Kasih Yang Mengalahkan Ketakutan (1 Yohanes 4:17-18)

Posted on 30/07/2017 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Kasih-Yang-Mengalahkan-Ketakutan-1-Yohanes-4-17-18.jpg Kasih Yang Mengalahkan Ketakutan (1 Yohanes 4:17-18)

Pembacaan sekilas terhadap teks ini sudah cukup untuk menangkap sebuah kesan yang sangat kuat bahwa dua ayat ini saling berkaitan. Beberapa kata atau ide yang sama muncul beberapa kali: kasih, sempurna, dan penghakiman/hukuman. Ada juga dua kata yang dikontraskan, yaitu “keberanian” dengan “ketakutan”.

Secara lebih spesifik, dua ayat ini sebenarnya membicarakan tentang poin yang sama. Hanya saja, ungkapan yang digunakan memang berlainan. Ayat 17 bernada positif (apa yang dihasilkan oleh kasih yang sempurna berkenaan dengan penghakiman), sedangkan ayat 18 bernada negatif (apa yang tidak dihasilkan oleh kasih yang sempurna berkaitan dengan hukuman). Inti yang ingin disampaikan adalah ini: kasih yang sempurna menimbulkan keberanian (ayat 17), bukan ketakutan (ayat 18).

Walaupun poin yang disampaikan relatif tidak terlalu sukar untuk ditemukan, penjelasan tentang poin ini dan alur pemikiran Yohanes cukup menyulitkan para penafsir. Apa kaitan antara kasih yang sempurna dengan keberanian menghadapi penghakiman? Kasih siapakah yang dibicarakan dalam bagian ini? Apa pula yang dimaksud dengan “sempurna” dalam teks ini?

Karena ayat 17 dan 18 pada dasarnya mengajarkan hal yang sama, fokus perhatian akan diarahkan pada ayat 17 saja. Di samping itu, untuk memudahkan pemahaman, garis besar khotbah hari ini juga akan mengikuti ayat 17. Beberapa pertanyaan berikut ini akan berfungsi sebagai alur khotbah hari ini: Apakah yang dimaksud dengan “kasih yang sempurna” (ayat 17a)? Apa kaitan kasih ini dengan penghakiman (ayat 17b)? Apa pula yang dimaksud dengan frasa “sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini” (ayat 17c)?

Apakah yang dimaksud dengan kasih yang sempurna (ayat 17a)?

Para penafsir Alkitab berbeda pendapat tentang kasih yang sedang dibicarakan di ayat 17a. Dalam teks Yunani yang muncul hanya “kasih itu” (hē agapē). Penerjemah LAI:TB menafsirkannya dengan “kasih Allah”. New Living Translation (NLT) memilih “kasih kita”. Mayoritas versi Alkitab mempertahankan terjemahan hurufiah “kasih itu” yang maknanya kurang jelas. Memilih salah satu dari opsi yang ada memang tidak mudah.

Pembacaan yang lebih teliti tampaknya mendukung pilihan penerjemah LAI:TB. Ayat 16 jelas berbicara tentang kasih Allah yang kita alami dan percayai. Lagipula, kemiripan ide antara ayat 12 dan ayat 17 mengarah ke sana pula. Di ayat 12 Yohanes berkata: “Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita”. Yang disempurnakan adalah kasih Allah.

Mereka yang menolak tafsiran di atas umumnya mempersoalkan tentang kasih Allah yang bisa disempurnakan. Menurut mereka, kasih Allah sejak dulu sudah sempurna. Kasih itu tidak mungkin bisa lebih sempurna lagi.

Kesulitan semacam ini muncul dari kesalahpahaman tentang kata kerja teleioō (menyempurnakan) atau kata sifat teleios (sempurna). Akar kata teleio- bisa mengandung arti “menyelesaikan” atau “mencapai tujuannya”. Beberapa pemunculan akar kata ini dalam tulisan Yohanes mengarah pada arti di atas: makanan Yesus adalah menyelesaikan (teleioō) pekerjaan Bapa (Yoh 4:34), perkataan Yesus “Aku haus” di atas kayu salib menggenapi (teleioō) kitab suci (Yoh 19:28). Contoh yang paling jelas adalah 1 Yohanes 4:12. Kasih kita kepada sesama menyempurnakan kasih dari Allah dalam diri kita. Artinya, tujuan pemberian kasih ilahi memang bukan supaya kita syukuri dan nikmati saja, melainkan untuk dibagi kepada sesama. Tatkala tujuan ini tercapai, kasih Allah menjadi sempurna.

Poin inilah yang sedang ditegaskan kembali oleh Yohanes di 4:17. Frasa “dalam hal inilah” di awal ayat 17 merujuk pada keputusan dan tindakan kita untuk diam di dalam kasih (ayat 16b). Kemampuan untuk berada di dalam kasih ini bisa terjadi karena sebelumnya kita berasal dari Allah (4:7-8) dan dikasihi oleh Allah (4:9-10, 19). Inisiatif berasal dari Allah. Kita hanyalah sarana yang Dia pakai untuk menyempurnakan kasih-Nya (dalam arti “mencapai tujuan dari kasih itu”) dengan cara membagi kasih itu kepada sesama.

Apakah kaitan antara kasih ini dengan penghakiman (ayat 17b)?       

Kunci untuk menguak keterkaitan di atas terletak pada kata sambung hina di awal ayat 17b. Kata sambung ini diterjemahkan “yaitu” oleh penerjemah LAI:TB. Pilihan ini menyiratkan sebuah penjelasan untuk frasa “dalam hal inilah” di ayat 17a. Maksudnya, penerjemah LAI:TB tampaknya menganggap keberanian menghadapi penghakiman (ayat 17b) sebagai bukti bahwa kasih Allah disempurnakan di dalam kita (ayat 17a).

Kita sebaiknya tidak mengikuti terjemahan LAI:TB di atas. Ayat 12 secara eksplisit menunjukkan bahwa bukti kesempurnaan kasih Allah adalah kasih kita kepada sesama, bukan keberanian kita menghadapi penghakiman. Lagipula arti umum dari kata sambung hina memang “supaya” (NIV/ESV “so that”), bukan “yaitu” (LAI:TB).

Jika terjemahan ini diterima, ayat 17b merupakan tujuan dari penyempurnaan kasih Allah dalam diri kita. Siapa saja yang sudah menyempurnakan kasih Allah dalam dirinya (dalam arti berbagi kasih ilahi itu kepada sesama), orang itu memiliki keberanian untuk menghadapi penghakiman. Dengan kata lain, kasih yang disempurnakan menghasilkan keberanian.

Poin di atas sekilas bisa menimbulkan kesalahpahaman, seolah-olah keberanian dalam penghakiman ditentukan oleh perbuatan kita. Kasih kita kepada sesama menjamin keberanian tersebut. Kesan seperti ini tentu saja tidak benar. Yohanes sendiri sudah menegaskan bahwa tidak ada satu orang pun yang tidak berdosa (1:8, 10). Tidak mungkin ia melandaskan keyakinan terhadap penghakiman pada kesalehan manusia.

Dalam hal ini kita tidak boleh melupakan bahwa dalam surat ini kasih kita kepada sesama merupakan bukti bahwa kita berasal dari Allah (4:7-8) dan sudah lebih dahulu dikasihi oleh Allah (4:9-10, 19). Kita bisa berada di dalam kasih karena kita lebih dahulu mengenal dan meyakini kasih Allah kepada kita (4:16). Semua diawali dan ditentukan oleh Allah. Justru pengalaman dan keyakinan terhadap kasih Allah itulah yang melandasi keberanian kita untuk menghadapi penghakiman. Kasih kita kepada sesama hanyalah bukti tentang pengalaman dan keyakinan itu.

Pemikiran yang mirip dengan ini juga muncul di 3:18-20 “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu”. Kasih yang konkrit kepada sesama merupakan bukti bahwa kita sudah dan terus-menerus berada dalam kebenaran. Berada dalam kebenaran inilah yang menghasilkan keberanian dalam diri kita.

Konsep seperti ini merupakan keunikan kekristenan. Ada kepastian yang menggembirakan dalam kaitan dengan penghakiman ilahi. Tidak ada ketakutan maupun kebingungan. Yang ada hanyalah keberanian. Lebih jauh, keberanian ini didasarkan pada pengalaman dengan kasih Allah. Bukan ditentukan oleh kebaikan kita, melainkan kebaikan Allah. Allah yang akan menghakimi kita kelak bukanlah Hakim yang asing dan terlihat kejam bagi kita. Sebaliknya, Dia adalah Bapa kita. Kita lahir dari Dia. Kita sudah mengalami kasih-Nya. Inilah sumber keberanian kita.

Apakah maksud “sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini” (ayat 17c)?

Kesempurnaan kasih Allah di dalam kita (ayat 17a) merupakan pondasi bagi keberanian kita menghadapi penghakiman (ayat 17b). Namun, ini bukanlah satu-satunya alasan. Kata sambung “karena” di ayat 17c menunjukkan bahwa bagian ini merupakan alasan lain bagi keberanian menghadapi penghakiman. Kita tidak takut pada hukuman ilahi karena “sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia”.

Inti yang ada di frasa di atas adalah kesamaan dengan Allah atau Kristus. Ide seperti ini berkali-kali diulang oleh Yohanes. Siapa saja yang mengaku hidup di dalam Kristus, orang itu patut hidup seperti Kristus (2:6). Sama seperti Allah adalah terang, demikian pula kita harus hidup di dalam terang (1:7). Kita harus suci seperti Kristus (3:3) dan berbuat benar seperti Dia (3:7). Pada penghakiman terakhir kita akan menjadi sama seperti Dia (3:2).

Apakah ini berarti bahwa upaya kitalah yang menentukan nasih kita pada hari penghakiman? Apakah kesalehan kita yang memberikan keyakinan di hari tersebut? Sama sekali tidak! Sekali lagi, kita tidak boleh mengabaikan penekanan theologi Yohanes dalam surat ini. Kesalehan kita adalah bukti dari karya Allah di dalam kita. Sebagai contoh, kebenaran kita merupakan bukti bahwa kita berasal dari Dia yang adalah benar (2:29 “bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, lahir dari pada-Nya”). Perbuatan seseorang menunjukkan asal orang tersebut: ada yang dari Iblis  (3:8, 10, 12), ada pula yang dari Allah (3: 18-19; 4:6, 7-8; 5:18). Kemampuan kita untuk meneladani Allah (atau Kristus) membuktikan bahwa kita adalah anak-anak-Nya (berasal dari Dia).

Jika kita adalah anak-anak-Nya, kita tidak perlu takut untuk menghadap Dia pada saat penghakiman kelak. Penghakiman terakhir bukanlah momen yang mencemaskan, apalagi menakutkan bagi kita. Kita tidak akan takut atau malu pada saat kedatangan Kristus kedua kali (2:28-29). Sebaliknya, hari itu akan menjadi hari yang kita selalu harapkan (3:2-3). Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community