam ini.

Sebelum kita menyelidiki teks kita secara detil, kita perlu memahami alur berpikir Paulus dalam bagian ini sesuai dengan struktur kalimat yang ada. Inti kalimat terletak di ayat 7: harta dimiliki dalam bejana tanah liat supaya menunjukkan kekuatan Allah. Ayat 8-10 berisi deretan anak kalimat partisip yang menerangkan bagaimana wujud konkrit dari prinsip di ayat 7. Dua ayat terakhir (ayat 11-12) merupakan penegasan ulang atau penjelasan bagi ayat 10.

 

Harta dalam bejana tanah liat (ayat 7)

Kata “harta ini” (ton thÄ“sauron touton) merujuk balik ke bagian sebelumnya. Secara lebih khusus, kata itu merujuk pada ayat 6b, yaitu terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. Terang ini sangat berharga, karena berasal dari Allah (4:6a). Tanpa intervensi Allah, terang itu tidak mungkin akan terlihat, karena Iblis telah membutakan mata semua orang sehingga “mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah” (ayat 4b). Kekayaan Injil ini menjadi bagian/harta orang-orang percaya.

Walaupun harta tersebut sangat mulia, tetapi kemasannya adalah bejana tanah liat. Figurasi bejana tanah liat sering digunakan oleh banyak orang, dalam berbagai konteks, dan dengan pelbagai penekanan analogi. Dalam konteks ini bejana tanah liat menyiratkan sesuatu yang tidak berharga dan lemah. Tidak berharga merupakan kontras terhadap harta (ayat 7a), sedangkan lemah merupakan kontras terhadap kekuatan Allah (ayat 7b).

Poin dalam figurasi ini pasti dengan mudah ditangkap oleh masyarakat kuno. Hampir setiap hari mereka menggunakan bejana tanah liat, misalnya untuk mengambil air, minum air (kendi), menakar biji-bijian, dan sebagainya. Bejana tanah liat sangat murah dan mudah didapatkan. Di samping itu, bejana tanah liat juga mudah retak dan hancur. Barang-barang semacam itu memang tidak dimaksudkan untuk digunakan dalam jangka waktu yang lama. Begitu retak ya langsung dibuang karena tidak ada gunanya lagi.

Jika suatu harta diletakkan di dalam bejana tanah liat, yang terlihat dari luar adalah bejana itu. Dengan kata lain, kelemahan dan ketidakberhargaan bejana tanah liat lebih mudah terlihat daripada harta di dalamnya. Seperti itulah Paulus menggambarkan dirinya dan pelayanannya.

Apa yang diungkapkan oleh Paulus di sini terbilang luar biasa. Dengan semua pengurbanan dan kelebihan yang dia miliki, Paulus memiliki banyak alasan untuk memegahkan diri. Ketika menulis surat ini dia sendiri sedang difitnah (4:2) dan dibandingkan dengan para rasul palsu yang sok hebat (11:4-6). Godaan untuk menjadi sombong semakin menggelembung. Puji Tuhan! Paulus tetap mengingat bahwa dia hanyalah tanah liat yang tidak berharga dan lemah.

Dengan mengakui, merengkuh dan menceritakan kelemahan-kelemahannya, Paulus ingin menegaskan kekuatan dari Allah yang melimpah yang terus bekerja di dalam dirinya (4:7b). Memuliakan Allah tidak bisa berjalan beriringan dengan memuliakan diri sendiri. Cara menonjolkan kekuatan Allah adalah dengan menonjolkan kelemahan kita sendiri. Paulus sangat menyadari ini. Dia telah melalui ujian keputusasaan dalam pelayanan sehingga dia benar-benar mengalami kekuatan Tuhan (1:8-9). Dengan merengkuh semua kelemahan dia justru bisa berkata: “ketika aku lemah, aku kuat” (12:9-10).

 

Wujud konkrit kelemahan diri dalam kekuatan Allah (ayat 8-12)

Jika Paulus berhenti di ayat 7, kita akan mengalami kesulitan untuk mengetahui kenyataan di balik figurasi tersebut. Kelemahan diri yang menonjolkan kekuatan Allah bisa berwujud banyak hal. Melalui deretan anak kalimat partisip Paulus berusaha menerangkan wujud konkrit dari prinsip hidup di ayat 7.

Wujud yang pertama adalah penyertaan Allah dalam pelayanan yang berat (ayat 8-9). Delapan partisip di bagian ini harus dianggap sebagai kesatuan karena berbentuk paralelisme yang kontras. Bagian awal menunjukkan kelemahan diri sendiri, bagian akhir menunjukkan kekuatan Allah.

Di ayat 8a Paulus menjelaskan bahwa dia ditindas dalam segala hal (en panti thlibomenoi) tetapi tidak terjepit (ou stenochōroumenoi). Frasa en panti thlibomenoi akan muncul lagi di 7:5, yang merujuk pada persoalan internal maupun eksternal, sehingga frasa ini lebih tepat diterjemahkan “ditekan dari segala sisi”. Berdasarkan pemunculan kata kerja stenochōreomai di 6:12 (“membatasi ruang gerak”), frasa ou stenochōroumenoi lebih baik diterjemahkan “tidak terhimpit/terjepit”.

  Pasangan partisip selanjutnya (ayat 8b) mengandung permainan kata: habis akal (aporoumenoi) tetapi tidak putus asa (exaporoumenoi). Kata aporeō seringkali merujuk pada kebingungan atau ketidaktahuan (Luk. 24:4; Yoh. 13:22; Kis. 25:20). Dalam tulisan Paulus yang lain kata ini digunakan untuk keheranan Paulus yang tidak bisa memahami mengapa jemaat Galatia mau berpindah dari Injil kepada Hukum Taurat lagi (Gal. 4:20). Terjemahan LAI:TB “tidak putus asa” (ou exaporoumenoi) sudah tepat, karena kata exaporoumenoi sudah muncul sebelumnya  di surat 2 Korintus dengan arti “putus asa” (1:8). Dari sini terlihat bahwa kebingungan dan ketidaktahuan bukanlah alasan untuk berputus asa.

Berikutnya adalah “dianiaya tetapi tidak ditinggalkan sendirian” (ayat 9a). Kata “dianiaya” (diōkomenoi) secara hurufiah mengandung arti “dikejar” (lihat Rm. 9:30-31; 14:19; 1Kor. 14:1). Jadi kata ini bukan sekadar menganiaya, tetapi juga berusaha sekuat tenaga untuk mengejar dan membinasakan (Gal. 1:13, 23). Dalam pengejaran musuh seperti ini Paulus mengalami bahwa Allah tidak pernah meninggalkan dia. Allah selalu ada pada saat yang dia paling butuhkan. Walalupun beberapa rekan pelayanan meninggalkan dia (2Tim. 4:10, 16) Paulus tetap meyakini bahwa Allah selalu menyertainya.

Pasangan partisip yang terakhir adalah “dihempaskan tetapi tidak binasa” (ayat 9b). Kata “dihempaskan” (kataballomenoi) lebih ke arah diletakkan di bawah (Ibr. 6:1). Makna yang tersirat mungkin “dihempaskan atau diruntuhkan ke tanah” (2Sam. 20:15; 2Raj. 6:5; 2Taw. 32:21). Kata “binasa” (apollumi) lebih ke arah “tidak ada lagi” (Kis. 5:37; Kis. 27:34; Luk. 5:37; 8:24).         

Wujud kedua adalah mencerminkan kematian dan kehidupan Kristus (ayat 10-12). Banyak orang ingin menjadi seperti Kristus dalam hal kuasa. Lebih sedikit lagi yang ingin menjadi seperti Dia dalam hal karakter. Yang paling sedikit tentu saja adalah menjadi seperti Dia dalam kematian. Paulus termasuk salah satu dari segelintir orang pada kelompok terakhir ini. Dia selalu membawa kematian Yesus dalam tubuhnya (ayat 10a).

Apa arti dari frasa “membawa kematian Yesus”? Sesuai dengan teks Yunani, terjemahan “kematian” di sini sebenarnya tidak seberapa tepat. Yang dimaksud bukan “kematian” (biasa dipakai kata thanatos), tetapi proses kematiannya (nekrōsis; KJV/NASB/YLT “the dying of Jesus”). Jadi yang dipikirkan Paulus adalah keseluruhan proses yang membawa Yesus pada kematian, bukan hanya pada saat kematian tiba. Dengan kata lain, frasa “membawa kematian Yesus” berarti menanggung semua penderitaan yang mengarah pada kematian.

Arti di atas dipertegas dengan penggunaan kata “senantiasa” (pantote, ayat 10a) dan “terus-menerus” (aei, ayat 11a). Jika yang dimaksud adalah kematian, peristiwa itu tentu saja tidak bisa terjadi berulang kali. Selain itu, kata “diserahkan” (paradidometha, dari kata paradidōmi) juga sering digunakan untuk peristiwa Yesus diserahkan untuk disalibkan (Mat. 26:2, 15, 16, 21, 23, 24, 25, 45, 46, 48; Rm. 4:25; 8:32, dst).

Tujuan dari “membawa kematian Yesus” adalah supaya kehidupan Yesus dinyatakan. Bukan dinyatakan nanti di akhir zaman saja, tetapi sekarang: “di dalam tubuh” (ayat 10b). Secara lebih spesifik, di dalam tubuh yang fana (ayat 11b). Tubuh kita memang lemah dan semakin merosot (4:16), tetapi kehidupan Kristus bisa dinyatakan di dalamnya (4:10b, 11b).

Bagaimana caranya? Paulus menjelaskan di ayat 12: “demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu”. Hidup bukan giat di dalam diri Paulus, tetapi dalam diri jemaat Korintus! Pergeseran fokus ini cukup mengagetkan, tetapi justru di situlah poin yang ingin disampaikan oleh Paulus. Sebagaimana kematian Yesus membawa kehidupan bagi umat tebusan, demikian pula proses yang membawa kematian Paulus menghasilkan kehidupan dalam diri orang lain. Memberi buah kekal bagi orang lain dalam kelemahan kita meurpakan bukti kuasa kebangkitan yang dinyatakan di dalam kita. Ketika kematian terus bekerja dalam diri kita, kuasa kebangkitan Kristus juga terus bekerja untuk menghasilkan kehidupan dalam diri orang lain.

Jadi, kuasa kebangkitan tidak selalu berbentuk mujizat. Tidak selalu terlihat spektakuler. Justru ketika kelemahan kita dipakai untuk sesuatu yang besar di situlah kekuatan Allah dinyatakan sejelas-jelasnya. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community