Kasih Yang Memulihkan Semua Ciptaan (Wahyu 21:1-5)

Posted on 15/01/2017 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Kasih-Yang-Memulihkan-Semua-Ciptaan-Wahyu-21-1-5.jpg Kasih Yang Memulihkan Semua Ciptaan (Wahyu 21:1-5)

Allah mengasihi semua ciptaan dengan cara menopang semuanya itu. Itu adalah tema khotbah kita minggu yang lalu. Namun, kasih Allah tidak berhenti sampai di situ saja. Dunia yang sudah rusak oleh dosa ini tidak hanya terus-menerus ditopang, tetapi suatu hari kelak akan direstorasi. Inilah tema khotbah kita hari ini.

Salah satu teks penting yang mengajarkan tentang pembaruan seluruh ciptaan adalah Wahyu 21:1-5. Apa saja yang dibarui diterangkan di ayat 1-4. Pada bagian penutup (ayat 5), Allah sendiri menegaskan kepastian dari pembaruan itu. Untuk lebih memudahkan, saya akan menguraikan ayat 5 terlebih dahulu.

Segala sesuatu baru (ayat 5)

Perkembangan teknologi yang hebat telah mengondisikan sebagian dari kita untuk menyukai hal-hal yang baru. Telepon selular merk tertentu selalu menjadi incaran dan rebutan banyak orang pada saat peluncuran produk yang baru. Kadangkala sebuah produk baru benar-benar memuaskan si pembeli. Ada banyak fitur baru yang kreatif, inovatif, dan revolusioner. Ada pula momen kekecewaan tatkala pembaruan yang ditawarkan ternyata tidak terlalu signifikan.

Seberapa barukah restorasi yang dilakukan Allah? Kita perlu secara cermat membedakan ucapan “Aku membuat segala sesuatu baru” dengan “Aku menjadikan segala sesuatu yang baru”. Kalimat pertama menyiratkan pembaruan (atas hal-hal yang lama). Kalimat terakhir mengesankan hal-hal yang benar-benar baru (belum pernah ada). Yang dimaksud dalam Wahyu 21:5 adalah yang pertama. Hal-hal yang lama kini diperbarui.

John Piper mengilustrasikan perubahan ini seperti metamorfosis kupu-kupu dan katak. Kupu-kupu tidak tiba-tiba muncul. Ia berasal dari ulat. Demikian pula dengan katak. Ia bukan makhluk ajaib yang tiba-tiba ada. Ia berasal dari kecebong. 

Janji tentang pembaruan ini diberi penegasan dalam beragam cara. Dalam teks Yunani, kata sifat “baru” (kaina) diletakkan persis sesudah kata “lihatlah” (idou) sebagai sebuah penekanan (lit. “Lihatlah, baru Aku menjadikan segala sesuatu”). Kekuasaan dari yang mengucapkan janji ini ditandaskan melalui sebutan “Dia yang duduk di atas tahta”. Perintah secara eksplisit untuk menuliskan janji pembaruan juga menyiratkan sesuatu yang sangat penting. Ditulis, supaya banyak orang mengetahuinya sehingga nanti dapat mengecek kebenaran dari perkataan tersebut. Bagian ini bahkan ditutup dengan menandaskan bahwa perkataan-perkataan yang diucapkan oleh Allah “tepat dan benar” (LAI:TB pistoi kai alēthinoi). Sesuai teks Yunani, pistoi kai alēthinoi sebaiknya diterjemahkan “setia dan benar”. Perkataan ini bukan hanya benar, tetapi juga pasti akan dilakukan oleh Allah yang mahakuasa.

Apa saja yang dibarui? (ayat 1-4)

Kata “segala sesuatu” (panta) tidak selalu mencakup setiap hal. Tergantung pada konteks pemakaian. Bagaimanapun, sesuai konteks Wahyu 21:1-5, kata “segala sesuatu” di ayat 5 sebaiknya dipahami secara inklusif. Segala sesuatu memiliki cakupan yang benar-benar luas. Hal-hal yang dibarui oleh Allah memang komprehensif.

Pertama, Allah membarui seluruh ciptaan (ayat 1). Ungkapan “langit dan bumi” muncul puluhan kali dalam Alkitab. Ungkapan ini seringkali merujuk pada seluruh ciptaan (Kej 1:1; 2:4; Kel 31:17). “Langit dan bumi yang baru” menyiratkan bahwa pembaruan yang dilakukan Allah bersifat komprehensif.

Pembaruan ini tidak akan terjadi selama yang lama masih ada (ayat 1b “sebab langit yang pertama dan bunmi yang pertama tidak ada lagi”). Kata sambung “sebab” di ayat 1b mengindikasikan bahwa ketidakadaan langit dan bumi yang lama merupakan alasan bagi kemunculan yang baru. Dari teks lain kita mengetahui bahwa yang lama dibinasakan oleh api (2 Pet 3:10-12), sehingga kita dapat memasuki yang baru (2 Pet 3:13). Langit dan bumi yang baru inilah yang disebut surga di masa depan. Kita akan menghabiskan kekekalan bersama dengan Allah di bumi yang nanti direstorasi ini.

Bumi yang direstorasi tersebut tidak memiliki laut (ayat 1c “laut pun tidak ada lagi”). Dalam mitologi kuno laut dipandang sebagai tempat yang misterius dan menakutkan. Dewa-dewa yang jahat dan kuat menguasainya. Dalam Kitab Wahyu laut juga berkonotasi negatif. Laut adalah sumber dari binatang yang melawan Allah (13:1-10). Ketidakadaan laut di masa mendatang merupakan bukti kemenangan Tuhan atas semuanya itu.

Pembaruan seluruh ciptaan merupakan konsep yang diajarkan secara konsisten di dalam Alkitab. Nabi Yesaya sudah menubuatkan hal ini dalam gambaran yang begitu gamblang (Yes 65:17-25; 66:22). Paulus mengajarkan bahwa yang menantikan pembaruan segala sesuatu bukan hanya orang-orang Kristen, melainkan seluruh makhluk (Rm 8:19-23). Tulisan-tulisan Yahudi kuno di luar Alkitab pun memegang keyakinan yang sama (1 Henokh 45:4-5; 72:1; 91:16; 2 Esdras 7:75; 2 Barukh 32:6).

Jika kita menolak konsep ini, kita akan mengalami kesulitan untuk memahami dan meyakini janji-janji ilahi yang memiliki aspek fisikal, kekal, dan global. Sebagai contoh, orang yang lemah-lembut akan memiliki bumi (Mat 5:5). Seluruh bumi akan dipenuhi dengan kemuliaan TUHAN dan pengenalan terhadap Dia (Yes 11:9; Hab 2:14). Kapan semua janji ini dipenuhi? Nanti, sesudah kita berada di langit dan bumi yang baru.

Kedua, Allah membarui relasi dengan umat-Nya (ayat 2-3). Yerusalem baru sebenarnya lebih ke arah orang daripada bangunan. Yang ditekankan adalah kumpulan umat Allah. Hal ini terlihat dari semua ukuran dan detil kota yang berkaitan dengan angka 12 (21:11-21), sebagai simbol umat Allah di PL (12 suku Israel) maupun PB (12 rasul). Di samping itu, sama seperti umat Allah adalah mempelai Anak Domba (19:7), demikianlah Yerusalem baru berdandan seperti pengantin (21:2).

Ide tentang Yerusalem yang baru bukanlah sesuatu yang asing. Paulus berbicara tentang Yerusalem surgawi (Gal 4:26). Dalam iman Abraham menantikan “kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah” (Ibr 11:10). Penulis Surat Ibrani menyinggung tentang “Bukit Sion, kota Allah yang hidup, Yerusalem surgawi” (12:22). Penulis yang sama mengatakan bahwa dalam dunia ini kita tidak menetap, kita menantikan kota yang akan datang (13:14).

Tidak seperti Yerusalem duniawi, kota yang baru ini tidak memiliki bait Allah di dalamnya (21:22-23). Allah yang menjadi bait-Nya (21:22). Allah sendiri berkemah di tengah-tengah umat-Nya (21:3). Kata benda “kemah” (skēnē) dan kata kerja “berkemah” (skēnoō) merujuk pada kemah suci (tabernakel), bukan kemah-kemah biasa. Ini adalah perwujudan sempurna dari relasi kita dengan Allah.

Ketiga, Allah meniadakan kerusakan ciptaan (ayat 4). Kita semua sadar bahwa dunia yang sekarang ini bukanlah tempat yang sempurna. Dosa telah mengubah wajah dunia secara signifikan (bdk. Kej 3:16-19). Dosa adalah pintu masuk bagi semua derita. Penderitaan menjadi begitu terbiasa bagi kita. Kehilangan tak terhindarkan. Kematian pun tidak terelakkan. Tidak peduli seberapa baik kualitas kehidupan kita, penderitaan dan kematian pasti akan menghampiri. Tidak ada seorang pun yang kebal kesusahan.

Di langit dan bumi yang baru nanti, semua carut-marut akibat dosa ini tidak akan ada lagi. Segala sesuatu yang membawa kesusahan dan kesedihan akan berlalu. Allah akan menghapus semua air mata umat-Nya (Why 7:16-17). Kita tidak mengalami lagi menyakit dan kematian.

Hal ini berhubungan dengan tubuh kebangkitan. Di langit dan bumi yang baru kita bukanlah roh yang melayang-layang. Kita akan diberi sebuah tubuh yang sempurna. Penyakit dan kematian tidak mungkin mendapat bagian dalam tubuh ini. Tubuh yang diubahkan nanti adalah tubuh yang tidak dapat binasa (1 Kor 15:50-54). Pada saat itulah kita dengan bersyukur dan bangga berani berkata: “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” (1 Kor 15:55).

Dari tiga objek pembaruan di atas kita melihat bahwa restorasi eskhatologis bersifat komprehensif. Tidak ada satu pun yang tidak tersentuh. Tempat tinggal kita akan diubah. Akan ada langit dan bumi yang baru. Tubuh kita akan diubah. Kita diberi tubuh kemuliaan yang kebal penyakit dan kematian. Relasi kita dengan Allah akan diubah. Tidak ada penghalang bagi kita untuk memandang Dia selama-lamanya.

Jika Allah sedemikian pengasihi segala sesuatu, kita pun harus meneladaninya. Dunia ini memang tidak sempurna, namun itu bukan alasan untuk mengeluh dan meratap. Allah memang akan merestorasi semuanya, tetapi itu bukan alasan untuk bersikap cuek dan malas-malasan dalam memperbaiki dunia ini. Tubuh yang kita miliki sekarang memang akan musnah, namun itu bukan alasan untuk mengabaikan dan merusaknya melalui pola hidup yang tidak sehat. Dalam relasi kita dengan Allah, Dia kadangkala memang sulit untuk dipahami, tetapi ini bukan alasan untuk menjauh dari Dia. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community