Kasih Yang Berujung Pada Kemuliaan (Efesus 1:5-6)

Posted on 30/04/2017 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Kasih-Yang-Berujung-Pada-Kemuliaan-Efesus-1-5-6.jpg Kasih Yang Berujung Pada Kemuliaan (Efesus 1:5-6)

Teks kita hari ini adalah salah satu bagian Alkitab yang secara eksplisit menggunakan kata “predestinasi” (KJV/NASB/NIV/ESV “predestined”). Istilah “predestinasi” pasti sudah tidak asing bagi banyak orang. Mereka bisa langsung menjelaskan bahwa predestinasi adalah pemilihan kekal Allah atas sebagian orang berdosa supaya mereka diselamatkan di dalam Kristus.

Beragam respons ditunjukkan orang terhadap topik predestinasi. Ada yang sangat gemar membicarakannya, tetapi hanya sebatas pergumulan intelektual belaka. Ada pula yang menghindarinya, sebab predestinasi dipandang tidak terlalu penting bagi kerohanian.

Bagaimana konsep predestinasi yang benar? Apakah alasan di balik predestinasi ilahi? Mengapa doktrin ini penting untuk diajarkan? Khotbah hari ini akan menyediakan jawaban-jawaban atas pertanyaan ini, tetapi hanya didasarkan pada Efesus 1:5-6. Ada beberapa poin penting seputar predestinasi yang bisa dipetik dari teks ini.

Predestinasi adalah ajaran Alkitab (ayat 5)

Adalah sebuah kekeliruan apabila doktrin predestinasi hanya dikaitkan dengan orang-orang Reformed. Alkitab beberapa kali dan secara eksplisit mengajarkan doktrin ini. Istilah “predestinasi” dalam konteks keselamatan orang percaya muncul di Roma 8:29-30 dan Efesus 1:5, 11 (KJV/NASB/NIV/ESV). Setiap orang Kristen yang mempercayai Alkitab seyogyanya menerima doktrin ini.

Sejak kekekalan Allah memang menetapkan sebagian orang berdosa untuk diselamatkan di dalam Kristus. Penetapan inilah yang menjadi dasar keselamatan. Tidak ada orang yang bisa percaya kepada injil Yesus Kristus jikalau ia tidak dipilih oleh Allah.

Yang seringkali diperdebatkan hanyalah dasar atau alasan di balik predestinasi. Apakah predestinasi dibangun di atas kemahatahuan Allah sejak kekal atau kedaulatan-Nya? Apakah ada faktor dalam diri manusia yang mempengaruhi atau menentukan penentuan ilahi? Pertanyaan ini akan dijawab di poin-poin berikutnya. Untuk sekarang, kita perlu menegaskan saja bahwa predestinasi adalah ajaran Alkitab, terlepas dari bagaimana seseorang menjelaskan dasar atau alasan di baliknya.

Predestinasi lebih ke arah penentuan daripada pemilihan (ayat 5)

Banyak orang memahami predestinasi dalam kaitan dengan pemilihan Allah sejak kekal. Saya adalah salah satu yang dahulu berpikiran demikian. Opini ini ternyata kurang begitu tepat. Ide tentang “predestinasi” (dari kata kerja proorizō) di dalam Alkitab seringkali muncul sesudah pemilihan ilahi. Dalam Roma 8:29, kata “menentukan” (versi Inggris predestined) muncul sesudah kata “memilih”. Hal yang sama terulang di Efesus 1:4-5. Predestinasi (ayat 5) dibicarakan sesudah pemilihan sejak kekal (ayat 4).

Dalam beberapa kasus, kata “predestinasi” bahkan dikenakan pada hal-hal lain yang lebih besar daripada keselamatan individual. Kisah Para Rasul 4:28 mengaitkan proorizō dengan pelanggaran yang dilakukan oleh Pilatus, Herodes, dan tua-tua Yahudi. Di Efesus 1:11 kata yang sama dihubungkan dengan “segala sesuatu”.

Jadi, predestinasi lebih baik diartikan sebagai tindakan Allah sejak kekekalan untuk memastikan pilihan-Nya. Dia bukan hanya memilih, namun sekaligus menentukan.

Predestinasi didasarkan pada kasih dan kesenangan Allah (ayat 5)

Para penafsir Alkitab berbeda pendapat tentang posisi frasa “di dalam kasih” (en agapē). Sebagian menggabungkannya dengan ayat 4 (KJV/NRSV), sedangkan yang lain dengan ayat 5 (RSV/NIV/ESV/LAI:TB). Kita sebaiknya memilih usulan yang kedua. Pemilihan ilahi di ayat 4 sudah diterangkan dengan frasa “di dalam Dia,” sehingga lebih sejajar dan indah apabila frasa “di dalam kasih” menerangkan penentuan ilahi di ayat 5.

Penjelasan di atas menyediakan alasan pertama bagi predestinasi, yaitu kasih Allah. Tanpa kasih-Nya yang besar, tidak mungkin ada pemilihan dan penentuan. Kasih-Nya yang tak terperi ada di balik predestinasi. Tidak ada satu orang berdosa pun yang pantas untuk dipilih dan diselamatkan. Hanya kasih Allah yang memungkinkan keselamatan orang-orang berdosa. Jika Allah tidak memilih kita sejak kekekalan, tidak mungkin kita bisa memilih Dia.

Alasan yang kedua adalah kerelaan kehendak-Nya (hē eudokia tou thelēmatos autou). Terjemahan LAI:TB “kerelaan” bisa memberi sebuah kesan yang keliru bahwa dalam hal predestinasi Allah hanya sekadar membiarkan sesuatu terjadi. Dia hanya merelakan hal tersebut. Ada sedikit nuansa keterpaksaan atau pembiaran di sana. Kata eudokia dalam Alkitab sebaiknya diterjemahkan “kehendak yang baik” (KJV/ASV/NRSV/NIV; lihat Flp 1:15; 2 Tes 1:11). Ini berbicara tentang sesuatu yang menyenangkan atau berkenan kepada Allah (Mat 11:26; Luk 2:14).

Penambahan kata “kehendak-Nya” (tou thelēmatos) pada kata eudokia sebenarnya tidak terlalu diperlukan. Kata thelēma dan eudokia kadangkala sama-sama mengandung arti “kehendak”. Pemunculan keduanya dimaksudkan sebagai sebuah penekanan. Predestinasi bukan sekadar kehendak Allah, melainkan kehendak yang benar-benar menyenangkan atau memperkenankan hati-Nya.

Jadi, dalam predestinasi, Allah bukan hanya pasif membiarkan sebagian orang akan selamat dan yang lain akan binasa. Predestinasi bersumber dari kehendak bebas Allah. Apa yang Dia putuskan memang menyenangkan hati-Nya.

Predestinasi berujung pada puji-pujian bagi Allah (ayat 6)

Sangat disayangkan apabila pembicaraan tentang predestinasi seringkali berujung pada perdebatan dan perselisihan. Sangat ironis apabila diskusi seputar doktrin ini justru menghasilkan hal-hal yang negatif. Semua ini tidak selaras dengan tujuan predestinasi di dalam Alkitab. Paulus secara gamblang mengajarkan bahwa tujuan predestinasi adalah kemuliaan Allah sendiri (ayat 6). Kenyataannya, ide tentang pujian kepada Allah dalam kaitan dengan predestinasi di Efesus 1:3-14 malah muncul berkali-kali (ayat 3, 6, 12, 14).

Bagaimana predestinasi dapat menuntun seseorang pada pujian? Ajaran predestinasi membuat kita melihat kasih karunia Allah (ayat 6a, charis). Ketidakpantasan kita terpampang dengan kentara. Bukankah kita semua dahulu adalah orang-orang berdosa? Kehinaan terlihat tanpa penyekat. Bukankah tidak ada faktor positif apapun dalam diri kita yang mendorong Allah untuk memilih kita? Apa yang kita lakukan sehingga kita pantas diperlakukan demikian? Tidak ada! Apakah sejak kekekalan Allah sudah melihat hal-hal yang baik dalam diri kita sehingga Dia memilih dan menentukan kita? Sama sekali tidak! Kita sama sekali tidak mempunyai alasan sekecil apapun untuk bermegah dalam hal ini. 

Paulus tidak hanya mengingatkan kita tentang kasih karunia Allah dalam predestinasi. Ia juga menjelaskan bahwa kasih karunia ini bukan sekadar kasih karunia yang biasa. Kasih karunia ini bersifat mulia (doxa tēs charitos). Ada banyak kasih karunia dalam hidup kita. Seluruh kehidupan kita bahkan adalah pameran kasih karunia-Nya. Di antara semua kasih karunia tersebut, predestinasi adalah salah satu yang paling menonjol. Ibarat pameran lukisan tentang kebaikan Allah, lukisan tentang predestinasi terpajang megah di titik yang langsung kentara. Prime spot.

Kemuliaan kasih karunia Allah ini bukan hanya berhubungan dengan kehinaan kita, tetapi juga dengan keindahan Kristus sendiri. Kemuliaan kasih karunia hanya dimungkin melalui Kristus yang dikasihi oleh Bapa.  Ayat 6b berbunyi: “yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya”.

Jadi, predestinasi tidak mungkin diceraikan dari Kristus. Predestinasi hanya akan menjadi wacana dan rencana apabila tidak ada penebusan-Nya (ayat 7-8). Harga untuk merealisasikan predestinasi adalah kematian Anak-Nya. Itulah sebabnya di melalui doktrin predestinasi kita bukan hanya melihat kasih karunia Allah, tetapi kemuliaan kasih karunia-Nya.

Mereka yang tidak mengerti maupun tidak mempercayai predestinasi tidak akan mampu menangkap kasih karunia Allah dalam segala keindahannya yang menakjubkan. Mereka beranggapan bahwa manusia masih menyisakan sedikit jasa dalam keselamatan. Mereka berpikir bahwa keselamatan bukanlah murni pemberian Allah. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community